Pencuri Hati

Pencuri Hati
Ch. 7. Tak Terduga


__ADS_3

Reno berjalan dengan acuh menyusuri lorong sekolahnya. Kali ini ia tak berangkat bersama Sang adik, Rayhan karena dirinya mendapat tugas piket dan harus berangkat pagi-pagi agar cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Ia berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua dimana kelasnya berada.


Sebelum menginjakkan kakinya di ruang kelas, tiba-tiba muncul segerombol anak perempuan menghampirinya di ambang pintu masuk. Salah seorang dari lima anak tersebut berjalan menghampiri Reno dengan menenteng kotak berwarna cokelat di tangannya.


Dengan malu-malu Si gadis berambut ikal dengan gaya rambut kuncir kuda itu menyerahkan kotak yang berada digenggamannya pada Reno. Reno tahu siapa gadis di depannya itu, dia adalah Rain. Anak yang berada di kelas sebelah kelas Reno.


Gadis cantik yang menjadi pusat perhatian siswa satu sekolahnya di hari pertama mereka masuk sekolah.


"I-ini... kuharap kau mau menerima Re-Reno..." Si gadis nampak gugup saat menyerahkan hadiah yang dia berikan.


Reno masih terdiam di tempatnya dengan alis terangkat ke atas. Tangan kanannya yang tengah memegang tas di pundak pun tiba-tiba berpindah ke dalam saku celananya. Seolah-olah mencari sesuatu di dalam sana.


Gadis cantik dihadapan Reno tampak menatap aktivitas Reno dengan dahi berkerut.


"Tunggu sebentar," ujar Reno seolah mengerti isi otak Rain. Perlahan Reno mengeluarkan sepasang sarung tangan dari sakunya.


Setelah memasang sapu tangan tersebut, ia pun meraih kotak hadiah yang diberikan oleh Rain.


Rain nampak bahagia saat hadiahnya diterima oleh pria yang menjadi incarannya itu, di belakang mereka teman-teman Rain nampak memekik ketika melihat hadiah kawan mereka diterima dengan senang hati oleh Reno.


"Terima kasih hadiahnya, tapi kau tak perlu susah-susah memberiku hadiah karna aku tak suka menjadi beban untuk orang lain," tutur Reno dengan nada datarnya.


Teman-teman Rain nampak terkejut atas apa yang Reno ucapkan, mereka semua menutup mulut mereka karena terkejut dengan sikap Reno.


Sedangkan Rain, saat ini wajahnya nampak kecewa mendengar penuturan Reno. Pasalnya baru kali ini ia merasa ditolak oleh seorang pria apalagi itu Reno, siswa seangkatannya yang banyak diidolakan oleh teman-temannya meskipun ia baru masuk sekolah.


Tanpa permisi Reno pergi meninggalkan Rain dan kawan-kawannya yang masih dalam mode terkejut.


Salah satu teman Rain langsung menghampiri sahabatnya setelah Reno benar-benar masuk ke dalam kelas. Ia merangkul pundak Rain berusaha menghibur temannya yang tengah patah hati itu.


"Sabarlah, dia pasti tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya." Ia menepuk-nepuk pelan pundak Rain.


"Bagaimana bisa dia mengacuhkanku Bie, orang lain saja berlomba-lomba mendekatiku tapi dia..." Rain nampak menggelengkan kepalanya heran.


Beby berusaha menahan tawanya saat ini agar tak menjadi sasaran kemarahan Rain.


☘☘☘

__ADS_1


Reno berjalan mendekati seseorang yang tengah duduk di tanah beralaskan rumput hijau dengan tatapan kosong.


"Ini," Reno menyodorkan kotak yang diberikan Rain pada orang itu.


Zetta mendongak menatap Reno yang masih berdiri di bawah pancaran sinar mentari yang cukup terik siang ini.


"Apa itu?" Tanya Zetta tanpa meraih kotak pemberian Reno.


"Ambillah, aku mendapatkannya dari seorang gadis." Jawab Reno santai.


"Apa kau tak berniat duduk disampingku?" Zetta bertanya dengan masih menatap ke arah Reno matanya sedikit menyipit efek silau.


Reno mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat yang di duduki Zetta.


Dia nampak berpikir hingga akhirnya dengan jahilnya Zetta menarik lengan kanan Reno membuat Si pria itu terkejut.


"Hei...! Apa kau tahu? banyak kuman disini dan dengan sengaja kau menarikku hingga jatuh. Kau gila!" Bentak Reno seraya bangkit membersihkan tubuh bagian belakangnya yang kotor. Beruntung saat ini ia memakai sarung tangan jadi dia tak perlu repot-repot mengotori telapak tangannya itu.


"Dasar maniak kebersihan," cibir Zetta. Seolah dejavu, Zetta langsung menatap ke arah Reno penuh tanya.


Reno yang sedang kesal pun balik menatap Zetta sengit.


"Apa kau orang yang waktu itu memberiku handuk dan minuman?" Zetta bertanya dengan penasaran.


Reno hanya mengendikan bahunya acuh. "Ada apa dengan wajahmu? Apa kau habis menangis? Kau terlihat buruk saat ini," Tanya Reno sambil menatap ke arah lain.


"Kau terlalu ingin tahu urusan orang lain." Sarkas Zetta, ia lalu bangkit berdiri membersihkan tubuhnya yang kotor terkena rumput.


Dengan santai Zetta berjalan meninggalkan Reno yang masih menunggu jawaban Zetta.


"Kau ingin ikut aku atau tetap berdiri disitu?" Zetta bertanya sembari melanjutkan langkahnya.


"Maaf saja, aku tak ingin membolos sepertimu. Sudah saatnya masuk ke kelas," sindir Reno.


Zetta tak perduli, ia tetap berjalan santai menuju tempat favoritnya.


☘☘☘


"Hei kau! Kalau jalan pake mata!" Bentak seorang pria botak yang tak sengaja tertabrak oleh Zetta.

__ADS_1


Zetta terlihat menatap pria tersebut dengan acuh tak berniat meminta maaf kepada pria itu.


"Hei Pak! Kalau mau nyuri jangan disini. Bapak ngga takut diamuk massa?" Tanya Zetta menatap nyalang pria botak di hadapannya.


Saat ini mereka berada di ATM dekat sekolah Zetta. Saat Zetta baru keluar dari tempat penarikan uang itu, pria botak yang tengah mengomel dihadapannya tiba-tiba menabrakkan tubuhnya pada Zetta seraya memasukkan tangannya ke dalam tas sekolah Zetta yang belum tertutup sempurna.


"Kau bilang apa hah! Berani-beraninya kau menuduhku tanpa bukti," pria botak itu masih tetap menyudutkan Zetta.


Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka tampak memerhatikan pertikaian antara keduanya.


Tak jauh dari tempat mereka berdua, Reno, Rayhan dan Diandra sedang melihat Zetta yang terlihat sangat emosi.


"Apa perlu kita hampiri mereka, Kak?" Tanya Rayhan yang sedang menatap ke arah Zetta.


Reno mengembuskan napasnya pelan lalu menggeleng singkat, "tak perlu. Kita lihat apa yang akan terjadi." Jawabnya santai.


"Hei... kalian tega melihat Kak Zetta disakiti oleh preman kampung macam dia?" Kali ini Diandra mengeluarkan protesnya tak terima akan ucapan kedua teman kembarnya itu.


"Diamlah,"


Tiba-tiba saja Si pria botak mengangkat tangannya ke udara saat Zetta terus-menerus berkata jika ia mencopet.


"Berani sekali kau berbicara seperti itu," ucap Si pria botak geram.


Tangannya melayang hendak menampar pipi Zetta, namun dengan cepat Zetta meraih tangan pria itu dan memelintir nya ke belakang.


Keadaan berbalik sekarang, saat ini Si pria itu justru mengaduh kesakitan dan memohon agar Zetta melepaskannya. Satu persatu orang-orang berkumpul melihat pertikaian mereka.


"Mengaku atau kupatahkan tanganmu," desis Zetta.


Si pria botak meringis, tubuh Zetta kecil namun tenaganya cukup kuat membuat preman itu tak berkutik.


"Cepat mengaku atau kau berakhir detik ini juga," ancam Zetta, preman itu mengangguk lemah.


Akhirnya ia mengiyakan ucapan Zetta dan mengakui kesalahannya. Orang-orang yang berada disana nampak kesal melihat tingkah preman itu. Mereka berniat hendak memukul beramai-ramai, tapi langsung dicegah oleh Zetta.


"Biarkan saja dia pergi." Ucap Zetta dingin. Lalu meninggalkan kerumunan orang tersebut.


Di tempatnya, Reno diam-diam menyunggingkan senyum menatap Zetta sedangkan kedua orang di sampingnya menatap takjub atas sikap Zetta.

__ADS_1


__ADS_2