
...****************...
"Ayo, kita pulang!" ajak Rein pada Aska dan Abian.
"Pulang? Enak aja. Saya dan Abian ke sini mau jalan-jalan, bukannya mau jemput kamu doang," ketus Aska. Menatap sinis pada istrinya.
"Polisi ini lama-lama nyebelin juga. Tadi aja dia peluk-peluk gue. Sekarang judesnya minta ampun. Enaknya diapain, ya?" Rein membatin.
"Ayo, Bian! Katanya tadi mau main Timezone?" Aska langsung menggiring tubuh Bian untuk masuk lagi ke dalam Mall. Tadi mereka sudah sempat masuk ke dalam, tetapi tiba-tiba Abian ingin membuang hajat besar. Aska mengajaknya ke toilet di parkiran, karena jaraknya paling dekat dengan posisi mereka.
Rein pun mengikuti dari belakang. Namun, dirinya langsung ingat akan dompet Aska yang masih ada di dalam tas kecilnya. Mungkin lelaki itu belum sadar jika dompetnya sudah raib dari saku celananya.
Rein buru-buru membuang dompet milik Aska ke sembarang arah di tempat parkir, tanpa sepengetahuan lelaki itu. Berharap jika sebentar lagi lelaki itu sadar, ia akan menyangka dompetnya terjatuh di sana.
****************
Sesampainya di tempat permainan, Aska langsung menuju loket untuk mengisi saldo kartu permainan. Rein sedikit resah menunggu reaksi Aska. Sebentar lagi lelaki itu pasti sadar, jika dompetnya telah hilang.
"Eh, dompet saya mana?"
Kepanikan Aska pun dimulai. Rein meringis ketakutan, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Memangnya disimpan di mana, Mas?" tanya Rein pura-pura.
"Di kantong celana, tapi nggak ada."
"Mungkin kamu lupa. Nggak bawa kali," cetus Rein lagi.
"Nggak mungkin, tadi aku sempat ambil uang saat beli bensin."
Rein menarik napas dalam, berusaha melanjutkan sandiwaranya dengan tenang. "Atau ... terjatuh di mana, gitu?"
Aska terdiam sejenak sembari berpikir. Mengingat-ingat ke mana saja tadi tubuhnya parkir.
"Kamu ada uang?" Aska bertanya kepada Rein.
__ADS_1
"Ada," jawab Rein
"Bayarin dulu ini! Saya mau cari dompet saya, sekalian lapor ke pihak pengelola Mall. Mungkin mereka bisa bantu nyari."
"Oke." Rein mengangguk setuju.
Tak memakan waktu lama. Aska kembali dengan wajah ditekuk kesal. Dompetnya sudah ditemukan, tetapi isinya sudah menghilang. Pencarian dompet itu dibantu oleh pihak pengelola Mall, jadi bisa ditemukan dengan cepat.
"Gimana, Mas? Udah ketemu?" tanya Rein dengan wajah pura-pura khawatir, padahal dalam hatinya juga ketar-ketir. Rein takut Aska akan memperpanjang masalah itu, mengingat uang yang ada dalam dompetnya sudah berpindah tangan kepada Daren.
"Udah, tapi uangnya hilang semua," keluh Aska.
"Terus gimana? Mas mau lapor polisi?"
"Saya juga polisi," tukas Aska.
"Iya, tahu ... maksudnya, Mas mau mencari tahu siapa yang ngambil uang itu, nggak?" Rein terlihat sangat penasaran. Dalam hatinya ia berdoa Aska akan mengikhlaskan.
"Seseorang menemukan dompet ini di area parkir. Waktu saya bilang uangnya nggak ada, dia sampai sumpah nggak tahu apa-apa, dan dia bisa membuktikannya. Lalu saya dan pengelola Mall udah lihat CCTV, nggak ada rekaman yang memperlihatkan aksi pencurian di sini."
"Kita mencuri itu sebenarnya untuk mengingatkan orang-orang. Kalau punya uang, harusnya banyakin sedekah. Biar uangnya nggak diambil semua sama pelantara macam kita." Itulah ajaran sesat yang Daren katakan tempo dulu. Parahnya, Rein percaya begitu saja. Hati dan iman perempuan itu sudah tertutupi oleh kebencian pada orang kaya, yang begitu tega mengusirnya bersama penghuni panti lainnya kala itu.
Aska diam saja. Mungkin introspeksi diri dengan perkataan Rein barusan.
"Kalau gitu, sekarang kita bisa main, kan?" ucap Rein sambil melebarkan senyumnya.
"Memangnya dari tadi kalian belum main apa-apa?"
Rein dan Abian menggeleng kepala. Sedari tadi mereka hanya diam saja menunggu Aska kembali.
"Ya udah, ayo!" ajak Aska. Mereka pun kembali ke arena permainan.
"Kamu mau main permainan apa?" Rein beralih pada Abian. Namun, Abian hanya diam. Ia langsung melewati Rein begitu saja, memilih permainan lempar bola di depan sana. Wajah Abian terlihat murung, tidak seperti sebelumnya. Hal itu membuat Rein jadi bingung. Ada apa dengan anak itu? Sikap Abian tiba-tiba jadi dingin kepadanya. Padahal tadi di parkiran, ia masih ceria saat bertemu Rein.
Tidak digubris oleh Abian, Rein beralih pada Aska. Lelaki itu tengah berdiri di depan mesin permainan pukul kepala tikus tanah. "Mau main itu, Mas?" tanya Rein.
__ADS_1
Aska langsung menoleh. "Permainan anak kecil. Saya nggak suka," jawab Aska datar.
"Ih, kata siapa ini permainan anak kecil? Permainan ini itu terbukti manjur buat melampiaskan rasa kesal, tahu."
"Apa hubungannya?" Aska mengernyit bingung. Lantas bergeser ketika Rein tiba-tiba mengusirnya dengan dorongan pelan.
"Gini, nih." Rein mengambil alat pukulnya, "bayangin kepala tikus itu adalah kepala orang yang udah bikin Mas kesel. Dijamin bakal jadi semangat waktu mukulinnya. Hati kita bakalan puas juga."
Rein pun memulai aksinya. Dengan cekatan dia memukul setiap kepala tikus yang keluar. Hingga ia bisa mendapatkan hadiah kupon permainan yang banyak dari mesin tersebut.
"Wah, hebat juga kamu! Memangnya kamu lagi kesel sama siapa? Semangat banget tadi mukulinnya." Aska memuji Rein.
Rein mendongakkan pandangan dari kupon hadiah yang dia pegang. "Sama kamu, lah. Aku, kan, tadi bayangin wajah kamu di kepala tikus itu, Mas." Tentu saja kalimat itu hanya terlontar dalam hati Rein saja.
Perempuan itu tersenyum pelik, tidak mungkin dirinya jujur kepada Aska. "Ada, deh. Mau tahu aja!" Rein melengos pergi meninggalkan suaminya, tetapi Aska malah menarik tangan Rein tiba-tiba.
Rein yang terkejut kehilangan keseimbangan. Jadi tubuhnya terhenyak, dan terbentur dada bidang Aska. Sejenak pandangan mereka pun terkunci. Hingga kedatangan Abian membuat keduanya jadi grogi, dan saling melepaskan diri.
"Om, aku mau pulang," seru Abian.
"Eh, baru juga sebentar main. Kok, udah mau pulang aja?" tanya Rein, tetapi Abian enggan menjawab pertanyaan Rein. Tatapan kebencian ia layangkan kepada istri dari omnya tersebut, "kamu kenapa, Sayang? Kakak ada salah, ya?" Rein yang tidak tahan akhirnya bertanya tentang keanehan Abian.
"Jelas salah. Kamu udah terlalu sering ninggalin dia sama Asti. Mungkin dia kecewa sama kamu." Jawaban itu terlontar dari mulut Aska.
Entah kenapa hati Rein terasa sakit mendengarnya. Padahal ini yang dia mau sebelumnya. Dengan Abian membencinya, Rein bisa dengan mudah meninggalkan mereka.
"Tapi—"
Perkataan Rein tertahan manakala suami dan keponakannya pergi begitu saja. Rein jadi semakin merasa bersalah. Hatinya sakit melihat itu.
"Ada apa sama gue? Padahal ini yang gue mau, kan?" gumam Rein. Ia masih terpaku di tempatnya, sambil memegang dadanya yang terasa sesak melihat kepergian mereka.
"Mau ikut pulang, ngga?" Teriakan Aska membuat Rein kembali terjaga. Ia pun berlari kecil untuk mengejar suaminya.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...