
"Tapi Om ... bisa bayangkan! gimana perasaan aku? aku yang hanya punya ayah, sekarang tinggalkan juga. Kini hidupku sebatang kara tanpa orang tua dan saudara yang entah di mana!" ucap Gita.
"Siapa bilang kamu hidup sebatang kara? setelah ayahmu tiada, kan masih ada Arya yang akan memperhatikan mu, menyayangi mu. Menjaga mu sepenuhnya." Lanjut Deri sambil membangunkan Gita agar berdiri.
Gita melirik ke arah Arya yang juga berdiri setelah melihat Gita berdiri. Kemudian gadis menunduk dalam sambil menyeka air matanya.
"Oke kita pulang, dan sekarang kemasi dulu barang-barang mu, karena kau akan tinggal satu atap dengan ku!" Arya meraih tangan gadis itu. Di tarik ya untuk berjalan.
"Tapi Bagaimana dengan tempat tinggal ku yang semula?" menepis dengan Arya.
"Mama itu biarkan saja dan sekali kau urus Karena untuk keseharian kau tinggal bersama kami," timpalnya Deri.
Gita terdiam sembari melihat ke arah Deri dan Arya bergantian.
Kemudian mereka ke rumahnya pak Jum almarhum. Dan Gita mengambil pakaian dan gambar sang ayah sebagai kenangan.
"Ini, rumah dan tempatnya milik siapa? punya ayah mu?" tanya Deri sambil mengamati bangunan tersebut.
"Ini, rumah ayah, tapi tempatnya punya juragan karet termasuk sepeda motor itu!" Gita menunjuk ke arah motor yang ada di samping rumah.
Arya dan Deri menoleh ke samping, di mana sepeda motor menjogrog di sana.
"Berarti ini ... lebih ke miliknya juragan karet ketimbang milik ayahmu, jadi sulit untuk dipertahankan! makanya sudahlah jangan banyak pikiran tentang rumah ini. Karena Siapa yang punya tempat, itu yang lebih berkuasa," ungkapnya Deri.
"Ya, itu benar." Arya mengangguk setuju.
Setelah itu, Deri membawa tas milik Gita ke motornya. Sedangkan orangnya Arya yang bonceng.
Motor Arya dan Deri melesat berlarian, saling kejar-kejaran agar siapa yang lebih cepat. Itulah yang duluan sampai ke villa tempat tinggal mereka berdua.
Gita menepuk bahunya Arya, meminta agar lebih pelan dalam menjalankan motornya.
"Jangan terlalu kenceng motornya? aku takutkan," suaranya gadis itu dari belakang punggung Arya!
"Tenang saja, sebentar lagi sampai kok! tenang saja kamu nggak akan kenapa-apa denganku!" pekik Arya dari depan seiring suara angin yang menerpa.
__ADS_1
"Tapi aku takut aku nggak biasa naik motor sekencang ini," pintanya Gita dengan perasaan cemas.
"Tidak apa-apa! kamu pegangan aja yang kuat ke pinggangku," pekik kembali Arya.
Dengan ragu-ragu, tangan Gita memeluk pinggangnya Arya. Yang tidak kira-kira dalam menjalankan motornya.
Tidak lama kemudian, motor Arya dan Deri pun berhenti bersamaan di depan sebuah villa yang di belakangnya terdapat kebun buah-buahan.
Dan Gita melongo menatap ke arah kebun buah tersebut. "Wah ... kebun buah!" gumamnya sambil turun dari motor Arya, sesekali merapikan rambutnya yang barusan diterpa angin.
Di depan dan di samping villa tersebut pun terdapat taman bunga yang tampak indah dan terawat.
"Kamu suka dengan tempat ini?" selidiknya Arya sambil melirik gadis itu.
"Suka! kebun buahnya punya siapa?" Gita balik bertanya pada Arya juga Deri yang sudah berada di teras bersiap masuk villa.
"Kamu boleh metik buah itu kapanpun kamu mau! karena kebun tersebut aku juga." jawabnya Deri.
"Aku nggak mungkin ngaku lah itu milik ku he he he!" Arya nyengir.
"I-iya terserah bila kamu mau mengaku juga, nggak ada yang larang." Deri mesem. "Ayo masuk, istirahat. Semalaman kita gak tidur juga."
"Nah, ini kamarmu dan sewaktu-waktu akan menjadi kamarku juga." Kata Arya sambil membuka gorden yang masih tertutup.
Kini kamar ini terang benerang dengan sinar alam dari jendela. Gita terdiam setelah mendengar ucapan Arya barusan.
"Iya, kamu tidak perlu bekerja. Cukup di rumah saja. Masak kalau kamu mau, kalau malas tinggal beli saja. Oke?" Arya menoleh pada gadis itu yang sedang bengong menatapi ke arah jendela.
"I-iya. Dan ini uang, kamu pegang bila kamu butuh sesuatu beli. Kalau untuk semua keperluan dapur kau tidak perlu pikirkan itu, cukup bicara sama aku atau om Deri apa kiranya yang di butuhkan!" sambung nya Arya sambil menyerahkan uang pada Gita.
Setelah Gita hitung uangnya ada satu juta. Lalu melihat sekilas pada Arya."Terus. Ini buat apa?"
"Itu buat kamu jajan atau ingin membeli apa gitu. Disaat aku tidak ada, dan nanti malam kita ke toko pakaian." Jelas Arya.
"Ke toko pakaian buat apa?" tanya gitu sambil menyimpan uang tersebut di laci.
__ADS_1
"Buat beli sayur, ya beli baju lah Nona ... ada-ada saja, pertanyaan yang tidak bermutu sekali." Arya menggeleng.
"He he he ..." Gita senyum tipis.
"Oke, sekarang aku mau mandi langsung tidur. Nanti siang aku harus masuk kerja." Arya berjalan keluar.
Gita tidak berkata lagi selain melihat punggung Arya dan langsung berpaling ketika orangnya menoleh ke belakang.
Arya tersenyum melihat Gita yang, buru-buru membuang wajahnya. saat ia menoleh.
Gita terduduk lesu di tempat tidur yang empuk itu. "Mimpi apa aku? sehingga terdampar di sini. Yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
Gadis itu terus mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruang tersebut. Lalu kembali beranjak berjalan mendekati jendela dan memandang lepas keluar, lalu teringat lagi kepada sang ayah yang baru saja meninggal dunia.
Gita menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan jangan sangat berat tanpa sadar air matanya kembali menetes. "Ya Allah ... secepatnya inikah kehidupanku berubah? seiring cepatnya Ayah pergi meninggalkanku seorang diri!"
Jari jemari Gadis itu menyeka air mata yang terus membanjiri wajah nya. Detik kemudian Gita menguap, rasa kantuk menyerangnya sehingga dia ngeloyor ke tempat tidur dan berbaring di sana.
Arya saat ini sedang mengguyur dirinya di bawah air shower yang dengan suhu hangat kuku. Dalam pikirannya mengingat kejadian yang terhitung begitu singkat.
Yang menjadikan dirinya berstatus suami. Padahal baru besok dia akan menikah dengan Angelica dan itu belum ia ceritakan pada Gita. Bagaimanapun Gita harus tahu kalau dirinya akan menikah dengan Angelica.
Setelah selesai mandi. Arya langsung membaringkan dirinya di atas tempat tidur tanpa memakai baju. Dan hanya mengenakan handuk saja.
Di villa itu tampak sepi, karena penghuninya pada tidur akibat begadang semalaman. Arya nanti siang mau masuk kerja sebagai ganti paginya yang tidak memungkinkan dia masuk bekerja mengingat keadaan.
Sekitar pukul 11.30 wib. Gita dah bangun lalu membersihkan diri. Biarpun masa berkabung dan sedih, tapi perutnya terasa lapar sehingga dia turun ke bawah melihat-lihat letak dapur di mana.
Namun ketika turun dari tangga pun sudah kelihatan letaknya dapur. Lalu Gita mengayunkan langkahnya ke arah sana dan langsung mengambil minum terlebih dahulu.
Setelah meneguk minumnya, Gita mengarahkan penglihatannya pada lemari pendingin yang berdiri di sebelah kiri.
"Kalau aku masak, kira-kira di makan yang lain gak ya? maksud ku yang lain mau makan gak?" monolog Gita.
Arya terbangun seiring suara alarm yang membangunkan nya. dia menggeliat nikmat sambil memicingkan matanya. Melihat putaran jarum jam, sehingga dia bergegas bangun ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mana dong dukungannya nih, jangan lupa like komen dan lainnya ya? makasih.