Pencuri Hati

Pencuri Hati
Rindu


__ADS_3

...****************...


Sinar mentari menghangatkan udara pagi di pedesaan. Pagi-pagi sekali Rein sudah melakukan olahraga jalan. Berjalan kaki di sekitar rumah mertuanya tanpa menggunakan sandal. Katanya, hal tersebut bisa melancarkan peredaran darah, apalagi untuk ibu hamil sepertinya.


Selain dari bidan, Rein sering melakukan searching dan mencari informasi di Mbah Google. Dari sumber yang bisa dipercaya Rein pernah membaca, jika berjalan tanpa alas kaki saat hamil bisa membantu melepaskan elektron positif di dalam tanah yang bertindak sebagai anti-oksidan, yang dapat mencegah terjadinya peradangan atau inflamasi, dan bisa menjaga tekanan darah agar tetap stabil.


Oleh karena itu, Rein jadi rajin berolahraga jalan. Terlebih olahraga tersebut yang paling mudah dilakukan.


"Rein, sini!"


Panggilan tersebut membuat Rein menolehkan kepalanya pada asal suara. Rein melemparkan senyum kepada Bahar yang tengah memberikan pakan untuk ikan-ikan kesayangannya.


Rein pun menghampiri Bahar. "Ada apa, Bah?" tanyanya setelah Rein berdiri di samping Bahar. Perempuan itu kemudian berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan sang mertua yang tengah berjongkok juga.


"Kamu tadi lagi ngapain mondar-mandir di situ?" tanya Bahar pada menantunya. Satu tangannya melemparkan pakan ke kolam.


"Lagi olahraga, Bah. Jalan kaki nggak pake sendal," jawab Rein seraya memperhatikan ikan-ikan yang rakus melahap makanan yang turut ia lemparkan.


"Memangnya itu olahraga, ya? Abah tiap hari nggak pake sendal," celetuk Bahar.


Rein tersenyum. "Iya, Abah. Itu juga kata Bidan Lisna. Katanya biar peredaran darah lancar dan mencegah peradangan," ujar Rein yang mengulangi perkataan bidan desa, saat dirinya melakukan kontrol kandungan.


"Oh, gitu. Abah baru tahu." Bahar melongo takjub sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Rein hanya tersenyum menanggapi tingkah polos Bahar.


"Eh, Bah. Rein mau tanya, dong. Apa selama ini Mas Aska selalu kayak gini?" tanya Rein setelah sejenak hening di antara mereka.


"Kayak gini gimana? Ngasih makan ikan?" celetuk Bahar sambil menatap Rein, "si Aska mah nggak pernah mau ngasih makan ikan abah. Apalagi ikannya lele, dia paling takut sama ikan itu," imbuh Bahar.

__ADS_1


Rein tentu tidak percaya. Orang sekeras Aska bisa takut sama ikan. "Yang bener, Bah?" tanyanya sambil menahan senyuman. Walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin Rein tanyakan, Rein juga ingin tahu cerita selengkapnya.


"Beneran, atuh, Neng. Masa abah bohong. Si Aska itu pernah kepatil waktu kecil. Jadinya dia trauma deket-deket sama lele lagi."


"Kepatil?" Rein mengernyitkan kening. Yang dia tahu istilah itu sering digunakan untuk laki-laki hidung belang yang mempunyai penyakit kelamin.


"Iya, kepatil ikan lele. Waktu itu dia mainin ikannya, terus kena patil sirip ikan itu. Langsung nangis kejer dia."


Rein hanya ber'oh' tanpa suara, walaupun dalam hatinya ingin menertawakan kisah tragis yang menimpa suaminya.


Bahar pun tertawa saat mengenang itu semua. Lalu tawa itu perlahan mereda. Diikuti raut redup dari wajah rentanya. Tiba-tiba saja hatinya merasa sedih, ingin sekali rasanya mengulangi masa itu lagi. Bermain bersama anak-anaknya yang masih kecil dan manis.


Kini, saat mereka sudah tumbuh dewasa, masa itu hanya tinggal kenangan saja. Anak sulungnya sudah meninggal dunia, sedangkan anak bungsunya terlalu sibuk bekerja.


"Abah kenapa? Kok, melamun?" tanya Rein heran melihat perubahan sikap mertuanya.


Rein sedikit tidak percaya, tetapi ia tidak mau bertanya lebih lanjut tentang hal itu. Dia memilih mengulangi pertanyaan yang sebelumnya belum dijawab oleh Bahar.


"Tapi pertanyaan Rein yang tadi bukan itu maksudnya, Bah. Rein, tu, mau nanya, apa Mas Aska emang dari dulu suka jarang pulang nemuin kalian?" Rein mengulangi pertanyaannya tadi. Ada sedikit rasa malu tercetak dalam semburat merah di pipinya. Ia juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia ingin menanyakan hal itu.


"Beuh ... si Aska mah udah kayak gitu sejak pertama kali berangkat ke kota juga. Dia emang jarang pulang, Rein. Waktu dia masih sekolah kepolisian aja, dia itu sok sibuk dan nggak pernah ikut kalau kakak iparnya pulang sama Abian. Apalagi setelah jadi polisi. Setahun itu bisa dihitung dengan jari. Kadang pernah setahun nggak pulang sama sekali," papar Bahar menjelaskan.


Aska yang sibuk memang tidak jarang pulang ke rumah orang tuanya. Tapi dia sering berkirim kabar kepada sang ibu lewat sambungan telepon. Tentu saja keberadaan Rein selalu dirahasiakan dari lelaki itu.


"Ehm ... kenapa kamu tanyain dia?" Bahar bertanya sambil melayangkan tatapan curiga. Sejurus kemudian senyuman usil terbit di bibirnya, "ah ... abah tahu, nih. Kamu kangen, nya, sama suami kamu? Bener, kan? Hayo ngaku, atuh! Te kudu isin ka abah, mah. (Nggak perlu malu sama abah)." Bahar menggoda Rein.


Digoda seperti itu membuat semburat merah di pipinya semakin kentara. Rein pun membuang muka. Berusaha menghilangkan rasa panas yang mendera wajahnya. Pun dengan debaran jantungnya yang tidak bisa dikendalikan. Rein jadi salah tingkah.

__ADS_1


Rein berpikir selama dirinya pergi meninggalkan Aska, dia sudah berhasil menekan rasa cintanya kepada suaminya tersebut. Namun, ternyata tidak. Rasa cinta itu masih tetap ada. Malah semakin tumbuh seiring tumbuh kembang anak yang tengah dikandungnya. Jika Rein sedang berinteraksi dengan anaknya, ia serasa berinteraksi dengan Aska.


"Abah, teh, ngomong apa? Siapa juga yang kangen sama Mas Aska," kilah Rein tidak mau mengakuinya.


"Hilih, nggak bisa bohong sama abah, mah. Lihat eta muka kamu meni bereum kitu," goda Bahar lagi.


(Lihat itu wajah kamu, merah banget gitu).


"Nggak, Abah. Rein cuma iseng aja tanyain Mas Aska. Mungkin aja dia punya jadwalnya kalau pulang. Nanti, kan, aku bisa sembunyi di warung makan, kalau Mas Aska datang."


Bahar menghela napasnya kasar. Walaupun hubungannya dengan Aska terkadang sering ribut tidak jelas, Bahar masih berharap anaknya lebih sering pulang. Sebagai orang tua, terkadang mereka tidak pernah mau mengatakan keinginan itu kepada sang anak. Mereka hanya menunggu kepekaan anaknya saja.


Pun dengan hubungan Rein dengan Aska. Meski berkali-kali Rein mengatakan ingin berpisah dengan anak mereka, Bahar dan Ranti masih berharap rumah tangga anaknya akan berlanjut sampai tua.


Namun, keinginan Rein sudah bulat. Ia tidak akan meninggalkan Ranti dan Bahar di desa itu. Rein tidak mau ikut Aska ke kota. Jika dirinya sudah bercerai dengan lelaki itu, Aska bisa bebas mencari istri baru. Istri yang bisa merawat Aska dengan baik. Biarkan dia dan anaknya tinggal bersama orang tua Aska. Rein akan mengabdikan hidupnya seperti seorang pelayan untuk mereka.


*****


"Ambu ... Abah ... Bian pulang!" Abian berlari setelah keluar dari dalam mobil yang terparkir di halaman rumah Bahar.


Anak kecil itu berjingkrak kegirangan mencari kakek dan neneknya, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan mereka. Rasa rindunya sudah menggunung sampai ke ubun-ubun. Laksana gunung merapi yang menumpahkan laharnya, Abian juga ingin menumpahkan rasa rindunya.


"Bian, cucu Ambu yang paling kasep (ganteng)! Kamu pulang juga, Sayang." Ranti langsung menghambur menangkap cucunya masuk ke dalam pelukan. Air mata kerinduan meleleh seketika. Cairan hangat itu mengalir deras di pipi Ranti. Ia juga begitu merindukan cucunya tersebut.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


...Makasih, udah dukung karya othor dengan tekan like, favorit, dan kasih gift dan komentar. Berkah selalu. ...


__ADS_2