
...****************...
"Yakin, nih, mau operasi di rumah ini?" Rein bertanya kepada dua temannya di dalam sebuah mobil. Mobil sedan berwarna hitam terparkir di gang belakang rumah seseorang. Hari masih siang, tetapi kondisi jalanan tidak terlalu ramai, bahkan terbilang sepi tanpa ada seorang pun yang berlalu lalang.
Kedua teman Rein—Daren dan Marvel, masih sibuk dengan perlengkapannya masing-masing. Daren sibuk mengenakan sarung tangan, masker, topi, dan juga menyiapkan perkakas ajaib sejenis kunci segala pintu ataupun gembok, sedangkan Marvel tengah sibuk mengutak-atik komputer di pangkuannya.
"Lo tenang aja! Marvel udah menyelidiki semuanya. Rumah ini kosong, kok," sahut Daren yang duduk di samping kemudi.
Rein masih bergeming. Entah kenapa perasaannya sedikit tidak tenang. "Tapi kata Marvel, ini rumahnya polisi. Apa itu nggak termasuk bunuh diri? Kita kayak mau nyolong di sarang macan, tahu, nggak? Kalau kita tertangkap, bisa langsung masuk penjara," seloroh Rein sedikit bergidik. Bulu guduknya meremang membayangkan hal tersebut.
"Di rumah siapa pun kalau ketangkep itu, pasti masuk penjara, lah. Lo tenang aja! Kerjain aja tugas lo dengan baik. Semuanya udah diatur. Kita, kan, punya Marvel. Kita pasti lolos seperti sebelumnya," tukas Daren dengan sombongnya.
Marvel yang sudah selesai meretas semua jaringan CCTV yang ada di kompleks itu pun mengalihkannya pandangan. Semula dari layar komputer miliknya, kini beralih pada wajah Rein yang terlihat resah.
"Iya, Rein. Misi kita kali ini juga bakalan sukses seperti biasanya. Rumah ini kosong, kok. Penghuninya biasa pulang jika hari sudah petang. Rumah ini memang milik perwira polisi, dan istrinya itu seorang pengusaha retail yang punya banyak cabang usaha. Mereka masing-masing sibuk dengan kerjaannya. Satu hal yang bikin gue gatal pengin maling di sini. Mereka nggak pakai jasa security buat jaga rumah mereka. Mentang-mentang polisi!" Marvel tersenyum miring setelah menjelaskan tentang profesi target mereka.
"Kalau pembantunya?" Rein bertanya lagi.
"Nggak ada. Gue udah pastiin juga kalau pembantunya pulang kampung selama seminggu. Anaknya mau kawin."
"Lengkap bener, Vel?" Rein melongo takjub mendengar kelengkapan informasi yang Marvel berikan. Lelaki itu memang selalu rinci jika mencari tahu tentang informasi dari target operasi mereka.
Daren jadi tertawa. "Lo nggak tahu, sih, Marvel itu kalau lagi cari informasi suka gabung sama emak-emak yang suka ghibah," ledek Daren di sela tawanya, dan berhasil mendapat tabokan di lengan dari Marvel.
"Sialan!" umpat Marvel kesal, "udah, cepetan bergerak! Nanti keburu pemiliknya pulang, bisa gawat," perintah Marvel menginterupsi kedua sahabatnya tersebut.
Rein dan Daren pun bersiap. Keduanya menghela napas panjang sebelum keluar dari dalam mobil tersebut. Marvel tetap di tempatnya untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, Rein dan Daren sudah berhasil menggasak beberapa barang berharga dari rumah tersebut. Namun, satu panggilan telepon dari Marvel membuat Daren sedikit panik. Pasalnya, Marvel memberitahu jika ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah itu. Ternyata pemilik rumah tiba-tiba pulang lebih awal.
"Kita cabut sekarang, Sap! Kata Marvel, ada mobil yang datang ke rumah ini."
"Jangan-jangan pemilik rumah." Rein tercekat dan langsung menggendong tas ransel yang berisi barang jarahannya.
Rein dan Daren menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Rein berjalan di belakang Daren. Saat kaki Rein sudah menginjak anak tangga yang terakhir. Seorang lelaki yang memakai baju seragam polisi memergoki mereka.
"Siapa kalian?" teriak lelaki tersebut.
Langkah Daren dan Rein terhenti sejenak. Keduanya sama-sama menoleh ke asal suara. Kedua tangan mereka terangkat ke atas, saat polisi itu mengeluarkan senjatanya. "Jangan bergerak!" gertak polisi tersebut sambil menodongkan senjatanya ke arah Daren dan Rein.
Daren melirik ke arah Rein dan memberikan kode untuk bersiap. Lelaki itu dengan sigap melompat dan menahan tangan polisi tersebut ke atas kepalanya, dengan begitu, ujung senapannya mengarah ke atas juga.
"Lo duluan, Sap! Nanti gue nyusul," titah Daren.
Daren dan polisi itu masih adu kekuatan. Daren memiting tangan polisi itu ke belakang, dan ....
Dor!
Satu letupan terdengar, membuat salah satu dari mereka perlahan tumbang.
"Papa!" teriak anak kecil yang langsung menghambur memeluk tubuh papanya yang terkulai penuh darah. Polisi itu tertembak oleh senjatanya sendiri.
Daren sejenak bergeming. Dia tidak merasa menekan pelatuknya, karena senjatanya pun masih di tangan polisi itu. Jujur, ia sedikit panik. Apalagi saat melihat perempuan hamil itu juga jatuh pingsan melihat suaminya tertembak. Namun, sejurus kemudian Daren langsung sadar, jika dirinya harus segera kabur dari sana.
***
__ADS_1
"Jadi ... Bian lihat wajah lo?" Rein bertanya setelah Daren selesai menceritakan tentang peristiwa lengkap perampokan di rumah perwira itu. Daren baru saja kembali dari kenangan tentang peristiwa perampokan yang Rein tanyakan, dan Rein dengan setia mendengarkan.
"Gue masih pake masker saat itu, jadi nggak mungkin dia lihat jelas wajah gue. Lagian anak itu belum tentu Bian. Mungkin aja anak perwira lain."
"Tapi cerita lo sama kayak cerita tentang kematian orang tua Bian. Mungkin dia ngenalin suara lo, mata lo, atau ... ck, tau, lah. Pusing gue!" Rein berdecak sambil menyugar rambutnya frustrasi.
"Terus gimana? Lo mau laporin gue ke suami lo itu? Lo juga terlibat, Sap!" Daren mencecar Rein sambil mengguncang bahunya.
Rein menepis tangan Daren dengan kasar. "Gue nggak segila itu!" sembur Rein dengan kedua mata yang melotot tajam. "Gue udah ngeyakinin anak itu kalau lo itu orang baik-baik. Semoga aja dia percaya," imbuh Rein setelah menghela napas kasar.
"Mending lo tinggalin mereka aja, Sap. Bisa bahaya kalau lo terus tinggal bersama mereka. Cepat atau lambat rahasia ini akan terungkap." Daren memberikan usul yang membuat Rein dalam dilema besar.
Jika Rein meninggalkan Aska, bagaimana dengan kisah cinta mereka yang baru saja dimulai. Rein baru merasakan indahnya dicintai dan mencintai seseorang. Haruskah secepat itu dia melepaskan?
"Jangan bilang kalau lo jatuh cinta sama polisi itu, Sap!" Melihat sahabatnya hanya diam dengan raut bingung, Daren melontarkan pertanyaan menyudutkan. Rein menunduk, dia tidak berani menatap wajah Daren. Cairan bening yang sudah membendung di sudut matanya akhirnya tumpah. Daren bisa melihat kesedihan yang teramat dari sosok sahabatnya. Sedari kecil mereka bersama, Daren tidak pernah melihat Rein serapuh ini.
"Gue mesti gimana, Ren! Gue bingung. Kenapa gue harus dipertemukan dengan keluarga itu? Kenapa Tuhan menyelamatkan gue, cuma buat ngehukum gue dengan cara ini? Kalau kayak gini, mendingan gue mati saat kecelakaan itu, Daren." Rein merutuki nasib yang menurutnya penuh kesialan.
Daren memeluk tubuh sahabatnya. Mengusap punggungnya dengan lembut, seolah mentransfer kekuatan untuk tetap sabar kepada Rein. "Semuanya udah terjadi, Sap. Lo harus terima! Dan gue mau tanya satu hal ...." Daren mendorong tubuh Rein untuk sekadar menatap wajah Rein yang basah karena air mata, "jika suami lo tahu istrinya ikut terlibat dalam kasus kematian kakaknya. Menurut lo, apa status lo itu bisa melindungi lo dari jeruji besi? Apa suami lo bakalan maafin lo gitu aja karena lo adalah istrinya?"
...****************...
...To be continue...
...Menurutnya kalian, Rein pergi atau jangan, nih? ...
...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya ❤...
__ADS_1