
"Eeh, apa ini?" gumamnya Bu Mahdalena sembari mengarahkan pandangan ke arah secarik kertas yang tergeletak di dekat kakinya.
Dari atas terlihat, kalau itu hanya secarik kertas yang persegi empat tergeletak di dekat kaki Bu Mahdalena. Sesaat dia mengedarkan pandangannya ke arah lain kemudian kembali melihat ke arah kertas tersebut dengan rasa penasaran.
"Enak saja buang sampah sembarangan, kantong sampah juga ada banyak malah." gumamnya lagi sembari mengambil kertas tersebut.
Wanita tua itu berjalan mendekati tong sampah dan sebelum dia buang kertas itu, sempat melihat sebelah kertas itu yang bergambarkan wajah sesrorang.
Betapa kagetnya bu Mahdalena, dia shock melihat gambar yang ada di kertas tersebut dan bertuliskan "Kau yang sudah membunuhku!"
Wanita tua itu mundur berapa langkah dari tempat tong sampah, niatnya ingin membuang kertas itu namun entah kenapa bagai ada magnet di dalam tangannya sehingga kertas itu begitu sulit terjatuh.
"Tidak! aku tidak membunuhnya, tidak. Bukan Aku Bukan Aku pembunuhmu!" kepala wanita itu terus menggeleng dan terus berkata seperti itu membuat orang-orang yang di sana terheran-heran dan menghampiri.
"Anda kenapa. Anda kenapa nyonya? kenapa?"
Namun wanita itu bukan nya menjawab tapi terdiam mematung tak bergeming, matanya pun melotot ke arah tong sampah karena kertas itu sudah dipaksa dilempar ke dalam sana.
Melihat keriuhan tersebut Angelica segera turun dari kursi pelaminan, dia menghampiri sang nenek.
"Oma kau kenapa oma? Oma jawab aku?" Angelica menggoyangkan tangan Ibu Magdalena yang tetap tidak bergeming dan tubuhnya menjadi luruh bersimpuh di lantai.
Sehingga orang-orang mengangkatnya mendudukan dia di sebuah sofa dan memberinya minum.
Wajahnya Angelica berubah menjadi cemas, khawatir takut Omanya kenapa-napa. Yang mulanya berwajah sumringah menampakan sebuah kebahagiaan senyum pun tak pernah memudar, kini berubah menjadi wajah yang pucat tidak berdarah. Senyum pun hilang seketika.
"Oma kau tidak apa-apa kan Oma!" Angelica duduk di dekat rumahnya sambil memegang tangan wanita tua tersebut.
"Tidak aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak melakukan apapun!" gumamnya sambil terus menggelengkan kepalanya tatapannya pun kosong entah melihat ke mana.
Semua yang di sana merasa kebingungan dengan sikap dan perilaku ibu Mahdalena yang mendadak ini.
Sementara dokter Aldo dokter Endro dan Deri bersama Citra dan Tika mereka tampak santai di tempat duduknya semula, menikmati musik yang terus mengalun sebagai penghibur acara pernikahan yang sederhana ini.
__ADS_1
Arya pun kembali dari toilet dan langsung menghampiri ketiga om nya yang tampak santai dan tenang, seolah-olah tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kondisi Ibu Mahdalena.
Keempatnya saling melempar senyuman tipis, seolah tidak ada terjadi apapun.
"Di sebelah sana ada apa ya riuh dan ramai?" suara Tika sembari melirik ke arah Citra.
"Entahlah, mana aku tahu, biarlah nggak usah ikut campur urusan orang, yang penting kita menikmati suasana dan hidangan he he he ..." jawabnya Citra seolah tanpa beban.
"Iya kan sayang?" menoleh pada sang suami yang langsung memberikan respon dengan anggukan.
"Yaps itu benar jangan ikut campur. Siapa tahu masalahnya berat dan kita nggak bisa memikulnya he he he ..." jawabnya Endro sembari merangkul bahunya sang istri.
"Mending ya? kalau beratnya sekilo 2 kilo saja ini berat nya sampai tontonan, kan kita yang sulit," tambahnya Deri sembari meneguk minumnya serta menikmati makanan nya yang ada.
"Nikmati aja alurnya, jangan banyak komen jangan pengen tahu! nanti juga hasilnya akan tahu gimana Iya kan?" ucapnya Aldo dengan begitu santai.
"Beneran, Om Aldo. Nikmati saja alurnya dan mampunya akan sampai mana? sampai akhir atau di tengah jalan, karena hakikatnya Siapa yang menanam itulah yang menuai hasil!" tambahnya Arya seraya menarik bibirnya ke samping.
"Siapa yang menanam padi tentu hasilnya akan beras dan siapa yang menanam ilalang ya hasilnya ilalang juga, rumput liar juga bukan sesuatu yang akan bermanfaat!" timpalnya Deri. Seorang pria yang cool dan sampai detik ini belum mendapatkan juga jodohnya.
"Oke, aku mau ke sana dulu ya! mencari istriku!" Arya mengundur diri dari ketiga omnya itu.
Arya berjalan menghampiri sang istri, melipir di antara orang-orang yang mengerubungi Bu Mahdalena.
"Ada apa ini sayang?" tanya Arya sembari melirik ke arah Angelica.
Angelica melirik ke arah suaminya. "Ini Oma, entah kenapa jadi nggak sadar kayak gini. Aku khawatir dan aku takut dia kenapa-napa!" suara Angelica penuh dengan kecemasan.
Arya memandangi ke arah Bu Magdalena yang terus bergumam serta pandangan kosong.
"Pergilah jauh-jauh, bukan saya yang melakukannya, saya tidak melakukannya!" gumamnya Bu Mahdalena.
Arya terdiam dan dalam hati dia tersenyum sembari berkata. "Ini awal kehancuranmu Oma Mahdalena. Kau sudah menjadikan kedua anak kehilangan orang tuanya!"
__ADS_1
"Kenapa nggak diajak ke kamar saja? kita antarkan ke kamarnya saja ya sayang, biar istirahat." Saran Arya.
"Oh iya, bawa saja ke kamarnya." Angelica mengangguk.
Arya dan yang lainnya memapah Bu Mahdalena ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Angelica mengikutinya dari belakang Lalu setibanya di kamar Angelica membereskan bantal menumpuknya agak sang omah bisa duduk bersandar.
"Istirahat dulu oma biar tenang!" ucap Angelica sambil menyelimuti omanya.
"Saya ini tidak sakit, kenapa kenapa harus dibawa ke kamar segala?" bu Mahdalena menatap ke arah Angelica. Arya dan yang lainnya dengan tetapan sangat tajam.
"Oma ... kayanya Oma sedang kurang sehat, makanya kami membawa Oma ke kamar ini buat istirahat." Angelica menatap omanya yang membingungkan.
"Benarkah aku kurang sehat?perasaan aku baik-baik saja!" kata wanita tua itu sambil mengamati dirinya.
"Iya Oma, sedari tadi Oma itu ngomongnya ngelantur kayak orang mabuk. Aku khawatir Oma kenapa-napa, jadi kita memutuskan membawa Oma ke kamar," sambungnya Angelica sembari melirik ke arah Arya.
Arya yang terdiam dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengamati ruang tersebut. Saat ini yang berada di kamar itu hanya ada Angelica, Arya dan Bu Mahdalena saja.
Dengan diam-diam tangannya menyimpan gambar sang bunda dengan coretan warna darah.
Arya keluar dari kamar itu untuk menemui para tamu bersama sang istri. Baru saja tiga langkah dari pintu, terdengar suara jeritan ibu Mahdalena.
"Tidak, pergi? pergi jangan mengganggu ku, aku tidak melakukannya pergi jauh-jauh."
Membuat Angelica dan Arya melompat balik lagi.
Mahdalena menjerit-jerit dan menunjuk ke arah ujung tepi tempat tidur yang dia bilang ada sesuatu yang menakutkan.
"Ada apalagi Oma ..." Angelica memeluk omanya.
Sementara Arya pura-pura mencari sesuatu yang membuat Bu Mahdalena ketakutan, lalu dia lempar ke kolong ranjang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Hanya dukungan dari kalianlah yang membuat aku tambah semangat.