
...****************...
Butuh waktu setengah jam untuk Aska kembali menidurkan anaknya. Lelaki itu menghela napas lega melihat Tara sudah tertidur lelap. Ia lalu berbalik hendak menghampiri istrinya.
"Yaaah ... kok, tidur?" Aska kembali melemaskan bahu, melihat istrinya sudah tertidur di atas kasur. Kakinya mengayun lemas mendekati istrinya tersebut. "Sayang, kamu udah tidur beneran?" tanyanya sambil mengguncang bahu Rein pelan. Berharap istrinya hanya berpura-pura saja.
Namun, suara dengkuran halus yang terdengar dari pernapasan sang istri, menandakan perempuan itu sudah hanyut ke dalam dunia mimpi. Membuat Aska mengacak rambutnya sendiri. "Aaargh! Mau buka puasa aja susah amat, sih!" decaknya frustrasi.
Aska merasa bimbang, mau membangunkan juga kasihan, apalagi saat pandangannya beralih pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, ia semakin tidak enak hati. Namun, Aska menatap bagian bawahnya. Bagaimana dengan nasib rudalnya yang sudah terbakar asmara? Aska dilema.
"Yang ... bangun!" Setelah lama berpikir, Aska pun membangunkan istrinya dengan lembut. Ego lelaki itu akhirnya menang. Lebih tepatnya dia sudah tidak berdaya menahan hasratnya yang sudah menggebu-gebu. Sudah lama dia menunggu moment itu. Mumpung anaknya tidak lagi jadi penggangu.
"Hmmm ...." Rein hanya bergumam menanggapi panggilan suaminya tersebut. Tubuhnya sedikit bergerak sekadar menggeliat. Kedua matanya masih terpejam karena ngantuk berat.
"Jangan tidur dulu, lah! Kita belum selesai," ucap Aska berbisik di telinga Rein.
Rein yang kegelian mengerjapkan matanya, lalu perlahan menyipit menyesuaikan cahaya yang menusuk retinanya. "Ada apa, Mas?" tanya Rein yang kesadarannya belum kembali sempurna.
Aska melebarkan senyuman, "Anak kita udah tidur, Sayang. Kita lanjutkan yang tadi, ya," lirih Aska dengan kabut asmara yang semakin menjadi.
Kedua mata Rein mengedip beberapa kali. Otaknya mengingat tentang kejadian tadi. Seulas senyuman pun terbit saat perempuan itu mengingat apa yang terjadi. "Maaf, aku malah ketiduran," kekehnya kemudian.
"Nggak apa-apa. Kita mulai sekarang, ya. Takut Tara kebangun lagi."
Rein mengangguk setuju. Aska pun tersenyum penuh nafsu. Disingkapnya selimut istrinya itu. Rein menutup matanya saat tangan Aska mulai bergerilya. Gelayar aneh pun mulai terasa, disertai desiran hebat yang mengalir di darahnya.
Aska tidak mau membuang-buang waktu. Malam itu ia akan memanjakan si empunya peluru. Menembakkan bubuk mesiu yang hampir membatu karena terlalu lama menunggu.
Hingga subuh menjelang, gempuran terhadap Rein baru saja selesai. Rein dan Aska seperti mandi keringat setelah bertempur hebat. Napasnya saling memburu berebut oksigen di kamar itu. "Jangan tidur dulu, Yang! Udah azan." Aska mengusap pipi istrinya yang menempel di dada bidangnya yang terbuka.
"Iya," sahut Rein masih mengatur napasnya. Kedua matanya hampir terpejam karena begitu kelelahan. Tidak mau ketinggalan menunaikan kewajiban, Rein segera beranjak duduk dan melawan rasa ngantuknya, "aku mandi duluan, ya," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Mandi bareng, yuk!" ajak Aska dengan tatapan jahil. Kedua alisnya turun naik dengan gaya centil.
"Nggak, ya. Nanti kalau Tara bangun gimana? Nggak ada yang jagain dia," tolak Rein sambil mencebikkan bibirnya. Jika Rein setuju, ritual mandi mereka bukan sekadar mandi biasa. Pasti membutuhkan waktu yang lama.
****
Sinar mentari pagi sudah menyingsing di ufuk timur. Disambut oleh kicauan burung kecil yang bertengger di pepohonan. Loncat ke sana ke mari dengan riang. Seolah bersyukur masih diberi cahaya kehidupan.
"Rein, gimana semalam? Berhasil, nggak?" Rein sedikit tercekat mendapatkan pertanyaan dari mertuanya. Ia yang tengah membantu Ranti memasak pun hanya menyunggingkan senyum. Semburat merah di pipinya menandakan dirinya malu ditanya seperti itu.
"Heh, ditanya kok diem-dien bae? Ayo, cerita! Ambu mau tahu." Ranti menyenggol bahu menantunya yang tengah mencuci sayuran di sampingnya.
"Ish, aku malu atuh, Ambu," seru Rein. Ranti pun tersenyum lucu.
"Berarti berhasil, atuh, ya. Nggak percuma ambu beliin baju yang bahannya kayak jaring ikan itu," kekeh Ranti.
Rein memang sempat cerita kepada Ranti perihal kelakuan Aska semenjak dirinya sadar dari koma. Sepulang dari rumah sakit tadi siang, Rein langsung memperlihatkan hasil check up kesehatannya pada mertuanya tersebut, lalu bertanya kepada Ranti bagaimana caranya agar Aska mau menyentuhnya lagi. Ranti punya cara jitu. Ia pun bergegas pergi ke pasar untuk mencari sesuatu. Baju itulah yang Ranti dapatkan, lantas diberikan kepada sang menantu.
"Oh, iya, sebentar." Rein menyimpan wadah sayuran di atas meja, lalu pamit kepada mertuanya untuk pergi menemui anaknya. Ranti pun mengiyakan saja.
"Nin, seragam aku di mana?" Setelah Rein pergi, Abian bertanya pada neneknya.
"Di lemari baju kamu, atuh. Masa di sini."
"Nggak ada, ih. Udah Bian cari dari tadi," cetus Abian.
"Masa?" Ranti pun menghentikan aktivitasnya, lalu menggiring tubuh Abian menuju kamarnya, "ayo, kita cari sama-sama," ucapnya dengan sabar. Tidak ingin cucunya itu merasa kesal.
******
Hari ini Aska harus pergi ke kota. Ia harus menghadap atasannya yang berada di sana. Sekalian lelaki itu pun membawa istri dan anaknya. Katanya, ada sesuatu yang ingin ditunjukkan kepada mereka.
__ADS_1
"Ini ...." Rein terkesiap saat Aska membawanya ke suatu rumah. Rumah itu adalah rumah panti lama, yang sudah ditinggalkan karena diusir oleh pemiliknya, "ngapain kita ke sini, Mas?" tanya Rein heran.
Aska hanya mengulas senyuman, lalu menggiring tubuh Rein yang tengah menggendong Tara mendekati pintu rumah tersebut.
"Ini rumah kosong, Mas. Ngapain kita ke sini?" Rein terus bertanya, tetapi Aska masih diam saja.
Namun, saat pintu rumah itu tiba-tiba terbuka, kedua mata Rein pun melebar sempurna. Apalagi yang keluar dari sana adalah Ibu Wanda—ibu asuhnya. Rein terkejut luar biasa.
"Ibu?"
"MasyaAllah, Rein."
Wanda langsung menghambur memeluk anak asuhnya tersebut, tetapi terhalang oleh Tara yang tertidur pulas di gendongan sang ibu.
"Ini anakmu, Rein. Ya, Allah ... udah gede lagi!" seru Wanda sambil mengelus pipi gembul Tara dengan lembut.
"Bu, kenapa Ibu bisa tinggal di rumah ini lagi?" Rein yang begitu penasaran langsung melemparkan pertanyaan.
Wanda tersenyum, melirik pada Aska yang berdiri di samping anaknya. "Ini semua berkat suami kamu, Nak," jawabnya bangga.
Rein mengernyit dahi, lalu menoleh pada sang suami. Selama ini lelaki itu tidak pernah membahas perihal rumah panti.
"Kita ngobrolnya di dalam aja, yuk! Biar Tara bisa rebahan di kasur yang nyaman. Kasian," ucap Aska yang disetujui oleh Rein dan Wanda.
Aura kehangatan keluarga langsung menyeruak di hati Rein, saat tubuhnya melewati pintu masuk rumah itu. Rein seperti kembali ke masa kecilnya. Kenangan indah semasa kecilnya sontak berputar di kepala. Sungguh, Rein tidak menyangka akan menginjakkan kakinya di rumah itu lagi. Ia harus berterima kasih pada orang yang mengembalikan rumah panti.
...****************...
...To be continued...
...Dukung karya author dengan tekan tombol like, favorit, dan gift, ya. Tak lupa kasih komentar biar othor tambah semangat update terus. Sayang kalian. Makasih 🙏...
__ADS_1