Pencuri Hati

Pencuri Hati
Sakit


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Ehm ... aku nggak tahu. Tadi pagi aku langsung pergi dari sana." Rein berkilah dengan alibinya.


"Kamu ke rumah temen kamu naik apa?" tanya Aska lagi.


Rein berpikir sejenak. "Jalan kaki. Rumah temanku nggak jauh dari sana."


Aska menganggukkan kepalanya. Ia pun percaya dengan cerita istrinya. Sedangkan Rein masih dikuasai perasaan gelisah. Rein berpikir keras, ia tidak boleh berada dalam situasi ini lebih lama.


...****************...


Seminggu berlalu, suara ketukan pintu terdengar mendayu-dayu. Rein yang masih terlelap dalam tidurnya, merasa jika suara itu hanyalah bunga tidur saja. Kedua matanya tetap mengatup rapat, bahkan ia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sama sampai bagian leher. Angin pagi terasa menyayat tubuh Rein.


"Kak Rein ... bangun, dong! Tolong buatin aku sarapan! Aku mau sekolah, Kak." Teriakan untuk kesekian kali terlontar dari mulut Abian. Keponakan dari suami Rein tersebut sudah beberapa kali mengetuk pintu sambil memanggil Rein. Walaupun begitu, Abian tidak merasa jera untuk melakukannya. Ia terus saja mengetuk pintu sampai akhirnya pintu itu terbuka.


Ceklek! Rein membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, sih, Bian? Pagi-pagi udah bikin ribut aja. Memangnya kamu nggak sekolah?" tanya Rein sambil menggisik matanya. Wajah bantalnya begitu kentara dari mata yang menyipit seolah enggan terbuka.


"Aku mau sekolah, Kak. Tapi belum sarapan. Kakak bisa buatin aku sarapan?" tanya Abian dengan wajah memelas.


"Memangnya Om kamu nggak bikin sarapan? Tumben?"


Abian menggeleng. "Om Aska katanya lagi sakit. Dia nggak bisa buatin sarapan."


"Hah? Polisi bisa sakit juga?" Rein terkesiap mendengar itu. Seolah seorang polisi adalah seorang malaikat yang tidak pernah sakit.


"Polisi juga manusia, Kak." Abian berkomentar. Rein menyengir, ternyata perkataannya di dengar oleh anak kecil tersebut.


"Sekarang Om kamu di mana?" tanya Rein lagi.


"Di kamarnya. Badannya panas banget, waktu aku bangunin dia tadi. Saat Om mau bangun, katanya kepalanya pusing," terang Abian.

__ADS_1


"Kakak mau lihat Om kamu."


"Masak sarapan dulu, Kak! Nanti aku telat ke sekolah," pinta Abian sambil menarik baju Rein yang hendak berjalan ke arah kamar Aska.


"Ah, iya. Kakak masakin kamu dulu, deh." Rein tersenyum, lalu mengusap kepala Abian dengan lembut, "kamu tungguin di meja makan aja!" titahnya. Abian mengangguk setuju.


Lima belas menit kemudian, Rein sudah selesai memasak nasi goreng andalannya. Hidup mandiri membuat Rein terampil dalam urusan memasak makanan.


"Sarapannya dibekal aja, Kak. Nanti aku makan di sekolah. Aku takut nggak keburu, nanti ketinggalan jemputan sekolah." Tangan Rein yang hendak menuangkan sarapan Abian ke dalam piring, jadi tertahan.


"Oke," sahut Rein. Ia bergegas pergi ke dapur untuk mengambil wadah bekal untuk Abian, lalu mengisinya dengan nasi goreng.


Beberapa saat menunggu, mobil jemputan Abian pun tiba. Rein mengantarkan Abian sampai ke depan rumahnya. Perempuan itu berdiri sambil melambaikan tangannya hingga mobil tersebut menghilang dari pandangan matanya.


"Ah, iya. Aku belum lihat Mas Aska." Rein bergegas masuk ke dalam rumah. Ia teringat akan suaminya yang sedang sakit. Mungkin lelaki itu juga belum makan sesuatu dan minum obat.


"Mas, aku masuk, ya!" Rein yang tahu pintu kamar Aska tidak dikunci langsung memutar handle-nya, walau sedikit kerepotan karena sambil membawa nampan yang berisi makanan serta minuman untuk Aska.


Aska yang merasakan pusing di kepalanya merasa malas untuk bergerak. Ia bahkan tahu saat Abian berteriak beberapa kali di depan kamar Rein saat membangunnya tadi. Sebenarnya ingin beranjak bangun, tetapi tubuhnya selalu mengajak untuk tidur.


Rein menyimpan nampan yang berisi makanan di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang di sisi kanan Aska. Tangannya dengan lancang menyentuh kening Aska.


"Panas banget, Mas. Kita ke rumah sakit, ya!" ajak Rein yang khawatir dengan keadaan Aska.


"Nggak usah, ini cuma demam biasa," tolak Aska dengan suara parau.


"Tapi panas banget, loh, itu. Udah minum obat?"


Aska menggelengkan kepalanya setelah dirinya memaksakan diri untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Beberapa detik kemudian ia menarik selimutnya hingga menutupi leher, ketika merasakan hawa dingin yang menyerang tubuhnya yang katanya panas itu.


"Ya udah, sekarang makan dulu sarapannya. Abis itu minum obat, ya!" Rein mengambil piring yang berisi makanan, lalu dengan begitu perhatian menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke depan mulut Aska.


Aska sejenak tertegun melihat perhatian Rein seperti itu. Baru pertama kali ada seorang perempuan yang memberikan perhatian kala dirinya sakit. Tentu saja selain ibu kandungnya sendiri.


"Ayo, buka mulutnya, Mas! Kamu harus makan dulu sebelum minum obat."

__ADS_1


Teguran tersebut membuat Aska tersentak. Pikirannya yang sempat berpikir entah ke mana, kembali lagi pada kenyataan. Ia pun membuka mulutnya perlahan, kedua matanya tetap tertuju pada wajahnya Rein.


"Enak?" Rein bertanya setelah Aska menelan makanannya dengan susah payah. Dalam keadaan sakit, lidah seseorang tidak akan merasakan nikmatnya makanan yang dia makan.


"Pahit," jawab Aska jujur. Bukan rasa masakannya yang pahit, melainkan lidahnya yang merasa demikian.


Rein mengernyitkan keningnya. Lalu menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya sendiri. "Nggak pahit, kok," ucapnya kemudian.


"Lidah saya yang pahit. Saya mau minum aja," seru Aska sambil melirik gelas di atas meja.


Rein pun ber'oh' tanpa suara. Lantas mengambilkan gelas berisi cairan bening untuk Aska, sekalian dengan obatnya. "Minum obatnya juga!" titahnya.


Aska menurut, ia meminum obat tersebut.


"Sekarang tidur lagi aja, Mas. Kamu udah izin nggak masuk kerja?" Rein membantu Aska untuk berbaring lagi. Jarak mereka sangat dekat sekali. Bahkan Aska mampu menghirup aroma tubuh Rein yang masih wangi walaupun belum mandi. Aska bisa merasakan jika jantungnya berdetak kencang sekali.


"U-udah." Aska menjawab sedikit gugup. Wajahnya terlihat memerah. Entah itu dari hawa panas dari tubuhnya, atau hawa panas dari darahnya yang bergejolak hebat ketika Rein menyentuhnya. Namun, Rein mengira wajah merah Aska dikarenakan oleh demam yang dialaminya.


"Rein."


Panggilan dari Aska membuat Rein yang sudah mencapai pintu jadi tertahan dan berbalik lagi. "Ada perlu apa lagi, Mas?" tanyanya.


"Kamu tahu, ketika ada seseorang yang sakit, Allah akan menyuruh empat malaikat untuk mengunjunginya. Pertama, malaikat yang diperintahkan untuk mengambil kekuatan hamba-Nya sehingga yang tadinya kuat menjadi lemah. Kedua, untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulut hamba-Nya, sehingga makanan apa pun akan terasa pahit. Ketiga, untuk mengambil cahaya di wajahnya sehingga wajah si sakit menjadi pucat pasi, dan yang terakhir, diperintahkan untuk mencabut semua dosanya, sehingga ia berada dalam kondisi suci dari dosa. Tapi saya pikir, saya Allah mengirimkan lima malaikat buat saya sekarang."


Rein sempat tertegun mendengar penuturan Aska. Tapi ia penasaran dengan tugas malaikat ke lima yang Aska sebutkan. "Yang kelima itu tugasnya apa, Mas?" tanyanya kemudian.


Aska mengulas senyuman. "Malaikat itu bertugas untuk merawat saya seperti yang barusan kamu lakukan."


Blus!


Tiba-tiba saja seperti ada angin segar seolah menerpa wajah Rein. Namun, Rein segera sadar jika itu hanyalah gombalan semata. "Lagi sakit masih bisa gombal juga, Mas," ucap Rein sambil tertawa.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2