
Setelah beberapa waktu. permainan itu berlangsung dengan penuh gairah. Namun tidak membuat Arya lupa kepada Lica yang sudah dia janjikan akan menemaninya.
"Gita sayang. tidak apa-apa kan aku tinggal lagi? soalnya aku udah janji menemaninya malam ini," ucapnya Arya sambil memeluk Gita.
Gita yang menempelkan pipinya di dada Arya mendongak sesaat. "Aku nggak apa-apa kok!"
"Biarpun waktu ku terbagi. Tapi aku akan bertanggung jawab atas kalian berdua dan tidak akan menyia-nyiakan kalian berdua, itu janjiku," ucapnya Arya sembari mengecup keningnya Gita.
Gita terdiam dan dia hanya menikmati kenyamanannya dalam pelukan pria yang kini menjadi suaminya itu.
Kemudian Arya bangun dan mengambil handuknya yang tadi tergeletak di lantai dan dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Gita hanyalah menatapi punggung Arya yang melintasi pintu kamar mandinya. Kini dia mulai mengerti bahwa ternyata dia berbagi suami. istri suaminya itu bukan cuma dirinya tapi ada yang lain bahkan mungkin lebih dicintai. Gita menghela nafas dalam-dalam, lalu dia hembuskan dengan sangat panjang.
Arya berdiri di bawah guyuran air shower yang tampak mengepul karena suhunya yang hangat. Sebenarnya dia berat untuk meninggalkan Gita, namun tidak mungkin juga dia mengingkari janjinya pada Angelica! lagian dia ingin melihat kondisi Bu Mahdalena seperti apa.
"Aku sudah siapkan baju mu!" ucap Gita yang sudah berpakaian.
Arya mengangguk sambil melirik ke arah tempat tidur. Lalu mengambil dan memakainya, dan Gita pun menyiapkan jaketnya.
"Jaket yang kemari belum kering, soalnya baru ku cuci." Tambahnya Gita.
"Makasih ya!" Arya tersenyum ke arah Gita.
"Sama-sama, apa perlu aku siapkan makan dulu?" tawarnya Gita menatap ke arah Arya.
"Em ... nggak usah, aku masih kenyang dengan yang sudah kau berikan padaku he he he. Biar aku makan di luar saja. Biar nggak merepotkan mu!" Arya memainkan mata genitnya.
Membuat Gita tersipu malu, Lalu dia keluar dari kamarnya Arya.
"Kau mau kemana?" tanya Arya ketika Gita Mey melintasi pintu.
"Mau ke kamar ku, ngantuk." Jawabnya Gita sambil menoleh ke arah Arya.
"Kalau mau, tidur aja di sini." Arya menunjukan tempat tidurnya yang sudah rapi kembali.
"Nggak ah, aku lebih nyaman di kamar ku!" sambungnya Gita sambil melanjutkan langkahnya.
Arya mengangguk pelan. Lalu memakai jaketnya, Bersiap pergi. Dia langsung berjalan keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
Di ruang tengah bertemu dengan Deri yang sedang duduk santai di depan televisi.
"Om, baru kelihatan? dari mana!" sapa Arya sambil menghampiri.
"Aku dari rumah mu dan Kayla. Dia sudah mulai berubah," jawabnya Deri sambil menatap lekat ke arah Arya.
"Bagus lah, Om ... kalau dia dah mulai berubah." Arya merasa bahagia dengan kabar berubahnya Kayla.
"Iya, Om sudah berhentikan para asistennya. Sehingga dia mau mengerjakan pekerjaan rumah, mau makan! masak sendiri." Tambahnya Deri sambil tersenyum.
"Om, hebat. Bisa merubah dia yang keras kepala," ucap Arya sambil mesem dengan tangan menepuk bahunya Deri.
"Apa kau tidak senang?" selidik Deri sambil memicingkan matanya pada Arya.
"Aish ... ya senang lah! masa tidak senang. Om, dia yang keras kepala bikin aku pusing dan geram. Bisa berubah setelah Om turun tangan, makanya ku bilang Om hebat." Ungkap Arya kembali.
"Kirain," gumamnya Deri. "Iya, mau kemana lagi?"
"Aku mau nemenin Lica di rumah sakit. Omanya sedang mengalami depresi," ucap Arya sambil menyeringai.
"Oya, baguslah. Bila perlu dihantui dengan dosa nya." Deri dengan nada dendam.
"Begitu lah, Nenek sihir itu harus mengakui kesalahannya." Tambahnya Deri.
"Ya, sudah. Aku berangkat dulu!" Arya beranjak dari duduknya lalu berlalu meninggalkan Deri.
"Dah ... hati-hati." Sahut Deri.
Arya bergegas menaiki motornya sembari mengenakan helm. Detik kemudian Arya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit.
Tidak berselang lama, Arya pun tiba di rumah sakit dan langsung menemui Lica yang sedang menangis.
"Kenapa?" Arya menghampiri sang istri.
"Oma tidak sadarkan diri. Dia terus bicara sendiri dan menyebut-nyebut nama Dimas dan Kanaya. Hik-hik-hik." Lica menyembunyikan wajahnya di dada Arya.
Tangan Arya merangkul wanita tersebut dan mengusapnya lembut.
"Sabar ya, doakan saja yang terbaik." Gumamnya menenangkan.
__ADS_1
Lica terus menangis. Dia tidak bisa membayangkan bila omanya gimana-gimana sementara dirinya sendirian nantinya tanpa punya siapa-siapa selain omanya.
"Kalau oma tidak ada, aku gak punya siapa-siapa selain Oma, gak ibu dan ayah ataupun yang lainnya. Hik-hik-hik," suara Lica bergetar.
"Kan ada aku. Kau akan terus bersama ku!" hatinya Arya menjadi mencelos.
Kemudian Arya mendatangi Bu Mahdalena yang kedua tangannya diikat karena katanya suka ngamuk.
Pas Arya mendekat. Bu Mahdalena melepas pandangannya yang tajam ke arah Arya. Matanya melotot dengan sangat sempurna.
"Kamu, siapa kamu ha? kenapa wajah mirip dengan musuh ku? kenapa wajah mu berubah menjadi dokter Dimas yang songong itu ha?" Teriak Bu mahdalena.
Arya dan Lica saling melempar pandangan. Lica heran kenapa omanya bilang seperti itu.
"Kau sudah menghancurkan putri ku, hingga dia bunuh diri, ha ha ha ..." sambung Bu Mahdalena di akhiri dengan ketawa lepas.
"Oma, siapa dokter Dimas itu?" tanya Arya, kali aja nyambung.
"Hik-hik-hik putri ku pergi meninggalkan baby. Karena dia tidak sanggup menanggung malu gara-gara pria biadab itu, dan gara dokter Dimas juga putri ku mati ha ha ha ... coba dokter itu mau saya nikahkan! pasti putri ku sampai sekarang ini masih ada dan tidak membuat cucuku tak beribu." Bu Mahdalena menarik-narik tangannya.
"Lepas? setan ... saya tidak gila, masa orang tua seperti saya ini gila! he he he ... kalian yang gila. Eeh kamu Lica, kamu itu cucu saya. Kenapa jadi Kanaya?" mata Bu Mahdalena kini melotot ke arah Angelica yang kini bersembunyi di punggungnya Arya.
"Coba, di Dimas mau saya nikahkan sama putri saya, semuanya tidak akan mati!" ucap kembali Mahdalena.
Tangan Arya mengepal dan rahangnya mengeras! semakin ketara mendekati kalau penyebab kecelakaan yang menimpa orang tuanya itu adalah Bu Mahdalena.
"Oma, siapa itu dokter Arya dan Kanaya?" tanya Angelica sambil mendekati Oma nya.
"Jangan, jangan mendekat! kau itu seperti Kanaya si wanita songong yang tidak berhasil saya racun. Ha ha ha ... tapi saya puas ... sangat puas ... karena kalian mati dalam insiden itu," ucap Bu Mahdalena sambil cengengesan.
Rahang Arya semakin mengeras. Tangan Arya semakin mengepal kuat, ingin rasanya dia menonjok wanita tua itu saat ini juga.
"Saya paling tidak suka, bila ada orang yang tidak dapat saya atur dan menghambat kekuasaan saya! karena saya mau dokter itu menjadi mantu saya biarpun dia bukan yang menghamili putri saya, Putri ku sungguh malang nasib mu. Cucu ku ... kau harus hidup tanpa ibumu dan ayah mu yang tidak bertanggung jawab itu! hik-hik-hik." Mahdalena menangis dan sebentar tertawa.
Semakin ketara siapa Bu Mahdalena yang sebenarnya. Walau sekilas orang tidak akan percaya karena wanita itu dalam ke adaan depresi. Tapi buat Arya itu cukup dapat meyakinkan ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungan nya ya? dan makasih.
__ADS_1