Pencuri Hati

Pencuri Hati
Sepucuk Surat


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Jarum jam dinding berdetak sesuai putarannya. Bagi Rein entah kenapa waktu terasa cepat berlalu. Sudah pukul sebelas malam, tetapi kedua matanya masih enggan terpejam. Rein masih gamang antara pergi atau tetap bertahan. Rasa kantuk pun tiba-tiba menghilang.


Rein memutuskan untuk pergi ke kamar Abian. Rasa bersalah yang mendesak dalam hatinya, membuat Rein ingin meminta maaf kepada anak itu. Walaupun Rein tahu Abian sudah tidur. Rein hanya ingin mengungkapkan unek-uneknya saja, karena sebenarnya dia tidak sekuat itu untuk menerima kebencian Abian, jika saja anak itu mendengar pengakuan Rein secara gamblang.


Ceklek!


Pintu kamar Abian terbuka pelan-pelan. Rein berjalan mengendap-endap, dan masuk ke kamar tersebut. Berharap tidur Abian tidak terusik oleh kedatangannya.


Menatap tubuh kecil yang tengah tertidur pulas di balik selimutnya, air mata Rein tiba-tiba luruh dengan sendirinya. Kesalahan yang ia lakukan bersama temannya, justru membuat anak itu kehilangan orang tuanya. Rein merasa sangat berdosa. Padahal keluarga Abian sudah menyelamatkan nyawanya. Rein duduk bersimpuh di sisi ranjang Abian. Menekuk kedua lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Abian yang berbaring di ranjang.


"Bian, maafkan tante, ya. " Tante ke sini mau mengakui sesuatu ...," lirih Rein dengan deraian air mata. Ia menghela napasnya dalam-dalam sebelum kembali bersuara, "kamu benar, Sayang. Teman tante itu adalah penyebab kematian papa kamu, tapi temen itu nggak sengaja. Papa kamu meninggal karena senjatanya sendiri, bukan teman tante yang menembaknya, dan tante juga ada saat kejadian itu." Rein menjelaskan kejadian sebenarnya, walaupun Abian mungkin saja tidak mendengar itu.


"Kamu tahu, Bian. Tante dan teman tante memang seorang penjahat. Kami sudah banyak melakukan perampokan, tapi kami tidak pernah membunuh orang. Memang, tidak akan ada alasan yang bisa membenarkan sebuah kejahatan. Mungkin yang tante lakukan sekarang hanya sebuah pembelaan diri, dan suatu saat nanti, Bian pasti mengerti dengan posisi tante sekarang ini."


Rein mengusap air matanya. Ia berusaha menekan isak tangisnya agar tidak menggema di ruangan tersebut.


"Tante sayang Bian, abah, ambu, dan om kamu. Tante sudah berhutang nyawa pada keluarga kamu. Andai saja dulu tante nggak selamat saat kecelakaan itu, mungkin tante nggak perlu bertemu kalian. Tante pikir ini merupakan cara Tuhan memberikan hukuman, atau menyuruh supaya tante sadar. Tante nggak tahu harus bagaimana, Bian?"


Rein sejenak terdiam dan menangis lagi.

__ADS_1


"Tante nggak pantas berada di antara orang-orang baik seperti kalian. Apalagi tante bersalah sama keluarga kamu, Sayang. Maaf, tante memang pengecut karena tidak mau mengakui kesalahan tante kepada om kamu. Tante masih belum siap untuk masuk penjara. Masih ada orang-orang yang membutuhkan tante, Sayang. Suatu saat nanti mungkin tante akan mengakui, tapi tidak untuk sekarang ini. Jadi ...."


Pengakuan Rein terjeda lagi. Ia menatap wajah Abian dengan lekat, lalu mengusap pipinya dengan lembut sebelum dirinya kembali melanjutkan kalimatnya, "maafkan tante, Sayang. Tante harus pergi ninggalin kalian."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Rein mendaratkan satu kecupan sayang di kening Abian. Dia pun berdiri, lalu menatap Abian sekali lagi. "Maaf!" Kata itu yang selalu berada di ujung lidah Rein jika melihat sosok mungil di hadapannya tersebut.


Rein berbalik, ia berjalan perlahan menuju pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah, tetapi ini sudah menjadi keputusannya. Rein harus segera pergi dari rumah Aska.


Setelah pintu tertutup rapat, kedua mata Abian yang sedari tadi terpejam tiba-tiba terbuka. Tubuhnya langsung beranjak duduk, setetes air matanya meluncur seketika. Ternyata, Abian mendengar semuanya.


***


Fajar menyingsing di ufuk timur, menandakan sang perkasa sebentar lagi akan muncul. Aska yang bertugas malam sedang dalam perjalanan pulang, walaupun jam kerjanya belum selesai. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman, Aska bergegas turun dari mobilnya lalu berlari kecil menuju ke dalam rumah. Di dalam sana, ia disambut oleh seorang perempuan yang berparas cantik dan bersikap lembut. Dia adalah Asti, tetangganya yang baik hati.


"Aku nggak tahu, Mas. Tadi subuh aku baru lihat WA, ada chat dari Mbak Rein kalau dia minta tolong buat jagain Abian. Katanya dia sudah pergi, dan Abian sendirian di rumah. Kuncinya dia letakan di bawah keset. Aku langsung ke sini, dan melihat Bian lagi nangis kayak gitu," jawab Asti memaparkan kronologi yang dia tahu.


"Pukul berapa Rein ngirim WA?"


"Pukul dua belas malam, Mas. Aku udah tidur, makanya nggak dengar ada notif pesan masuk," jawab Asti.


Aska mengernyitkan keningnya, merasa bingung kenapa tiba-tiba istrinya pergi mendadak di tengah malam seperti itu. "Aku lihat Abian dulu." Aska pergi ke kamar Abian, dan diikuti oleh Asti dari belakang.


"Om Aska!" Bian langsung berlari memeluk tubuh pamannya, saat tubuh Aska masuk ke dalam kamar, "Tante Rein pergi," imbuh Abian sambil terisak.

__ADS_1


Aska mengusap puncak kepala Abian, lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka. "Apa Tante Rein mengatakan sesuatu sebelum dia pergi?"


Pertanyaan itu membuat Abian bungkam. Bibirnya mengatup rapat sambil menatap Aska. Entah kenapa, anak itu takut untuk mengatakan apa yang dia dengar dari mulut Rein semalam. Alih-alih menjelaskan, Abian memilih untuk menggelengkan kepalanya dan tetap diam.


"Mas, aku menemukan ini di atas meja makan." Suara Asti membuat perhatian Aska teralihkan. Laki-laki itu berdiri menghadap Asti, lalu menerima barang dan sepucuk surat yang Asti sodorkan kepadanya.


Kedua alis Aska hampir menyatu melihat benda tersebut. Kotak beludru merah yang semalam dia berikan kepada Rein, kini sudah berada di tangannya lagi. Dengan segera dia membuka sepucuk surat yang terlampir bersama benda tersebut. Ia pun langsung membaca isinya.


***


Maaf, Mas. Aku kembalikan cincin ini. Benda itu tidak pantas melingkar di jari seorang penjahat seperti aku. Berikanlah pada orang yang tepat dan pantas berada di samping kamu, Mas. Tugas aku sudah selesai untuk menyembuhkan traumanya Bian. Aku lihat dia sudah bisa berdamai dengan kenyataan, dan sudah bisa berinteraksi dengan lingkungannya layaknya anak-anak lain. Aku minta maaf karena harus pergi diam-diam. Aku yakin kamu tidak akan mengizinkan aku pergi jika aku berterus-terang. Sekali lagi, maafkan aku, Mas. Semoga kamu bisa mendapatkan istri yang lebih pantas buat kamu.


^^^Rein^^^


^^^ ^^^


****


Aska meremas surat tersebut setelah selesai membacanya. Urat-urat di lehernya sampai terlihat karena menahan rasa kesal yang memuncak. Ada apa dengan istrinya? Kenapa dia tiba-tiba pergi padahal kemarin sore mereka masih bermesraan? Apa Aska membuat kesalahan?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala Aska. Namun, yang paling membuat Aska geram adalah, kenapa Rein mengembalikan cincin yang dia berikan? Aska jadi berpikir, jika Rein sudah menolak perasaannya. Perempuan itu tidak mau menjadi pendamping hidupnya, makanya dia pergi meninggalkan Aska.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2