
Seorang gadis kecil sedang menangis tersedu-sedu sambil terduduk di aspal dingin. Saat ini hari belum terlalu malam karena Sang surya baru menyembunyikan dirinya satu jam yang lalu. Si gadis masih saja menangis di trotoar, tak jauh dari tempatnya itu seorang bocah lelaki tengah berdiri menatap ke arahnya. Ia menarik-narik ujung baju Sang ibu hendak menyeberang jalan.
"Kenapa, Sayang?" Sang ibu menoleh ke anak lelakinya diiringi senyum simpul.
Si anak lelaki menunjuk ke arah gadis yang sedang menangis hingga akhirnya Ibunya mengikuti arah jemari kecil anaknya.
"Bisakah kita tolong dia, Mom? Sepertinya dia butuh bantuan." Ucap polos bocah kecil yang diangguki oleh Ibunya.
Mereka lalu berjalan mendekat ke arah gadis kecil itu, Sang ibu berjongkok kemudian memegang telapak tangan gadis kecil di hadapannya. Sontak membuat anak perempuan itu mengangkat kepala yang ia sembunyikan dibalik lipatan tangannya. Dia menatap takut ke arah Ibu dan anak lelaki di depannya.
"Hei jangan takut." Ujar bocah lelaki mencoba menenangkan gadis kecil dihadapannya, ia tersenyum manis hingga menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi.
"Kau kenapa, Nak? Apa kau tersesat?Dimana orang tuamu?"Tanya Ibu dari anak lelaki.
Gadis kecil itu hanya menggeleng lemah menanggapi pertanyaan Si ibu.
"Mau Ibu antar mencari orang tuamu?" Tanya Si ibu lagi. Namun Si gadis kecil masih menggeleng membuat Si ibu itu bingung harus melakukan apa pada anak gadis di hadapannya itu.
"Kita bawa dia saja ke kantor polisi, Mom agar orang tuanya bisa menemukan dia secepatnya." Usul anak lelaki polos.
Sang ibu menggerakkan kepalanya setuju, ia tersenyum menatap Sang anak lelakinya yang memberikan ide brilian menurutnya meski usianya masih belia.
"Kau benar, Sayang. Mari Nak, ikut kami. Biar nanti orang tuamu tidak khawatir mencarimu." Ajak Si ibu namun lagi-lagi gadis kecil itu menolak ia justru berdiri lalu lari meninggalkan Ibu dan anak yang terkejut atas sikap tiba-tiba nya itu.
"Hei Nak, tunggu." Si ibu berusaha mengejar langkah anak perempuan itu hingga di ujung jalan raya. Tapi sayang, Si gadis itu berlari cukup gesit hingga membuat perempuan paruh baya dan anaknya kehilangan jejak Si gadis kecil.
☘☘☘
Di sebuah gang sempit, gadis kecil itu bersembunyi. Tempat yang cukup kotor menurutnya itu menjadi tempat pelariannya dari kejaran Ibu tadi. Tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya di tempat itu, ia bersembunyi di balik tumpukan drum minyak berwarna biru yang tersusun rapi di samping gudang kecil yang bangunannya terlihat sudah cukup tua. Di sisi kanan dan kiri gudang itu telah banyak ditumbuhi tumbuhan liar, pagar pembatas di gudang itu pun sudah terlihat lapuk dilihat dari besi yang digunakan yang sudah berkarat di setiap sisi serta tumbuhan merambat yang menghiasi bagian-bagian sisi pembatas gudang itu.
__ADS_1
Zetta menolehkan pandangan ke kanan dan kiri berharap situasi di sekitarnya aman dan tak ada lagi orang yang mengejar dirinya.
Ketika ia hendak melangkah menjauhi lokasi itu, sayup-sayup terdengar obrolan dari dalam gudang kosong.
"Apa perlu kita kirim orang untuk menangkapnya?" Tanya seorang yang Zetta yakini adalah seorang pria.
"Tak perlu, sebelum kita memiliki cukup bukti yang menunjukkan dia berkhianat lebih baik kita ikuti saja cara mainnya dia." Jawab lawan bicara orang tadi yang Zetta tebak sama seorang pria.
Awalnya Zetta ingin pergi dan berlalu meninggalkan tempat itu, tapi ucapan kedua orang itu membuatnya mengurungkan niat dan kembali ke tempat semula.
"Atur sesuai rencana semula dan pastikan tak ada yang tahu tentang kegiatan kita ini. Pastikan juga polisi tak mencium jejak kita." Ujar pria tadi.
"Polisi? Kegiatan apa yang mereka maksud?" Batin Zetta penasaran.
Saat Zetta tengah sibuk dengan pikirannya tiba-tiba saja pintu gudang itu terbuka tanpa sepengetahuan Zetta dan kedua orang yang tadi tengah mengobrol memergoki keberadaan Zetta.
"Ada mangsa rupanya," Celetuk seorang pria berbaju coklat dengan memakai jaket berwarna biru. Senyuman licik tercetak di wajah pria itu begitu pula temannya.
Pria itu berjalan mendekati Zetta yang perlahan memundurkan dirinya menghindari kedua orang itu.
"Bagusnya kita apakan pengintai ini, Don?" Tanya pria tadi pada temannya yang dipanggil Don.
Pria disampingnya menyunggingkan smirk jahat, "jika kita kirim organnya pasti akan sangat mahal." Ujar pria yang dipanggil Don itu.
Pria tadi mengangguk dan melangkah maju ke arah Zetta. Tanpa buang waktu, ia meraih tangan Zetta dan menariknya paksa ke dalam gudang yang mungkin adalah markas mereka berdua.
"Hei apa yang akan kalian lakukan dengan gadis itu!" Teriak seorang pria paruh baya ke arah dua orang yang menyeret Zetta.
Don menoleh kesal karena teguran pria yang dikenal sesepuh di kampung ini.
__ADS_1
"Hei Pak tua, tidak bisakah kau tak mencampuri urusan kami? Uruslah urusanmu sendiri dan tak usah ikut campur dengan apa yang kami lakukan." Bentak Don, bukannya takut, pria paruh baya itu justru mendekati mereka dengan melompati pagar pembatas besi yang lapuk dengan tatapan tajamnya, ia menatap kedua preman kampung secara bergantian.
"Kalian mau lepaskan atau aku buat kalian menyesal?" Gertak pria paruh baya datar.
Don menatap pria berjaket tadi dan Si pria berjaket langsung menggerakkan dagunya ke depan memberi isyarat.
Tanpa basa-basi, Don berlari menyerang jawara kampung dengan emosi. Pukulan demi pukulan ia layangkan ke arah pria paruh baya yang mengenakan sarung berwarna hijau dan putih itu. Namun sayangnya, tak ada satu pun pukulan dari preman itu yang berhasil mendarat di tubuh jawara tadi.
"Sejak kapan kau berdiri disana?" Teriak wanita paruh baya mengejutkan Zetta.
Perlahan Zetta memutar tubuhnya menatap ke arah Ibu tadi yang saat ini tengah berkacak pinggang.
"Cepat pulang atau kulaporkan kau pada Ayahmu detik ini juga," lanjut Si ibu dengan mata melotot.
Tanpa menjawab, Zetta menuruti ucapan Si ibu tadi. "Sial sejak kapan dia mengetahui tempat ini?" Pikir Zetta.
Tanpa disadari kini mereka telah sampai di depan mobil pribadi milik Si ibu dengan pakaian nyentrik. "Cepat masuk!" Ucapnya dingin membuat Zetta menurut tanpa membantah sedikit pun.
"Dari..." belum sempat Zetta melanjutkan ucapannya wanita di sampingnya memotong kalimat Zetta.
"Aku tahu saat kau pulang sekolah," Tutur Si ibu datar tanpa menoleh ke arah Zetta.
Arzetta pun mengangguk paham. "Bagaimana dengan mobilku?"
"Biar supir yang mengurusnya," Tukas Ibu berwajah dingin itu.
Tanpa berucap lagi, Zetta menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang dekat Ibu paruh baya tadi.
"Jalan, Pak." Perintahnya.
__ADS_1