Pencuri Hati

Pencuri Hati
Ch. 1. Awal Sekolah


__ADS_3


Reno Aldibara, berjalan dengan wajah datarnya menyusuri koridor sekolah barunya bersama sang adik Rayhan Aldibara.



Mereka berdua berjalan beriringan menuju lapangan upacara. Hari ini adalah hari pertama mereka berdua bersekolah di SMA Nusantara Bakti.


Reno langsung berdiri di barisannya saat ia telah sampai di lapangan, sedangkan sang adik lebih memilih menyapa teman-teman barunya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Tanpa mengeluarkan kata, Reno langsung menarik kerah baju Rayhan agar dia berbaris sesuai kelasnya. Sang adik mencebik kesal melihat sikap sang kakak yang menarik dirinya seperti menarik seekor anak kucing.


Dia melirik sekilas Sang kakak yang masih memasang tampang datar meski teman-teman baru mereka menyapanya.


Dengan kesal ia mendekat ke arah Reno dan berbisik, "bisa ngga sih itu muka di permak dikit. Malu-maluin tau ngga?" protes Rayhan namun Sang kakak hanya meliriknya acuh dan kembali fokus ke arah depan.


"Eh kalian kembar ya?" celetuk salah satu gadis di depan mereka yang tengah menatap ke arah Reno dan Rayhan.


Rayhan cengengesan menanggapi pertanyaan si gadis yang ada dihadapannya. Dia melirik Sang kakak yang lagi-lagi nampak tak perduli dengan pertanyaan teman barunya itu. Dengan kesal Rayhan menyenggol lengan Reno cukup keras membuatnya menoleh dengan tatapan tajam.


"Kalo ditanya jawab kek, Kak. Jangan diem mulu, punya mulut tuh di fungsiin jangan dianggurin ntar lumutan kan kasihan."


Reno tak menggubris ocehan adiknya membuat Rayhan mendengus sebal. Pandangannya kembali ke arah gadis di depannya yang masih menatap mereka berdua.


"Maafin dia ya, dia emang kayak gitu orangnya." Rayhan merasa sedikit tidak enak akan sikap Kakaknya di hari pertama mereka bersekolah.


"Oh iya, kenalin aku Rayhan. Dan cowok super irit bicara ini namanya Reno." Ujar Rayhan menunjuk ke arah Reno menggunakan dagunya tak lupa ia juga mengulurkan tangannya mengajak gadis di hadapannya berkenalan.



"Aku Diandra Agnesia, panggil aja Sia, " Ucap Si gadis tadi menyambut uluran tangan Rayhan.


Sesaat Rayhan terhipnotis oleh senyuman gadis dihadapannya membuat dirinya menatap kagum dengan mulut sedikit terbuka. Reno yang melihat kejadian itu lewat ekor matanya berdehem sehingga Rayhan tersadar dari keterpakuannya dan langsung melepas jabatan tangan mereka.


Dengan wajah malunya, Rayhan meminta maaf kepada Diandra. Diandra hanya terkekeh melihat tingkah konyol Rayhan.

__ADS_1


"Kita akan satu kelas," ucap Rayhan antusias.


"Ya... kita akan satu kelas," balas Diandra terkekeh, dia sedikit melirik Reno yang nampak tak merespon sedikit pun.


"Kamu harus duduk denganku nanti, oke? Aku bosan sembilan tahun duduk dengannya yang sangat kaku. Apa kamu tau? Aku bahkan hampir merasakan penuaan dini karena dia." Ucap Rayhan mendramatisir sembari menunjuk Reno menggunakan dagunya.


Diandra tertawa menanggapi celotehan Rayhan dan dia nampak mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata akibat tertawa renyah karena Rayhan terus saja mengeluarkan kata-kata lelucon yang membuatnya tidak bisa menahan tawa.


"Bisakah kalian diam?" Ucap Reno merasa terganggu dengan tingkah kedua orang di sisinya itu.


Rayhan mencebik tak suka akan teguran Sang kakak. Namun sebelum dia mengeluarkan protesnya, upacara bendera sudah langsung dimulai membuatnya harus mengurungkan niatnya.


"Selamat pagi anak-anak," sapa Kepala Sekolah.


"Pagi Pak..." Semua siswa menjawab serempak.


"Bapak ucapkan selamat datang kepada seluruh murid baru di kelas sepuluh. Bapak harap kalian betah belajar di sekolah ini dan terus giat belajar agar impian kalian tercapai---,"


Sang kepala sekolah terus berpidato di depan mimbar hingga tanpa terasa akhirnya upacara bendera pun telah selesai.


Satu persatu peserta upacara meninggalkan lapangan menuju ke ruangan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Reno dan Rayhan.


Dengan segera Rayhan berjalan menyusul Diandra dan menyapa gadis itu.


"Hai, bolehkah aku berjalan bersama kalian?" tanya Rayhan memastikan.


Teman-teman Diandra langsung mengangguk mengiyakan. Mereka menatap takjub ke arah Rayhan yang memiliki wajah tampan.


"Boleh... ayo kita masuk ke kelas bersama."


Sebelum beranjak, Rayhan menoleh ke arah Sang kakak yang tengah mengangkat sebelah alisnya.


"Kakak mau ikut masuk bersamaku tidak?" Tawar Rayhan, semua temannya ikut menoleh ke arah Reno dan lagi-lagi mereka dibuat tercengang oleh wajah kedua orang tersebut.


"Satu saja sudah membuatku sesak napas, apalagi dua. Astaga... aku butuh oksigen..." celetuk heboh salah seorang teman Diandra sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


Diandra langsung menjitak kepala temannya itu, "hei... yang benar saja, jangan maruk. Pilihlah salah satu," ucapnya sebal.


Reno menggeleng menanggapi ajakan Sang adik, dia lalu memutar langkah kakinya menuju ke arah toilet pria.


"Aish... dasar, sebenarnya Kakakmu itu terbuat dari apa? Sedari tadi aku tak pernah mendengar dia mengeluarkan suara sedikit pun," ucap Diandra heran.


"Biarkan saja, dia memang begitu orangnya." Ujar Rayhan santai.


Mereka pun akhirnya melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Saat di perjalanan menuju toilet, tak sengaja Reno mendengar suara isakan tangis seorang wanita yang berada di ruang musik, tepat disamping toilet pria.


Karena penasaran, ia pun mendekat ke arah kaca jendela ruang musik tersebut. Disana ia melihat seorang gadis berseragam sama dengan dirinya tengah menangis sesenggukan sembari memegangi pergelangan tangannya yang terlihat sedikit membiru.


Reno yang awalnya hendak mencuci tangan di toilet pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih masuk ke dalam ruangan dimana si gadis yang tengah menangis berada.


Dengan langkah pelan ia mendekat ke arah Si gadis yang belum menyadari kehadirannya.


Saat tepat berada di hadapan Si gadis itu, Reno terdiam sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Si gadis yang tengah terduduk di lantai menyadari ada seseorang di depannya pun mengangkat kepala melihat Reno yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.


"Kau siapa?" Tanya Si gadis sesenggukan.


"Kau kenapa?" Reno balik bertanya pada gadis itu.


Si gadis menggeleng cepat, "aku tidak apa-apa. Kau siapa? Berani-beraninya masuk kemari." Lagi Si gadis mengulang pertanyaannya kali ini terdengar nada sinis dari Si gadis itu.


Reno terdiam tak menjawab pertanyaan gadis di hadapannya. Pandangannya justru tertuju pada pergelangan tangan Si gadis yang memar.


"Apa kau bertengkar dengan kekasihmu?" Tanya Reno lagi.


Namun Si gadis tak menjawab, dia lebih memilih mengusap air matanya secara kasar dan bangkit berdiri menatap mata Reno.


"Aku tak mengenalmu, jadi kau tak ada hak untuk ikut campur dalam masalahku." Si gadis berucap dengan sinis.

__ADS_1


"Oke," Reno pun langsung berbalik meninggalkan Gadis itu yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Dasar aneh," celetuk Si gadis saat melihat Reno meninggalkan dirinya di ruangan itu, sedangkan orang yang dimaki hanya mengendikkan bahunya acuh lalu menghilang di balik pintu ruang musik.


__ADS_2