Pencuri Hati

Pencuri Hati
Mencari Tahu


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Cepetan! Tangan saya udah kesemutan," seru Aska melihat Rein malah bengong di depannya.


"Eh, i–iya ... sebentar!" Tangan Rein sedikit gemetar ketika mulai memasukkan tangannya ke dalam saku Aska. Ia sampai menggigit bibir bawahnya. Bersikap hati-hati agar tidak salah meraba.


"Ah, dapet juga." Rein tersenyum cerah ketika tangannya sudah meraih kunci tanpa halangan. Namun, saat dirinya hendak mencabut tangannya dari saku celana, tiba-tiba seekor cicak jatuh tepat di tangan Rein.


"Aaaaaargh!" Rein seketika menjerit. Tangannya spontan kembali masuk ke dalam saku celana Aska. Bahkan tangan yang satunya malah memeluk tubuh Aska dari belakang. Aska jadi merasa tidak nyaman. Keributan itu membuat Abian jadi terbangun dari tidurnya.


"Ada apa, Om?" tanya Abian dengan suara parau.


"Kita udah sampai, Bian. Kamu turun dulu, ya!" Aska berkata dengan lembut kepada Abian. Lalu menurunkan tubuh anak tersebut dari gendongan. Sambil menggisik kedua matanya, Abian menatap Om dan Rein bergantian.


"Bisa lepasin saya?" titah Aska pada Rein yang masih menempel di belakangnya.


"Ada cicak."


"Udah pergi."


Rein yang menyusupkan wajahnya ke punggung Aska perlahan memundurkan kepala. Kedua matanya memindai sekitar, takut-takut jika cicak itu masih mengincar. Sejurus kemudian perempuan itu pun sadar dengan apa yang sedang dia lakukan. Tubuhnya pun segera menjauh dari tubuh Aska. Tangan yang sempat mengait di saku celana juga ditarik paksa sambil memegang kunci rumah.


"I–ni kuncinya," ucap Rein gugup. Ia merasa salah tingkah ditatap sedemikian rupa oleh Aska. Wajahnya terasa panas menahan malu.


"Sama cicak aja takut," ledek Aska sembari mengambil kunci. Kemudian ia pun membuka pintu rumahnya sendiri.

__ADS_1


Rein menyapukan pandangannya pada seisi rumah saat tubuhnya sudah masuk ke dalamnya. Rumah tersebut memakai konsep interior Jawa klasik modern. Dengan di dominasi oleh furniture kayu jati membuat kesan cantik dan menarik. Pun dengan hiasan dan dekorasi antik yang lainnya, membuat Rein ingin mempunyai rumah yang sama.


"Di rumah ini kebetulan ada tiga kamar. Kamu bisa nempatin kamar ini." Aska menjelaskan tentang tata letak kamar di rumah tersebut, lantas membuka pintu kamar yang akan ditempati oleh Rein, "ruangan ini sedikit berdebu, karena memang jarang ada yang menempati selain abah dan Ambu kalau mereka menginap di sini," imbuh Aska.


Rein melongok ke dalam. Kedua matanya memindai seisi kamar. Kamar yang bernuansa klasik dengan paduan warna putih dan coklat di setiap dekorasinya itu cukup luas dan terasa nyaman. Sepertinya Rein akan betah tinggal di sana.


"Di sebelah kamar ini adalah kamar saya, dan di seberangnya kamar Abian."


Rein hanya mengangguk patuh dengan penjelasan Aska.


"Saya akan bersihkan sebentar, biar kamu bisa istirahat sekarang."


"Nggak perlu, Mas. Biar aku sendiri yang membersihkan. Kelihatannya juga nggak terlalu kotor, kok." Rein menolak bantuan Aska untuk membersihkan kamar itu.


"Kalau begitu, terima kasih. Saya juga udah capek seharian nyetir mobil. Malam ini Abian akan tidur bersama saya, karena kamarnya juga belum dibersihkan," ujar Aska. Rein menganggukkan kepala.


Senyum itu membuat Rein seakan tersihir dan lupa untuk berpikir. Wajah Aska terlihat begitu tampan berkali-kali lipat jika lelaki itu mengembangkan senyuman penuh ketulusan. Rein bergeming menatap Aska tanpa berkedip.


"Saya tahu kalau saya tampan, tapi kamu nggak perlu menunjukkan wajah bodoh kamu kayak gitu. Perempuan macam kamu ini pasti akan mudah diperalat oleh laki-laki, karena terlalu mudah untuk mengagumi."


Seperti mendapatkan tamparan keras di pipi, tetapi rasanya sampai menusuk ke hati. Kata-kata Aska terdengar sangat meremehkan. Rein yang awalnya terpesona akan ketampanan lelaki itu menjadi naik darah. Seolah darahnya sudah mencapai ubun-ubun. Rein mendengkus sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Andai lelaki di depannya itu bukan seorang polisi, mungkin saat juga bogem mentahnya sudah mendarat di pipi mulus lelaki itu.


"Maaf, ya, Mas Polisi. Memangnya kamu tahu apa yang ada dalam pikiran aku? Segitu percaya dirinya kamu dengan ketampanan yang kamu miliki. Asal kamu tahu, ya, wajah kamu itu standar. Bukan level aku," cecar Rein tak kalah meremehkan.


Aska menarik salah satu sudut bibirnya, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar kamar Rein.


***

__ADS_1


Esok harinya, Aska terbangun lebih dulu. Sudah menjadi kebiasaannya terbangun sebelum subuh. Aska yang terbiasa mandiri selalu menyiapkan segala keperluannya sendiri. Sebagai abdi negara, disiplin adalah harga mati.


"Selamat pagi, Sayang. Kok, kamu selalu sendirian?" Rein menyapa Abian yang sedang duduk di meja makan. Anak lelaki itu tengah menikmati sarapan pagi sendirian. Perempuan itu kemudian menarik kursi kosong di sebelah Abian lalu mendudukinya.


"Om kamu mana? Ini siapa yang masak?" tanya Rein lagi, sambil menunjuk sepiring nasi goreng yang tengah dinikmati oleh Abian.


"Om Aska udah berangkat kerja, Kak. Nasi goreng ini, Om yang masak," jawab Abian.


Rein mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit takjub dengan keahlian Aska yang bisa memasak juga. "Punya Kak Rein mana?" tanyanya, ketika dirinya baru sadar tidak ada nasi goreng lain selain yang dimakan Abian.


"Kata Om Aska, Kak Rein disuruh masak sendiri. Bahan masakannya ada di kulkas."


"Hah?" Rein tersentak. Lalu menghela napas kasar, "bener-bener perhitungan! Awas aja kalau dia pulang!" gerutu Rein sambil menggertakkan giginya geram.


***


Di sisi lain. Sebenarnya Aska tidak benar-benar pergi ke kantornya. Cuti liburnya belum selesai, setelah dia kembali dari bertugas di luar kota. Aska diam-diam malah menemui Ibu Wanda. Lelaki itu ingin tahu lebih banyak tentang Rein, tetapi ia tidak percaya dengan penjelasan istrinya tersebut. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bertanya kepada Bu Wanda tentang siapa Rein sebenarnya.


Bu Wanda pun bercerita tentang Rein kepada Aska. Dari awal Rein tinggal bersamanya sampai masalah sengketa lahan yang mengakibatkan dirinya dan anak-anak panti harus terusir dari tempat tinggal semula.


"Rein waktu itu masih berusia 15 tahunan, tetapi dia mau membantu ibu untuk mencari uang. Sehabis pulang sekolah dia berjualan asongan di jalan. Ibu sudah melarang dia bekerja, tapi katanya sebagai anak tertua, dia punya kewajiban buat membiayai adik-adiknya yang masih kecil waktu itu." Wanda menceritakan tentang Rein.


"Memangnya sebelum kalian diusir dari rumah lama, usaha ibu apa? Kenapa Rein harus membantu ibu bekerja? Apa hasil dari kerjaan sebelumnya tidak bisa mencukupi kebutuhan panti? Apa kalian juga tidak mendapatkan kompensasi dari pemilik lahan tersebut?" Aska memberondong beberapa pertanyaan. Ia sedikit tertarik dengan kasus sengketa lahan tersebut.


"Tidak ada kompensasi apa-apa, Nak. Lahan itu diberikan oleh Pak Burhan tanpa surat-surat yang sah. Waktu itu ibu dan bapak hanya disuruh menempati rumah itu bersama anak-anak asuhan kami. Bertahun-tahun lamanya kami tinggal di sana tanpa masalah. Sampai Pak Burhan meninggal, tak lama cucunya datang dan menggugat rumah tersebut. Kami tidak punya pilihan selain pergi. Saat itu, suami ibu juga sudah meninggal," terang Bu Wanda dengan isakan tangis di sela ceritanya.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2