
Lica hanya bergumam dan pura-pura mengigau, membuat Arya menggeleng lalu dia beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian berjalan keluar dari kamar. Arya turun ke lantai bawah dengan dada yang naik turun.
Berbaring di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Bantal kan tangan di bawah kepala dan bantal Sofa yang kecil. Deri yang keluar dari kamar karena tenggorokannya merasa kering kerontang hingga dia berniat mengambil minum.
“Kau tidur di sini sih?” Deri merasa heran.
“Om, iya nih. Di kamar ku ada dia entah dari kapan.” Jawabnya Arya sambil melirik.
“Lho, di kan ada kamarnya. Kenapa berada di kamar kamu? Apa kamu sendiri yang—“
“Apa Om, jangan berpikir yang macam-macam tentang aku.” Arya mendelikkan matanya.
“Ya, terus kenapa dia bisa di kamar mu coba?” Deri tidak habis pikir.
Arya melipat tangannya dia dada. “Entah, ngelantur atau sengaja. Bikin risih saja, lama-alam jadi hilang piling juga sama dia.” Suara Arya pelan sambil melihat ke lantai atas.
“Hilang piling atau suka?” goda Deri sambil mendudukan dirinya di sofa satunya.
“Om ... serius nih.” Arya tidak suka di goda.
Deri hanya menatap datar pada Arya sambil meneguk minumnya. Begitupun Arya terdiam seraya berpikir sesuatu, yang dia inginkan adalah membalas dendam pada bu Mahdalena.
“Om, besok sore ... kita ketemuan sama om Endro dan om Aldo ya? aku ingin mengatakan sesuatu.” Arya tampak serius bicara pada Deri.
“Oke.” Deri mengangguk sambil mendongak ke lantai atas.
“Oke, sekarang aku mau tidur dan besok ada jadwal op, aku harus bangun pagi.” Arya kembali memejamkan matanya.
“Ya, tidur lah Om juga mau tidur di sini ahc.” Deri pun membaringkan dirinya di sofa.
Keesokan paginya, kamar Arya sudah kosong dan Arya langsung masuk tidak lupa mengunci dari dalam. Dia menjadi was-was khawatir dia masuk lagi.
Lica sudah berada di dapur dan menyiapkan sarapan. Buat Arya dengan penuh cinta. “Hem ... wanginya ... menusuk hidung,”
Arya turun dengan penampilan sudah rapi dan menjinjing tas nya. Berjalan menuruni anak tangga. Melihat ke arah Lica yang berdiri di dekat meja makan sedang memandangi dirinya.
__ADS_1
“Apa kau tidak pulang? emang gak kerja?” Arya menghampiri.
“Kebetulan, aku sudah buatkan kamu sarapan dan kita sarapan dulu ya? aku mau pulang setelah kita sarapan.” Balas Lica.
“Oke.” Arya duduk di kursi yang dia tarik dan melihat ke arah meja yang di isi beberapa menu.
“Apa kau tidak suka padaku?” tanya Lica sambil menatap tanpa ekspresi.
“Ha ha ha ... kata siapa? aku suka kok, oya aku antar kau pulang ya?” tawar Arya sambil meneguk minumnya.
“Nggak, aku kan bawa mobil. Kau mau pergi pagi?” tanya Lica sambil menyuapkan makannya.
“Iya, kebetulan ada jadwal op dan agak pagi rencananya sih.” Arya mengangguk pelan dan menyuapi Lica.
Lica sejenak terdiam hingga akhirnya membuka mulutnya.
Deri melintas dengan tas dia punggung dan menjinjing helm, melirik ke arah Arya dan Lica yang sedang sarapan.
“Sarapan Om?” Arya menoleh pada Deri yang melintasinya.
“Om, sarapan di luar saja.Yo, Om duluan!” jawabnya sambil berjalan.
“Aku dulu ya?” Lica yang duluan membawa mobilnya.
“Oke, hati-hati.” Pesan Nya Arya dan membiarkan Lica jauh dulu, setelah itu barulah dia pergi belakangan.
...----...
Di kediaman Kayla yang di temani oleh bi Meri yang sering di bikin pusing dengan ulahnya Kayla yang sering ngamuk dan marah-marah. Apalagi kalau bibi telat melayaninya.
“Bibi? Buruan saya kan haus, gak ngerti amat lelet bagai keong.” Gerutu Kayla sambil bermain ponsel.
“Maaf, Non. Saya sedikit sibuk dan bukan Non saja yang harus layani.” Bela bibi.
“Aalah ... alasan saja. Muak aku mendengarnya.” Pekik nya Kayla yang gak ada sopan-sopannya pada bibi yang jelas lebih tua darinya.
__ADS_1
Bi Meri menggeleng sambil melihat ke arah Kayla yang sedang meneguk minumnya.
“Met siang.” Suara dokter Aldo yang baru datang ke tempat tersebut.
“Met siang juga.” Bi Meri menyambut dokter Aldo.
“Om, Ngapain sih datang? aku tidak suka Om datang. Lagian percuma juga di obati,” ucap Kayla dengan nada sinis.
Dokter Aldo melongo dengan mendengar ucapan Kayla seperti itu. “Ehem, saya datang untuk membantu kamu supaya bisa berjalan lagi, dan kamu juga harus sabar serta berusaha.”
“Hem, percuma! Buktinya sudah beberapa hari ini aku di obati gak sembuh juga.” Kata Kayla sangat putus asa.
“Dengar ya Nona. Ini bukan iklan obat yang langsung minun dan sembuh, dalam kenyataannya kita butuh proses. Gak bisa instan,” tambahnya dokter Aldo sambil duduk di hadapannya Kayla yang duduk di kursi roda.
Kayla tidak lagi menjawab melainkan diam saja, kemudian dokter Aldo berjongkok dan menyentuh kaki Kayla dan memulai terapi.
“Kau harus sabar dan terus berusaha supaya kamu sehat dan bisa berjalan kembali. Dengan usaha ... insya allah akan membuahkan hasil yang memuaskan. Jangan berlian sia-sia dulu. Karena apa pun butuh waktu.” Kata Aldo sambil berdiri dan menarik kedua tangan Kayla agar berdiri.
“Doke ini minumnya of ⁹ of 00Arya Angelica meletakkan minum nya di meja, kemudian dia ngeloyor kembali ke belakang.
Aldo hanya melirik pada meja yang ada minum buat dirinya.
“Kay, kau itu sudah dewasa dan tidak pantas lah kau itu teriak-teriak membentak orang tua, siapa pun dia, tidak baik. Coba kamu bayangkan kalau tidak seorang pun yang mau menemani mu? Kamu mau sama siapa tinggal atau yang melayani mu dia saat seperti ini, kalau sehat sih masih mending. Terus dalam ke adaan seperti ini gimana?” Aldo melepas tatapannya pada Kayla yang belajar berjalan dengan di bantu oleh dirinya itu.
“Om tidak perlu ceramahi aku deh, muak aku!” tolak Kayla menunjukkan tidak sukanya.
“Seperti yang kau tahu, bila oma sudah tiada dan pada kenyataannya tidak ada lagi yang membantu kamu. Perhatian sama kamu. Iya kan?” sambung dokter Aldo.
Kayla terdiam lalu mengingat omanya yang sudah meninggal tersebut. Dia saat dia kecelakaan dan menginap di rumah sakit. Omanya meninggal, meninggalkan dia seorang diri.
Yang membuat hidupnya semakin tidak ada yang perhatikan dia, uang pun di cekik oleh Arya kerena jika dia yang memegang. Entahlah.
Masih untung. Kayla masih belum main dan hura-hura. Jadinya dia belum membutuhkan uang yang banyak. Walau kadang teman-tamannya datang untuk menjenguk dan dia minta di sediakan ini itu pada Kayla.
“Sudah saatnya kau berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik." Lanjutnya dokter Aldo ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Ku harap kalian semua memberikan dukungannya pada ku.