
...****************...
Gimana?" Daren langsung bertanya penasaran saat Rein keluar dari kamar mandi. Perempuan itu baru saja melakukan tes kehamilannya sendiri, menggunakan alat tes kehamilan yang dia beli.
Dari raut wajah Rein yang terlihat resah, Daren pun bisa menyimpulkan hasilnya apa, "positif? Lo benerin hamil?" tebak Daren sambil mengernyitkan keningnya.
Rein mengangguk lemah. Tangannya terulur menunjukkan hasil tes kehamilan yang menunjukkan garis dua berwarna merah.
"Terus sekarang gimana? Lo mau langsung gugurin aja? Mumpung dia masih kecil."
"Nggak mau!" tolak Rein dengan tegas, "dia juga anak gue. Mana mungkin gue tega buat gugurin," tandasnya lagi.
"Lo mau pertahanin anak itu?"
"Iya," jawab Rein sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Gimana kalau nanti polisi itu tahu kalau lo hamil anaknya dia?" cecar Daren lagi.
Rein terdiam sejenak, " Dia nggak akan tahu," sahut Rein. Walaupun hatinya tidak yakin jika suatu saat mereka akan bertemu.
Daren menghela napasnya. Ia tidak bisa memaksa sahabatnya melakukan hal yang lebih berdosa. "Ya, udah. Apa pun keputusan lo, gue dukung," ucap Daren sambil tersenyum tipis.
Rein pun menyunggingkan senyuman yang sama. Ia merentangkan kedua tangannya lalu memeluk tubuh Daren.
"Makasih, ya, Ren. Gue banyak berhutang sama lo."
"Nggak usah peluk-peluk. Nanti anak lo ngira kalau gue bapaknya dia," protes sambil mengurai pelukan Rein.
Rein memanyunkan bibirnya. "Tapi lo mau, kan, bantuin rawat dia kalau dia udah lahir ke dunia?" cicit Rein penuh harap.
Helaan napas pasrah pun terlontar kembali dari saluran pernapasan Daren. Lelaki itu selalu tidak berdaya jika Rein sudah meminta sesuatu kepadanya.
"Iya, tapi ada syaratnya," jawabnya sambil menyunggingkan senyuman aneh di sudut bibirnya.
"Syaratnya apa?" tanya Rein sambil mengernyit bingung.
__ADS_1
"Izinin gue buat kenalan sama dia di dalam sana. Dengan begitu, gue bakal jadi papanya beneran."
"Otak lo, Ren!" Rein tentu mengerti dengan maksud dari ucapan buaya darat tersebut. "Nggak, ya. Gue mendingan rawat anak gue sendiri kalau syaratnya ngeres kayak gitu," tolak Rein mentah-mentah.
Daren pun tergelak. "Yaaah, setidaknya gue juga pernah nanam saham di perut lo, kan? Jadi gue nggak rugi," kekehnya.
"Kamprett emang! Lo pikir rahim gue bursa saham." Rein mendorong tubuh Daren agar menjauh dari hadapannya. Membuat lelaki itu mundur satu langkah dari tempatnya. Tawa di bibirnya masih tersisa. Ia merasa senang jika melihat Rein dengan raut kesalnya.
Rein melengos pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian keluar lagi sambil membawa tas kecil seperti mau pergi.
"Lo mau ke mana?" tanya Daren.
"Ke rumah sakit. Gue mau periksain anak gue, sekalian minta vitamin. Gue mau dia tumbuh dengan sehat di rahim gue," jawab Rein.
"Perlu gue anter, nggak?"
"Nggak usah. Entar lo minta bayaran macem-macem lagi."
Daren tertawa lagi mendengarnya. "Nggak, lah. Gue cuma bercanda, Sap. Lo pikir gue tega buat nidurin lo. Lagian gue nggak suka bekas orang, nanti dedek gemes gue tercemar," kelakar Daren di sela tawanya.
"Mulut lo, Daren! Mau gue sumpel pake petasan, hah!" sungut Rein kesal. Hal itu membuat tawa Daren semakin menggelegar.
Rein berdecak melihat wajah tengil Daren. Ia tahu Daren hanya bercanda saja. Mungkin hormon kehamilan yang membuat emosinya lebih cepat naik, saat mendengar kata-kata yang sedikit nyelekit.
...****...
Rein tiba di rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Rasa bahagia dan takut bercampur jadi satu, karena dirinya akan menjadi seorang ibu. Rein takut jika dia tidak bisa memberikan kebahagiaan penuh untuk anaknya kelak, tanpa bantuan seorang suami di sisinya. Namun, Rein tetap menguatkan hatinya jika dirinya pasti bisa. Seperti dia merawat adik-adik pantinya dengan segenap usaha. Untuk kebahagiaan anaknya, Rein akan melakukan apa pun juga.
"Ibu Rein." Panggilan seorang perawat membuat Rein terhenyak.
"Iya," sahut Rein.
"Giliran lo, tuh," timpal Daren yang duduk di sebelah Rein.
"Lo mau ikut masuk?"
__ADS_1
Daren menggeleng cepat menanggapi ajakan Rein. "Nggak, ah. Nanti gue disangka suami lo sama dokternya," tolak Daren dengan mimik wajah yang menyebalkan.
Rein mendengkus. Tak ingin berdebat lagi dengan sahabatnya, Rein pun pergi meninggalkan Daren begitu saja.
Beberapa saat menunggu, pintu ruangan praktek dokter kandungan pun terbuka kembali. Rein keluar dari sana dengan raut wajah bersinar cerah. Sebuah senyuman membingkai indah di kedua sudut bibirnya. Kedua matanya tak jemu menatap sebuah hasil jepretan dari alat ultrasonografi yang diberikan oleh dokter kepadanya.
Walaupun Rein tidak mengerti dengan foto yang dominan berwarna hitam tersebut, Rein tahu jika dalam foto itu terekam jejak kehidupan anaknya. Rein merasa bahagia. Kini, ada kehidupan lain yang harus dia jaga di dalam rahimnya.
"Itu gambar apaan?" Pertanyaan Daren membuyarkan pikiran Rein. Perempuan itu langsung mendongak menatap sahabatnya yang sudah berdiri di hadapannya. Rein tidak sadar kapan lelaki itu mendekat kepadanya.
"Ini foto anak gue," jawab Rein dengan senyum mengembang.
"Hah, coba lihat!" Daren merebut fotonya, "anak lo item banget, Sap," cetus Daren sambil menatap aneh foto hasil USG tersebut.
"Aduh!" pekik Daren saat satu pukulan keras berhasil mendarat di atas kepalanya, "kenapa lo mukul gue?" tanyanya kesal.
"Ini foto USG, jelas aja item. Lo nggak bakalan ngerti," dengus Rein lalu pergi meninggalkan Daren. Ia berjalan menuju tempat penebusan obat.
"Heh, tungguin gue!"
Rein tidak menggubris teriakan Daren yang memintanya untuk menunggu. Hari ini lelaki itu sudah cukup membuat tekanan darahnya turun naik. Rein harus menjaga suasana hatinya mulai dari sekarang, dan ia akan mengawalinya dengan tidak menggubris setiap candaan Daren yang menyebalkan.
Setelah obat dan vitamin diterima, Rein pun mengajak Daren untuk pulang. Mereka berjalan berdampingan sambil berbincang. Sesekali Daren melemparkan candaan ringan, hal itu membuat senyum Rein terus mengembang. Daren memang ahlinya dalam mengobrak-abrik mood seseorang.
"Kenapa?" Daren heran saat langkah Rein tiba-tiba berhenti ketika mereka baru mencapai pintu rumah sakit.
Kedua mata Rein melebar saat menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Degup jantungnya pun tiba-tiba melonjak. Rein sampai menelan ludahnya dengan kelat.
Tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya, tatapan Daren pun mengikuti arah pandang Rein yang menembus pintu kaca. Di luar sana, terlihat Aska dan Abian yang hendak masuk ke dalam rumah sakit yang sama dengan tempat mereka.
"Itu ... suami polisi lo, kan?" seru Daren sama terkejutnya. Daren pun berinisiatif untuk mengajak Rein kabur untuk menghindari pertemuan mereka. Namun terlambat, Abian sudah lebih dulu melihat keberadaan Rein.
"Tante Rein," teriak Abian yang langsung berlari dan memeluk tubuh Rein yang membeku di tempat.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...
...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya 😍...