
...****************...
"Kalau begitu sekarang saja bawa Mas Aska ke rumah sakit besar, Bah. Rein khawatir ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh Mas Aska," seru Rein. Sebelah tangannya menyentuh tangan Aska, dan sebelahnya lagi memegangi perutnya yang terasa berbeda.
Dari semenjak ia mendengar kabar buruk tentang kecelakaan Aska, perut Rein sudah merasakan hal aneh yang tidak biasa. Namun, Rein selalu mengabaikannya. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan suaminya.
"Sssssh ...." Rein berdesis sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kamu kenapa, Neng?" Bahar bertanya pada menantunya saat pendengarannya menangkap suara berdesis dari mulut Rein tersebut.
"Nggak apa-apa, Bah. Anak Rein lagi gerak aja," kilah Rein sembari mengusap perutnya dengan lembut. Pias di wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang dia rasakan. "Sabar, ya, Nak. Kamu harus tetap sehat. Papa kamu sedang butuh mama," batin Rein menenangkan anak dalam kandungannya. Sekaligus menahan rasa sakit yang bergejolak di dalam sana. Ia bahkan tidak menghiraukan sesuatu yang keluar dari bagian intimnya. Terasa seperti ada sedikit rembesan air yang keluar dari sana. Entah itu cairan apa, yang pasti Rein merasa lengket dan basah.
Rein pun beralih pada Dokter Danu yang masih berdiri di sisi lain ranjang Aska. "Dokter, kami mau memindahkan Mas Aska sekarang juga. Apa boleh?" tanyanya.
Dokter Danu mengerjap bingung. Tatapannya langsung tertuju pada Bahar, seolah meminta jawaban. Bahar menganggukkan kepalanya, pertanda dokter itu harus berkata 'iya'.
"Iya, Mbak. Nanti saya urus surat rujukannya dulu," jawab Dokter Danu, lalu beralih pada Bahar lagi. "Abah Bahar bisa ikut saya sebentar!" ajaknya pada lelaki tua yang menjadi dalang sandiwara tersebut.
Bahar mengangguk, "Sebentar, ya, Neng," Pamitnya pada Rein.
"Ambu ikut, Bah." Ranti yang sedari tadi hanya berdiam diri jadi penonton pun mengikuti langkah Bahar. Ia memberikan kesempatan untuk Rein mengutarakan penyesalannya pada Aska.
Setelah di luar ruangan, Dokter Danu mencecar Bahar perihal surat rujukan yang tidak mungkin dia keluarkan. Pasalnya, sakitnya Aska hanya pura-pura. Jika pergi ke rumah sakit besar, kebohongan mereka pasti terbuka. Bukan hanya malu, melainkan klinik tempatnya bekerja pasti akan kena imbasnya. Klinik itu akan ditutup dan Dokter Danu pasti masuk penjara, karena melakukan pemalsuan data pasiennya. Padahal pasien tersebut adalah polisi juga.
Sementara di dalam ruangan Aska. Rein masih menangis sambil memegang tangan Aska. Perih yang melilit perutnya tidak dipedulikan lagi. Ia hanya peduli pada sang suami. Ia berpikir jika itu hanyalah gerakan anaknya yang mengajaknya berinteraksi.
"Mas, maafkan aku, ya! Aku udah bikin kamu nggak fokus dan mengalami kecelakaan kayak gini. Aku janji, setelah ini aku nggak akan menghindari kamu lagi," lirih Rein.
__ADS_1
Aska yang mendengarkan hanya bisa diam mendengarkan kesedihan istrinya. Sebenarnya dia merasa kasihan, tetapi ini juga demi hubungan rumah tangganya agar bisa bertahan. Aska berpikir jika hal itu adalah cara yang terbaik untuk menyadarkan istrinya. Agar Rein tahu jika Aska sangat mencintai dirinya.
Namun, sandiwara Aska hampir saja terbongkar kala dia merasakan rematan yang sedikit kuat di tangannya. Aska merasakan keringat dingin membasahi tangan itu. Tangan yang senantiasa menggenggamnya dengan kencang. Apalagi saat terdengar sang empunya tangan berkali-kali meringis kesakitan. Aska ingin sekali membuka matanya, hendak melihat apa yang terjadi dengan istrinya.
"Sakit banget, ya, Allah!" ringis Rein pelan. Ia mengusap perutnya dengan lembut, lalu berkata pada anaknya, "kamu nggak apa-apa, kan, Sayang? Jangan rewel dulu, ya. Papa kamu lagi sakit, Nak."
Namun, perkataan itu seolah tidak didengar oleh anaknya Rein. Rasa sakit itu malah bertambah parah, diikuti rasa basah yang semakin terasa di bagian bawahnya. Rein pun menengok bagian bawahnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat cairan berwarna merah mengaliri betisnya.
"Astaghfirullah, kenapa aku berdarah?"
"Apa katamu? Darah? Di mana?" Keterkejutan Rein bertambah saat Aska tiba-tiba bangun dari pingsannya. Lelaki itu terkesiap saat istrinya mengatakan hal tersebut.
Kedua mata Rein membelalak sempurna, rasa sakitnya semakin terasa, dan beribu pertanyaan berjejal di kepalanya. Kenapa suaminya bisa tiba-tiba bangun seperti tidak terjadi apa-apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Namun, wajah Rein sudah terlihat pucat pasi.
"Mas, kamu—"
Rein tidak kuasa menahan rasa sakitnya lagi, belum sempat ia meminta penjelasan tentang semuanya. Tubuhnya lebih dulu tumbang di samping Aska. Dengan sigap lelaki itu menahan tubuh istrinya agar tidak tergeletak di lantai.
Tak butuh waktu lama untuk Ranti, Bahar, dan Dokter Danu masuk ke ruangan. Mereka juga terkejut melihat keadaan Rein yang sudah tidak sadar.
"Ya, Allah ... ini mantu ambu kenapa?" Ranti langsung panik dan memeriksa keadaan menantunya, "Rein berdarah, Aska. Gimana ini?" imbuhnya lebih panik.
"Cepat bawa ke tempat bidan!" titah Dokter Danu. Di klinik itu tidak ada dokter kandungan, hanya ada seorang bidan.
Aska langsung membopong tubuh Rein menuju ruang praktek bidan yang ada di sana. Butuh beberapa saat untuk bidan memeriksa keadaan istrinya.
Aska yang masih berbalut perban di kepalanya hanya bisa mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan kandungan. Rasa menyesal menyerangnya saat ini. Andai saja dia tidak mengikuti rencana Bahar, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Abah! Kalau Abah nggak ngusulin rencana konyol ini. Rein nggak mungkin kayak gini!" berang Aska pada Bahar.
"Jangan salahin abah, atuh, Aska! Abah juga nggak tahu bakalan kayak gini," sesal Bahar. Ia juga khawatir dengan kondisi menantunya.
Aska berdecak kesal, lalu melayangkan satu pukulan ke dinding yang tidak bersalah di dekatnya. Ia marah, tetapi tidak tahu pada siapa. Yang pasti dia sangat menyesal karena sudah menipu istrinya.
"Sabar, Aska! Semoga istri dan anak kamu baik-baik saja, ya," ucap Ranti menenangkan putranya. Dia juga merasa bersalah dalam hal ini. Aska masih enggan memberikan komentar, pikirannya diliputi ketakutan.
Ketika pintu ruangan bidan terbuka, Aska langsung menemui bidan yang keluar dari sana.
"Bagaimana kondisi istri saya, Bu Bidan?" tanya Aska.
Bidan itu terdiam sejenak. Seperti menyiapkan kata-kata yang tepat. "Istri Anda mengalami pendarahan, sedangkan usia kandungannya masih 34 minggu. Masih belum waktunya untuk dia melahirkan."
"Jadi bagaimana?" Aska semakin panik mendengarnya.
"Sebaiknya langsung di bawa ke rumah sakit besar. Di sini tidak ada fasilitas untuk operasi caesar. Walaupun kurang bulan, tapi bayinya harus segera dikeluarkan," terang Bidan.
"Kalau begitu segera kita bawa ke sana!"
"Saya akan urus surat rujukannya, tapi Anda harus tenang dalam menyikapi semuanya. Pemicu istri Anda mengalami pendarahan seperti ini karena dia terlalu kelelahan dan juga adanya kondisi solusio plasenta pada kehamilan istri Anda. Merupakan kondisi serius di mana plasenta mulai terlepas dari dinding rahim. Banyak-banyaklah berdo'a semoga semuanya baik-baik saja," pesan sang bidan sambil menepuk pundak Aska.
Aska mengangguk lemah. Ini juga salahnya. Rencana untuk membawa Aska ke rumah sakit besar, ternyata malah dialami istrinya yang mengalami pendarahan.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
...Kasih komentarnya, dong. Ini sebenarnya salah siapa? Jangan salahin othornya, ya đŸ˜…...
...Makasih, udah dukung karya othor dengan tekan like, favorit, dan kasih gift dan komentar. Berkah selalu....