
...****************...
"Kenapa kayak orang linglung gitu, Mas. Ayo, sini? Kamu nggak mau deketin aku?" Suara Rein begitu menggelitik di telinga Aska. Sekali lagi, Aska menelan saliva.
"Ka—kamu belum tidur, Sayang?" tanya Aska gugup. Kakinya sedikit gemetar karena kegugupannya itu.
"Aku sengaja nungguin kamu, Mas. Sini!" Rein menggunakan jari telunjuknya untuk memanggil Aska. Entah salah makan apa perempuan itu. Kenapa sikapnya seperti perempuan yang suka merayu.
Setelah menghela napas kasar, Aska memberanikan diri untuk berjalan ke dekat ranjang. Ia mendaratkan bokongnya di tepi ranjang tepat di samping istrinya. Ditatapnya sang istri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rein pun duduk bersila di hadapan sang suami.
"Kamu nggak dingin pake baju kayak gitu?" tanya Aska mengalihkan rasa yang sempat mengganggu akal sehatnya.
"Kenapa? Kamu nggak suka?" Rein balik bertanya.
"Suka, tapi aku takut kamu masuk angin kalau pake pakaian kayak gini. Cepat ganti baju!" Aska berdalih. Padahal ia tengah berusaha untuk meredam gelojak rasa yang mendesak di bawah sana.
"Mas ...." Bukannya menurut untuk ganti baju, Rein memanggil suaminya dengan suara yang dibuat serak. Cukup untuk membuat area bawahnya berdenyut hebat.
"Iya, ada apa?" sahut Aska.
"Kamu nggak ngerasain apa-apa gitu, lihat aku kayak gini?"
"Tentu aja, Sayang. Kamu nggak lihat aku berusaha mati-matian menahan tanganku yang ingin menyentuhmu sekarang." Jawaban itu hanya terlontar dalam hati Aska saja. Bibirnya belum menjawab apa-apa. Ia masih bingung harus bersikap bagaimana. Satu sisi ia menginginkan tubuh sang istri, satu sisi lagi takut menyakiti.
Melihat suaminya hanya terdiam sembari menatap aneh dirinya, Rein tiba-tiba menitikan air mata. "Kamu udah nggak tertarik lagi sama aku, ya, Mas? Tubuh aku udah nggak menarik lagi di mata kamu," rengek Rein sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia menangis sesegukan dan pelan, karena takut membangunkan Tara yang sedang terlelap di tempatnya.
"Kamu ngomong apa, sih? Kata siapa tubuh kamu udah nggak menarik lagi. Setiap bagian tubuh kamu membuat aku candu. Aku tidak pernah melupakan itu." Aska membujuk istrinya. Kini ia tahu alasan Rein bersikap menggoda seperti itu. Perempuan itu tengah berusaha mengenang kenangan manis yang sudah lama tidak terjadi di antara mereka, tetapi Aska masih ragu untuk melakukannya.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah menyentuh aku lagi, Mas? Padahal waktu aku hamil dulu, kamu begitu antusias selalu meminta jatah. Apa kamu mau balas dendam, karena waktu itu aku selalu nolak kamu, Mas?" tanya Rein mendongak menatap suaminya. Linangan air mata masih sesekali melintas di pipinya.
"Nggak gitu, Sayang. Aku hanya takut tubuh kamu belum siap aja. Kamu, kan, belum lama sadar setelah melahirkan."
Rein sudah menduganya. Aska memang selalu berpikir ke arah sana. Trauma mendalam karena dirinya pernah koma, membuat Aska takut untuk menyakiti istrinya, bahkan untuk menyentuhnya juga.
__ADS_1
"Kalau itu alasan alasannya, tunggu sebentar. Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu."
Rein beralih pada laci meja yang berada di samping tempat tidur. Mengambil sesuatu yang dia simpan di sana, lalu menyodorkannya pada Aska. "Ini laporan hasil check up aku tadi siang. Dokter bilang tubuhku sudah kembali normal, dan bisa melakukan kegiatan apa pun seperti biasanya. Jadi, kamu nggak perlu khawatir lagi."
Aska meraih surat tersebut lalu membacanya. Keningnya mengernyit dengan tindakan istrinya tersebut. Seulas senyuman tipis pun terbit di bibirnya. Jantungnya seperti melesat ke udara, dan hatinya dipenuhi dengan bunga-bunga.
"Jadi tadi siang kamu tiba-tiba minta izin untuk check up ke dokter, gara-gara ini?" tanya Aska sambil menyunggingkan senyum lucu. Tentu saja membuat Rein sedikit malu. Namun, ia segera menepis rasa itu. Tekadnya sudah bulat untuk membuat suaminya kembali berhasrat.
"Iya, aku mau meyakinkan kamu kalau udah benar-benar sehat, Mas. Kamu udah bisa nyentuh aku. Menyalurkan hasrat kamu yang tertekan selama ini." Tanpa mengingat rasa malu, Rein berkata seperti itu. Tidak peduli dengan gengsi yang biasanya dimiliki para istri. Rein hanya menginginkan suaminya kembali.
Bukannya terharu dengan perjuangan istrinya, Aska malah tergelak tawa. Membuat bibir Rein sontak ternganga. "Memangnya lucu, ya, Mas?" tanyanya heran. Sedikit mendorong tubuh Aska, karena merasa kesal.
"Iya, kamu itu lucu banget tahu," seru Aska di sela tawanya yang mulai mereda.
Tentu saja Rein semakin kesal mendengarnya. Gelora asmara yang ingin ia gaungkan tiba-tiba sirna karena sikap suaminya itu. Rein pun mendengkus lalu berbaring meringkuk ditutup selimut. Ia merajuk.
"Loh, kenapa tidur? Katanya mau merayu suami kamu ini," kekeh Aska mengusap bahu sang istri yang kini tengah memunggungi dirinya.
"Eh, jangan ngambek, atuh! Aku cuma bercanda," bujuk Aska lagi.
Rein masih bergeming. Ia tidak mau membuka selimutnya. Ia sudah mengesampingkan rasa malunya, tetapi Aska malah membuatnya kehilangan muka.
"Sayang ... maafin aku, dong. Aku nggak bermaksud bikin kamu malu." Aska tak gentar merayu istrinya yang tengah merajuk. Tangannya pun mulai nakal menggerayangi tubuh istrinya di balik selimut. Membuat Rein kegelian dan tiba-tiba membuka selimutnya tersebut.
"Geli tahu!" decak Rein. Kelopak matanya terbuka lebar menatap suaminya dengan kesal. Lelaki itu masih menyunggingkan senyum. Sangat menyebalkan di mata Rein, seolah tidak menghargai usahanya sama sekali.
"Jadi, nggak?" Aska balik merayu istrinya.
"Nggak!" tegas Rein marah.
"Yaaah, tapi aku mau, Sayang." Aska memasang wajah memelas. Membuat rasa kasihan Rein kembali menempati hatinya. Tatapan bengis itu pun berubah jadi sayu, beradu dengan tatapan penuh nafsu milik Aska.
"Tapi janji nggak ketawa lagi, ya!" Rein mengacungkan telunjuknya mengancam.
__ADS_1
"Nggak akan." Aska tersenyum senang, lantas menyibak selimut yang menutupi tubuh Rein dengan cepat. Pemandangan indah yang tersembul di dalamnya pun terlihat memesona. Embusan angin malam membuat tubuh Rein meremang. Pakaian berkain tipis yang Rein kenakan tak mampu menghalau angin yang seolah menusuk tulang.
"Dingin?" tanya Aska yang melihat tubuh istrinya menggigil. Rein menjawabnya dengan anggukan.
"Aku akan bikin kamu hangat sebentar lagi," ucapnya sambil merapatkan tubuhnya dengan sang istri.
Rein diam saja ketika tubuhnya dikungkung oleh Aska. Bahkan saat bibir lelaki itu menyesap bagian lehernya, Rein hanya menggeliat manja. Udara yang dirasakan pun kian menghangat menyentuh kulitnya.
Butiran keringat mulai bercucuran saat dua bibir mulai beradu. Napas jadi tersengal menahan gejolak rasa yang membakar kalbu.
Namun, saat sang putik hendak ditaburi benang sari. Tiba-tiba terdengar suara yang membuat sang kumbang berhenti beraksi.
"Suara apa itu?" tanya Aska masih di atas tubuh Rein.
"Anakmu, Mas," lirih Rein sambil tersenyum pelik. Ekor matanya melirik box bayi yang berada di dekat tempat tidur mereka. Terlihat baby Tara tengah tengkurap sambil merengek. Sudah biasa seorang anak kecil tiba-tiba terbangun di malam hari. Entah itu ingin minum susu atau merasa tidak nyaman dengan pokoknya yang sudah penuh.
Aska melemaskan bahu. Pertarungan mereka sudah setengah jalan, tetapi tiba-tiba mendapatkan gangguan.
"Mungkin Tara lapar. Aku bikinin susu dulu, ya!" ucap Rein sambil memegangi dada Aska.
"Biar aku aja. Kamu tunggu di sini."
Aska bangkit, lalu turun dari ranjangnya. Memakai kembali celana kolor dan kaos oblong yang sempat ia lempar sembarangan, sebelum berjalan mendekati box bayi Tara. Perlengkapan susu formula Tara ada di atas meja di dekat box bayinya. Dengan cekatan Aska membuatkan susu untuk anaknya.
Sesekali Aska menengok pada istrinya. Air mukanya terlihat lesu, karena pertandingan mereka harus terjeda dan butuh perpanjangan waktu.
...****************...
...To be continued...
...Kasian Aska 🤣🤣...
...Makasih, udah dukung karya othor dengan tekan like, favorit, dan kasih gift dan komentar. Berkah selalu. 🥰...
__ADS_1