Pencuri Hati

Pencuri Hati
Lembaran Baru


__ADS_3

...****************...


Rein dilarikan ke rumah besar yang terdekat. Suara gemuruh roda brankar rumah sakit yang membawa Rein ke ruangan ICU terdengar begitu menggema menyeret luka. Begitu pun dengan gemuruh ketakutan yang bermuara dalam detak jantung Aska. Air mukanya terlihat pias diliputi rasa bersalahnya.


"Kamu harus selamat, Sayang!" ucap Aska sambil mengiringi Rein. Tangannya selalu setia menggenggam tangan Rein yang terasa dingin itu.


"Maaf, Pak. Tolong tunggu di luar!"


Aska terpaksa melepaskan tangan Rein, saat perawat melarangnya ikut masuk ke ruangan operasi. Dunia seolah berhenti, rasa ketakutan menguasai hati.


"Maafin ambu dan Abah, ya, Aska. Karena kami Rein mengalami hal ini." Ranti mengusap pundak Aska. Sambil menangis, perempuan itu menyesali kesalahannya. Merutuki ide konyol suaminya untuk menipu Rein.


Aska menoleh dan menatap ibunya. Pikirannya sudah kalut dipenuhi rasa takut. Aska tidak tahu harus mengatakan apa. Yang pasti, dia dan keluarganya yang menyebabkan nyawa Rein dalam bahaya.


"Aska juga salah, Ambu. Harusnya kita tidak boleh menipu Rein seperti itu. Dia sedang hamil. Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Rein dan anak Aska. Mungkin Aska nggak akan memaafkan diri Aska sendiri. Aska benar-benar berdosa," lirih Aska. Genangan air mata sudah membendung di sudut matanya.


"Jangan berpikiran buruk gitu, atuh. Kita do'ain aja mudah-mudahan istri dan anak kamu selamat, ya."


Aska menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Kedua matanya terpejam, dan dalam hatinya tak henti memanjatkan do'a yang terbaik untuk keselamatan istri dan anaknya.


****


Aska tidak bisa berdiam diri di tempat yang sama saat menunggu istrinya di depan ruangan operasi. Lelaki itu terlihat mondar-mandir tidak karuan di sekitar pintu ruangan. Pandangannya sesekali tertuju pada lampu yang menyala di atas pintu, penanda operasi sedang berlangsung.


Hingga lampu itu padam, dan tak lama seorang dokter dengan baju khasnya keluar ruangan. Aska langsung mendekati dokter tersebut dan mencecarnya dengan pertanyaan.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"


Dokter itu membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Helaan napasnya terdengar lelah. "Operasinya berjalan lancar. Bayinya sudah berhasil dikeluarkan dalam keadaan sehat dan selamat."

__ADS_1


"Alhamdulillah." Ucapan syukur terlontar dari mulut Ranti dan Bahar bersamaan, sedangkan Aska hanya berkata pelan sambil mengusap wajahnya yang terlampau gusar.


"Tapi ibunya masih belum sadarkan diri. Mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah, sehingga kondisi tubuh pasien sangat lemah."


Seperti dilambungkan tinggi lalu dihempaskan lagi. Hati Aska langsung remuk mendengar penuturan dokter tersebut. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya? Aska tidak bisa membayangkan betapa hancur hatinya.


"Lalu kapan kira-kira dia akan sadar, Dok?" tanya Aska.


"Kita tunggu saja sampai 24 jam. Jika pasien masih belum sadar, kami akan melakukan pengecekan berlanjut. Semoga semuanya baik-baik saja. Banyak-banyak do'a, Pak! Saya permisi dulu." Dokter tersebut pergi setelah menepuk pundak Aska.


Beberapa saat kemudian keluar seorang perawat yang membawa bayi laki-laki. "Maaf, Pak. Ini bayi Ibu Rein," ucap perawat tersebut.


Aska begitu terharu melihat sosok mungil tersebut. Butiran bening meluncur dengan sendirinya tanpa diminta. Tangannya pun langsung terulur untuk menggantikan sang perawat menggendong anaknya. Dengan sigap Aska menjalankan tugas pertamanya menjadi seorang ayah. Mendengungkan azan dan iqamah di masing-masing telinga anaknya.


Suasana di luar ruangan itu jadi mengharu biru. Mereka begitu bahagia melihat anaknya Aska lahir dengan selamat dan sehat, tetapi di dalam sana Rein masih berjuang di antara hidup dan mati. Hal itu yang membuat Aska merasa tidak enak hati.


*****


Tangisan seorang bayi laki-laki menggema di salah satu kamar. Bayi itu tengah digendong oleh laki-laki yang berseragam polisi. Aska Raidhana yang hendak berangkat bertugas harus kerepotan mengurus bayinya sendirian. Ia pun meminta bantuan kepada ibunya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Ambu, tolong Aska atuh, ih. Ini Tara kenapa nggak mau diem dari tadi nangis terus," seru Aska sambil menyodorkan bayinya pada Ranti.


"Ari kamu, teh, kumaha? Ngurus bayi aja nggak bisa," decak sang ibu sembari meraih cucunya dari gendongan Aska. Dalam sekejap bayi itu sudah terdiam. Bersikap tenang dalam gendongan neneknya.


"Aduh, cucu Nini emang pinter. Nggak mau digendong sama papa kamu, ya? Maunya sama Nini?" Ranti mengajak cucunya bercanda. Bayi itu terlihat senang dan sesekali tertawa.


"Tangan kamu mah kasar, Aska. Makanya Tara nggak mau digendong sama kamu," celetuk Bahar yang tengah menyantap sarapannya.


Aska mendengkus kesal, lalu menarik salah satu kursi kosong untuk dia duduki. "Namanya juga tangan laki-laki, mana ada yang lembut," cibirnya, lalu beralih lagi pada sang ibu, "nitip Tara sebentar, ya, Ambu. Aska mau sarapan dulu," pintanya. Ranti pun mengangguk lalu membawa cucunya keluar rumah, untuk berjalan-jalan dan menikmati udara segar di pagi hari.

__ADS_1


Seusai sarapan, Aska pun kembali ke kamar. Ada sesuatu yang harus dia lakukan sebelum dirinya berangkat bekerja.


Seulas senyuman terukir di bibir Aska. Pandangannya tertuju pada tempat tidur yang berukuran king size di kamar itu. Langkahnya mendekati seorang perempuan yang masih meringkuk dibalut selimut. Aska duduk di tepi tempat tidur, lantas mendaratkan satu kecupan hangat di kening perempuan tersebut.


"Aku berangkat kerja dulu, ya," bisik Aska di telinganya. Hal itu membuat perempuan itu pun mengerjapkan mata. Kesadaran pun mulai merangkak tatkala matanya perlahan terbuka.


Rein Safira—perempuan yang sudah berhasil mencuri hati Aska itu langsung melemparkan senyuman termanisnya. Ia lantas beranjak duduk, dan bersandar di kepala ranjang.


"Kamu mau berangkat kerja, Mas?" tanyanya dengan suara parau.


"Iya," jawab Aska.


"Kenapa nggak bangunin aku, Mas? Tara mana?" tanya Rein lagi.


"Tara sama Ambu. Abis salat subuh kamu ketiduran lagi. Kamu pasti kelelahan ngurusin anak kita. Jadi aku bawa Tara keluar, biar dia nggak ganggu kamu."


"Tapi aku jadi nggak ngurusin kamu, Mas. Aku nggak nyiapin perlengkapan kerja kamu," tutur Rein. Wajahnya bantalnya dibuat cemberut. Aska seperti tidak mau diperhatikan oleh Rein semenjak dirinya melahirkan. Bahkan Rein diperlakukan seperti seorang ratu di rumah itu. Bukannya senang, Rein malah kesal. Pasalnya, perannya sebagai istri jadi tidak ada gunanya.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri, kok. Inget kata dokter, kamu nggak boleh capek-capek setelah melahirkan. Merawat Tara saja sudah membuat kamu capek, Sayang."


"Selain jadi seorang ibu, aku juga istri kamu. Kamu berhak mendapatkan pelayanan dari aku, Mas. Selama ini kamu begitu protektif terhadap kesehatan aku, karena masih ada rasa bersalah dalam hati kamu, kan?" Rein menatap manik legam milik Aska.


Aska tersenyum, "Aku memang salah, Sayang. Setelah kejadian itu, aku udah janji nggak bakalan bikin kamu kecapean lagi. Kini, kesehatan kamu dan anak kita adalah yang terpenting."


Rein menghela napas kasar. Mungkin ini yang Aska rasakan, saat dirinya bersikeras menyalahkan diri sendiri atas kematian kakaknya Aska. Rasa bersalah yang sudah termaafkan, tetapi masih membekas dalam penyesalan. Hal itu seperti menjadi tembok besar di antara mereka. Mungkin sudah saatnya mereka membuka lembaran baru yang tidak dibayangi masa lalu.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


...Apa ada yang udah negatif thinking duluan? 😅...


...Dukung karya author dengan tekan tombol like, favorit, dan gift, ya. Tak lupa kasih komentar biar othor tambah semangat update terus. Sayang kalian. Makasih 🙏...


__ADS_2