
...****************...
Rein bergeming, air matanya masih terus mengalir. Bukan tidak mungkin jika suaminya itu akan menjebloskan dirinya ke penjara. Aska pernah bilang, jika dirinya tidak akan pandang bulu pada setiap kejahatan. Apalagi ini tentang kasus kematian kakaknya yang tersayang.
"Gimana, Sap? Lo masih mau balik lagi ke rumah itu?" tanya Daren lagi.
Rein menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Hari ini dia harus membuat keputusan. Dia tidak bisa masuk penjara, karena Rein masih harus menghidupi adik-adik pantinya. "Gue pasti ninggalin mereka, kok. Tapi untuk sekarang gue mesti pulang. Ada yang perlu gue selesaikan dulu di sana," ujar Rein sedikit lebih tenang.
"Terserah lo, deh. Gue cuma takut lo mau nyerahin diri gitu aja. Inget, Sap! Mimpi lo belum terwujud." Daren mengingatkan Rein tentang mimpinya untuk membeli sebuah rumah untuk saudara pantinya. Rein mengangguk.
"Gue pulang, ya. Secepatnya gue balik ke sini lagi," pamit Rein.
"Oke. Hati-hati!" sahut Daren. Kemudian mengantarkan perempuan itu menuju mobilnya. Daren masih bergeming di tempatnya sampai mobil Rein menghilang dari pandangannya.
***
Sepanjang perjalanan pulang Rein masih kepikiran dengan perkataan Daren. Mereka memang bersalah karena kasus perampokan itu, tetapi Daren juga tidak sengaja membuat ayahnya Abian terbunuh saat itu. Rein seperti berada di antara jurang yang terjal. Rein harus memilih salah satunya. Hasilnya sudah pasti menyakitkan semua. Jurang yang satu adalah masuk penjara, dan satunya lagi adalah kehilangan cinta.
Rein tiba-tiba teringat dengan Abian. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. "Sekalian jemput Abian aja, deh," gumamnya, lalu memutar setir kemudinya ke arah sekolah Abian.
Sekitar pukul 10.50 Rein tiba di sekolah. Menunggu sepuluh menit sampai bel pulang pun berbunyi. Abian berlari kecil menemui tante iparnya tersebut. Rein memang sengaja menunggu di tempat yang mudah terlihat oleh anak-anak yang baru keluar kelas.
"Tante, tumben jemput aku?" tanya Abian.
Rein menatap wajah Abian dengan sendu. Rasa bersalah kembali hinggap dalam hatinya. Akibat ulahnya dan teman-temannya, anak sekecil itu harus kehilangan orang tua. Tanpa aba-aba perempuan itu langsung memeluk tubuh mungil Abian. Mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Air matanya pun kini sudah tergenang.
"Tante kenapa? Kok, nangis?" Abian bingung dengan sikap Rein. Kepalanya mendongak menatap wajah Rein sambil mengerjap bingung.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Sayang. Yok, pulang!" Rein menghapus kasar jejak air matanya dengan ibu jari. Senyuman tipis terkesan hampa pun disematkan di bibirnya.
Abian hanya mengangguk patuh. Ia mengikuti Rein yang menggiring tubuhnya masuk ke dalam mobil.
***
Sesampainya di rumah, Abian langsung masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju, sedangkan Rein masuk ke kamar Aska. Perempuan itu membuka pintu kamar dengan perlahan, karena takut akan mengganggu tidur suaminya. Namun, saat Rein sudah masuk kamar, kening Rein langsung mengkerut bingung karena tidak mendapati suaminya tertidur di atas ranjang.
Ia berniat untuk mencari suami di kamar mandi, tetapi pelukan dari arah belakang membuatnya urung melakukan itu.
"Mas, bikin kaget aja, si!" pekik Rein terkejut.
Aska tertawa lalu membalikkan tubuh Rein agar menghadap dirinya. Rein kembali dibuat bingung karena penampilan Aska sudah rapi seperti mau pergi. "Kamu mau ke mana udah rapi gini?" tanya Rein.
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," jawab Aska.
"Ke mana? Kamu baru tidur sebentar, masa udah pergi lagi?"
"Tapi aku juga baru pulang sama Bian. Tadi aku sekalian jemput dia di sekolahnya."
"Oh, baguslah kalau gitu. Jadi nggak perlu nungguin dia lagi. Kita langsung pergi aja." Aska menarik tangan Rein keluar kamar. Tanpa mengizinkan perempuan itu untuk rehat barang sebentar.
"Kita mau ke mana, si, Mas?" tanya Rein penasaran.
"Mau ngajak makan di luar. Bentar lagi jam makan siang. Kamu belum masak, kan?"
Rein berpikir sejenak. Ia baru ingat jika belum masak untuk makan siang mereka. Ia pun merasa bersalah karena pulang terlambat. "Maaf, Mas. Aku tadi kelamaan mainnya," sesal Rein.
__ADS_1
Aska tersenyum. Tangannya terulur dan mengelus pipi Rein dengan lembut. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku memang sengaja mau ngajakin kalian makan di luar. Sekalian mau ngajak kamu ke suatu tempat."
Kedua alis Rein terlihat bertaut sambil berpikir keras. Tempat apa yang akan didatangi mereka? Apa mungkin tempat tersebut adalah ... penjara? Sungguh, kini otak Rein selalu berprasangka buruk, semenjak Daren mengatakan tentang kejahatan mereka kepada kakaknya Aska.
Debaran jantung yang tidak bisa diajak tenang membuat Rein salah tingkah. Entah kenapa berdekatan dengan Aska membuat hatinya jadi resah. Rein tidak mau masuk penjara, karena ia belum memenuhi keinginannya untuk membeli sebuah rumah.
***
"Om mau ngajakin Bian ke tempat kerjanya mama dulu, ya?" Bian bertanya sambil melihat ke luar jendela mobil. Mereka baru saja selesai makan siang di sebuah restoran. Aska langsung mengajak Abian dan Rein ke tempat yang maksudnya tadi. Abian sangat hafal jalan tersebut. Dulu, bersama sang mama ia selalu melewati jalan itu.
"Iya, Sayang. Nggak apa-apa, kan, kita ke sana? Om mau ngenalin Tante Rein sama kerjaan barunya," jawab Aska. Ia takut jika Abian masih trauma, lalu bersedih lagi saat ingat mamanya.
Namun, Abian malah tersenyum senang. Tidak terlihat keberatan atau ketakutan dalam raut wajahnya. Justru Rein yang menunjukkan raut demikian. Perempuan itu terlihat bingung dan terkejut. Pasalnya, Aska tidak pernah membahas hal tersebut.
"Ma—maksud, Mas, apa? Kerjaan baru aku gimana?" tanyanya tiba-tiba gagap.
"Iya, kamu butuh kerjaan baru, karena kamu udah mau ninggalin kerja lama kamu itu. Katanya kamu mau mencapai mimpi tanpa ngrepotin aku? Makanya aku mau kasih kerjaan aja sama kamu. Sekalian bantuin aku buat ngelola usaha yang ditinggalkan oleh orang tuanya Abian."
Rein bergeming di tempat. Napasnya terasa seperti tercekat. Apakah dia bisa menjalankan usaha dari keluarga yang sudah dia hancurkan? Rein seperti mendapatkan hukuman yang lebih berat dari sekadar jeruji besi. Jika terus-menerus bersama Aska, sudah tentu Rein akan merasakan perang batin setiap hari.
Di luar perang batin yang dialami oleh Rein. Mobil Aska sudah terparkir di parkiran sebuah pusat perbelanjaan menengah, tetapi lumayan besar. Semua gedung di sana adalah milik orang tua Abian. Mamanya Abian adalah perempuan hebat yang mempunyai jiwa pengusaha yang gigih dan berbakat. Dibantu suaminya ia mampu membangun sebuah usaha waralaba yang menjual berbagai jenis barang apa pun.
"Kamu tahu, Rein. Pusat perbelanjaan ini adalah warisan yang kelak akan diberikan kepada Bian. Karena sekarang Bian masih kecil, maka aku yang diberi tanggung jawab untuk mengelola semuanya. Walaupun sedikit berat dengan tugasku sebagai abdi negara, tetapi aku harus menjalankan semuanya dengan adil. Aku nggak mau membuat kakak dan kaka ipar kecewa. Maka dari itu, tolong bantu aku, ya, buat mengelola usaha mereka! Selain kamu bisa bantu aku dan Bian, kamu juga bisa dapat penghasilan halal dari sini."
Penuturan panjang Aska masih tidak bisa membuat Rein angkat suara. Ia masih bingung dengan posisinya. Saat ini Aska baik kepadanya lantaran belum tahu kebenarannya. Rein yakin, saat Aska tahu. Bukan hanya masuk penjara, dirinya juga akan dibenci oleh Aska. Kendatinya, kebaikan seseorang akan hilang, saat rasa kecewa datang menyerang.
...****************...
__ADS_1
...to be continued...
...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya 🤗...