
"Lihatlah dia," Tante Zetta langsung mendorong Zetta ke arah Sang ayah yang tengah berada di meja kerjanya.
Sang ayah menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti maksud dari Sang adik. "Apalagi masalah yang dia buat?"
Sang adik tertawa sarkas menanggapi pertanyaan yang terlontar dari mulut Ayah satu anak itu. "Kau tanyakan saja pada Si biang onar yang selalu membuatku naik pitam." Ujarnya sembari mendudukkan tubuhnya di kursi ruang kerja Ayah Zetta.
Ben mengalihkan pandangannya ke arah Zetta dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras saat dirinya menatap anak semata wayangnya itu. Dengan kasar ia bangkit berdiri lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zetta yang saat ini tengah tersungkur di lantai. Ia menarik kasar lengan kanan Zetta hingga Sang anak meringis kesakitan.
"Cepat katakan apa yang telah kau perbuat kali ini!" Desis Ben dengan tatapan tajamnya menatap Zetta.
Zetta menggeleng lemah, karena ia tak merasa melakukan kesalahan apapun saat ini. Dirinya hanya diam, enggan mengeluarkan suara. Tapi, bukannya berhenti mencengkeram lengan Zetta, Sang ayah justru semakin memperkuat cengkramannya membuat Sang anak hanya dapat menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang teramat sangat di tubuhnya.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah agar dia mau merenungkan kesalahannya dan tak mengulangnya lagi." Titah Ben pada Irene, Sang adik yang saat ini tengah tersenyum amat tipis. Ia lalu mengangguk dan menghampiri Zetta yang masih terduduk di lantai, kemudian meraih tangannya dan menarik paksa menuju ke ruang bawah tanah dimana tempat itu adalah ruang rahasia milik Ben yang sengaja ia buat untuk melampiaskan amarahnya.
☘☘☘
"Selamat menikmati harimu anak nakal," ucap Irene sinis disertai smirk jahat di wajahnya.
Saat ini mereka berdua telah sampai di ruang bawah tanah dimana Zetta akan dikurung sebagai hukuman dari Ben.
Irene mendorong paksa tubuh Zetta saat keponakannya itu berusaha memberontak padanya. "Kau diamlah disini, atau kau ingin aku melakukan hal yang lebih menakutkan dari ini?" Tanya Irene dengan tawa jahatnya yang menggelegar di pintu ruangan tersebut.
Zetta tersenyum remeh menanggapi ucapan dari Tantenya itu, bukannya takut ia justru menampilkan wajah datarnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kali ini kau menang, tapi aku pastikan hari esok kau yang akan berada disini sambil memohon ampun padaku. Dasar rubah licik," ucap Zetta dengan nada sinis.
__ADS_1
Irene tertawa sumbang menanggapi ucapan bocah dihadapannya itu, ia melangkah mendekati bibir pintu yang terbuka sedikit. "Jangan mimpi anak kecil," sarkasnya sebelum akhirnya ia menutup pintu dan menguncinya dari luar.
"Rasakan!" Monolognya saat pintu sudah benar-benar tertutup rapat.
Irene lalu melangkah menjauhi ruang bawah tanah menuju ke kamarnya dengan wajah yang bahagia.
☘☘☘
Di belahan dunia lainnya, dua orang lelaki kembar saat ini tengah sibuk beradu basket di halaman rumah mereka. Dengan penuh semangat mereka melakukan pertandingan satu lawan satu.
"Yakkk! Kau curang, Kak! Itu tak adil, ulang!" Protes Sang adik yang tak terima kakaknya merebut bola darinya dengan cara menyandung kaki kirinya.
Sang Kakak menghentikan permainannya sejenak, dengan napas terengah ia menatap Sang adik yang saat ini tengah memberengut sebal menatapnya. "Hei, itu bukan curang. Itu hanya salah satu bagian dari taktik bermain asal kau tahu," bela Sang kakak.
Rayhan masih saja menatap sebal ke arah Reno yang saat ini memasang tampang tak bersalahnya. Saat mereka tengah sibuk beradu argumen, tiba-tiba suara klakson sepeda motor mengalihkan atensi keduanya.
Betapa terkejutnya kedua pria saat sampai di depan gerbang rumah mereka ketika mendapati seorang gadis dengan mengenakan helm fullface tengah duduk di atas motor sport dengan tangan kanan melambai ke arah mereka berdua.
Rayhan dan Reno saling tatap satu sama lain dengan wajah bingungnya. "Apa kau berpikiran sama sepertiku?" Tanya Reno yang dibalas anggukan oleh Rayhan.
Perlahan gadis yang berada di atas motor membuka helm yang ada di kepalanya, bak adegan slow motion seperti yang ada di film-film duo kembar itu memperhatikan gerak demi gerak yang dilakukan gadis di hadapan mereka.
Lagi-lagi Reno dan Rayhan dibuat terkejut kalau melihat sosok di balik helm itu, Diandra tersenyum tanpa dosa ke arah mereka berdua yang saat ini tengah berdiri dengan mulut menganga menatapnya. "Hei-hei..." Diandra melambai-lambaikan telapak tangan kanannya ke arah kedua anak di depannya saat ini.
__ADS_1
Reno dan Rayhan yang tersadar langsung menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal, membuat Diandra menggelengkan kepalanya dengan kekehan kecil. "Kalian ini kompak sekali ya," puji Diandra pada adik kakak itu.
Mereka hanya tersenyum malu menatap Diandra yang sekarang tengah melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kalian terkejut?" Goda Diandra diiringi senyum jahilnya.
Dengan cepat Reno dan Rayhan pun menggeleng, "no!" Jawab mereka berdua kompak.
"Well... awalnya aku terkejut, tapi setelah aku mengetahui kau yang mengendarai motor ini, aku sudah tak heran lagi. Kau kan petakilan," ucap Rayhan sembari mengelus body motor Diandra yang berwarna merah itu.
Reno hanya diam menyaksikan percakapan antara Rayhan dan Diandra, ia enggan ikut masuk dalam obrolan dua sejoli itu.
"Kalian tak menawari ku masuk?" Tanya Diandra dengan wajah tak percaya.
"Disini tak menerima tamu wanita," Reno bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari bola basket yang tengah ia pegang.
Dengan santainya ia duduk di pinggir jalan depan rumahnya lalu memutar-mutar bola basket itu menggunakan telunjuk tangan kanannya.
Rayhan menggelengkan kepalanya, tak percaya akan sikap Sang kakaknya itu. Tidak bisakah ia mengurangi kadar kecuekan nya, Tuhan? Rayhan bertanya dalam hati dengan geram.
"Sudahlah Si, kita abaikan saja dia. Jadi kau kemari untuk main ke rumahku?" Tanya Rayhan saat mereka menepi di depan gerbang.
Diandra menggeleng, "tidak. Bukankah kita sudah sepakat hari ini mengerjakan tugas kelompok di rumah kalian." Ucap Diandra dengan santai.
Rayhan mengangguk mengerti. Ia baru ingat hari ini ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan besok. Dengan segera, ia menyuruh Diandra membawa masuk motornya ke dalam garasi.
__ADS_1
"Sebenarnya yang Kakak itu kau atau dia?" Tanya Diandra disela langkah kakinya menuju garasi.
Rayhan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Diandra, "sudah lupakan saja. Dia memang seperti itu, jadi kau harus memaklumi nya mengerti?" Tanya Rayhan yang langsung dijawab oleh Diandra, "baiklah-baiklah mari kita segera mengerjakan tugas kelompok kita." Ajak Diandra saat mereka telah sampai di ruang tamu Rayhan.