
"Kak," panggil Rayhan yang duduk disamping Reno.
Tanpa menoleh Reno berdehem menanggapi Rayhan.
"Kak," bisik Rayhan kesal.
Dengan wajah sebal Reno akhirnya menoleh menatap Sang adik yang tengah menampilkan senyum bodohnya.
"Aku pindah duduk boleh?" Tanya Rayhan hati-hati karena ia tahu jika Sang kakak pasti akan menolak permintaannya mentah-mentah.
"Terserah," kata itu terlontar dengan mudahnya dari mulut Reno membuat Rayhan terkejut karena baru kali ini Sang kakak memperbolehkan dirinya duduk dengan orang lain.
Dengan segera Rayhan mengemasi barang-barangnya dengan penuh semangat.
"Tapi jangan pernah minta orang lain nempatin bangku itu," sambung Reno sembari menatap ke bangku milik Rayhan.
Rayhan mengangguk mantap, beruntung hari ini pelajaran tak begitu padat jadi dia bisa berpindah tempat duduk selagi belum ada guru yang mengajar.
Ia melangkah menuju kursi dimana Diandra duduk.
"Hei," sapa Rayhan pada Diandra yang duduk di bangku nomor dua dari depan di barisannya.
Diandra yang sedang mengobrol dengan teman di depannya menoleh ke arah Rayhan dengan tatapan bingung.
"Aku duduk sini ya," izin Rayhan sembari menjatuhkan tubuhnya di bangku sebelah kanan Diandra.
Diandra nampak sedikit terkejut namun sedetik kemudian ia akhirnya bersuara, "kalo kamu duduk sini terus yang duduk sama kakak kamu siapa, Ray?"
Diandra memutar kepalanya ke arah Reno dan mendapati pria tersebut tengah menyenderkan punggungnya di bangku dengan kepala menengadah ke atas serta mata yang terpejam. Di telinganya tertempel earphone berwarna putih susu.
Rayhan mengikuti arah pandang Diandra dan berbicara, "dia ngga akan kenapa-napa. Lagian masih sekelas ini, cuma beda bangku doang, Si." Ujar Rayhan memberi penjelasan agar Diandra mengerti.
Diandra menatap Rayhan sekilas lalu kembali ke posisi duduknya semula, "oke. Aku ijinin kamu duduk disini," ucapnya santai.
☘☘☘
"Lovely Arzetta!" Bentakan itu langsung menghentikan langkah Zetta di lorong kelas yang tampak sepi karena saat ini jam pelajaran masih berlangsung.
Zetta terdiam di tempatnya tanpa menoleh ke sumber suara. Sedangkan orang yang meneriakinya tengah berjalan dengan langkah yang sedikit cepat.
Ia langsung menjewer telinga kanan Zetta membuat Zetta mengaduh kesakitan sembari memegangi telinganya.
__ADS_1
"Aww... sakit, Pak." Gerutunya memegangi telinga.
"Kamu ini ya, sudah diberi peringatan berulang kali masih saja tidak berubah. Ampun deh, Zetta... Bapak harus didik kamu seperti apalagi biar kamu nyadar?" keluh Guru Bimbingan Konseling.
Ia menarik Zetta ke ruangannya dengan raut wajah merah padam menahan emosi.
"Pak, bisa ngga ini dilepas dulu? Sakit sungguh," pinta Zetta dengan nada memelas.
Sang guru tak menggubrisnya, ia justru menarik Zetta ke mejanya dengan posisi masih menjewer telinga Zetta.
"Pak, tau ngga Pak? Menyakiti anak di bawah umur itu bisa kena hukuman loh Pak." Cerocos Zetta yang tak diperdulikan oleh Sang guru.
Guru tersebut justru tengah fokus menekan tombol telepon kantor di ruangannya.
"Ya Bu, saya tunggu di ruangan saya." Ucap Guru konseling setelah telepon tersambung.
Sesaat kemudian ia mengakhiri panggilan telepon tersebut dan tak berapa lama setelahnya muncullah seorang wanita berseragam formal dihadapan mereka berdua.
Sang wanita mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan Guru Konseling.
"Permisi Pak, apa saya boleh masuk?" Tanya wanita tersebut meminta izin.
"Ya Bu, masuk saja."
"Bisa Anda lepaskan jeweran Anda, Pak Lukman?" Pinta Si wanita.
Pak Lukman mengangguk dan langsung melepaskan tangannya yang berada di telinga Zetta.
Si wanita menghela napas berat, "jadi... masalah apa lagi yang dia buat, Pak?" Tanya Si wanita tanpa basa-basi.
"Seperti biasa," jawab Guru Konseling singkat.
Si wanita menoleh ke arah Zetta dengan wajah heran, sedangkan yang ditatap hanya menunjukkan wajah santai tanpa dosa.
Sesaat kemudian, pandangan Si wanita itu beralih menatap Guru Konseling.
"Jadi hukuman apa yang akan anak saya terima, Pak?"
"Berhubung ini awal pelajaran baru, maka Zetta tidak saya kasih hukuman, Bu. Tapi jika sikapnya masih tidak berubah, dengan terpaksa saya akan menghukum dia sesuai peraturan yang berlaku di sekolah ini," terang Guru Konseling.
Ibu Arzetta mengangguk paham dia menoleh sesaat menatap Zetta dan kembali menatap Pak Lukman.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya, Pak." Ucap Ibu Zetta mantap.
Pak Lukman mengangguk mengiyakan. "Baiklah, kiranya itu saja yang ingin saya sampaikan, Bu."
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi. Terima kasih telah sabar mendidik anak saya." Ucap Ibu Zetta tulus.
"Jangan sungkan, Bu." Pak Lukman berucap dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Akhirnya Ibu Zetta pun meminta izin meninggalkan ruangan Konseling dengan menggandeng tangan Zetta.
"Mau kamu apa, Sayang?" Tanya Ibu Zetta geram. Saat ini mereka tengah berada di bangku yang terletak di sebelah ruang Konseling.
Zetta diam tak menjawab, ia justru mengeluarkan satu buah permen karet dari dalam saku seragamnya dan memakan permen karet itu.
"Ngomong Zetta... jangan diem aja." Ucap Ibu Zetta penuh penekanan.
Namun yang ditanya malah mengembungkan permen karetnya membuat balon kecil dari permen karet tersebut.
"Kamu butuh apa Zetta? Ngomong sama Mama, jangan diem aja kayak gini. Apa fasilitas yang Papah kamu berikan di sekolah ini masih kurang sampe kamu terus-terusan buat ulah kayak gini?" Ibu Zetta melanjutkan pertanyaannya sambil memegang lengan Zetta, berharap anaknya itu mau mengatakan sesuatu.
Zetta membuang permen karet yang ada di mulutnya ke dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari tempatnya saat ini.
Ia lalu menoleh ke arah Ibunya dan menatap Sang ibu dengan intens.
"Per-cu-ma," ucapnya datar. Zetta lalu berdiri dan membenarkan letak tas sekolahnya yang ia kalungkan di pundak sebelah kiri.
Dengan langkah santai, Zetta berlalu meninggalkan Sang ibu yang masih menatap punggungnya dengan tatapan sedih.
"Sampai kapan kamu seperti ini, Nak?" Monolognya. Tanpa terasa setetes air matanya jatuh, dengan cepat Ibu Zetta langsung menghapus air mata itu agar tak ada satupun warga sekolah yang melihatnya.
☘☘☘
Saat ini Arzetta tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan milik Sang ayah yang terletak tak jauh dari sekolahnya.
Ia berjalan dengan santai memasuki arena bermain yang ada di mall tersebut. Sapaan karyawan mengiringi langkah Zetta. Mereka menyapa dengan ramah dan patuh, namun Zetta tak memberi tanggapan sedikit pun.
Ia terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan, hingga pandangannya jatuh pada salah satu permainan mengambil boneka dengan cara dicapit.
Dengan antusias ia menghampiri permainan tersebut dan memainkannya.
Berulang kali ia mencoba, namun tak ada satu pun dari boneka yang terdapat di dalam box bisa ia ambil.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia menyerah dan memukul mesin tersebut dengan kesalnya.