Pencuri Hati

Pencuri Hati
Ucapan Abian


__ADS_3

...****************...


Bias cahaya mentari menyusup ke celah jendela. Kedua mata Rein perlahan terbuka saat merasakan pantulan cahaya itu menembus retinanya. Serpihan kenangan manis bekas semalam, tiba-tiba terkenang saat dirinya melihat wajah tampan yang masih tertidur pulas di hadapannya.


Semburat merah langsung terpancar di pipi putihnya. Ia malu membayangkan itu. Ia pun segera menepis bayangan tersebut. Saat Rein sedikit bergerak, rasa sakit yang menyerang bagian bawahnya membuatnya meringis sakit. Hal itu membuat Aska sedikit terusik.


"Kamu kenapa?" tanya Aska dengan suara khas bangun tidurnya.


"Sakit, Mas," jawab Rein apa adanya.


"Sakit bagian mana? Coba aku lihat!" Aska langsung terduduk. Ia panik mendengar istrinya merasakan sakit.


Rein refleks menghindar. Menutupi tubuh polosnya dengan selimut lebih kencang. Menepis tangan Aska yang hampir membuka selimutnya.


"Kenapa? Aku cuma mau lihat aja," tanya Aska sambil mengernyitkan keningnya.


"Malu, lah!" jawab Rein.


Aska tertawa. "Kenapa mesti malu. Orang aku udah lihat semuanya, kok." Dengan tidak tahu malu, Aska berkata seperti itu.


Rein mencebik. Lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk melihat jam berapa sekarang. "Eh, kamu nggak ke kantor, Mas?" tanyanya setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan.


Aska pun baru tersadar. Sebagai abdi negara, dirinya tidak seharusnya kesiangan. "Astaga, jam berapa sekarang?" Aska langsung panik. Setelah menengok jam dinding dengan mata kepalanya sendiri, ia pun buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rein terkikik melihat kepanikan Aska. Lalu ia teringat dengan Abian. Kenapa anak itu tidak membangunkan mereka. Apakah Abian tidak sekolah? Ia pun mengenakan pakaiannya lebih dulu sebelum kembali ke kamarnya. Rein berniat mandi di sana, karena baju-bajunya juga belum di bawa ke kamar Aska.


"Bian?" Rein melihat Abian tengah duduk termangu di meja makan. Perempuan itu tidak jadi masuk ke kamarnya. Ia membelokkan tubuhnya ke meja makan dekat dapur tempat Abian berada.


"Kamu lagi ngapain duduk sendirian di sini, Bian? Kok, nggak siap-siap sekolah?"


Abian melirik Rein dengan malas. Anak itu terlihat kelaparan ingin meminta sarapan. "Ini hari Minggu, Tante. Aku libur sekolah," ucapnya.

__ADS_1


"Oh, iya. Ini hari Minggu. Om kamu bukannya giliran tugas malam, ya?" Rein baru teringat dengan jadwal kerja suaminya. Ia jadi kasihan jika nanti lelaki itu sudah bersiap, tetapi ternyata tidak jadi berangkat. "Tapi biarin ajalah. Salah siapa semalam dia ngejajah aku," batin sambil mengulum senyuman. Ia ingin memberitahu suaminya hukuman.


"Aku lapar, Tante."


Ucapan Abian membuat Rein tersadar. Ia lupa untuk membuat sarapan. "Maafkan tante, ya, Bian. Tante kesiangan. Tadi kenapa kamu nggak bangunin ini tante kayak biasanya," seru Rein sambil mengikat rambut panjangnya. Lalu berjalan menuju kulkas yang berada tak jauh dari meja makan. Rein hendak mengambil bahan masakan. Ia akan membuat nasi goreng instan.


"Aku tadi masuk ke kamar Tante, karena nggak dikunci. Tapi Tantenya nggak ada. Aku pikir Tante lagi pergi ke warung, makanya aku tunggu di sini. Tapi kenapa Tante keluar dari kamarnya Om Aska?"


Rein tersenyum pelik. Ia malu jika harus mengakui jika semalam sudah tidur bersama Aska. "Ehm ... tadi tante abis minjem sesuatu sama Om kamu," kilah Rein. Jika dijelaskan Abian juga tidak akan paham.


Rein mengambil bahan masakan yang akan dia olah. Dia juga mengiris bawang merah. Meja makan tempatnya Abian duduk, berada di dekat dapur tempat Rein memasak. Anak kecil itu dengan setia menunggu sarapannya.


"Tante, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Abian setelah keheningan tercipta beberapa lama.


"Tanya aja!" Tanpa berbalik ke arah Abian, Rein menanggapinya. Tangannya masih sibuk mengiris bumbu masakan untuk nasi gorengnya.


"Tante udah lama temenan sama Om-Om yang waktu itu kita ketemu di parkiran Mall?"


"Apa Tante tahu kalau dia seorang perampok dan pembunuh?"


"Aw!" Rein tercekat sampai tangannya teriris pisau yang dia pakai untuk mengiris bawang. Tubuhnya langsung berbalik menghadap Abian yang juga menatap dirinya. Kening Rein dipenuhi oleh kerutan penasaran. Kenapa Abian tiba-tiba berkata demikian? Dari mana dia tahu jika sahabatnya adalah seorang perampok? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak Rein saat ini.


"Kenapa kamu tanya kayak gitu, Bian? Memangnya kamu kenal sama teman tante itu?" tanya Rein. Kakinya perlahan melangkah mendekati Abian. Entah kenapa perasaannya jadi tidak tenang.


"Aku ...." Abian terlihat ragu untuk menjawab. Hingga kedatangan Aska mencairkan ketegangan di antara mereka.


"Sayang, kenapa kamu nggak bilang kalau ini hari Minggu? Kamu, kan, tahu hari Minggu aku kebagian tugas malam." Aska langsung menggerutu. Lalu duduk di kursi kosong sebelah Abian, "kamu udah bikin sarapan? Aku mau juga, ya!" imbuhnya sambil menopang dagu. Kehangatan semalam membuat lelaki itu tidak mungkin memarahi istrinya hanya karena masalah kecil. Jadi, Aska tidak memperpanjangnya lagi.


Pandangan Aska tertuju pada jemari tangan Rein yang berdarah. Ia pun buru-buru beranjak dan mendekati istrinya. Diraihnya tangan itu lalu berkata, "Tangan kamu berdarah?"


Tatapan Rein yang tadinya tertuju ke arah Abian berpindah pada tangannya. Ia tidak merasakan apa-apa, karena fokusnya hanya pada perkataan Abian tentang sahabatnya.

__ADS_1


"Sebentar, aku ambilkan obat merah!" Aska pergi mengambil obat untuk Rein.


Rein dan Abian masih terdiam. Anak kecil itu malah menundukkan kepalanya seperti ketakutan. Tak berapa lama Aska pun kembali sambil membawa obat untuk sang istri.


"Masa keiris pisau sampai nggak kerasa gini?" Aska mengomel sambil menempelkan plester di jari istrinya. Kemudian mengambil alih pekerjaan Rein membuat sarapan.


"Biar aku aja, Mas." Rein merasa tidak enak karena suaminya yang melanjutkan pekerjaan memasaknya.


"Nggak apa-apa. Kamu duduk aja di situ sama Bian. Tungguin suamimu ini memasak sarapan spesial. Kan, semalam kamu udah manjain aku, jadi sekarang giliran aku yang manjain kamu."


Rein tersenyum kikuk. Sebenarnya dia malu suaminya berkata seperti itu di hadapan Abian. Namun, rasa penasarannya terhadap perkataan Abian sebelumnya masih sangat besar. Dia ingin bertanya sekarang, tetapi takut jika suaminya mendengar. Aska adalah polisi, ia pasti akan mengusut setiap kasus kejahatan yang terjadi. Walaupun Rein tidak tahu, kenapa Abian bisa berkata seperti itu?


***


Sekitar pukul delapan malam. Aska sudah pergi bertugas. Sedari siang Rein sudah gatal ingin menginterogasi Abian.


"Bian, kamu udah tidur, Sayang?" Rein mengetuk pintu kamar Abian, lalu bertanya demikian, "tante boleh masuk, nggak?" tanya Rein lagi ketika Abian menjawab 'belum tidur' dari dalam sana.


Pintu kamar pun terbuka. Abian berdiri di hadapannya Rein dengan tatapan berbeda. Membuat Rein sedikit ragu untuk mulai berkata.


"Tante ke sini mau tanya tentang perkataan aku tadi pagi, kan?" tanya Abian memecah keheningan. Rein mengangguk pelan.


"Sebenarnya teman tante itu udah ngerampok sekaligus membunuh papa aku."


Kedua mata Rein terbuka sempurna mendengar penuturan Abian. Rein begitu terkesiap. Jantungnya pun terasa berhenti mendadak. "Ng–nggak mungkin, Sayang? Mungkin kamu salah orang," ucap Rein tergagap.


...****************...


...To be continued...


...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya 🥰...

__ADS_1


__ADS_2