
...****************...
Rein seperti berada dalam suasana yang mencekam, detak jantungnya berirama begitu kencang. Perkataan suaminya barusan terngiang-ngiang di telinganya. Apa itu artinya, Aska ingin pernikahan mereka berlanjut selamanya.
"Ma—maksud, Mas ... apa?" Rein terbata saat mengeluarkan suaranya.
Deru napasnya masih tak beraturan, karena jarak mereka masih sangat dekat. Hanya satu jengkal, bahkan Rein bisa mendengar degup jantung Aska yang berdebar kencang sama seperti miliknya. Kedua manik mereka saling bertemu. Kedua tangan Aska masih berada di pipi perempuan itu.
"Saya ingin pernikahan ini berlanjut sampai nanti, sampai ajal menjemput kita. Ini serius Rein. Saya udah jatuh cinta sama kamu. Kamu udah berhasil mencuri hati saya."
Mulut Rein bungkam seribu bahasa. Kedua matanya membulat seperti bola. Ia tidak menyangka Aska akan dengan mudahnya jatuh cinta. Membuat hati Rein jadi tidak berdaya. Tidak bisa dipungkiri jika Rein juga memiliki perasaan yang sama. Namun, selama ini perempuan itu tidak mau mengakuinya. Ia berpikir percuma jika mencintai aparat negara. Profesinya sebagai pencuri telah membentangkan jarak mereka, seperti langit dan bumi.
"Itu nggak mungkin, Mas." Rein menepis tangan Aska dengan kuat. Lalu mundur satu langkah sambil menggelengkan kepala.
Aska mengernyit bingung. Selama ini sikap Rein sangat baik kepadanya, pun kepada keluarganya. Dengan modal ketampanannya, Aska juga yakin Rein pasti menyukainya. "Kenapa? Kamu tidak suka sama saya?" tanyanya kemudian. Tubuhnya maju selangkah, tetapi Rein mundur satu langkah juga.
"Kita udah bikin kesepakatan, kan? Kalau kita akan bercerai setelah Abian sembuh dari traumanya."
"Kita bisa batalin kesepakatan itu. Kesepakatan itu hanya dibuat secara lisan, tidak ada hitam di atas putih," tukas Aska.
"Tapi kita ini nggak cocok, Mas. Aku ini seorang pencuri." Akhirnya Rein mengakui profesinya. Aska terkesiap tentu saja.
"Kamu bohong, kan?"
"Aku serius." Rein menjawab tegas.
Seketika hening menguasai atmosfer di sana. Sampai beberapa saat kemudian, Aska menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Langkahnya maju ke depan. Kali ini Rein tidak lagi menghindar.
Rein diam saja saat Aska menggenggam kedua tangannya lalu berkata, "Saya nggak peduli siapa pun kamu. Jika kamu orang jahat, saya akan membimbing kamu menjadi orang yang lebih baik lagi. Karena itu adalah tugas seorang suami."
Deg!
Jantung Rein serasa melesak sampai ke dasar. Embusan angin segar seolah menerpa hatinya yang tipis iman. Ia begitu terkesan dengan perkataan Aska yang tulus mencintainya, pun mau menerima Rein apa adanya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa ninggalin pekerjaan aku, Mas."
"Kenapa? Selain berdosa, pekerjaan kamu itu berbahaya, Rein?" tanya Aska
"Aku butuh uang banyak untuk menghidupi anak panti, juga ... membelikan rumah yang layak untuk mereka."
"Jadi selama ini kamu menghidupi anak-anak panti dengan uang haram?" Aska tidak habis pikir dengan perbuatan istrinya tersebut.
Rein mengangguk. "Iya," jawabnya, "tapi aku hanya mengambil hak mereka dari orang-orang kaya yang aku curi uangnya saja. Kadang orang-orang itu suka lupa untuk mengeluarkan zakat dari sebagian harta mereka," imbuh Rein yang membuat kerutan di kening Aska terlihat begitu dalam.
"Ajaran dari mana itu? Sesat!" sanggah Aska, "masalah sedekah, itu urusan mereka dengan Tuhan-Nya. Yang saya tahu, apa pun alasannya mencuri itu tidak pernah diperbolehkan oleh agama dan negara," tambah Aska mengingatkan istrinya.
"Lalu dari mana aku bisa mendapatkan uang, Mas. Karena cuma itu yang aku bisa." Rein melepaskan tangannya dari genggaman Aska.
"Saya akan bantu kamu untuk membiayai anak panti."
"Aku nggak mau merepotkan orang lain."
Rein masih terdiam.
"Sekarang saya mau tanya sama kamu. Kamu mencuri sudah lama?" Rein menganggukkan kepala. Aska mengernyit lagi. Ia tidak percaya kenapa harus jatuh cinta pada perempuan yang sering sudah melakukan dosa. Namun, apa mau dikata. Cinta bebas memilih siapa pun yang dikehendakinya.
"Lalu apa kamu pernah berpikir, dari sekian lama kamu mencuri, tapi uang yang kamu dapatkan tidak pernah cukup untuk membeli sebuah rumah untuk anak panti. Alasannya karena uang yang kamu dapat itu nggak berkah. Allah tidak mengizinkan kamu membeli rumah untuk mereka tinggal. Saya juga yakin Bu Wanda pasti nggak tahu pekerjaan asli kamu. Dia juga pasti kecewa saat tahu itu."
Rein tertunduk malu. Benar sekali apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Air matanya pun tergenang dan tidak bisa tertahan. Mengalir dengan deras dengan tubuh bergetar kencang. Rein menangis sesegukan.
Melihat istrinya menangis, Aska langsung pasang badan. Lelaki itu merengkuh tubuh istrinya masuk ke dalam pelukan. Tak lupa memberikan usapan lembut penuh kasih sayang di punggung istrinya tersebut.
"Udah, jangan nangis! Kamu ngaku jadi pencuri, memangnya nggak takut saya akan bawa kamu ke kantor polisi?" celetuk Aska menakut-nakuti.
Rein langsung mendongak dan mendorong tubuh Aska seketika. Ia ketakutan jika benar akan masuk penjara. "Kamu mau melakukan itu, Mas?" tanyanya gusar. Aska malah tertawa riang.
"Nggak, lah. Sini, sini! Saya peluk lagi," ucapnya sambil memeluk Rein lagi.
__ADS_1
Rein diam saja ketika Aska membungkus tubuhnya. Namun, Rein masih memasang mode waspada.
"Saya nggak punya bukti untuk kasus pencurian kamu yang sudah lalu. Menangkap penjahat juga ada prosedurnya. Harus ada korban, saksi, dan bukti. Beda lagi kalau kamu ketahuan mencuri setelah ini. Walaupun kamu istri saya, saya tidak akan pandang bulu," tutur Aska sambil melepaskan pelukannya. Ia usap sisa air mata di pipi Rein dengan ibu jarinya. Di bibirnya melengkung sebuah senyuman yang begitu manis.
Rein menatap Aska sambil mengerjap gugup. Berusaha mencerna apa dikatakan suaminya. Dia mengakui kesalahannya, mungkin sudah saatnya Rein mengakhiri perbuatan dosanya.
"Jadi ... kita lanjutin aja, nih, nikahnya?" tanya Rein malu-malu. Sepertinya dia setuju untuk insyaf dengan meninggalkan pekerjaannya itu.
Senyuman tipis melebar seketika di bibir Aska. Wajahnya terlihat semringah ketika mendengar Rein bertanya seperti itu, karena itulah yang Aska mau.
"Tentu aja, Sayangku! Kamu akan menjadi ibu dari anak-anak aku."
"Aku?" Rein sedikit terkejut mendengar Aska mengubah panggilannya.
"Ya, kenapa? Kalau pake kata 'saya' terdengar agak kaku," ujar Aska.
Benar. Selama ini Rein merasa canggung jika mengobrol dengan Aska. Rein seperti mengobrol dengan orang asing saja.
"Iya, sih." Rein terkekeh pelan.
"Oke, kalau gitu mulai malam ini kamu tidur di kamar aku."
"Hah? Ti–tidur bareng gitu?" Rein tersentak, membuat bicaranya jadi tergagap.
"Iya, dong. Suami istri itu harusnya tidur bareng."
Rein menelan ludahnya kelat melihat seringai aneh yang terbesit di bibir Aska. Ia jadi curiga, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya?
...****************...
...To be continued...
^^^Dua bab, nih, gengs. Lanjut lagi jangan? 😅^^^
__ADS_1