Pencuri Hati

Pencuri Hati
Berdamai


__ADS_3

...****************...


Enam bulan kemudian.


"Biar saya aja yang bawa, ya." Rein hendak meraih sebuah nampan yang berisi makanan. Makanan itu adalah pesanan dari pelanggan sebuah rumah makan tradisional di sebuah kota pariwisata.


"Nggak usah, Mbak! Mbak Rein lagi hamil besar. Harusnya diam aja. Nanti kalau terjadi apa-apa sama Mbak gimana? Nanti saya juga yang disalahin," tolak seorang perempuan muda yang nampannya hendak direbut oleh Rein.


"Nggak apa-apa. Saya suka melayani pelanggan di sini. Lagipula itung-itung olahraga. Saya bosan kalau harus berdiam diri dari tadi." Rein tersenyum kepada perempuan muda yang bernama Lala. Nampan itu pun akhirnya berpindah ke tangannya.


Lalat menghela napasnya. Rein memang keras kepala dan tidak mau menurut jika disuruh diam saja. Perempuan hamil itu terlalu aktif bergerak, membuat orang-orang di sekitarnya jadi sedikit khawatir. "Kalau begitu hati-hati, Mbak. Pelan-pelan aja bawanya!" ucap Lala.


"Iya," ucap Rein seraya pergi menuju meja pelanggan yang memesan makanan itu.


Enam bulan adalah waktu yang cukup singkat bagi Rein untuk memulai usaha rumah makannya. Rein sangat beruntung, karena dirinya dibantu oleh orang baik yang mau menginvestasikan uangnya untuk dijadikan modal. Uang hasil rampokan Daren tidak jadi dijadikan modal untuk usaha halalnya tersebut.


Rein menuruti perkataan Bu Wanda yang menyuruhnya untuk tidak menggunakan uang tersebut. "Kalau kamu mau usaha yang halal, jangan menjadikan uang haram sebagai modal. Apalagi uang hasil rampokan. Hasilnya nggak akan berkah."


Kata-kata itu menjadi patokan Rein untuk memulai usahanya. Ia menitipkan uang Daren kepada Ibu Wanda. Menyuruh perempuan paruh baya itu untuk menyerahkannya kepada Aska, jika suatu saat Aska berkunjung ke rumah mereka.

__ADS_1


Kini, kehidupan baru Rein ada di depan mata. Keputusannya untuk pergi ke luar kota sudah membuahkan hasil yang nyata. Sebenarnya niat Rein ke sana bukan untuk membuka rumah makan seperti yang Daren harapkan, melainkan untuk menemui seseorang. Rein hendak meminta pengampunan.


"Rein, ayo pulang! Udah abah bilang jangan ke restoran dulu. Kalau kamu brojol di sini bagaimana? Bisa-bisa abah yang diamuk sama ambu!"


Mendengar omelan seorang lelaki berwajah sangar, malah membuat Rein melemparkan senyuman. Perempuan itu sudah selesai menyuguhkan beberapa hidangan ke meja pelanggan. Ia langsung menghampiri sosok lelaki yang berdiri di dekat pintu rumah makan. Lelaki itu hendak menjemput Rein pulang.


"Ini belum waktunya pulang, Abah. Rumah makan kita tutup jam enam," ucap Rein dengan senyuman yang masih menghiasi bibirnya.


"Jangan ngebantah lagi, ah. Tadi ambu marahin abah gara-gara ngizinin kamu pergi saat dia ke pasar. Dia ngancam mau lepasin ikan-ikan abah ke sungai, kalau sampai abah nggak berhasil bawa kamu pulang. Ck, si ambu mah emang ratu tega. Ikan abah nggak salah apa-apa, malah dijadikan sandera," gerutu lelaki itu sambil berdecak sebal.


Rein pun tertawa. Tinggal bersama mertuanya tersebut membuatnya selalu bahagia. Ya, Rein kembali ke kota tempat kelahiran Aska. Ia ingin memperoleh pengampunan sekaligus hukuman dari Ranti dan Bahar, selaku orang tua dari orang yang kehilangan nyawa karena ulah sahabatnya.


Atas nasihat dari Bu Wanda, Rein mengakui semua kejahatannya pada orang tua Aska yang sekaligus mertuanya juga. Awalnya Ranti marah kepada Rein. Sebagai seorang ibu yang anaknya menjadi korban kejahatan seseorang, tentu saja Ranti tidak bisa menerima begitu saja.


Beruntung Aska tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Tugasnya sebagai abdi negara membuat lelaki itu belum ada waktu untuk menyambangi rumah orang tuanya. Sedangkan Abian sudah kembali menjadi anak yang penurut dan pintar. Ia sudah tidak menanyakan keberadaan Rein lagi. Justru sekarang, anak kecil itu sudah lebih akrab dengan Asti.


****


"Maafkan, Rein, Ambu! Rein janji akan menjadi pengganti anak kalian yang sudah meninggal. Merawat Ambu dan Abah di sini," ucap Rein kala itu.

__ADS_1


Ranti tidak memberikan jawaban apa-apa. Selama sebulan dia mengabaikan Rein yang bersikukuh tinggal di rumah mereka. Berbeda dengan Ranti, Bahar bisa mengerti dengan penyesalan yang dirasakan oleh Rein. Mungkin karena sesama pensiunan preman, sehingga Bahar bisa merasakan apa yang Rein rasakan. Dengan tangan terbuka, Bahar menerima permohonan maaf dari menantunya tersebut.


Kegigihan Rein pun membuahkan hasil. Hati Ranti pun akhirnya tersentil. Perlakuan Rein yang selalu sabar menghadapi kebenciannya, membuat ibu dari suaminya Rein tersebut akhirnya memberikan maaf.


Terlebih saat dirinya mendengar perkataan Bahar yang mampu menembus gembok kebencian yang membelenggu hati Ranti.


"Sampai kapan Ambu mau membenci Rein seperti ini?" tanya Bahar suatu hari pada istrinya.


Ranti hanya mendelikkan mata. Ia merasa enggan untuk membahas hal tersebut.


"Abah pikir, kebencian Ambu itu nggak ada gunanya. Toh, itu nggak akan mengembalikan anak kita yang sudah meninggal dunia. Malah sikap Ambu ini hanya akan menyakiti diri Ambu sendiri, terlebih Rein dan cucu kita yang ada dalam kandungannya. Apa Ambu nggak takut kesedihan Rein akan berpengaruh buruk sama anak dalam kandungannya itu? Kalau udah kejadian, Ambu pasti nyeselnya dua kali, atuh!"


Tatapan tajam Ranti berubah redup. Rasa bersalah mulai menyeruak ke dalam hatinya. Ia terdiam sambil mencerna ucapan Bahar.


"Abah, teh, ngerti perasaan Ambu. Abah juga marah sama perampokan itu. Tapi, dengan Rein tinggal di sini, itu udah lebih dari penjara buat dia, Ambu. Cik, atuh, Ambu pikir! Rein udah berjuang buat melawan rasa bersalahnya, sedangkan bertemu kita aja udah membuat hatinya terluka, karena rasa bersalah itu pasti semakin mencuat dan semakin menyiksa. Abah sering melihat Rein menangis sendiri, tapi berusaha tersenyum di depan kita. Apa Ambu nggak kasihan sama dia? Lagian bukan Rein yang membunuh Dhana, melainkan temannya. Itu pun nggak sengaja. Ambu pernah denger sendiri, kan, polisi pernah bilang kalau sidik jari yang ada di senjata itu cuma milik Dhana. Udah, atuh, Ambu. Mungkin itu sudah takdir anak kita, yang meninggal karena menjalankan tugasnya. Ikhlaskan anak kita, nya! Maafin Rein sama temannya!"


Air mata yang sudah membendung pun akhirnya tumpah juga. Ranti pun menangis di dalam pelukan suaminya. Hati Ranti sedikit terbuka. Dari saat itu, Ranti pun memutuskan untuk memaafkan menantunya. Penuturan panjang Bahar berhasil membuat Ranti berdamai dengan kenyataan. Ranti dan Rein akhir berdamai.


...****************...

__ADS_1


...tbc...


...Akhirnya damai juga. Hayati sudah lelah melihat mereka kejar-kejaran terus 😔🤭...


__ADS_2