
...****************...
Sedangkan di tempat lain, Aska panik karena Abian tiba-tiba menghilang dari mobilnya. Bukannya tadi dia menyuruh keponakannya tersebut untuk menunggu di dalam sana, tetapi sekarang tidak ada.
Aska pun berkeliling ke sekitar rumah sakit, tetapi Abian masih tidak bisa ditemukan. Aska meminta bantuan pihak rumah sakit dan meminta izin untuk melihat CCTV di area parkiran rumah sakit tersebut. Di sanalah dia melihat Abian yang diam-diam masuk ke dalam mobil seseorang.
"Itu, kan, mobilnya Daren," ucap Aska sambil menelisik layar monitor CCTV.
"Bagaimana, Pak? Keponakannya sudah ketemu?" tanya petugas di ruang CCTV tersebut.
"Oh, iya, Pak. Sepertinya keponakan saya ikut dengan mobil teman istri saya tanpa bilang. Tadi saya sedikit berselisih dengan istri saya, dan mungkin keponakan saya mau ikut dia," ujar Aska. Ia sedikit merasa lega ketika tahu Abian sekarang bersama Rein. Aska yakin jika Rein tidak akan menyakiti keponakannya.
Seulas senyuman smirk terbesit di bibir Aska. "Baguslah, mungkin Rein akan berubah pikiran jika Bian ikut dengan dia. Aku juga bisa menangkap dia saat mengembalikan Bian nantinya," gumam Aska dalam hati.
Aska pun tidak jadi mengejar Rein, karena dikejar pun akan percuma. Aska tidak tahu mobil Rein sudah pergi ke mana. Aska memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja. Beruntung Abah dan Ambu sudah kembali ke desa, sehingga dia tidak perlu takut dicecar banyak pertanyaan karena Abian menghilang. Dia akan menunggu sampai Rein mengantarkan Abian.
...****...
Tiga hari pun berlalu. Sampai saat itu Rein tidak pernah mengunjungi rumah Aska untuk mengembalikan Abian. Aska pun terpaksa mencari keberadaan mereka, tetapi jejak mereka sulit untuk ditemukan. Membuat Aska merasa kebingungan.
Kring! Kring!
Suara dering telepon di ruangan kerja Aska mengembalikan pikiran Aska yang sempat berkelana. Lelaki itu lantas mengangkat teleponnya.
"As, ke ruangan saya sebentar!" Terdengar suara tegas dari seorang lelaki yang sangat Aska hormati di balik sambungan telepon.
"Siap, Pak!" sahut Aska tegas. Gegas, dia beranjak dari tempatnya menuju ke ruangan sang atasan, setelah menutup panggilan.
"Ini adalah berkas yang harus kamu pelajari dan selidiki. Mulai sekarang unit kita yang akan menyelidiki kasus ini," ujar lelaki paruh baya berseragam polisi dengan bintang dua di pundaknya. Kini, Aska sudah berada di ruangan lelaki itu.
__ADS_1
Aska membuka berkas di hadapannya. Isinya tentang identitas penjahat kriminal yang harus mereka tangkap. Kasus yang menjerat mereka adalah sindikat jual beli mobil curian. Sudah lama orang-orang tersebut menjadi incaran.
Satu persatu Aska mengingat wajah tersangka, pun dengan identitas mereka. Kedua matanya menyipit tajam, saat satu nama dan wajah yang dikenalnya berada dalam berkas itu.
"Daren," gumam Aska pelan, tetapi hal itu membuat atasannya jadi bertanya.
"Kenapa, As? Kamu mengenali salah satu dari mereka?"
"Ah, iya, Pak. Saya sepertinya pernah melihat orang ini." Aska menunjuk foto Daren.
"Bagus kalau gitu. Jadikan dia target pertama kamu!" perintah pimpinan Aska.
"Siap, Pak!" seru Aska, "saya permisi ke ruangan saya lagi. Saya mau mempelajari berkas ini," pamit Aska selanjutnya.
Sang pimpinan pun mengizinkan. Aska pun keluar dari ruangan Inspektur Jenderal.
"Bagaimana kalau sebenarnya Rein juga terlibat di dalamnya? Secara mereka sudah berteman sejak kecil," gumam Aska lagi. Dia tidak ingin jika istrinya menjadi target penangkapan mereka.
****
Di tempat yang berbeda. Rein dan Daren tengah berdebat masalah keberadaan Abian yang sudah tiga hari ini tinggal bersama mereka.
"Lo nggak berniat buat balikin anak itu, Sap? Lo nggak takut jika suatu saat suami polisi lo itu bakalan menangkap kita, dengan tuduhan menculik dia," ungkap Daren sambil mondar-mandir. Sudah tiga hari dia memaksa Rein untuk meninggalkan Abian atau mengirimnya ke rumah Aska. Namun, Rein selalu menolaknya, karena Abian tidak mau meninggalkan berpisah dengan Rein.
"Anaknya nggak mau, Ren. Masa gue harus paksa dia," ucap Rein. Kedua matanya mengikuti gerakan Daren, hingga membuat kepalanya pusing tujuh keliling, "lo bisa diem, nggak, sih? Gue pusing lihat lo mondar-mandir terus!" protes Rein.
Daren pun berhenti sejenak, lalu berdecak. Ia pun duduk di sebelah Rein. "Gue cuma nggak mau kita dapat masalah baru gara-gara anak itu, Sap."
"Gue juga nggak mau, tapi apa lo ngga mikir? Kalau gue nganterin Bian, itu artinya gue masuk perangkapnya Mas Aska. Dia bakalan ngurung gue dengan alasan anak ini." Rein menyentuh perutnya, "ini semua gara-gara lo yang ngungkit masalah anak di depan dia. Bener, kan, dia jadi curiga kalau ini anaknya dia," gerutu Rein mengomeli sahabatnya.
__ADS_1
"Ya, nggak usah dianterin ke rumahnya juga, Sapi! Ditinggal di jalan, kan, bisa. Lagian gue lihat tuh anak nggak bodo-bodo amat. Dia pasti bisa pulang sendiri ke rumahnya. Kasih aja dia duit!"
"Sekali lo bilang mau ninggalin dia di jalan, gue jambak rambut lo, ya!" geram Rein yang tidak suka usul Daren. Rein tidak akan tega meninggalkan Abian di jalanan. Bagaimana kalau nanti anak itu nyasar.
"Om kenapa jahat banget, sih, sama Bian? Om udah bikin papa sama mama Bian nggak ada, sekarang om juga nyuruh Tante Rein buat ninggalin Bian. Om jahat!"
"Bian?" Rein tersentak dan langsung menoleh ke arah anak tersebut. Lalu mendekati Abian dan merengkuh tubuhnya untuk dia peluk.
"Bian, nggak boleh ngomong gitu! Om Daren nggak jahat, kok," ucap Rein. Ia tidak tahu jika Abian sudah mengetahui kebenarannya lewat pengakuan Rein waktu itu.
"Dia jahat, Tante. Bian denger kata-kata Tante waktu malam itu."
Rein tercekat lagi, lalu sedikit mendorong tubuh Abian sekadar untuk menatap wajahnya yang kini basah oleh air mata. "Kamu ... denger semuanya?" tanya Rein gugup. Abian mengangguk.
Rein menutup mulutnya dengan telapak tangan, merasa tidak percaya jika Abian sudah mendengar kebenarannya, tetapi masih mau bersama dengannya, bahkan tidak membencinya.
"Jadi ... kamu tahu ... kalau tante juga ikut terlibat dalam perampokan itu?" Abian mengangguk lagi menanggapi pertanyaan Rein yang terbata-bata.
"Terus ... kenapa kamu masih mau bersama tante, Bian? Tante juga bersalah."
"Nggak, Tante nggak salah," sanggah Abian, "Om itu yang salah. Dia yang bertengkar sama papa," imbuhnya sambil menunjuk pada Daren.
"Heh, anak kecil. Gue nggak bunuh papa lo, ya. Dia sendiri yang menekan pelatuk senjatanya, bukan gue!" sergah Daren membela diri.
...****************...
...To be continued...
...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya ...
__ADS_1