Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Ada kaitan


__ADS_3

"Abang, saya semakin heran dengan diri saya sendiri. Saya merasa kalau saya ini punya keluarga mungkin juga anak, tapi saya tidak mengingatnya sama sekali." Dimas menggeleng sendiri.


"Saya tidak tahu, karena saya menemukan mu cuma berdua saja dengan istrimu. Bersimbah darah dari kepala. dan koma nya pun kalian itu sampai bertahun-tahun," jawab Madi sambil duduk bersila.


Kanaya datang dengan membawa cemilan di piring. "Apa Abang tidak menemukan data lain selain foto pernikahan kami?"


"Tidak, ponsel pun tidak ada. KTP pun tidak saya temukan. Kemungkinan kalian korban perampokan!" tambah nya Madi.


Dimas mengambil gelas minumnya. Lalu meneguknya sedikit sedikit serta memakan kue yang di suguhkan oleh sang istri.


"Besok saya mau ke lokasi dan mau mencari info, siapa tahu saya mendapat kan setitik harapan." Dimas menatap ke arah Madi dan Kanaya bergantian.


"Aku ikut yank." Pinta Kanaya pada sang suami.


"Iya bunda sayang ...kita pergi sama-sama!" Dimas mengangguk menyetujui kalau sang istri mau ikut.


"Pasti tempatnya pun sudah berkali lipat berubahnya. Tidak akan sama seperti waktu itu kita ke sana apalagi seperti waktu semula kalian ditemukan," ucap Madi dengan menghela nafas dalam-dalam.


"Itu pasti. Dan saya sudah bertekad untuk mencari informasi. Siapa saya sebenarnya." Tambahnya Dimas.


Keesokan hari nya. Dimas dan Kanaya naik motor untuk menuju lokasi kejadian yang menimpa beberapa puluh tahun silam.


Setibanya di lokasi. Dimas dan Kanaya mendatangi lokasi yang memang benar semuanya jauh berbeda dan sekarang ... di pinggir-pinggirnya itu lebih ramai dengan warteg, warung buah dan kelapa muda.


Dimas dan Kanaya berteduh dari teriknya sinar matahari di warung kelapa muda sambil menikmati air kelapa muda tersebut.


Kemudian Dimas pun bercerita kalau tepat di tempat itu ... Dian istri pernak kecelakaan dan kecelakaan nya dia kurang tahu karena sampai saat ini mereka masih tidak mengingatnya.


"Oya, kalau tahun itu sih kami belum berjualan di sini. Memang saya pernah mendengar berita itu, dari orang yang menyaksikan kedua korban sudah bersimbah darah. Pas kejadian itu sih katanya tidak ada yang tahu satu orang pun." Kata di penjaga kelapa muda itu.


"Tapi katanya, pada waktu yang sama. Beberapa puluh meter dari sini kan ada jurang tuh. Ada taksi yang terperosok ke jurang tersebut, korbannya tiga orang satu supir dan di penumpang--" timpal entah siapa yang sama-sama berteduh dan menikmati air kelapa muda.


Semua mata mengarah pada orang tersebut. Ingin tahu kelanjutan ceritanya tersebut terutama Dimas dan kanaya.

__ADS_1


"Sepertinya si penumpang itu membawa baby kembar dan puji Tuhan, kalau baby nya itu selamat. Sementara yang lain terutama dua penumpang nya tidak bisa dikenali lagi wajahnya." Lanjut orang tersebut.


"Terus kedua baby-nya gimana nasib nya Bang?" Kanaya penasaran sangat.


"Lalu dengar ceritanya sih di jemput sama keluarganya, dan kalau gak salah si penumpang itu seorang dokter beserta istri."


Dimas menatap sang istri sambil memutar otaknya berusaha mengingat ke masa lalu namun yang ada kepalanya sakit.


"Ooh, jadi keluarga itu dokter ya Bang?" selidik Kanaya lagi.


"Iya, Bu. Cerita yang saya dengar sih seperti itu, dan keluarga itu sering kok mendatangi tempat tersebut maksud saya lokasinya." Tambah orang tersebut.


"Yank, ke sana yo?" siapa tahu itu ada kaitannya dengan kita." Kanaya melirik ke arah suaminya.


"Iya Bunda ... kita ke sana sebentar lagi." Dimas mengangguk pelan sambil menyedot minumnya.


"Ooh ... jadi kalian belum ingat juga siapa kalian sebenarnya, tidak mengingat sebelum kejadian itu gimana?" tanya penjaga warung itu.


Beberapa saat kemudian Dimas mengambil motornya dan membawanya ke dekat sang istri. Kemudian Kanaya pun naik lalu melaju ke lokasi yang katanya ada jurang. Sebelumnya pamitan lebih dulu pada panjang warung.


Motor Dimas melaju dengan kecepatan sedang menuju yang katanya ada jurang.


"Sepertinya itu yank jurangnya," Kanaya menunjuk lokasi.


Motor pun berhenti di dekat jurang tersebut. Berbarengan perginya motor besar, yang tadi orangnya berdiri di sana.


Rupanya Deri sudah dari lama berada di sana. Setelah merasa puas. Dia pun pergi meninggalkan tempat tersebut, sekilas dia melihat ada sebuah moto berhenti di tempat tadi dia memarkirkan motornya.


"Kurangnya dalam juga ya?" gumamnya Kanaya.


"Hati-hati sayang. Jangan terlalu pinggir berdirinya!" Dimas memegangi tangan sang istri.


"Yank, mungkinkah insiden taksi itu berkaitan dengan kita berdua?" Kanaya menoleh dan menatap lekat pada sang suami sembari dia sendiri berusaha memutar memorinya yang kosong.

__ADS_1


"Entah Bun. Ayah gak tahu. Soalnya memori ini kosong tak berbekas. Tak menyisakan satu pun kenangan kita bersama keluarga." Dimas menatap ke arah jurang tersebut.


"Sungguh Allah punya kuasa ya? hingga dua baby bisa selamat dari kejadian itu, kalau menurut logika sih biarpun keluar atau keluar dari mobil. Terpisah, kalau menurut logika nyangkut lah ke pohon-pohon atau tidak ada harapan lah." Ujar Kanaya.


"Mungkin waktu itu belum ada pohon-pohon seperti sekarang kali." Dimas melirik sekilas. Lalu kembali melepas pandangan ke jurang kembali.


"Aku penasaran, siapa keluarga yang kecelakaan itu? dan aku ingin ketemu dia! anak itu yang sekarang pasti sudah pada dewasa ya?" Tambah Kanaya sambil memegangi lengan sang suami.


"Iya, pasi lah. Dia pada dewasa. Mungkin sudah punya anak juga, Bun!" Dimas tersenyum membayangkannya.


"Iya sih!" Kanaya pun ikut tersenyum.


Kemudian mereka pun hendak pulang, karena mereka pun kebingungan harus mencari info kemana tentang keluarga yang meninggal di dalam insiden yang merenggut tiga nyawa tersebut.


Motor Dimas melaju ke kanan dan motor Deri datang lagi dari arah kiri untuk mencari sesuatu yang dia rasa terjatuh di area sana.


Dan kebetulan sekali. Barang yang terjatuh itu rupanya ada tergeletak di atas rumput yang seolah menyembunyikan nya dari pandangan orang lain.


"Masih menjadi milik ku sehingga masih aku temui." Deri menatap barang tersebut sambil berjongkok.


Kemudian memakai jam tangan tersebut, lantas berdiri menaiki kembali motornya melaju dengan cepat ke jalur yang tadi dia lewati.


Sementara Kanaya dan Dimas kembali ke warung kelapa yang tadi, sambil pamitan dan berpesan. Kalau ada info baru tentang siapa keluarga yang mengalami kecelakaan yang jatuh ke jurang tersebut, hubungi saja dirinya.


"Iya biasanya sering tuh keluarganya mendatangi tempat tersebut. Terutama dua pria yang satu masih muda dan satunya mungkin seusia seperti Abang ni!" Timpal orang tadi yang masih betah nongkrong di sana.


"Yank, tadi juga ada yang berdiri di sana lantas terburu-buru naik motor besarnya dan meninggalkan tempat tersebut. Jangan-jangan, itu keluarganya." Kanaya kepikiran orang yang tadi.


"Lain kali kita ke sana lagi." Dimas mengusap punggung tangan sang istri ....


...🌼---🌼...


Akankah dengan cepat mereka bertemu dengan Deri dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2