Pencuri Hati

Pencuri Hati
Ide Cemerlang


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Aska mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia jadi paham alasan kenapa Rein ikut membantu keuangan Wanda saat itu. Lantaran suami dari ibu panti itu sudah meninggal dunia.


Dari cerita Bu Wanda, Aska jadi sedikit terkesan dengan Rein. "Ternyata dia memang perempuan baik-baik," gumam Aska dalam hati.


"Oh, iya, Bu. Sampai sekarang Rein masih jualan asongan buat menghidupi kalian?" tanya Aska lagi.


Wanda menggeleng, "Nggak, Nak. Setelah lulus sekolah, Rein bekerja di bengkel milik Daren."


"Daren sahabatnya yang ikut mengalami kecelakaan itu?" Aska memotong. Wanda mengangguk mengiyakan.


"Mereka itu sahabat dari kecil. Daren juga yatim piatu, dan sering main ke sini. Ada satu lagi sahabatnya Rein, yaitu Marvel. Tapi sayangnya dia meninggal pada kecelakaan itu," terang Wanda. Ia menghela napas menyayangkan kepergian sahabat terbaik dari anak asuhnya.


"Oh, iya. Kenapa kamu tanya semua ini sama ibu? Memangnya Rein nggak pernah cerita sama kamu?" tanya Wanda.


Aska mengulas senyuman, "Dia cerita, kok, Bu. Tapi saya mau tahu versi lengkapnya dari Ibu. Soalnya Rein hanya cerita garis besarnya aja. Saya kurang puas," ungkap Aska sedikit terkekeh. Tentu saja untuk menutupi kebohongannya.


"Rein memang tipe orang yang suka memendam perasaan. Dia tidak suka orang lain tahu tentang masalahnya sendiri," pungkas Wanda. Aska mengangguk. Sekarang ia jadi sedikit paham tentang sikap Rein.


"Kalau gitu saya pamit dulu, Bu. Saya harus ke kantor." Aska pamit kepada Wanda.


Mereka berdiri, dan Aska menyalami punggung tangan Wanda.


"Ibu boleh tahu kerjaan kamu apa, Nak?" tanya Wanda. Penampilan Aska yang memakai jaket hitam tanpa terlihat seragam kebesarannya, tidak menunjukkan jika dirinya seorang abdi negara.


"Saya polisi, Bu."


"Polisi?" Wanda sedikit terkejut mendengarnya. Namun, rasa bangga kemudian hadir di balik senyuman merekahnya, "Ibu nggak nyangka Rein bisa menikah dengan seorang polisi. Ibu do'akan kalian bahagia. Jaga selalu Rein, ya!" pesan Bu Wanda. Aska pun menganggukkan kepala.


"InsyaAllah, Bu. Saya akan selalu menjaga keluarga saya dengan segenap jiwa dan raga," ujar Aska dengan penuh kesungguhan.


***


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Rein dan Abian yang tengah menonton televisi di ruang tengah rumah mereka.


"Siapa, ya, Bi?" tanya Rein saling pandang dengan Abian.


"Nggak tahu," jawab Abian sambil mengedikkan bahu.


"Apa mungkin Om kamu udah pulang?" tanya Rein lagi.


"Om kalau pulang suka malam," sanggah Abian.


"Lalu siapa yang datang?"


"Buka aja pintunya! Mana Bian tahu."


Rein menghela napas kasar. Sebenarnya dia merasa malas jika waktu santainya akan terganggu dengan kedatangan tamu itu. "Siang-siang gini bertamu," gerutu Rein sambil berjalan menuju pintu, "awas aja kalau nggak bawa makanan!" imbuhnya mengancam. Padahal dia tidak tahu siapa yang datang.


"Iya, Mbak. Cari siapa, ya?" Setelah membuka pintu, Rein langsung bertanya pada sosok perempuan yang berdiri terpaku. Seperti terkejut dengan keberadaan Rein di rumah itu.


"Kamu siapa?" tanya perempuan itu balik.


"Ditanya, kok, balik nanya?" gumam Rein, sambil mengerutkan kening, " saya istri yang punya rumah ini," imbuhnya memperkenalkan diri.


Rein semakin heran, ia memindai perempuan itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Cantik, satu kata yang ada di pikiran Rein untuk penilaian pertamanya.


"Tante Asti." Panggilan Abian mengalihkan atensi dua perempuan muda yang tengah beradu pandang tersebut.


Perempuan yang bernama Asti itu langsung tersenyum melihat Abian yang muncul dari balik pintu. "Bian, kamu udah mau ngomong lagi?" Asti langsung memeluk tubuh mungil Abian. Wajah perempuan itu terlihat senang. Membuat Rein sedikit penasaran, siapa sebenarnya perempuan ini?


Tunggu! Namanya Asti.


Rein sudah ingat sekarang. Nama itu pernah dibahas oleh mertuanya sebelum dirinya pergi ke kota. Kedua mata Rein pun sontak memicing. Kembali menilai penampilan perempuan tersebut.


"Dari segi penampilan, sih, oke. Gayanya feminim dan lembut. Cocok juga kalau jadi istrinya polisi. Aha, kayaknya gue punya cara agar bisa cepat terlepas dari pernikahan ini." Rein menarik sudut bibirnya. Senyuman licik pun tersemat di sana. Ide cemerlang tiba-tiba muncul di otaknya.


"Hai, jadi kamu yang namanya Asti?" Asti langsung mengurai pelukannya pada Abian, lalu beralih pada Rein yang sempat dia abaikan.


"Iya, Mbak. Tapi ... apa benar Mbak ini istrinya Mas Aska? Setahu saya, Mas Aska belum menikah," tutur Asti dengan suaranya yang begitu lembut.

__ADS_1


"Kak Rein dan Om Aska udah nikah waktu di desa, Tante." Abian yang menjawabnya. Rein bisa melihat raut kecewa yang teramat dari wajah Asti.


"Kami dijodohkan, jadi belum sepenuhnya saling kenal," seloroh Rein, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Asti, "aku terpaksa menikah dengan Mas Aska, Mbak. Jadi Mbak masih punya kesempatan," bisik Rein di sana.


Asti sontak menarik mundur kepalanya. Keningnya berkerut dalam, tanda tak mengerti dengan ucapan Rein. Masa iya Rein hendak memberikan suaminya kepada perempuan lain?


Rein melirik ke arah Abian, "Kayaknya Mbak juga akrab sama Bian?" Rein mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Bian dan keluarganya akan menginap di rumah ini setiap akhir pekan. Dan sebagai tetangga, kami selalu bertemu dan main bersama. Keluarga Mas Dhana itu sangat baik dan terbuka."


Dari cerita Asti, Rein bisa menyimpulkan jika Asti cukup dekat dengan keluarga suaminya. Ia berpikir jika ini adalah sebuah kebetulan yang menguntungkan. Suatu saat nanti, Rein bisa mengalihkan perhatian Abian pada perempuan tersebut. Dengan begitu, Abian tidak lagi bergantung kepadanya.


***


Seminggu kemudian, Abian mulai kembali ke sekolah. Aska dan Rein mengantarkan anak itu sebagai wali muridnya. Saat itu Rein merasa jika dirinya benar-benar mempunyai keluarga. Namun, dirinya kembali disadarkan jika dirinya tidak mungkin langgeng bersama Aska. Pernikahan mereka hanya sementara, hanya sampai Abian sembuh saja.


"Aku berhenti di depan gang itu aja," pinta Rein ketika mereka tengah berada di dalam mobil. Aska hendak mengantarkan Rein pulang selepas mengantar Abian ke sekolah.


"Ngapain turun di sini?" Aska menepikan mobilnya dan bertanya.


"Mau ketemu temen," jawab Rein sambil membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.


"Usahakan pulang sebelum Abian pulang sekolah."


"Iya."


Rein membuka pintu mobil, lalu keluar dari sana. Aska sebenarnya penasaran dengan siapa Rein akan bertemu. Namun, Aska ingat akan perjanjian yang telah mereka sepakati untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Sehingga lelaki itu tidak bisa mencegah Rein dan banyak bertanya perihal urusan pribadi istrinya tersebut.


Selepas mobil Aska menghilang dari pandangannya, Rein mengulas senyuman. Kepalanya celingukan mencari sesuatu. Perempuan itu butuh kendaraan untuk menempuh perjalanan menuju rumah temannya. Rumah temannya itu cukup jauh, dan tidak kendaraan umum yang melewati tempat itu.


Kedua alis Rein terangkat ke atas. Kedua matanya tertuju pada sebuah mobil minibus yang diparkir sembarangan di pinggir jalan. Rein mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya, sebuah obeng kecil yang menjadi senjata andalannya. Rein menghampiri mobil tersebut.


Klik!


Dengan mudahnya pintu mobil itu terbuka, lalu Rein segera masuk ke dalam mobil. Tentu saja Rein sudah memastikan keadaan sekitar. Tempat itu memang terlihat sepi dan lenggang. Tak lama mobil pun melaju tanpa hambatan.


...****************...

__ADS_1


...To be Continued...


...Jangan lupa dukungannya, ya 🥰...


__ADS_2