Pencuri Hati

Pencuri Hati
Memberi Waktu


__ADS_3

...****************...


"Ambu, teh, ngomong apa? Aska masih menikah dengan Rein. Kenapa harus menikahi Asti juga? Asti datang ke sini mau liburan, dia diajak sama Abian." Aska menyangkal pertanyaan ibunya.


"Hah, syukur atuh, kalau kayak gitu, mah. Ambu jadi tenang sekarang." Ranti menghela napas lega, tetapi tidak dengan Rein. Perempuan itu malah heran dengan perkataan suaminya tersebut. Bukannya mereka berniat akan bercerai? Aska pasti tidak mau jika beristrikan seorang narapidana, karena sebentar lagi Rein akan masuk penjara.


"Lalu sekolahnya Bian gimana, kalau kamu pindah ke sini?" tanya Ranti lagi.


"Ya, terpaksa harus pindah juga," sahut Aska.


"Ehm ... Mas, aku nggak keberatan kalau kamu menikahi Asti. Sebentar lagi, kan, kita—"


"Diem! Siapa yang nyuruh kamu bicara?" Aska memelototi Rein, membuat kata-katanya menggantung di ujung lidah. Rein menelan saliva. Raut ketakutan begitu kentara di wajahnya.


"Ayo, masuk!" Aska menarik tangan Rein untuk kembali ke kamarnya.


"Eh, eh, tunggu dulu, Mas! Ngapain kamu ngajakin aku masuk ke kamar kamu?" Rein menahan tubuhnya agar tidak mengikuti Aska ke kamarnya, "kalau kamu nggak ngizinin aku pergi. Biar aku tidur sama Asti aja di kamar tamu," cicit Rein sedikit ragu. Kedua matanya mengerjap gugup, ketika melihat tatapan Aska yang begitu menusuk.


"Tidur sama Ambu juga nggak apa-apa, Aska. Biar nanti abah kamu tidur sama ikan-ikannya." Ranti ikut memberikan usulan.


"Heh, si Ambu ini kalau ngomong suka asal nyeplos aja. Masa abah harus tidur di kolam bareng sama ikan? Kecuali kalau ikan-ikan abah itu tidurnya di ranjang, baru abah mau tidur sama mereka," protes Bahar yang keberatan dengan usulan istrinya.


"Nya, sarena mah di saung, atuh, Abah. Lainna Abah tos biasa sare di dinya?"


(Ya, tidurnya di saung, dong, Abah. Bukannya Abah udah biasa tidur di sana?)


"Tidur siang, Ambu. Itu mah kalau tidur siang aja." Bahar menekankan nada bicaranya, "kalau siang mah enak, anginnya sepoi-sepoi. Lah, kalau malem, darah Abah bisa abis jadi pendonor darah gratis. Nyamuk-nyamuk di kolam itu pada sadis," imbuh Bahar sembari bergidik ngeri.


"Udah, ah. Kenapa jadi Abah dan Ambu yang ribut? Rein nggak akan ke mana-mana. Selama dia jadi tahanan rumah, dia akan tidur di kamar Aska."

__ADS_1


"Eh, kok bisa gitu, Mas?" Rein menginterupsi.


"Apa? Ya, bisalah. Kamu, kan, masih istri aku. Jadi sah-sah saja kita sekamar berdua." Pandangan Aska beralih pada istrinya lagi.


Rein menarik bibirnya segaris, sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena kebingungan dengan sikap Aska. Aska yang selalu bersikap keras kepadanya, justru mengajaknya tidur bersama.


"Nah, kalau itu Abah juga setuju, As. Kalian tinggal satu kamar lebih bagus. Iya, kan, Ambu?" celetuk Bahar sambil menyenggol bahu istrinya.


"Iya, Ambu setuju pisan," jawab Ranti dengan senyuman yang mengembang. Sepertinya dia mengerti dengan permainan Aska. Anak nakalnya itu tidak ingin berpisah lagi dengan istrinya. Sebagai seorang ibu, Ranti tahu jika anaknya pasti sedang menahan rindu.


*****


Malam kian pekat saat Aska kembali ke kamarnya. Dia baru saja selesai berbincang dengan orang tuanya di luar. Sekadar saling bertukar cerita, karena sudah lama tidak pulang ke rumah orang tuanya. Rein tidak ikut berbincang. Perempuan itu beralasan tidak enak badan.


"Masih sakit?"


Rein sontak membuka matanya saat merasakan sentuhan di keningnya. Aska pun langsung bertanya, dan Rein menjawabnya dengan gelengan kepala. Tubuhnya beranjak duduk, lalu bersandar di kepala ranjang, sedangkan Aska duduk di samping istrinya.


"Iya," sahut Aska.


"Sebentar kalau gitu." Rein bergerak dan menjulurkan kakinya ke lantai. Ia berniat turun dari sana.


"Kamu mau ngapain?" tanya Aska bingung. Pasalnya, sang istri berdiri sambil membawa bantal dan guling.


"Aku mau tidur di bawah. Tadi aku udah pinjem tikar sama abah."


Aska ikut berdiri menghadap Rein. Tatapannya terlihat sendu, sangat berbeda dengan tatapannya siang lalu. Rein balik menatap manik legam yang mampu membuatnya tenggelam, hingga tanpa terasa bantal dan gulingnya jatuh dalam genggaman. Keduanya bergeming dengan saling memandang, hingga Rein yang lebih dulu mengalihkan pandangan. Ia takut rasa cintanya semakin dalam.


"Kenapa kamu selalu menghindari aku, Rein?" tanya Aska.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku hanya mengantisipasi agar kamu tidak terlalu muak melihat wajah aku dengan jarak dekat. Mas pasti membenci aku, karena kasus perampokan yang menimpa Mas Dhana. Aku hanya berusaha menjaga hati kamu saja, sama hati aku juga," lirih Rein. Kepalanya semakin tertunduk dalam, merasa malu dengan masa lalunya yang kelam.


Aska mengangkat dagu Rein hingga kini wajah mereka saling berhadapan. Kedua mata Rein mengerjap kaku, menatap mata sayu yang syarat akan rindu.


"Asal kamu tahu, Rein. Kasus kematian Aa Dhana udah ditutup beberapa bulan yang lalu, setelah Daren dinyatakan meninggal dunia. Aku sudah mengikhlaskan kepergian kakakku, seperti yang Bian lakukan. Anak sekecil itu saja bisa mempunyai jiwa besar untuk memaafkan, kenapa aku tidak bisa mengikuti dia, hem?" Penuturan Aska membuat Rein terharu.


Aska mendekatkan wajahnya pada wajah Rein. Kedua matanya membidik bibir kemerahan yang sudah lama tidak diberi sentuhan. Namun, dengan cepat Rein menghindar. Mendorong tubuh Aska, hingga lelaki itu mundur satu langkah.


"Jadi ... kamu udah maafin aku, Mas?" tanya Rein sedikit ragu. Aska mengangguk sambil tersenyum.


"Maaf, tadi siang aku sedikit kasar sama kamu. Aku hanya emosi, karena kamu selalu ingin lari." Aska melangkah ke depan lagi, mengikis jarak di antara mereka.


"Tapi aku nggak bisa jadi istri kamu lagi, Mas."


"Kenapa?" Aska mengernyit bingung, karena lagi-lagi Rein menolaknya.


"Aku nggak pantas jadi istri kamu, Mas. Kamu itu seorang polisi. Bagaimana jika suatu saat orang lain tahu tentang masa lalu aku? Itu hanya akan membuatmu malu."


"Cukup, Rein! Sampai kapan kamu terus berpikir seperti itu? Semua orang punya masa lalu. Entah itu yang kelam ataupun yang membanggakan, semuanya hanya kenangan. Sekarang yang harus dipikirkan hanyalah masa depan, dan bagaimana cara kita untuk memperbaiki keadaan."


Dada Rein terasa sesak mendengarnya. Desakan hangat pun meluncur dari pelupuk mata. Selama ini Rein merasa malu dengan dirinya sendiri. Sudah cukup baginya merasakan perang batin setiap hari.


"Aku tetap nggak bisa, Mas. Maafkan aku!" Rein menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tubuhnya yang lemah duduk di tepi ranjang. Tubuhnya bergetar karena tangisan. Aska pun duduk di samping istrinya, lalu menyingkirkan tangan itu dari wajah Rein dengan lembut.


"Aku akan kasih kamu waktu. Sampai kamu berhasil mengubur dalam-dalam rasa bersalahmu itu," ucap Aska lalu merengkuh tubuh Rein agar masuk ke dalam pelukannya.


Rein tergugu dalam pelukan Aska. Seharusnya dia bahagia karena sudah dimaafkan oleh suaminya. Itu artinya Rein tidak akan masuk penjara. Namun, rasa bersalahnya tidak mudah dilupakan begitu saja. Rein merasa malu pada dirinya.


...****************...

__ADS_1


...to be continued...


...Dukung karya author dengan tekan tombol like, favorit, dan gift, ya. Tak lupa kasih komentar biar othor tambah semangat update terus. Sayang kalian. Makasih 🙏...


__ADS_2