
...****************...
Sesampainya di rumah, Rein langsung memasak makanan kesukaan Abian. Perempuan itu berusaha untuk membujuk anak tersebut.
"Bi ... an." Rein memanggil Abian dengan nada merayu. Tangannya memegang piring yang berisi spaghetti kesukaan anak itu. Abian hanya melirik sekali, lalu pandangannya kembali fokus menonton televisi.
"Lihat, deh. Kakak masakin kamu spaghetti. Enak, loh," bujuk Rein sambil duduk di samping Abian.
Hidung Abian mengendus-endus. Wangi masakan yang menguar membuat perutnya jadi lapar. Ia sangat suka dengan spaghetti yang Rein masak. Katanya rasanya sangat enak.
"Aku nggak lapar."
Rein melongo mendengar penolakan Abian. Biasanya anak itu akan langsung menyambut spaghetti yang sudah Rein buat walaupun anak itu sudah makan sebelumnya. Kali ini ia benar-benar sedih. Apakah misinya sudah berhasil untuk membuat Abian tidak bergantung kepadanya lagi?
"Kalau kamu nggak mau, buat om aja!" Entah datang dari mana, Aska langsung merebut piring yang berisi spaghetti dari tangan Rein. Lelaki itu duduk di samping Abian yang masih kosong, lantas melahap spaghetti itu dengan santai.
"Kenapa dimakan, Om? Itu, kan, punya aku?" protes Abian sambil melotot kepada Aska.
"Katanya nggak lapar. Gimana, sih?"
"Bukan berarti nggak mau, kan?" Abian merebut piringnya, dan menguncinya di pangkuan. Aska yang tidak terima berusaha mengambil piring itu kembali. Layaknya anak kecil, Aska berebut makanan dengan keponakannya sendiri. Rein terkikik melihat itu.
"Spaghetti-nya udah om makan. Kalau kamu mau, minta bikinin lagi sama tante kamu, sana!" Akhirnya Aska yang menang. Tangannya yang besar berhasil merebut piring tersebut.
Mendengar kata 'tante' yang tercetus dari mulut Aska, Rein sedikit ternganga. Apa maksudnya? Apa lelaki itu berharap pernikahan mereka akan berlanjut selamanya? Sampai panggilan Abian kepadanya harus direvisi juga?
"Kak Rein."
"Tante!" Aska melarat panggilan Abian. "Panggil itu! Kalau nggak, uang jajan kamu om potong," imbuhnya mengancam, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi di depan. Dan tetap santai melahap spaghetti tanpa gangguan.
Kerutan di kening Rein semakin jelas terlihat. Perkataan Aska sungguh membuatnya terperanjat. Ada apa dengan lelaki itu? Apa kemarin saat bertugas, otaknya terkena peluru?
"Kok, gitu, Om? Biasanya juga panggil 'kakak'," protes Abian.
__ADS_1
"Mulai sekarang biasain!" perintah Aska tanpa mau dibantah.
"Iya, iya." Abian mendengkus, lalu beralih pada Rein lagi. "Tante, buatin aku spaghetti lagi!"
"Yang sopan, dong!" tukas Aska. Padahal dirinya juga tidak sopan saat merebut spaghetti milik Abian tadi.
"Tante, tolong buatin aku spaghetti lagi, ya!" ralat Abian dengan nada lebih lembut. Rein tidak mendengar. Ia masih sibuk membaca gelagat aneh dari Aska. Hingga satu tepukan di tangan dari Abian, membuatnya langsung tersadar.
"Eh, iya, Sayang. Kenapa!"
"Tolong bikinin aku spaghetti lagi!" Abian mengulangi kata-katanya. Rein tentu senang mendengarnya. Ia pun bersedia, lalu bergegas ke dapur untuk membuatkan spaghetti baru untuk Abian.
...****************...
Esok harinya, seusai bertugas Aska buru-buru pulang ke rumah. Ia tidak mengizinkan Rein menitipkan Abian lagi kepada Asti. Aska sebenarnya sudah tahu motif yang tersembunyi dari sang istri. Ingin mendekatkan Abian dengan Asti, lalu dirinya pergi.
"Tumben pulang cepet?" tanya Rein ketika masih sore Aska sudah ada rumah. Perempuan itu tengah menonton acara televisi di ruang tengah.
"Memangnya kenapa? Kamu nggak suka saya sering-sering berada di rumah, ya? Biar kamu bisa bebas nemuin pacar kamu itu?" seru Aska. Ia dengan tegas menyindir tentang Daren.
"Asal kamu tahu, ya. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu biasanya nggak ada yang tulus. Salah satunya pasti ada yang mengharapkan lebih dari sekadar sahabat."
"Sok tahu!" cicit Rein sambil mencebikkan bibirnya tidak percaya, "aku dan Daren udah kayak sodara, Mas," imbuhnya.
Aska menghela napas kasar karena istrinya tidak mau mendengar. Rasanya ingin sekali dia menarik tubuh istrinya ke dalam kamar. Mengungkapkan rasa cemburunya dengan cara yang dia inginkan.
"Om, ajarin aku ngerjain PR, dong! Ada yang belum aku ngerti, nih." Kedatangan Abian membuat perdebatan mereka terhenti. Aska menoleh pada Abian yang datang sambil membawa buku pelajaran.
"Sama tante kamu aja. Om mau mandi dulu," tolak Aska.
"Nggak mau, ah. Maunya sama Om aja."
Rein dan Aska sama sama-sama mengernyit. Keengganan Abian untuk berinteraksi dengan Rein semakin terlihat saja. Anak lelaki itu kerap menolak jika Rein berusaha untuk mendekatinya.
__ADS_1
Rein pun beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekati Abian. Ia jadi semakin aneh dengan sikap Abian, pun dengan sikap Aska akhir-akhir ini. Sikap keduanya membuat hati Rein jadi tidak tenang. Abian yang sering menghindar, dan Aska yang sering mengajaknya bertengkar.
"Kenapa? Biasanya kamu suka dibantuin sama Tante Rein." Aska menatap Abian bingung. Abian diam saja, ia malah menundukkan kepala.
"Kamu masih marah sama kakak gara-gara suka dititipin sama Tante Asti?" tanya Rein mengusap lembut puncak kepala Abian. Berbeda dengan Abian yang menurut memanggilnya 'tante', alih-alih merasa senang, justru Rein merasa sungkan. Dia tidak terbiasa dengan panggilan tersebut. Beberapa kali Aska menegurnya, bahkan sempat marah juga. Namun, Rein tidak mau menggubrisnya.
"Bian ngerjain PR-nya sendiri aja." Bukannya menjawab pertanyaan Rein, Abian malah kembali ke kamarnya dengan raut murung setelah menepis tangan Rein dengan kasar. Rein menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Harusnya ia senang, karena Abian sudah mulai terbiasa tanpa dirinya.
Lain dengan Aska. Lelaki itu menatap Rein dengan tatapan yang berbeda. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Merasa kesal karena Rein masih menolak dipanggil tante oleh keponakannya.
"Kamu itu kenapa, sih?"
Rein tersentak mendengar Aska tiba-tiba bertanya. Kepalanya sontak menoleh ke asal suara.
"Apa?" tanya Rein bingung. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba lelaki itu bertanya dengan nada menantang.
"Bian udah manggil kamu tante, tapi kamu terus manggil diri kamu dengan sebutan kakak. Maumu apa? Bian itu keponakan saya. Sebagai istri saya, sudah sepantasnya kamu dipanggil tante sama dia." Lagi-lagi Aska protes akan hal itu. Rein hanya diam terpaku.
"Ini orang kenapa, sih? Cuma masalah panggilan aja sewot terus dari kemarin. Lagian sebentar lagi kami juga akan cerai. Jadi, apa pentingnya sebuah panggil bagi Bian," batin Rein.
"Kenapa diam? Apa segitu beratnya kamu dipanggil tante sama Bian?" tambah Aska lagi, dengan nada semakin tinggi.
"Aku, tuh, heran sama kamu, Mas. Dari semenjak kamu pulang dari luar kota. Kerjaan kamu tiap hari ngomel terus. Aku juga nggak boleh ke mana-mana, nggak boleh nitipin Abian sama Asti. Terus nggak boleh ketemu sama Daren dan anak panti. Aku merasa dikekang, loh, sama kamu. Apa kamu lupa sama kesepakatan kita? Kita tidak akan mencampuri urusan masing-masing selama pernikahan pura-pura ini terjalin, kan?"
Aska tidak terima ketika Rein mengatakan pernikahan mereka hanyalah pura-pura. Lelaki itu melangkah maju mendekati istrinya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menarik tengkuk leher Rein lalu menyatukan bibir mereka.
Rein terkejut tentu saja. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan dirinya. Namun, tenaga Aska begitu kuat mencengkram tubuhnya. Hingga Aska yang lebih dulu melepaskan tautan mereka lalu berkata, "pernikahan kita sah di mata hukum dan agama. Bahkan saya rela kena sanksi ketika mendaftarkan pernikahan kita. Jika kamu berani bilang pernikahan ini hanya pura-pura lagi. Saya tidak akan sungkan-sungkan untuk melakukan yang lebih dari ini."
...****************...
...To be continued...
...Babang Aska mau ngelakuin apa, tuh? 😂...
__ADS_1
...Tinggalin jejak kalian, dong. Biar amih semangat nulis lagi 🤗...