Pencuri Hati

Pencuri Hati
Bereaksi


__ADS_3

...****************...


"Mas." Rein menangkup kedua pipi Aska. Pandangan mereka terkunci dalam satu tatapan.


"Kenapa?" tanya Aska heran dengan sikap istrinya.


"Mari kita buka lembaran baru! Kita lupain semua kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Sekarang aku ngerti, nggak baik hidup selalu terkurung dalam penyesalan. Yang terpenting kita harus berusaha agar kesalahan itu tidak berulang dan tak pernah bosan memaafkan kesalahan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa, Mas. Aku nggak tahu kehidupan kita ke depannya seperti apa, tapi aku hanya ingin berusaha menjadi istri yang terbaik buat kamu." Rein mengusap pipi Aska dengan lembut sebelum dirinya kembali berucap,


"Kalau kamu selalu bersikap seperti ini, aku takut aku akan menjadi istri yang seenaknya sendiri. Bukannya tidak mau dimanja dan disayangi, tapi aku juga punya tugas dan tanggung jawab sendiri sebagai istri. Menurutku terlalu berlebihan, jika kamu menyuruh aku terus beristirahat sampai enam bulan pasca melahirkan. Aku bisa bosan. Aku mau kehidupan kita berjalan apa adanya, Mas. Seperti kehidupan rumah tangga abah dan ambu. Mereka tetap bahagia walaupun abah memperlakukan ambu tidak seperti ratu. Kamu ngerti, kan, maksud aku?" Rein menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Aska. Lelaki itu masih bergeming dengan posisinya. Menatap Rein dengan tatapan bingung.


"Mas, berhentilah merasa bersalah dengan kekhilafan masa lalu. Bukannya dulu kamu sering mengatakan itu sama aku?" Rein gemas melihat suaminya hanya diam saja.


"Maafkan aku, Sayang. Mungkin aku terlalu lebay, tapi aku benar-benar takut kehilangan kamu." Aska menarik tubuh ke dalam pelukannya, "tapi kalau itu yang kamu mau, tentu aja aku bersedia melakukannya. Terima kasih karena sudah mau menjadi istri terbaik aku," imbuh Aska penuh haru. Aska baru sadar jika apa yang dirasakan Rein, juga dirasakan olehnya sekarang.


Senyuman bahagia terbit di bibir Rein. Ia balik memeluk suaminya dengan kencang. Usapan lembut di punggung lelaki itu membuat sesuatu jadi sedikit terganggu. Sepertinya tubuh Aska bereaksi mendapatkan perlakuan seperti itu. Aska pun buru-buru mengurai pelukannya.


"Kenapa, Mas?" tanya Rein, merasa heran melihat air muka Aska yang terlihat berbeda.


"Nggak apa-apa. Mas berangkat kerja dulu, ya. Nanti terlambat. Kamu mandi dulu, sana! Abis itu sarapan. Mumpung Tara masih anteng sama neneknya," tutur Aska. Ia beranjak berdiri hendak pergi, tetapi urung sebab tangannya ditahan oleh sang istri.


"Kamu beneran nggak apa-apa, Mas? Wajah kamu merah gitu. Kamu demam?" tanya Rein penasaran.


Aska semakin salah tingkah. Sudah berbulan-bulan hal tersebut ia rasakan. Menahan desakan yang menuntut di bagian bawahnya yang sudah menjulang. Jika dulu Aska sering memaksa, tetapi tidak untuk sekarang. Aska selalu tidak tega saat meminta jatahnya, padahal rasa inginnya selalu muncul jika bersentuhan dengan istrinya.


Rein terkadang merasa heran. Kenapa sang suami selalu menghindar jika dirinya ingin mendapatkan sentuhan. Sebagai perempuan normal, Rein juga butuh dibelai. Rein bahkan sudah bersiap dengan senjata pertahanan yang diberikan oleh bidan. Katanya, Rein harus mengatur jarak kelahiran.


"Aku baik-baik aja. Aku harus pergi sekarang. Nanti telat." Aska melepaskan tangan Rein yang melingkar di tangannya dengan lembut. Lantas pergi setelah mendaratkan satu kecupan di kening istrinya tersebut.


Rein mengernyit dahi, karena tidak mengerti. Namun, sejurus kemudian dia pun sadar, saat melihat Aska membenarkan posisi celananya yang tiba-tiba jadi kesempitan.

__ADS_1


"Bilang aja lagi pengin itu, Mas! Apa kamu takut kalau aku bakalan nolak kayak dulu?" gumam Rein menatap punggung Aska yang menghilang di balik pintu.


*****


Siang hari yang di daerah pedesaan tidak sepanas di daerah ibu kota. Walaupun matahari berada di atas kepala, udara sejuk masih bisa meleburkan hawa panasnya. Air di kolam tampak beriak saat ikan-ikan berebut makanan. Tara yang diajak memberikan pakan untuk ikan-ikan Bahar sesekali tertawa riang sambil menatap kolam. Anak bayi itu malah berusaha turun untuk meraih ikan-ikan tersebut.


"Jangan atuh, Kasep (ganteng)! Nanti kamu kecebur. Kamu, kan, belum bisa renang. Nanti aja, ya. Kalau udah gede, abah pasti ajarin kamu nangkap ikan. Oke!" Bahar menjauhkan Tara yang kelojotan berusaha turun dari gendongannya. Ia pun berjalan menjauhi kolam menuju saung tempatnya bersantai.


Namun, hal itu malah membuat Tara menangis histeris. Bayi enam bulan itu tidak terima keinginannya dilarang.


"Eh, eh, cucu ambu kenapa nangis? Diapain sama Abah?" Mendengar Tara menangis, Ranti pun menghampiri, lantas meraih Tara dari gendongan Bahar.


"Sembarangan aja kalau nuduh. Masa abah ngapa-ngapain cucu sendiri," sanggah Bahar cepat, "Tara ngamuk mau nyebur ke kolam. Katanya mau nangkap ikan," cetus Bahar memberikan alasan.


"Ah, masa? Emangnya Tara udah bisa ngomong gitu," cebik Ranti, lalu berusaha memenangkan cucunya lagi. Beruntung perempuan itu membawa amunisi untuk cucunya tersebut, yakni sebotol susu formula yang sengaja dia bawa. Rein memang tidak bisa memberikan ASI eksklusif untuk anaknya, lantaran mengalami koma hampir satu bulan pasca melahirkan. Jangan ditanya bagaimana kondisi batin Aska saat itu. Lelaki itu seperti hidup segan, mati pun tak mau.


"Ambu, Abah."


"Kamu rapi banget, kayak mau pergi? Mau ke mana?" Bahar bertanya karena melihat menantunya berdandan tidak seperti biasanya.


"Iya, Rein mau pergi ke rumah sakit. Rein titip Tara sebentar, ya!" jawab Rein sambil mengulas senyuman.


"Rumah sakit? Kamu sakit apa, Neng?" Ranti tercekat dan merasa khawatir.


"Rein nggak sakit, kok, Ambu. Rein cuma mau check up kesehatan aja. Udah lama Rein nggak periksa," ujar Rein.


"Oh." Ranti dan Bahar menghela napas lega, "kamu sama siapa ke sananya? Aska, kan, masih di kantor," tanya Ranti lagi. Dia tidak akan mengikuti Rein menyetir sendiri.


"Sama Mang Umar, Ambu. Katanya dia mau sekalian ke kota, ngirim ikan."

__ADS_1


"Iya, si Umar emang Abah suruh ngirim ikan hari ini," timpal Bahar.


"Aska tahu, nggak?" Ranti kembali bertanya.


Rein menganggukan kepalanya, "Udah Rein kasih tahu lewat WA," jawabnya.


"Kalau gitu hati-hati, ya, Neng. Nanti Aska bisa ngamuk kalau terjadi sesuatu sama kamu. Pasti Ambu juga yang disalahin dia."


"Iya, Ambu. Rein akan hati-hati. Lagipula yang nyetir Mang Umar, bukan Rein sendiri," ujar Rein. Rein membungkukkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya pada wajah anaknya, lalu mendaratkan satu ciuman di pipi gembul Tara.


"Mama pergi dulu, ya, Sayang. Baik-baik sama Ambu dan Abah. Jangan rewel!" pesannya pada Tara. Bayi itu tidak memberikan respon apa-apa. Kedua matanya hanya menatap wajah Rein, bibirnya masih sibuk mengisi amunisi yang belum habis di botolnya.


*****


Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Tak terasa waktu berputar hingga malam menjelang. Hari ini Aska terlambat pulang, karena ada laporan kejahatan baru yang harus dia atasi secepatnya.


Aska mengetuk pintu rumah, dan dibukakan oleh ibunya. Tanpa berbincang, Aska langsung masuk ke kamarnya. Saat pintu itu terbuka, lampu kamar sudah temaram. Pertanda penghuninya sudah terlelap dalam mimpi. Dengan perlahan Aska berjalan, dan mengambil baju ganti, lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian Aska sudah selesai dengan ritual mandinya. Betapa terkejutnya dia, hingga kedua netranya sampai terbuka sempurna. Mau bicara saja seolah tidak bisa. Aska seolah kehabisan kata-kata, ketika melihat istrinya berbaring miring dengan busana tipis dan kurang bahan. Gayanya pun dibuat menggoda. Aska menelan saliva berkali-kali. Tubuhnya pun sontak bereaksi. Apa dirinya sedang bermimpi?


...****************...


...To be continued...


...Nah, loh. si Rein mau ngapain? 😅😅...


...Dukung karya author dengan tekan tombol like, favorit, dan gift, ya. Tak lupa kasih komentar biar othor tambah semangat update terus. Sayang kalian. Makasih 🙏...


Oh, iya. Masuk ke GC baru aku, yuk. Yang judulnya Update karya Amy. Nanti di sana aku khususkan buat pembaca setia aja. Tiap up aku kirim di sana, sekaligus bagi-bagi poin kalau ada 🤭

__ADS_1


Juga kalau suatu saat aku mau adain event tentang novel, aku bakalan kasih infonya di sana. Jadi, GC itu benar-benar khusus pembaca, ya. Akun yang level bacanya masih di bawah 5, mohon maaf nggak bisa masuk sana. Masuk GC satunya lagi aja. 🙏😅


.


__ADS_2