Pencuri Hati

Pencuri Hati
Kedatangan Ambu dan Abah


__ADS_3

...****************...


"Kita cari Tante Rein, Om!" seru Abian sambil menarik baju Aska. Aska menatap Abian sejenak. Dia bingung mau mencari ke mana. Saat itu juga dia mengambil ponsel miliknya di saku celana. Kembali menghubungi nomor Rein, walaupun sejak tadi sudah dia coba dan hasilnya nomor tersebut selalu di luar jangkauan.


"Kamu tenang dulu, ya, Bian. Nanti om cari Tante Rein. Tapi ... kalau nanti Tante Rein nggak mau kembali sama kita, kamu harus ikhlas membiarkan dia pergi. Mungkin tante Rein nggak bahagia bersama kita, Bian. Kamu harus menghargai keputusannya!"


"Tapi alasan Tante Rein pergi bukan karena itu ...." Abian tercekat dan berhenti bicara, lalu menundukkan kepalanya.


"Kamu tahu sesuatu?" Aska memicing curiga.


Abian menggeleng cepat. "Nggak tahu, Om. Bian pengin Tante Rein pulang aja," ucap Abian lirih.


Aska menghela napasnya, lalu mengusap puncak kepala Abian. "Kamu tunggu dulu di rumah bareng Tante Asti, ya. Om akan pergi buat cari Tante Rein," seru Aska, lalu beralih pada Asti, "titip Bian, ya, As! Aku mau ke panti asuhan, barangkali Rein pulang ke sana," ujarnya kepada perempuan yang diam-diam mengagumi sosok Aska tersebut.


"Iya, Mas," jawab Asti sambil menganggukkan kepalanya.


Abian menatap punggung Aska yang menghilang di balik pintu kamarnya. Lalu kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak ada niat sama sekali untuk sekolah. Anak kecil itu hanya memikirkan keberadaan Rein saja.


...***...


"Assalamu'alaikum."


Ucapan salam terucap beberapa kali di depan rumah Aska. Sepasang suami istri paruh baya datang bertamu ke rumah itu. Mereka terlihat lelah dan kesal. Jauh-jauh datang dari desa untuk berkunjung ke rumah anaknya, tetapi yang punya rumah malah tidak ada.


"Mungkin Aska masih di kantor, dan Rein sama Bian lagi keluar, Ambu," ucap sang suami memberikan pendapat saat istrinya terus bergerutu kesal, lantaran tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam rumah anaknya tersebut.


"Ini semua gara-gara Abah! Coba kalau tadi Abah nggak kecopetan di kereta. Kita bisa telepon si Aska sekarang," gerutu Ranti—istri dari lelaki tadi.


"Idih, si Ambu ... jangan salahin abah, atuh! Salahin copetnya, tuh. Kenapa dia harus nyopet HP kita yang butut? Kan, masih banyak HP orang lain yang lebih bagus. Abah yakin sekarang dia pasti lagi nyesel nyopet HP itu, terus bilang gini, 'ini HP paling bisa dituker sama gorengan doang'," selorohnya lagi.


"Ya, nggak apa-apa butut juga, daripada nggak ada. Jadinya sekarang kita nggak bisa hubungin Aska," cerocos Ranti lagi sambil mendengus sebal.

__ADS_1


"Tunggu aja, atuh, sebentar! Mungkin sebentar lagi Aska atau Rein pulang."


Bahar duduk di kursi tamu di teras depan rumah itu. Diikuti oleh istrinya yang duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Mereka pun memutuskan untuk menunggu.


"Abah, Ambu?"


Suara seorang perempuan yang muncul dari dalam rumah, membuat suami istri tersebut langsung menolehkan kepalanya ke asal suara. Ranti langsung berdiri. Ia yang semula mengira itu adalah suara menantunya jadi mengernyit bingung, lantaran perempuan yang muncul dari dalam rumah Aska bukan Rein, melainkan Asti.


"Kalian kapan datang? Maafkan Asti, ya. Tadi Asti ketiduran, saat nemenin Bian di kamarnya," ucap Asti sambil mencium punggung tangan Bahar dan Ranti bergantian.


"Neng Asti, kok, bisa ada di rumahnya Aska? Istrinya Aska ke mana?" Bukan Ranti yang bertanya, melainkan Bahar yang sama bingungnya.


"Ehm ... itu, Abah. Semalam, istrinya Mas Aska pergi. Terus Asti disuruh nemenin Bian, sedangkan Mas Aska lagi cari dia sekarang," terang Asti sedikit ragu. Ia merasa tidak enak menceritakan kejelekan menantu dari dua orang tersebut.


"Emang perginya nggak bilang sama Aska?"


Asti menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ranti.


"Eh, setahu Asti nggak gitu, loh, Abah. Mas Aska itu orangnya baik, kok. Dia itu lembut sama perempuan."


Bahar memicingkan matanya. Dia jadi curiga mendengar pembelaan yang keluar dari mulut Asti tentang anaknya. Ia jadi berpikir jika anaknya sudah berselingkuh dengan perempuan tersebut, lalu mereka ketahuan oleh Rein, dan itu yang membuat Rein kabur dari rumah Aska.


Belum sempat Bahar mengungkapkan kecurigaannya, kedatangan mobil Aska membuat lelaki itu urung membuka suara. Perhatian semua orang di sana pun jadi tersita pada mobil tersebut.


"Abah, Ambu? Kenapa datang ke sini?" Pertanyaan itu yang langsung Aska lontarkan ketika melihat orang tuanya datang.


"Eh, dasar te sopan pisan budak, teh! Pertanyaan naon eta? Orang tua datang berkunjung bukannya langsung disambut pake pelukan, malah ditanya jiga kitu!" sembur Bahar dengan logat sundanya dengan nada kesal.


Aska menghela napas kasar. Kebingungan yang menimpanya, karena belum mendapatkan kabar tentang Rein, membuatnya jadi tidak bisa berpikir apa-apa. Kepalanya terasa penuh oleh pertanyaan di mana perempuan itu sekarang?


"Maaf, atuh, Abah. Aska lagi bingung. Rein belum ketemu," ucapnya sambil mencium punggung tangan orang tuanya bergantian. Raut kecemasan terlihat jelas di wajah lelaki itu.

__ADS_1


"Rein beneran kabur, Aska? Kok, bisa?" Giliran Ranti yang bersuara.


Aska mengangguk ragu, sambil menatap wajah ibunya yang terlihat kecewa. Lelaki itu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Sesuai yang diinginkan oleh sang ibu.


"Maaf, Ambu. Aska juga nggak tahu kenapa Rein tiba-tiba pergi," ucap Aska dengan tampang lesu.


"Kita bicara di dalam saja, atuh. Abah udah gerah ini. Di sini udaranya panas, nggak kayak di desa," celetuk Bahar sambil mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah seperti menggunakan kipas.


Aska mengangguk setuju. Ia mengambil tas besar yang dibawa oleh orang tuanya untuk dibawa ke dalam.


"Kalau gitu Asti permisi pulang dulu, Mas Aska. Bian masih di kamar, dia nggak mau keluar. Tadi Asti udah nyuapin makan, tapi cuma satu sendok katanya udah kenyang. Sekarang dianya lagi tidur." Asti yang tidak mau dianggap terlalu ikut campur dengan urusan rumah Aska, memilih pamit pada keluarga tersebut.


"Makasih, ya, As," sahut Aska.


Asti tersenyum sambil menggangguk. "Sama-sama, Mas," jawabnya, lalu pergi dari sana. Aska, Bahar, dan Ranti pun masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam. Ranti langsung menuju ke kamar Abian. Ia tahu cucunya pasti sangat sedih karena ditinggalkan oleh Rein.


"Bian ...." Ranti duduk di sisi tempat tidur sambil mengusap kepala Abian dengan lembut.


Kedua mata Abian langsung terbuka mendengar suara neneknya. Tubuhnya langsung beranjak duduk dan memeluk tubuh Ranti dengan erat.


"Nini," lirih Abian memanggil Ranti, "Tante Rein pergi," imbuhnya sambil menangis.


"Nini udah tahu, Bian. Kamu jangan sedih! Tante kamu pasti pulang, kok. Mungkin Tante Rein cuma pergi sebentar," bujuk Ranti sambil mengusap punggung Abian.


Abian masih tersedu dan enggan melepaskan pelukannya, "Tante Rein pergi karena salah Bian, Nini. Bian sempat marah sama dia. Bian nggak mau Tante Rein pergi. Bian udah nggak marah, kok, sama Tante Rein. Tante Rein nggak salah, Nini. Bian mau tinggal sama Tante Rein lagi," tutur Abian di balik punggung Ranti.


...****************...


...to be continued...

__ADS_1


__ADS_2