Pencuri Hati

Pencuri Hati
Menemui Daren


__ADS_3

...****************...


"Mas ... ini masih pagi." Rein merasa risih ketika tangan Aska mulai bergerilya meraba tubuhnya. Bahkan kepalanya malah menyelusup ke leher Rein, sambil mengendus wangi sabun dengan aroma British Rose yang menguar di tubuh perempuan itu, "mendingan kamu kamu sarapan dulu, deh! Tadi tetangga kita yang baik hati udah kirim makanan buat sarapan pagi, loh," imbuh Rein sambil mendorong kepala Aska yang mulai tidak tahu diri.


Rein sengaja mengatakan itu dengan nada penuh penekanan. Berharap Aska peka, jika dirinya mulai cemburu dengan Asti.


"Asti ngasih sarapan lagi?" tanya Aska. Pertanyaan itu hanya untuk mengalihkan perhatian Rein saja, karena ia kembali menyurukan kepalanya ke leher istrinya lagi.


"Iiih ... kamu ini, Mas. Geli tahu! Sarapan dulu, sana! Kasian, loh, penggemar kamu udah capek-capek masakin," cibir Rein lagi sambil berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Aska.


"Aku udah sarapan tadi di kantor, sekarang waktunya 'makan' kamu." Bukannya peka dengan sindiran Rein, Aska malah berpikir ke arah lain. Pandangan Aska sudah berkabut penuh rasa rindu. Otaknya sudah dipenuhi oleh nafsu. Tubuh Rein benar-benar membuatnya candu.


Rein tentu mengerti dengan maksud suaminya. Namun, ini masih pagi, dan Aska baru pulang dari bertugas di malam hari. "Tapi kamu baru pulang kerja. Nggak capek gitu?" ucap Rein malu-malu.


"Nggak capek kalau buat kamu." Gerakan Aska semakin menuntut. Rein sudah tidak bisa melarang suaminya itu berbuat ulah. Hingga dirinya akhirnya pasrah. Membiarkan tubuhnya kembali terjajah.


***


Denting suara jam dinding mendominasi ruangan yang hening. Dua insan yang telah selesai memadu kasih masih berbaring di atas tempat tidur yang terlihat acak-acakan. Tubuh polos mereka berlindung di balik selimut tebal. Keduanya saling memeluk dengan peluh yang membasahi tubuh, dan napas yang masih memburu.


Rein menopangkan kepalanya di dada bidang Aska. Sedangkan Aska sudah terlihat memejamkan mata. "Mas, aku boleh pergi berkunjung ke panti?" tanya Rein setelah keheningan cukup lama melingkupi kehangatan di sana.


Aska yang tidak benar-benar tertidur pun membuka matanya. "Kapan?" tanyanya balik.


"Sekarang."


"Nanti aja, ya. Aku belum tidur sejak semalam bertugas."


"Aku sendiri aja. Nggak perlu dianterin, tapi aku pinjem mobil kamu. Boleh, kan?"


Aska sedikit mengangkat kepalanya untuk sekadar melihat wajah istrinya yang sedang mendongak menatapnya penuh permohonan. Rein butuh mobil itu untuk menemui seseorang yang rumahnya tidak terlewati oleh angkutan perkotaan. Rein tidak mungkin mencuri mobil sembarangan lagi, karena dirinya sudah terlanjur janji.


"Aku janji bakalan pulang sebelum Bian pulang dari sekolahnya," ujar Rein lagi. Aska tersenyum. Lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.

__ADS_1


"Boleh, nanti nitip salam sama Bu Wanda. Bilangin maaf aku karena belum bisa berkunjung ke sana."


"Siap, Bos. Makasih, ya." Rein mendaratkan satu kecupan di pipi Aska. Membuat lelaki itu semakin gemas dengan tingkah istrinya.


***


Setelah berhasil menidurkan bayi besarnya, Rein pergi seorang diri dengan menggunakan mobil Aska. Bukan panti asuhan tujuannya, melainkan rumah Daren–sahabatnya. Rein terpaksa berbohong, karena Aska tidak mengizinkan jika ia berkata jujur.


Rein tidak peduli apa pun. Dia sangat penasaran dengan cerita lengkap kejadian perampokan di rumah perwira itu. Apakah benar perwira itu adalah ayahnya Abian? Jika memang benar, berarti Rein sedang dalam masalah besar.


Mobil yang dikendarai oleh Rein mendarat dengan sempurna di depan rumah Daren. Perempuan itu bergegas turun, dan langsung mengetuk pintu rumah itu.


Dalam ketukan ketiga, pintu rumah pun terbuka. Terlihat Daren begitu siaga sambil membawa senjata di tangannya. "Kenapa, sih, lo? Kok, bawa-bawa senjata segala?"


"Nggak apa-apa. Gue cuma jaga-jaga. Gue pikir lo orang jahat."


Rein memicing curiga. Tumben sekali sahabatnya itu bersikap waspada kepada siapa saja. Biasanya dia aku selalu santai walaupun bahaya sudah di depan mata. Rasa takut bukanlah bagian dari dirinya.


"Masa orang jahat takut orang jahat," ledek Rein sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kayu di ruang tengah rumah Daren. Pemilik rumah tidak marah, ia hanya tersenyum kecut mendengarnya.


"Nggak usah, gue bisa ambil sendiri kalau haus. Lo ke mana aja, sih, kampret? Gue dari semalam teleponin lo terus kagak pernah aktif. HPnya lo jual?" Pertanyaan yang sudah membendung di pikiran Rein diberondong secara langsung. Perempuan itu bicara dengan nada tinggi sambil berkacak pinggang.


Daren duduk di kursi kosong lain setelah menyimpan senjatanya di atas meja. "Gue sengaja matiin HP. Lo yang ke mana aja? Gue pikir lo udah dimasukin penjara sama suami lo gara-gara ketahuan mencuri." Daren menyindir. Bibirnya menyengir sambil melipat tangannya di depan dada.


Rein mendengus dan melempar sendal yang tengah dipakainya.


"Aduh!" Sendal itu mengenai kepala Daren.


"Rasain." Giliran Rein yang tertawa lepas. Daren spontan melempar balik sendal tersebut kepada pemiliknya, tetapi dengan cekatan Rein menghindarinya.


"Gue pikir lo marah karena gue nggak ngasih tahu lo masalah itu."


"Nggak juga. Ngapain gue marah sama lo? Gue, kan, udah tahu ceritanya kenapa lo nikah sama dia. Tapi yang bikin gue nggak habis pikir, kenapa nasib lo sial banget? Lo selamat dari maut, tapi harus nikah sama polisi." Daren tertawa menjeda perkataannya, "tapi gue penasaran, sih. Kenapa lo mau aja dinikahin sama polisi, terus apa dia juga tahu kalau lo sebenarnya pencuri?" tanya Daren penasaran.

__ADS_1


Rein menganggukkan kepalanya, tetapi wajahnya terlihat muram. "Gue tahu dia polisi setelah kami sah jadi suami istri, dan dia baru tahu gue pencuri tadi malam."


"Hah? Kok, bisa? Terus-terus, reaksi dia gimana?" Daren tercekat sekaligus penasaran. Tawa di bibirnya masih tersisa. Nasib sahabatnya itu sungguh di luar nalarnya.


"Dia malah nyuruh gue insyaf. Dan mau nerima gue apa adanya."


Daren bergeming sejenak. Mencoba mencerna perkataan Rein. "Bentar! Kalian berniat jadi suami istri beneran?" Kedua mata Daren memicing curiga.


Rein yang semula menunduk kembali mendongak. Menampakkan wajah bingung yang teramat.


"Jawab, Rein! Katanya pernikahan kalian cuma pura-pura. Cuma sampai keponakan polisi itu sembuh dari traumanya," desak Daren lagi.


"Gue nggak tahu," pekik Rein frustrasi.


Daren menatap Rein dengan tatapan sedih. Dia sebenarnya tidak rela partner merampoknya akan insyaf secepat itu. "Jadi ... lo nggak bakalan nyopet bareng gue lagi?" tanyanya. Rein masih diam saja.


Namun, saat mengungkit tentang Abian, Rein baru teringat dengan tujuan utamanya menemui Daren. "Eh, Ren. Nggak usah bahas itu dulu, deh. Gue mau nanya sesuatu yang penting dulu sama lo."


"Nggak usah ngalihin topik, deh!" tukas Daren.


"Gue serius, Ren. Ini menyangkut masa depan kita."


Melihat tatapan Rein yang penuh keseriusan, Daren pun terdiam. "Tanya apa?" ucapnya kemudian. Emosinya sedikit meredam.


"Lo inget, nggak, waktu itu kita pernah merampok di rumah seorang perwira?"


Daren berpikir sejenak sembari mengingat-ingat kejadian itu. Hingga memorinya dalam otaknya pun menemukan rekaman tentang peristiwa tersebut. "Iya, gue inget. Kenapa?" tanyanya balik.


"Waktu kita, kan, ketahuan. Terus lo nyuruh gue kabur duluan. Dan tak lama gue dengar suara senapan. Apa polisi itu tertembak sama lo?"


Daren seperti ragu untuk menjawab pertanyaan Rein. Dia ingat betul peristiwa tersebut. Selama mereka melakukan misi perampokan, kejadian itu adalah satu-satunya aksi perampokan mereka yang memakan korban.


...****************...

__ADS_1


...To be continue...


...Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya 🤗...


__ADS_2