
Pukul 03.00 PM
Arzetta masih berada di dalam mall milik Ayahnya. Kali ini dia tengah duduk santai di dalam cafe mall tersebut.
Lima menit setelah pesanannya datang, tiga orang siswa SMA masuk ke dalam cafe yang sama dengannya.
Zetta menatap ke arah tiga orang tersebut sekilas lalu kembali menatap hidangan di hadapannya. Namun sedetik kemudian pandangannya kembali ke arah ketiga orang di depannya.
"Bukankah dia orang yang tadi pagi bertemu denganku di ruang musik? Ternyata dia kembar?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, Zetta terus mengamati gerak-gerik Reno dan Rayhan yang berjarak satu kursi dari tempat duduknya.
"Jadi yang mana yang bertemu denganku tadi pagi?" batinnya. Zetta menggaruk keningnya berpikir.
Ia menatap mereka berdua secara bergantian. Reno dan Rayhan duduk berhadapan sedangkan Diandra duduk didekat Rayhan dengan santai sambil bercerita.
Ia memperhatikan salah satu dari pria yang berwajah sama tengah menuangkan hand sanitizer ke atas telapak tangannya. Zetta nampak penasaran dengan mereka namun ia enggan mendekat ke meja mereka bertiga.
Hingga Diandra menyadari keberadaan Zetta dan melambaikan tangan antusias pada Zetta.
"Hei Kak," sapa Diandra disertai senyuman yang menampilkan deretan giginya. Reno dan Rayhan pun ikut menatap Zetta.
Zetta nampak mengangguk canggung karena ia kepergok memperhatikan Reno dan teman-temannya.
"Sini gabung, Kak." Ajak Diandra dengan semangat.
"Kamu kenal sama dia?" Rayhan tampak penasaran dengan sosok Zetta. Berbeda dengan Reno yang menatap Zetta tanpa ekspresi.
"Siapa yang tidak mengenalnya? Dia itu perempuan paling dikagumi di sekolah kita, Han." Jelas Diandra masih menatap Zetta.
"Astaga, aku melewatkan berita penting," ucap Rayhan sembari memegang pipinya sendiri dengan mulut terbuka lebar.
"Tutup mulutmu," Reno akhirnya membuka suara.
Diandra menoleh dan menatap Reno dengan tatapan takjub. "Ternyata kau bisa berbicara juga? Aku pikir kamu hanya bisa menggunakan bahasa kalbu." Diandra menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Reno tak menanggapi, ia justru menatap Zetta lagi yang masih terdiam di tempatnya.
"Bolehkah aku mengajaknya bergabung, Kak?" Tanya Rayhan dengan nada memohon.
Reno hanya mengangguk, Rayhan lalu bangkit dan mengangkat kepalan tangannya ke udara merayakan keberhasilannya merayu Reno.
__ADS_1
"Yes," pekiknya bahagia. Ia lalu berjalan menghampiri Zetta dan menarik tangan Zetta lembut seperti anak kecil.
"Ayo Kak, gabung di meja kami. Ayo... ayo..." ajak Rayhan antusias sembari menggoyang-goyangkan tautan tangan mereka.
Diandra nampak terkekeh di tempatnya melihat tingkah konyol temannya itu.
"Ta-tapi---" belum selesai Zetta berbicara, Rayhan sudah lebih dulu menariknya dan membawa makanan Zetta ke meja dimana Reno berada.
"Duduk sini, Kak." Titah Rayhan mendudukkan Zetta tepat disamping kiri Reno.
Dengan canggung Zetta menurut, ia tersenyum kaku ke arah Reno dan Diandra. Sedangkan Rayhan kembali ke tempat duduk yang tadi di tempati Zetta lalu mengambil minuman serta makanan yang masih tersaji disana untuk dipindahkan ke meja yang mereka duduki saat ini.
"Kakak udah pulang? Emangnya jam pulang kelas sepuluh sama kelas sebelas sama ya, Kak? Kok tadi aku ngga liat anak-anak kelas sebelas pada pulang? Terus Kakak kesini sama siapa? Sendirian aja ya Kak?" Pertanyaan beruntun terlontar dari mulut Diandra.
Zetta nampak sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan yang ditujukan untuknya. Reno yang mengerti bahwa orang disampingnya itu gusar pun bersuara.
"Tanganmu gimana?" Tanya Reno tanpa menoleh ke arah Zetta maupun Diandra membuat Zetta dan Diandra mengerutkan keningnya tak mengerti.
Beruntung Rayhan sudah kembali duduk di kursinya sehingga Reno tak harus pusing-pusing mencari topik pembicaraan.
"Tadi yang ketemu aku di sekolah, kamu atau kamu?" Tanya Zetta sembari menunjuk Reno dan Rayhan bergantian.
Reno diam, sedangkan Rayhan menggelengkan kepalanya.
Reno hanya mengangkat bahunya acuh. Membuat Zetta mengangkat sebelah bibirnya sebal.
"Biarin aja, Kak. Jangan diambil hati, dia emang orangnya kayak gitu. Kalo ngga percaya tanya aja Sia." Terang Rayhan, Diandra mengangguk setuju.
"Kalian betah sama orang kayak dia?" Ucap Zetta menyindir Reno.
Rayhan terkekeh mendengar ucapan Kakak kelasnya itu. "Betah ngga betah, Kak. Mau gimana lagi, aku udah satu paket sama dia. Mau ngga mau ya harus mau." Ujar Rayhan dengan nada pasrah.
Mereka semua tertawa mendengar penuturan Rayhan kecuali Reno. Pria itu nampak tak perduli dengan ucapan Sang adik, ia justru tampak santai mengaduk-aduk minumannya sesekali menyeruput.
Hening tiba-tiba menyerang ke empat insan yang tengah sibuk dengan hidangan masing-masing.
"Oh iya, Kak. Kita belum kenalan." Akhirnya Rayhan berucap memecahkan keheningan yang tercipta.
"Oh iya. Aku lupa," Diandra menimpali sembari menepuk dahinya.
"Aku Rayhan, Kak." Rayhan mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
__ADS_1
Zetta menerima uluran tangan tersebut diiringi senyuman manis di bibirnya, "aku Lovely Arzetta. Panggil Zetta aja ngga papa." Jawab Zetta ramah.
"Aku Diandra Agnesia, Kak. Panggil Sia aja biar terlihat akrab," ucap Diandra diiringi cengiran bodohnya.
Zetta tersenyum lalu menjabat tangan Diandra.
Ia menoleh ke arah Reno yang tak memberikan reaksi sedikit pun saat mereka bertiga tengah berkenalan.
"Kau tak ingin berkenalan denganku?" tanya Zetta penasaran. Baru kali ini dirinya menginginkan seseorang berkenalan dengannya.
Reno hanya menggeleng menanggapi Zetta.
Diandra nampak menahan tawanya saat melihat Reno mengacuhkan Zetta, berbeda dengan Rayhan yang tengah uring-uringan akibat sikap Sang kakak.
"Astaga, Kak. Ayolah jangan bikin aku malu. Ngomong Kak, ngomong..." ucap Rayhan geram. Jika saja manusia di hadapannya itu bukan Kakaknya, mungkin saat ini ia telah memukul orang itu karena frustasi menghadapi kelakuannya yang super aneh.
Reno mengangkat wajahnya menatap Sang adik dengan tampang tak berdosa.
"Dia Reno, Kak yang tanpa sengaja menjadi Kakak kandungku," ujar Rayhan kesal.
Diandra dan Zetta terkekeh. Betapa mengesalkannya manusia di hadapannya ini. Beruntung dia mempunyai adik yang super sabar menghadapi sifatnya yang begitu menyebalkan. Pikir Zetta.
"Apa kau tak ingin mengeluarkan suara emasmu itu, Reno?" Pancing Zetta.
Sayangnya Reno tak bergeming di posisinya. Rayhan menarik rambutnya frustasi.
"Gadis secantik Zetta dibiarkan begitu saja? Kau gila, Kak." Cemoohnya dalam hati.
Zetta menatap jam yang berada di pergelangan tangan kanannya.
"Well... aku harus pergi, guys." Ucapnya dengan nada sedih.
"Yahhhh..." lirih Diandra dan Rayhan bersamaan seolah tak rela jika Kakak kelasnya itu harus pergi meninggalkan mereka.
"Lain kali bisakah kita seperti ini lagi, Kak?" tanya Rayhan penuh harap.
Zetta menatap Rayhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pergilah." Usir Reno.
Zetta menatap dengan tatapan terkejut pada pria disampingnya itu. Sungguh berbanding terbalik sifat kakak beradik yang satu ini. Pikirnya.
__ADS_1
Tanpa sepatah kata pun akhirnya Zetta pergi meninggalkan Reno dan kawan-kawannya.