Pencuri Hati

Pencuri Hati
Jodoh Selamanya


__ADS_3

...****************...


"Jahat, ih! Kenapa kamu bohong sama aku? Katanya kamu pulang ke kota karena ada perintah dari atasanmu?" Rein menggerutu kesal pada suaminya, setelah beberapa saat lalu Asti pulang ke rumahnya.


"Aku nggak bohong, Sayang. Tujuan utamaku ke sini memang ada perintah dari atasan. Kamu lihat sendiri tadi pagi aku berangkat dari panti pake seragam polisi. Nah, mungkin tujuan yang keduanya baru hadir ke acara pernikahan Asti." Aska terkekeh. Tadi pagi ia memang sempat meninggalkan Rein di panti asuhan hingga menjelang malam, tatkala dirinya menemui sang atasan.


"Kenapa nggak bilang?" geram Rein.


Aska tersenyum lebar, ia terlihat menikmati melihat Rein terbakar cemburu.


"Mas! Aku lagi marah ini. Kenapa kamu senyum-senyum aja, si ? Suka, ya, lihat istrinya dipermalukan kayak tadi?" hardik Rein sambil memukul bahu Aska.


Bukannya berhenti, Aska malah tergelak tawa. Hal itu membuat amarah Rein semakin memuncak saja. Ia pun memalingkan wajahnya, sembari melipat tangan di depan dada. Napasnya menggebu menahan rasa kesal di dasar kalbu. Ingin sekali rasanya mencakar wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Jika tidak berpikir dosa, mungkin Rein tidak akan segan-segan untuk membuat suaminya babak belur sekarang juga.


"Ulu-ulu ... istriku jadi ngambek beneran ini, teh? Tapi kamu cantik, loh, kalau lagi marah. Aku suka," celoteh Aska.


Rein mendengkus. Ekor matanya hanya melirik sinis pada Aska. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Apa dia suka jika istrinya darah tinggi karena sering menahan emosi?


"Iya, iya, aku minta maaf, ya! Aku lupa mau ngasih tahu soal pernikahannya Asti. Aku aja baru inget tadi. Sumpah, deh!" Aska mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf 'V', "tujuan aku ngajak kamu ke sini tadinya cuma buat memperlihatkan rumah panti, tapi pas tadi Asti ngingetin lagi, ya ... kita juga harus menghadiri acara pernikahan dia. Nggak enak, kan, kita udah di sini kalau nggak datang?" imbuh Aska merayu istrinya.


"Masa? Aku nggak percaya kamu beneran lupa. Kamu sengaja, kan, mau lihat reaksi aku waktu ketemu sama Asti lagi?" tuding Rein sambil mencolek hidung mancung suaminya. Aska kembali tertawa.


"Beneran lupa, lah. Tapi jujur, aku suka lihat sikap kamu kayak tadi. Itu baru sikap asli seorang istri. Nggak rela kalau suaminya mau dideketin sama perempuan lain. Bukannya malah sengaja dijodoh-jodohin." Aska menyindir, mengingatkan Rein tentang kelakuannya yang mendukung cintanya Asti waktu lalu.


Rein mendadak bisu. Tentu saja ia ingat dengan perbuatannya itu. Ia pun merasa malu. Waktu itu mungkin otaknya sudah buntu.


"Jadi ... sekarang kamu udah nggak rela kalau suamimu ini dideketin sama perempuan lain. Hem?" Rein tercekat mendengar suara Aska yang begitu dekat. Karena melamun, Rein jadi tidak sadar sejak kapan wajah Aska begitu dekat dengan wajahnya, dan berbisik di telinganya. Hingga deru napas lelaki itu terasa menyentuh pori-porinya. Membuat bulu-bulu halusnya meremang seketika.


"Tau, ah. Kamu tuh emang paling bisa ngalihin pembicaraan ke mana-mana." Rein sedikit mendorong tubuh suaminya. Hingga tubuh Aska mundur satu langkah dari tempatnya, "aku mau ke kamar lihat Tara, sekalian mau istirahat. Malam ini aku cuma mau tidur sama Tara. Oke!"

__ADS_1


"Eh, kok, gitu? Lalu aku tidur di mana?" tanya Aska, sembari menahan tangan Rein. Membuat perempuan itu masih bertahan di tempatnya.


"Ya, terserah. Kamar di rumah ini, kan, ada tiga. Masih ada dua lagi yang kosong. Kamar tamu sama kamarnya Abian. Atau ... kalau kamu mau tidur di sofa juga silakan. Kamu bebas melakukan apa saja di sini," tandas Rein bersikap angkuh di hadapan sang suami.


Namun, otak Aska malah berpikir ke arah lain. Terlihat dari senyum seringai yang terbesit di bibir. Dengan kuat lelaki itu menarik tangan Rein, hingga tubuh perempuan itu terhuyung dan menabrak tubuhnya.


"Mas, apa-apaan, sih? Lepasin, nggak?" Rein meronta meminta dilepaskan. Manakala tangan kekar Aska mengunci pinggangnya yang menempel dengan tubuh suaminya.


"Enggak," jawab Aska dengan seringai tipis, "kata kamu tadi aku bisa bebas melakukan apa saja di sini. Tadi kamu juga memberikan kode agar aku tidur di sofa. Aku jadi inget kalau kita belum pernah melakukannya di sana. Gimana kalau sekarang kita coba?" Aska menaikturunkan sebelah alisnya sambil tersenyum culas.


Rein memicing. Tidak menyangka jika otak suaminya langsung berpikir ke arah sana. Tentu saja dia tahu arah pembicaraan itu mau ke mana.


"Maaf, ya, Suamiku. Aku lagi nggak mau," tolak Rein sambil mendorong wajah Aska yang mendekati wajahnya.


"Eh, nggak baik kalau nolak suami. Dosa tau!"


Rein mendelik mendengar itu. Aska paling hafal kalau perkara dosa yang menguntungkan dirinya tersebut.


"Gitu, dong. Itu baru namanya istri soleha." Aska tersenyum penuh kemenangan. Lalu menggiring tubuh istrinya sambil melakukan pemanasan. Tak ayal membuat Rein merasa terbang melayang. Setelah terjadi pertengkaran, kadang cara tersebut bisa jadi jalan untuk berbaikan.


******


Di sela deru napas yang saling memburu, Rein dan Aska masih bergeming di tempatnya. Sofa berwarna kelabu menjadi tempat sekaligus saksi bisu, dari pergumulan dua insan sejoli yang baru selesai memadu kasih.


"Sayang, kalau semisalnya nanti aku udah pensiun, kamu mau kita tinggal di mana? Di kota atau di desa?" Aska tiba-tiba bertanya seperti itu, setelah keheningan cukup lama melingkupi ruangan tersebut.


"Di desa aja. Lagian aku udah janji sama ambu dan abah nggak bakalan ninggalin rumah mereka," jawab Rein tanpa menggerakkan tubuhnya. Ia tetap nyaman berada di pelukan suaminya.


"Kalau nanti aku dimutasi ke tempat lain lagi? Apa kamu masih tetap di sana juga?" Aska mengangkat kepalanya sedikit, untuk sekadar menatap wajah istrinya.

__ADS_1


Yang ditatap malah terdiam. Ia tidak bisa menjawab dengan cepat. Pilihan antara janji dan kewajiban sebagai istri, tidak tahu mana dulu yang harus dipenuhi.


"Aku bingung, Mas," jawab Rein setelah sejenak berpikir, "aku tahu sebagai istri harus taat kepada suami, tapi aku juga sudah terikat janji. Jika itu terjadi, aku yakin pasti akan ada jalan keluar di setiap masalah yang kita hadapi, dan semoga aja kamu nggak pernah dimutasi lagi," imbuh Rein sedikit mengulas senyuman.


"Aamiin ... asal kamu jangan pernah berpikir untuk ninggalin aku lagi. Hidupku terasa nggak ada gunanya kalau kamu pergi. Aku ingin kita selalu bersama sampai kita menua," tutur Aska, lalu mengecup puncak kepala istrinya.


"Jangan bilang gitu, Mas. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Umur manusia itu hanya Tuhan yang tahu. Bagaimana kalau aku yang mendahului kamu? Kamu harus tetap tegar demi Tara."


Aska bergeming tanpa suara. Pandangannya lurus menerawang pada langit-langit ruangan. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika hal itu terjadi. Dulu, waktu Rein koma, Aska merasa hidupnya begitu hampa. Apalagi kalau perempuan itu telah meninggal dunia. Ia sempat berpikir untuk ikut istrinya saja.


"Udah, deh. Jangan bahas itu, ya! Kita lanjut tidur di kamar aja. Kita istirahat dulu sebelum lanjut ronde berikutnya." Aska mengalihkannya topik pembicaraan mereka.


"Hah, tadi janjinya cuma sekali. Gimana, si?" Rein terperangah dengan keinginan Aska. Tubuhnya sontak duduk dan bergerak meninggalkan suaminya.


"Sekali lagi, lah," bujuk Aska sambil menyusul sang istri.


"Enggak!" Rein tetap berjalan menuju kamar Aska tanpa menoleh lagi.


Senyuman lebar terukir di bibir Aska yang merasa gemas dengan tingkah istrinya yang ketakutan. Dalam hatinya ia berdo'a, semoga kemesraan mereka akan terus berlangsung lebih lama, dan mereka ditakdirkan agar bisa berjodoh selamanya.


Aamiin.


...****************...


...The end...


Terimakasih untuk para readers semua yang udah mengikuti novel ini dengan sabar. Do'a yang sama untuk kalian yang sudah punya pasangan, semoga kalian berjodoh sampai dunia menghilang, dan dipertemukan di surga Allah yang penuh keberkahan. Aaamiin 🤲


Teruntuk yang masih sendiri, didoain semoga cepet mendapatkan jodoh yang pasti. Pasti datang menikahi dan memberikan kebahagiaan yang hakiki. 🤲

__ADS_1


Tunggu karya othor selanjutnya, ya. Dukung juga karya othor yang lainnya. I love you 🥰🥰


__ADS_2