Pencuri Hati

Pencuri Hati
Penyergapan


__ADS_3

...****************...


"Oke, tim akan bersiap melakukan penyergapan secepatnya, Pak!" Ucapan tegas terlontar dari mulut Aska di hadapan atasannya.


Setelah selama beberapa hari melakukan penyelidikan, akhirnya pencarian lokasi persembunyian Daren pun ditemukan. Aska dan timnya bersiap melakukan penyergapan. Aska akan melakukannya dengan hati-hati, karena dia tahu istri dan keponakannya juga bersama dengan orang yang mereka cari.


****


Rintik hujan di malam hari membuat udara semakin dingin. Jam dinding masih menunjukkan pukul delapan, tetapi sudah tidak ada aktivitas di rumah Daren. Biasanya di hari-hari biasa, di waktu yang sama, Daren masih sibuk dengan peralatan bengkelnya, dan Rein masih menonton acara favoritnya di televisi bersama Abian.


Malam ini sungguh berbeda. Suasana mencekam kian terasa saat suara guntur yang menggelegar seperti di atas kepala. Suara itu bergema berkali-kali. Sampai-sampai Abian tidak berani tidur sendiri, ia ingin tidur dipeluk oleh Rein.


Rein pun tidak bisa tertidur. Matanya selalu terjaga sambil memeluk Abian. Pikirannya berkelana entah ke mana. Terlalu banyak masalah dalam otaknya.


Suara deru mesin mobil yang berhenti di pekarangan rumah Daren membuat pikiran Rein kembali terjaga. Kedua matanya mendelik tajam saat mendengar ada beberapa mobil yang berdatangan. Pelan-pelan ia melepas tangan Abian yang memeluk tubuhnya. Rein bergegas menuju kamar Daren.


Saat Rein keluar kamar, ternyata Daren sudah terbangun lebih dulu. Ia melihat lelaki itu tengah mengintip di balik jendela, ia pun langsung bertanya, "Mereka siapa, Ren?"


Daren berdiri menghadap Rein. Raut wajahnya yang masih kusut karena baru bangun tidur, terlihat lebih kusut karena takut.


"Mereka preman yang waktu itu ngejar gue, Sap," jawab Daren.


Ternyata yang mengincar Daren bukan hanya polisi, tetapi mafia yang memiliki tempat judi yang dibakar oleh Daren pun sedang mengejar pria tersebut. Mereka ingin balas dendam kepada Daren karena sudah mencuri uang mereka, sekaligus membuat usahanya mengalami kerugian karena kebakaran.


"Preman yang mana?"


"Preman yang jadi backing tempat judi yang gue bakar itu. Lo inget, kan?" terang Daren. Waktu itu ia sempat bercerita kepada Rein.


Rein mengernyitkan keningnya. "Kok, mereka bisa tahu rumah ini?" tanyanya heran.


"Mana gue tahu. Yang pasti sekarang lo dan anak itu mesti kabur dari sini. Kalian bisa kabur lewat jalan belakang. Ada jalan kecil menuju perkampungan padat penduduk. Kalaupun ketahuan, mereka nggak akan berani ngejar sampai ke sana. Jalannya sempit banget. Setelah mencapai jalan besar, lo bisa gunain keahlian lo buat pake mobil nganggur yang suka parkir sembarangan. Kali ini gue izinin lo maling mobil lagi." Daren menyuruh Rein pergi sekaligus memberikan rute terbaik untuk melarikan diri. Plus menyuruhnya untuk maling mobil lagi.

__ADS_1


"Lo sendiri gimana? Kita kabur bareng, lah," protes Rein.


Daren berdecak. Ini keadaan darurat dan berbahaya. Daren tidak bisa membiarkan Rein dan Abian terjebak bersamanya.


"Gue, sih, gampang. Gue bisa kabur lewat depan. Mobil dan motor gue ada di garasi. Gue bisa lebih leluasa kalau sendiri," tutur Daren yang bisa diterima oleh akal sehat Rein.


"Bener juga," ucap Rein sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Cepetan, Sap. Lo bawa Bian pergi dari sini!" Rein tersentak mendengar Daren sedikit membentak. Apalagi sudah terdengar suara gebrakan pintu dari luar. Preman-preman itu sudah berada di depan pintu Daren. Mereka berusaha masuk dengan paksa ke dalam rumah tersebut.


Rein segera lari ke kamarnya untuk membangunkan Abian, sedangkan Daren juga berlari ke dalam kamarnya mengambil sesuatu. Sebuah tas besar dan senjata berpeluru.


"Lo bawa ini, Sap. Jaga baik-baik!"


"Ini apa?" tanya Rein sambil menerima tas besar yang diberikan Daren kepadanya.


"Itu harta gue. Gue titip sama lo. Gue takut mereka akan membakar rumah ini saat gue nggak ada. Hasil jerih payah gue bakalan sia-sia."


"Gue nggak bisa. Lo aja yang bawa. Kalau gue kenapa-napa, lo bisa uang pake uang itu. Lo bisa lanjutin rencana kita buat buka usaha di luar kota, Sap!"


"Lo ngomong apa, sih? Kita kabur bareng aja, deh!" murka Rein. Ia tidak suka mendengar Daren berkata seperti itu. Seolah itu adalah kata-kata terakhir yang diamanatkan lelaki itu kepadanya.


"Udah sana, pergi!" Daren tidak menerimanya penolakan Rein. Ia mendorong tubuh Rein dan Abian dengan paksa. Menggiring mereka ke pintu rahasia di belakang rumahnya, "hati-hati!" ucapnya lagi.


Rein menatap lekat manik Daren yang tersirat kesedihan yang mendalam. Ia juga bisa melihat kilatan kristal bening yang tergenang di pelupuk mata sahabatnya tersebut. Entah kenapa hati Rein seperti melesak ke dasar samudera, sakitnya terasa luar biasa. Untuk pertama kalinya, Rein melihat Daren menitikkan air mata.


"Daren ...."


"Pergi!"


Rein tidak kuasa saat Daren mendorong tubuhnya sedikit keras, lalu menutup pintu tersebut dan menguncinya dari dalam. Butiran bening mengalir deras di pipi Rein. Dengan terpaksa ia pergi membawa Abian dari sana. Meninggalkan Daren yang tengah berada dalam bahaya.

__ADS_1


"Lo juga harus selamat, Ren," gumam Rein sembari berlari cepat bersama Abian.


*****


"Bagaimana ini, Pak?" Seorang opsir polisi bawahan Aska bertanya. Membuat Aska yang termangu di hadapan kobaran api yang melahap sebuah rumah pun jadi terjaga.


Malam kian pekat ketika Aska dan timnya mencapai tempat persembunyian Daren. Lelaki itu sungguh terkejut saat mendapati rumah yang baru pertama kali didatanginya itu tengah dilahap si jago merah. Pasalnya, istri dan keponakannya juga tinggal di sana. Bagaimana jika mereka terjebak dalam kobaran api yang melahap bangunan kokoh di hadapannya itu? Suasana hati Aska menjadi tidak menentu.


Rinai hujan tak mampu memadamkan api tersebut. Tim pemadam kebakaran tengah berjuang mengalahkan dahsyatnya si jago merah. Beruntung rumah itu agak jauh dari pemukiman warga, sehingga api tersebut tidak sampai merambat ke mana-mana.


"Apa kalian menemukan ada korban dalam kebakaran ini?" Aska malah balik bertanya.


"Tim pemadam tidak menemukan siapa pun di dalam, tapi tim kita sedang menyisir di sekitar rumah ini, Pak."


Aska mengangguk, tak lama datang seorang anak buah Aska yang lainnya. "Lapor, Pak. Tim kita menemukan seorang laki-laki yang terluka parah di dekat mobil rongsokan," ujar opsir tersebut. Di halaman rumah Daren memang terdapat beberapa bangkai mobil yang tidak terpakai. Terkadang Daren sering berkreasi dengan onderdil mobil curiannya sebelum dijual di pasar gelap.


"Masih hidup?" tanya Aska.


"Denyut nadinya masih ada, tapi dia tidak sadarkan diri, Pak," terang sang bawahan.


"Ayo, ke sana!" Tanpa basa-basi lagi, Aska langsung menuju lokasi laki-laki tersebut.


"Daren." Aska langsung mengenali lelaki itu sebagai target incarannya. Ia berjongkok di samping tubuh Daren yang terluka parah bekas pukulan benda keras.


"Apa dia target kita, Pak?" Seorang petugas polisi bertanya pada Aska.


"Iya, dia masih hidup. Bawa dia ke rumah sakit sekarang!" titah Aska. Lalu pandangan beralih pada anak buahnya yang lain, dan memberikan perintah selanjutnya, "sisir terus semua tempat di sekitar rumah ini. Barangkali ada perempuan dan anak kecil yang terluka atau bersembunyi. Mereka sebelumnya tinggal di sini juga. Temukan mereka!"


...******...


...To be continued...

__ADS_1


...Kira-kira Rein dan Abian bisa melarikan diri, nggak, pemirsah? Ketik jawabannya di kolom komentar, ya. Yuk ramein novel othor receh ini 😂...


__ADS_2