Pencuri Hati

Pencuri Hati
Kepergok di Mall


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


"Syukurin! Makanya jangan suka asal gangguin perempuan! Pacarnya datang lo langsung keok, kan?" Tawa Rein tergelak setelah Daren mencapai mejanya.


"Berisik, lo!" ketus Daren. Ia duduk dengan tampang kesal, lalu menyeruput minuman yang sempat dia tinggalkan, "tapi nggak apa-apa. Nggak aneh kalau cewek cantik udah punya pasangan. Justru gue lebih suka kayak gitu. Gue jadi ngerasa tertantang buat rebut dia dari pasangannya."


"Gila, lo!" Rein memukul kepala Rein. Daren mengaduh lalu tertawa.


"Kenapa ,si, lo suka banget pukul kepala? Gini-gini juga udah gue fitrahin tiap bulan puasa," protes Daren sambil memegang kepalanya. Rein hanya mencebikkan bibirnya.


"Cabut, yuk! Gue bosen di sini," ajak Daren setelah keheningan terjadi beberapa saat.


"Ke mana?" tanya Rein.


"Mall aja. Sekalian operasi di sana." Daren melebarkan senyumnya. Kedua alisnya turun naik menciptakan kesan licik tersirat di wajah tengilnya.


"Ayo, siapa takut?" Rein langsung berdiri dengan semangat. Tak lama mereka pun pergi dari sana.


...****************...


Lima belas menit mereka butuhkan untuk menempuh perjalanan menuju Mall terdekat. Dengan menggunakan motor sport milik Daren, mereka melesat tanpa perlu terjebak kemacetan. Daren sangat hafal jalanan ibu kota, termasuk gang-gang sempit jalur alternatif anti macet. Hal itulah yang menyebabkan dirinya selalu lolos saat ketahuan mencopet.


"Gue mau main Timezone," seru Rein sambil menarik tangan Daren.


"Kayak bocah aja, lo. Cari mangsa dulu, baru main." Daren menepis tangan Rein pelan.


Rein berdecak sebal, tetapi dia hanya bisa menurut saja. "Kalau gitu kita berpencar, deh. Kalau berduaan jadi susah geraknya," usul Rein kemudian.


Daren pun setuju, mereka pun berpencar. Rein naik eskalator menuju lantai satu, sedang Daren tetap berada di lantai dasar. Keduanya mulai melakukan aksi pencurian.


...****************...


Setengah jam kemudian mereka bertemu di parkiran. Rein dan Daren sudah berhasil membawa dompet hasil jarahan masing-masing. Seperti biasa, mereka hanya akan mengambil isinya berupa uang, lalu membuang dompetnya dan yang lainnya ke tempat sampah.

__ADS_1


"Gila, gue dapat kakap. Isinya banyak banget," seru Daren merasa bahagia dengan uang yang dia dapatkan dari dompet yang dia pegang.


"Lo untung, gue malah buntung. Masa isinya cuma sepuluh ribu? Nih, orang niat ke Mall mau ngapain. Bawa duit cuma buat bayar parkir!" Rein melemparkan dompe berwarna coklat ke tempat sampah. Dompet itu berbahan kulit kualitas KW satu, tetapi isinya cuma sepuluh ribu.


Daren pun tertawa. Ia juga hendak melemparkan dompet kosong yang sudah ia kuras isinya. Namun, secepat kilat tangan Rein menahan tangan Daren. Sepertinya dia kenal dengan dompet yang sedang Daren pegang.


"Kenapa, si?" tanya Daren heran.


"Gue kayak kenal sama dompet ini." Rein membolak-balikan dompet tersebut. Dan saat ia membukanya, kedua matanya langsung melotot tajam seperti mau keluar.


"I–ini, lo dapat dari mana?" tanya Rein gugup. Raut wajahnya terlihat takut.


"Di dalam, lah. Kan, kita tadi operasi di sana," jawab Daren seadanya.


"Nggak mungkin. Bukannya dia lagi di luar kota?" gumam Rein pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Daren.


"Dia siapa, si?" Daren semakin penasaran. Ia pun merampas dompet yang sempat pindah tangan ke tangan Rein.


"As–ka-Rai-dhana." Daren mengeja nama pemilik dompet yang tertera di Kartu Tanda Pengenalnya, "dia siapa, Sap?" tanyanya sambil mengedikkan dagu. Menatap Rein dengan tatapan ingin tahu.


"Eh, sebentar." Daren menemukan kartu identitas lain yang menerangkan tentang profesi si pemilik dompet. "Sial, yang punyanya polisi, Sap," umpat Daren terkejut.


Rein tersenyum pelik. Selain ia ingin berkata seperti itu, ia juga mau mengatakan jika orang tersebut adalah suaminya sendiri. Namun, Rein masih ragu untuk mengatakannya pada Daren.


"Jadi ini kerjaan kamu selama aku pergi?" Pertanyaan itu membuat Rein terkejut bukan kepalang. Dia sangat hafal dengan suara dari orang yang melempar pertanyaan tersebut.


Dengan cekatan Rein merebut dompet milik Aska dari tangan Daren, lalu menyimpannya di dalam tas kecil miliknya. Sebelum tubuhnya berbalik dan menghadap Aska yang muncul dari arah belakang mereka.


"Ma–Mas Aska. Kok, kamu di sini? Kapan pulang dari luar kota?" tanya Rein dengan gagap.


Aska memasang senyuman miring sambil menatap sinis Rein. Seperti tengah memergoki istrinya berselingkuh dengan pria lain.


"Aku di sini untuk mengajak Abian jalan-jalan. Katanya dia bosan karena ditinggalkan sendirian di rumah oleh tante iparnya yang malah enak-enakan pacaran di Mall," ujar Aska penuh sindiran.


Rein menggelengkan kepalanya. Dia tidak meninggalkan Abian sendirian, tetapi ada Asti yang bersedia menjaga Abian.

__ADS_1


"Tapi tadi Abian aku titipin sama Mbak Asti, Mas. Sekarang Abiannya mana?" kilah Rein, kepalanya celingukan menengok ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Abian.


"Dia lagi di toilet. Untuk apa kamu cariin dia? Bukannya kamu udah nggak peduli sama anak itu? Sampai-sampai kamu titipkan dia pada tetangga dan kamu pacaran di Mall ini?. Asal kamu tahu, Rein. Bian tidak suka dengan Asti," cecar Aska panjang lebar.


"Tunggu, tunggu! Apa dia suami yang pernah lo ceritakan waktu itu, Sap?" Cukup lama Daren mencerna, akhir dia paham seluk beluk masalah rumah tangga sahabatnya. Rein mengangguk mengiyakan.


Tentu saja Daren terkesiap sambil mangap,


"Tapi barusan di dom—" Mulut Daren langsung terkunci oleh bekapan tangan Rein. Menghentikan keceplosan lelaki itu yang membuat mereka hampir ketahuan.


Hal itu justru mengundang amarah Aska menjadi semakin menggebu saja. Aksi Rein terlihat begitu mesra dengan Daren. Bagaimana Aska tidak marah melihat istrinya begitu dekat dengan laki-laki lain di hadapannya. Aska langsung menarik tangan Rein hingga tubuh perempuan itu terhuyung dan terbentur tubuh suaminya.


Aska memeluk tubuh Rein dengan posesif lalu berkata, "Iya, Rein istri saya," akunya dengan bangga.


Kening Daren mengernyit dalam. Ludahnya pun terasa kering di tenggorokan. Yang mengganggu pikirannya bukan karena status Rein yang sudah menikah, melainkan status polisi yang disandang dari suami sahabatnya itu. Rein seorang pencuri, bagaimana bisa dia menikah dengan seorang polisi?


"Kak Rein." Suara teriakan Abian menyita perhatian. Kesempatan itu dijadikan celah oleh Rein untuk melepaskan diri dari pelukan Aska.


"Bian." Rein merentangkan kedua tangannya, menangkap pelukan tubuh mungil Abian, "kamu ke sini mau apa? Bukannya tadi lagi main sama Tante Asti?" tanya Rein sambil menundukkan kepalanya. Menatap wajah Abian yang mendongak di bawahnya.


"Bian bosen main sama Tante Asti. Terus kebetulan Om Aska juga pulang, lalu ngajak Bian jalan-jalan," terang Abian dengan polos.


Ekor mata Rein melirik ke arah Aska yang masih menatapnya. Ia tersenyum kikuk. Lalu mengalihkan pandangannya pada Daren .


"Ren, lo pulang duluan aja, deh. Gue mau pulang sama suami dan ponakan gue," titah Rein sambil memberikan kode kedipan mata. Berharap Daren mengerti dan tidak membantahnya.


Untungnya persahabatan mereka sudah sehati dan sejiwa. Daren begitu pintar mengakses kode khusus yang Rein berikan kepadanya. "Oke, Sap. Gue pulang duluan kalau gitu," pamit Daren, lalu pergi dari sana. Menunggangi kuda besinya dengan segera.


Rein mengangguk, sekaligus terkejut. Ia merasakan pelukan ditubuhnya semakin mengerat ketika Daren bersuara. Sampai lelaki itu lenyap di parkiran tempat mereka berada, barulah pelukan Abian terasa lebih longgar di tubuhnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rein bingung. Entah kenapa reaksinya Abian begitu aneh di mata Rein. Apalagi saat anak itu melepaskan tubuh Rein dan berpindah pada Aska. Membuat Rein semakin kebingungan saja.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2