Pencuri Hati

Pencuri Hati
Menolak Pulang


__ADS_3

...****************...


Deru suara motor menggema di jalanan yang sepi. Beberapa motor saling kejar-kejaran di sana, membuat jalanan seketika menjadi ramai. Di posisi paling depan ada Daren yang mengendarai motornya dengan sangat kencang. Disusul oleh beberapa motor di belakang. Daren tengah kabur dari kejaran preman.


Ya, saat Daren melakukan operasi perampokan di sebuah rumah judi, nasib sial ternyata menghampiri. Daren ketahuan, dan sialnya malah membuat rumah judi tersebut mengalami kebakaran. Tentu saja yang empunya tempat merasa geram, lalu menyuruh anak buahnya melakukan penangkapan. Daren hampir saja tertangkap saat dirinya kewalahan meladeni puluhan preman. Beruntung dia bisa kabur menggunakan motor sport miliknya. Aksi pengejaran itu terlihat menegangkan. Daren dengan lincahnya mengendarai motor dan masuk ke beberapa gang kecil.


Daren melakukan aksinya sendirian. Ia tidak bisa mengajak Rein lagi, karena perempuan itu tengah hamil. Hal itu juga ada baiknya, sehingga Daren bisa kabur dengan lebih leluasa.


"Brengsek! Ke mana dia?" Di pertigaan gang yang tidak memiliki lampu penerangan, para preman itu kehilangan Daren. Lelaki itu memang pintar mencari jalan pintas. Akhirnya Daren bisa terlepas.


***


Menjelang subuh Daren kembali ke rumahnya. Pintu rumah langsung terbuka, kala suara motor lelaki tersebut terdengar berhenti di halaman rumahnya. Dialah Rein yang membukakan pintunya.


"Lama banget, sih? Biasanya juga cepet? Lo ketahuan lagi?" cecar Rein saat Daren mencapai pintu.


Daren memasang wajah lesu. Ia sangat lelah dikejar-kejar preman seperti itu. Daren tak langsung menjawab pertanyaan Rein, ia langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di sofa. Rein pun mengikuti sahabatnya, dan mendaratkan bokongnya di sofa yang sama.


"Gue hampir aja tertangkap tadi," ucap Daren.


"Kok, bisa? Lo bikin kesalahan?"


"Gue emang nggak sehebat Marvel dalam meretas keamanan. Ternyata rumah judi itu punya CCTV yang nggak bisa gue retas, jadinya gue ketahuan. Gue kewalahan, soalnya orangnya banyak banget. Akhirnya gue sengaja bikin rumah itu kebakaran, buat ngalihin perhatian mereka, tapi beberapa orang masih ngejar. Beruntung di Heppy masih bisa gue andelin," papar Daren membanggakan motor kesayangannya.


Daren mengernyit melihat perubahan wajah Rein yang langsung muram. Ia pun beranjak duduk dan menatap wajah perempuan itu. "Eh, lo nggak tidur nungguin gue? Muka lo lemes banget," imbuh Daren.

__ADS_1


"Semenjak lo pergi gue nggak bisa lagi. Gue sebenarnya takut."


"Takut apa?" tanya Daren.


"Kerjaan kita. Apa kita akan selamanya jadi perampok kayak gini? Kalau ketahuan, nyawa kita jadi taruhan. Terus anak gue gimana? Gue nggak mau dia ngikutin jejak ibunya."


Daren menatap Rein lekat. Rasa khawatir yang terpancar dari wajah Rein begitu kentara dan membuatnya merasa iba. Sebenarnya ia juga sudah lelah berbuat jahat. Helaan napas kasar pun terlontar ke udara, diiringi senyuman tipis yang tercetak di bibirnya.


"Lo nggak usah khawatir. Mungkin aksi gue yang tadi itu adalah yang terakhir, dan mulai sekarang lo nggak perlu ngerampok bareng gue lagi. Gue pikir tabungan gue udah cukup buat bikin usaha yang halal. Dari dulu gue punya rencana, gue pengen buka usaha bengkel di luar kota, dan lo bisa bikin usaha rumah makan di dekat bengkel gue itu. Untuk masalah rumah panti, kayaknya rumah ini juga layak huni. Gimana? Lo mau ikut gue pindah ke luar kota?"


"Luar kota?" Rein mengerutkan keningnya, "kenapa harus di luar kota, Ren?" tanyanya sedikit keberatan.


"Kita cari aman aja. Di sini hidup kita tidak akan tenang, Sap. Pasti banyak yang bakalan cariin kita, terutama suami polisi lo itu, kan?" pungkas Daren.


Daren mendengkus, dia sudah berkali-kali mengingatkan masalah Abian. Anak kecil itu pasti akan membuat masalah bagi mereka.


"Gue udah bilang sama lo. Anak itu cuma jadi beban buat kita. Lo harus kembaliin dia. Mau nggak mau, lo harus tega, Sap! Apa mungkin ... lo masih berharap buat balikan sama suami lo itu?" Daren memicing curiga. Menyelami sorot mata Rein yang mungkin masih menyisakan rasa cinta untuk suaminya.


"Gue nggak pernah ada niat buat kembali sama dia, kok. Gue juga lagi berusaha buat bujuk Bian agar dia mau pulang."


Daren bangkit dari duduknya. Rasa ngantuk dan lelah sudah menguasai tubuhnya. "Ya, udah. Gue terserah lo aja. Gue harap lo nggak terlalu lama ngebiarinin anak itu tinggal bersama kita. Gue mau tidur dulu, capek banget," ucap Daren lalu pergi ke kamarnya.


Rein menatap punggung Daren sampai hilang di balik pintu kamarnya. Pikirannya menerawang jauh memikirkan masa depannya. Mungkin yang dikatakan oleh Daren ada benarnya. Jika dirinya masih tinggal di kota yang sama dengan Aska, kemungkinan untuk bertemu dengan lelaki itu sangatlah besar. Sebisa mungkin Rein harus mengindar.


...****...

__ADS_1


Menjelang siang, Rein hendak memasak sesuatu untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Namun, stok makanan di kulkas sudah habis. Ia pun berencana untuk pergi pasar terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan untuk persediaan beberapa hari ke depan. Dikarenakan Daren masih tidur, ia pun merasa kasihan untuk menyuruh lelaki itu mengantar. Rein hendak pergi sendirian, tetapi sebelumnya perempuan itu mengajak Abian.


"Kamu mau ikut tante ke pasar, Bian?" tanya Rein pada keponakannya.


Bian yang tengah menggambar sesuatu di kamarnya pun menoleh. Semenjak tinggal di rumah Daren, kerjaan Abian hanya seperti itu. Ia suka menggoreskan tinta di kertas kosong yang dibelikan oleh Rein untuknya, agar dirinya tidak bosan di sana.


"Nggak, ah. Tante pasti mau ninggalin aku di jalan, atau ngajak aku pulang," tolak Abian, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada kertas di depan.


Rein menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghela napas kasar. Kakinya melangkah mendekati Abian, kemudian mengusap puncak kepala anak tersebut. "Segitunya kamu takut tante pulangin, Bian. Memangnya kamu nggak kangen sama Om kamu, ya?" bujuk Rein.


"Kangen, tapi Bian belum mau pulang. Nanti aja," sahut anak kecil itu.


"Kapan? Om kamu pasti nyariin, Sayang. Apalagi kalau nanti sampai Abah dan Ambu tahu. Mereka pasti ikut sedih kamu hilang, kasian mereka."


"Bian mau nunggu dede bayi lahir dulu. Om Aska nggak akan berani bilang sama Abah dan Ambu kalau Bian hilang. Om Aska takut sama Abah, Tante," beber Abian.


Kedua alis Rein hampir menyatu ketika keningnya berkerut dalam. "Itu masih lama, Bian. Kenapa harus nunggu sampai bayinya lahir? Nanti sekolah kamu gimana? Kamu bakalan ketinggalan pelajaran."


"Biarin aja. Bian udah biasa ngejar ketinggalan," timpal Abian. Anak itu pun memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Rein. Kepalanya sengaja ditempelkan di perut Rein, "waktu itu Bian nggak sempet lihat adek Bian lahir ke dunia. Sekarang Bian mau lihat anaknya Om Aska. Bian akan menganggap dia sebagai adik Bian yang udah meninggal. Bian masih berharap kalau tante mau kembali sama Om Aska. Kasian anaknya, Tante, kalau dia harus terpisah sama papanya." Abian tahu jika anak yang dikandung oleh Rein adalah anaknya Aska, saat dirinya taksengaja mendengar obrolan Rein dengan Daren sebelumnya.


Rein terenyuh mendengar Abian berkata seperti itu. Dia kembali mengingat kesalahannya di masa lalu. Membuat rasa bersalahnya kembali menyeruak ke permukaan. Apakah ini suatu pertanda jika dirinya harus merelakan anak tersebut untuk diberikan kepada keluarganya Abian? Rein berhutang nyawa kepada keluarga itu, seharusnya dia tahu diri dan membiarkan anaknya hidup layak bersama Aska. Setidaknya, sang anak akan lebih terhormat, ketimbang tinggal dengannya yang berprofesi sebagai penjahat.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2