Pencuri Hati

Pencuri Hati
Ch. 2. Tentang Luka


__ADS_3


Lovely Arzetta melangkahkan kakinya sedikit cepat menuju ruang UKS di lantai dua sekolahnya.


Dengan segera ia memasuki ruangan yang masih sepi itu. Guru kesehatan belum datang dan itu artinya ia bisa memuaskan dirinya untuk bersantai di tempat ternyaman di sekolahnya.


Dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang UKS dengan lengan tangan sebagai bantalannya. Pandangannya lurus menatap langit-langit yang berwarna putih.


Meski seorang gadis yang populer di sekolahnya, Zetta tak pernah sekalipun membuka hatinya untuk lawan jenisnya. Padahal yang mengejarnya sudah tidak bisa dihitung menggunakan jari lagi.


Sekelebat bayangan pria yang tadi bertemu dengannya tiba-tiba terputar di memori Zetta. Pria aneh dengan tampang yang sok menurutnya itu sangat berbeda. Jika sebelumnya semua pria akan mengejarnya meski Zetta tak merespon justru pria tadi tak menunjukkan reaksi apapun saat bertemu dengannya.


Asyik dengan pikirannya sendiri, Zetta tak menyadari jika pintu UKS telah terbuka dan muncullah sosok yang paling dibenci oleh Zetta.


Guru kesehatan


Sosok yang akan selalu berceramah jika melihat Zetta bermalas-malasan di ruangan miliknya.


Namun sebelum itu terjadi, dengan segera Zetta bangkit dan meraih tas sekolahnya yang tergeletak di nakas samping ranjang UKS.


"Kamu mau kemana?" Suara dingin itu menginterupsi Zetta saat dirinya hendak melangkah meninggalkan UKS.


"Bukan urusan Anda."


"Bukankah Saya sudah sering bilang padamu jika tak baik terus-terusan membolos di jam sekolah, Zetta. Kamu itu sudah kelas sebelas, mau jadi apa jika kamu terus-terusan bertingkah seperti ini?" omel Guru kesehatan sembari memijat keningnya.


"Saya tak meminta Anda untuk mengurusi hidup saya, cukup biarkan Saya pergi dan masalah selesai." Kali ini Zetta berkata dengan raut wajah datar tanpa ekspresi menatap lawan bicaranya.


"Apa kamu tidak kasihan pada Saya?" Lirih Guru kesehatan. Suaranya terdengar sendu menahan tangis yang kapan saja bisa tumpah.


Tanpa menjawab pertanyaan Guru kesehatan itu, Zetta langsung berlalu dengan membanting pintu cukup keras.


Emosi di dalam dirinya tiba-tiba memaksa untuk keluar meski Zetta berusaha keras untuk meredamnya.


Kini langkah kakinya ia pijakan menuju gedung belakang sekolah. Gedung yang lebih mirip gudang itu menjadi alternatif pilihannya di kala dirinya sedang merasa kacau seperti saat ini.


Dengan langkah gontainya ia berjalan menuju gedung itu. Ia langsung menendang pintu masuk ruangan tersebut dengan cukup kencang hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Beruntung lingkungan sekitar gedung itu sepi jadi aksinya barusan tak akan ada yang memergoki.


Zetta berjalan santai memasuki ruangan pengap penuh debu tersebut, lalu ia melempar dengan asal tas sekolahnya. Tujuannya saat ini hanya satu, samsak....

__ADS_1


Ia langsung melepas dasi yang bertengger di lehernya kemudian melilitkan dasi tersebut ke pergelangan tangan kanannya. Dia langsung meninju dan menendang samsak dihadapannya dengan membabi buta.


Peluh mengucur deras melewati wajahnya yang mulus, napasnya pun tersengal akibat aktivitasnya saat ini.


Dengan kasar ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya menggunakan lengan tangan kirinya. Kemudian ia melanjutkan memukul samsak tadi sebagai pelampiasan emosinya saat ini.


"Arghhhh...."


Teriakannya menggelegar di ruang hampa udara itu, seiring luruhnya tubuh Zetta ke atas lantai berwarna putih yang dipenuhi debu.


Napasnya masih tersengal, namun ia tak memperdulikannya.


Zetta bangun kembali dan meninju samsak dihadapannya dengan emosi yang meluap-luap.


"Kenapa... kenapa harus aku Tuhan..."


Ia menggerutu tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri jika kau terus-terusan seperti itu." Ucap seseorang yang berjalan mendekat ke arah Zetta.


Dengan memakai masker dan sarung tangan orang itu memasuki gudang tempat Zetta berada.


Ia lalu membersihkan keringat yang membasahi wajah dan lehernya.


"Minum ini," orang tadi mengulurkan sebotol air mineral ke arah Zetta.


Lagi-lagi Zetta menerimanya tanpa penolakan sedikit pun.


"Darimana kau tau aku ada disini?" Zetta bertanya tanpa menatap lawan bicaranya.


Orang tadi terkekeh dibalik masker wajahnya. "Mudah saja, aku melihatmu berjalan dan aku langsung mengikutimu. Sesimpel itu," jelas orang itu menatap Zetta.


"Penguntit," desis Zetta yang hanya ditanggapi dengan kekehan kecil oleh orang dihadapannya saat ini.


"Apa kau sering kesini?" Orang tersebut bertanya penasaran.


Zetta menoleh dengan alis berkerut, "apa aku harus menjawab pertanyaan orang yang sama sekali tak kukenal?" Tanya Zetta balik.


"Terserah," orang tersebut nampak tak berminat menanggapi Zetta.

__ADS_1


"Kostum apa itu? Kau terlihat aneh dengan kostum seperti itu," cibir Zetta pada penampilan orang di depannya.


Orang di hadapannya mencebikkan bibir tak terima, "aku hanya tak ingin bakteri masuk ke dalam tubuhku. Bahkan setelah ini aku harus membersihkan seluruh tubuhku agar virus dan bakteri tak menempel di badanku," terang orang itu.


Zetta terkekeh mendengar penjelasan orang dihadapannya, "apa kau seorang maniak kebersihan, huh?" tanya Zetta heran.


Orang itu hanya memutar bola matanya, "sudahlah aku harus pergi. Tak perlu menyakiti dirimu sendiri jika kau punya masalah berbagilah dengan orang lain agar suasana hatimu tak sekacau ini." Saran orang itu sebelum pergi meninggalkan Zetta yang termenung di tempatnya.


"Hei... siapa namamu?" Teriak Zetta saat tersadar dari lamunan sesaatnya.


"Kepo," jawab orang misterius dengan santai. Sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan Zetta ia melambaikan tangan kanannya tanpa berbalik menatap Zetta.


"Manusia aneh!" Teriak Zetta kesal.


Lovely Arzetta kemudian memutuskan menyudahi kegiatannya dan memilih untuk meninggalkan ruangan favoritnya itu. Ia memindai ruangan tempatnya melampiaskan kekesalannya.


Kotor


Itulah yang terlintas dipikirannya saat ini.


"Dua tahun aku bermanja-manja disini tapi aku baru menyadari jika ruangan ini begitu menjijikan?" Monolognya tak percaya.


"Aku benar-benar tertidur pulas rupanya selama ini," ia terkekeh sembari menggelengkan kepalanya menertawakan kebodohannya selama ini.


Zetta lalu melempar handuk dan air mineral pemberian orang misterius tadi ke atas tasnya, kemudian ia membenarkan ikatan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Baiklah, mari kita gunakan waktu membolos ini dengan hal-hal berguna," ucapnya pada dirinya sendiri sambil merenggangkan otot tubuhnya. Ia lalu berjalan ke arah sapu yang terletak di pojok ruangan dan mengambil tempat sampah untuk menampung semua kotoran yang dibersihkannya.


☘☘☘


Butuh waktu selama dua puluh menit sebelum akhirnya Zetta berhasil menyulap ruangan kotor itu menjadi bersih bak ruangan baru.


Fyuhhh


Zetta mengembuskan napas lelahnya sembari mengelap keringat yang ada di keningnya.


"Akhirnya selesai juga," ucapnya sembari mengitarkan pandangan keseluruh ruangan itu.


Ia kemudian berjalan ke arah tas yang tergeletak di lantai dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas tersebut. Kemudian ia berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar dari ruangan tersebut, Zetta menatap hasil kerjanya sekali lagi. Not bad... pikirnya.

__ADS_1


Setelah itu Zetta keluar dan memasang papan yang telah disiapkan olehnya bertuliskan "Gudang angker" pada pintu masuk gudang agar tak ada seorang pun yang berani menginjakkan kaki ke dalam ruangan yang ia klaim sebagai ruangan pribadinya.


__ADS_2