Pencuri Hati

Pencuri Hati
Ch. 6. Kisah Kelam


__ADS_3

"Dari mana saja kau?" Suara bariton langsung menyapa indera pendengaran Zetta begitu ia menginjakkan kaki di dalam rumah.


Di hadapannya saat ini tengah berdiri Sang ayah yang sedang menatapnya tajam.


"Apa begini cara seorang pelajar menggunakan waktunya?" sarkasnya.


Zetta diam di tempatnya dengan kepala menunduk.


Sang ayah menatapnya sengit, decihan terdengar dari mulut Sang ayah. "Apa kau baru saja pergi ke tempat itu lagi?" Tanya Sang ayah dingin.


Dengan cepat Zetta menggeleng.


"Orang suruhan Papah baru saja memberikan informasi jika kau pergi ke tempat-tempat yang tak semestinya kau kunjungi. Apa itu benar, Ve?" Lagi hanya nada datar yang terdengar dari mulut Sang ayah.


Di posisinya saat ini, diam-diam Zetta tengah menahan rasa takutnya sekuat tenaga. Ia tahu hal ini akan terjadi, namun dia tak sampai memikirkan dampak dari perbuatan yang menurutnya wajar-wajar saja.


"Hei dengar!" Kali ini Sang ayah berjalan mendekati Zetta yang sedikit gemetar.


"Apa kau masih kurang cukup tinggal di rumah semegah ini, Ve?" Tambahnya lagi dengan sombong sembari memegang lengan kanan Zetta cukup keras.


"Pa... Pah..." ucapan Zetta terbata-bata akibat rasa sakit yang ditimbulkan oleh cengkraman Ayahnya.


"Apa?" Tantang Sang ayah melebarkan matanya.


Zetta meringis menahan rasa ngilu yang teramat sangat di lengan tangannya.


"Ve... mohon... le-pas...in, Ve. Pah..." pinta Ve dengan suara terputus-putus.


"Apa?" Sang ayah menaruh telapak tangannya di daun telinganya seolah tak mendengar perkataan Zetta.


"Ma... ma... af..." dengan susah payah Zetta berucap namun manusia di hadapannya tak menggubrisnya. Cengkeraman di lengan Zetta justru semakin erat membuat Zetta memekik tertahan.


Ia hanya melipat bibirnya ke dalam berusaha meredam rasa sakit yang begitu hebat.



Ben Brawijaya hanya menatap datar ke arah putrinya yang kesakitan. Giginya gemeretak, rahang Ben pun mengeras, sorot matanya tajam penuh amarah. Emosinya benar-benar meluap karena Sang anak yang tak mau menurut padanya.


"Kau pikir aku tak tahu jika tadi pagi kau membolos dan hanya keluyuran tak jelas di jalan, huh?" Sarkasnya.


Ia menarik lengan kanan Sang anak agar lebih mendekat dengannya. "Apa kau mau bernasib sama seperti Ibumu itu?" Tanya Ben seraya melepas kasar cengkraman tangannya.


"Cepat masuk sebelum aku berubah pikiran." Lanjut Ben tanpa menatap Zetta.

__ADS_1


Dengan segera Zetta berlari menuju lift dan menekan tombol lantai tiga dimana kamarnya berada.


Sesampainya di kamar, air matanya pecah. Ia benar-benar lemah dalam hal ini.


"Untuk apa kaya? Untuk apa bertahta? Jika pada akhirnya kau pun akan hancur juga." Gumamnya disela tangisannya.


☘☘☘


10 tahun silam


Seorang gadis kecil tengah terduduk di kursi taman yang berada di samping rumahnya. Bersama Sang ibu, ia menunggu kedatangan Ayahnya yang sudah sekitar satu minggu pergi keluar kota karena urusan pekerjaan.


"Papah beneran pulang hari ini kan, Bu?" Tanya Si anak dengan suara yang bersemangat.


Sang Ibu yang tengah mengusap surai panjang anaknya menoleh dan tersenyum hangat ke arah Sang anak. "Iya Ve, hari ini Papah akan pulang." Jawab Ibunya lembut.


Ve langsung turun dari duduknya sembari menepuk tangannya senang. "Yeayyy... berarti malam ini Ve bisa tidur dipeluk sama Papah, hore...!" Ia memekik kegirangan membayangkan dirinya tidur bersama Ayah dan Ibunya.


Pasalnya ia sudah lama tidak tidur bersama kedua orang tuanya semenjak Sang ayah pergi keluar kota.


Ibu Ve tersenyum melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Hatinya menghangat mendapati Sang anak sangat menyayanginya dan suaminya.


"Sini duduk lagi sayang, kita tunggu Papah bareng-bareng." Ajak Ibu Ve menepuk-nepuk kursi yang tadi diduduki Sang anak.


Ve menurut dan kembali bercerita tentang hal-hal yang tadi ia alami di sekolah.


Dengan gembira Ve langsung berlari menghampiri Sang ayah yang teramat sangat ia rindukan. Namun bukannya bahagia, Sang ayah justru pulang dengan wajah dingin dan menolak sentuhan Ve.


Tatapan Ayahnya justru tertuju pada Sang ibu yang juga tengah menyambutnya dengan tak kalah bahagia.


"Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi." Tanya Ayah Ve datar.


"Maksudmu?" Ibu Ve tak mengerti apa yang dikatakan oleh Sang suami.


"Tak usah berbelit, aku sudah tahu semuanya. Dasar istri tak tahu diuntung! Suami cape-cape kerja, kau malah enak-enakan dengan lelaki itu," tuduh Ayah Ve penuh emosi.


Sang ibu terdiam, ia tak menyanggah ataupun membenarkan. Dipikirannya saat ini hanya Ve yang nampak takut dengan ucapan Sang ayah yang begitu dingin.


Supir pribadi yang tadi mengantar Ayah Ve pun masih berdiri disamping pintu mobil. Ia hendak pergi namun Ibu Ve mencegahnya.


"Pak Burhan, tolong bawa Ve masuk." Ucap Ibu Ve lembut diiringi senyuman.


"Tapi Ve mau sama Papah, Bu. Ve kangen Papah." Tolak Ve saat Sang supir hendak membawanya pergi.

__ADS_1


Sang ibu menatap putrinya sembari tersenyum. "Ve sayang, masuk dulu ya. Papah sama Ibu mau ngomong sesuatu sebentar. Nanti setelah Papah sama Ibu selesai, kita bakal nonton film yang Ve mau bareng." Tutur Ibu Ve berharap Sang anak mau menuruti ucapannya.


Dengan wajah cemberut akhirnya Ve menuruti ucapan Sang ibu.


Sepeninggal Ve dan Sang supir, Ibu Ve kembali menatap Sang suami yang masih diliputi amarah. Dengan langkah sedang, ia mendekati suaminya itu dan mengusap lengannya dengan sayang meskipun Sang suami selalu menarik lengannya menjauh, ia tetap sabar menghadapi sikap suaminya itu.


"Sayang tenanglah... kau pasti hanya salah paham saja. Ayo kita masuk dulu dan bicarakan ini pelan-pelan. Kau pasti lelahkan, istirahatkanlah tubuhmu dulu baru kita bahas semuanya," bujuknya namun Sang suami justru menatapnya sengit.


"Menjauhlah dariku," ucap Ayah Ve penuh penekanan.


Tapi Ibu Ve tak menyerah, ia justru memeluk tubuh suaminya erat.


"Kubilang menjauh dariku!" Bentak Ayah Ve melepas paksa pelukan istrinya dengan kasar.


Ibu Ve nampak terkejut akan sikap suaminya yang begitu kasar.


"Jangan pernah sentuh tubuhku dengan tanganmu itu," desis Ayah Ve. Ia lalu berlalu meninggalkan istrinya yang saat ini telah menitikkan air mata.


"Jauhi aku sebelum aku benar-benar muak melihat tingkahmu itu," ujar Ayah Ve sebelum benar-benar berlalu memasuki rumahnya.


☘☘☘


Hari demi hari berlalu, sikap Ayah Ve kini semakin dingin pada keluarganya. Ve kecil yang masih belum tahu masalah yang dihadapi oleh keluarganya hanya bisa diam saat mendapati Sang ibu diam-diam menangis saat menemaninya tidur.


Pertengkaran sering terjadi antara Ayah dan Ibunya. Bahkan tak jarang Sang ayah juga melakukan kekerasan fisik kepada Sang ibu.


Ve kesal, tapi ia tak berani melawan Sang ayah yang begitu mengerikan di matanya. Sosok hangat dan penyayang itu telah menjelma menjadi monster di mata anaknya sendiri.


Sampai suatu hari, kejadian mengerikan menghampiri Ve. Saat dimana ia harus merelakan Sang ibu pergi untuk selama-lamanya.


Saat itu, Ve tengah pergi ke sekolah sehingga ia tak mengetahui apa yang dialami oleh Ibunya. Namun satu yang selalu ia ingat luka lebam di area wajah serta leher Ibunya.


Tak ada yang perduli akan itu, tapi Ve berusaha mencari tahu penyebab kematian Sang ibu yang sangat dicintainya.


Hingga fakta mengejutkan terjadi. Saat keadaan rumahnya sepi, Ve kecil yang cukup pintar menyusup ke ruang CCTV di rumahnya dan mengecek rekaman CCTV di hari dimana Sang ibu mengembuskan napas terakhirnya.


Napas Ve tercekat, tubuhnya mendadak gemetar dan air mata berjatuhan membasahi wajahnya.


☘☘☘


"Tidakk...!" Teriak Ve saat dirinya terbangun dari mimpi buruknya.


Peluh membanjiri sekujur tubuhnya yang gemetar efek mimpi yang selalu setia muncul di tengah tidurnya.

__ADS_1


Tanpa sadar cairan bening menetes membasahi pipi nya.


"Aku lelah..." lirih Ve seraya menutup wajahnya dengan tangan.


__ADS_2