Pencuri Hati

Pencuri Hati
Bertanya-tanya


__ADS_3

...****************...


Rein menyusuri pasar tradisional yang dekat dengan tempat tinggalnya. Sebagai perempuan yang mandiri, Rein sudah terbiasa melakukan itu semua. Membaur dengan para ibu-ibu yang suka menawar belanjaan, sampai bersinggungan dengan para preman yang seprofesi dengannya. Di saat seperti itu, Rein suka menjadi pahlawan. Entah kenapa dia tidak suka jika ada preman yang melakukan aksi pencurian pada ibu-ibu di pasar tradisional. Ia selalu membayangkan seolah mereka adalah Ibu Wanda—ibu pantinya. Rein merasa tidak tega.


Satu jam Rein habiskan untuk berbelanja bahan makanan. Ia pun mengendarai mobil Daren berniat untuk pulang. Namun, saat di perjalanan ia ingat sesuatu. Rein belum membeli susu. Susu kehamilan yang dibutuhkan oleh anak dalam kandungannya.


Rein menepikan mobilnya di parkiran mini market yang kebetulan dilewati mobilnya. Perempuan itu terlihat santai saat turun dari mobil. Namun, ketika kakinya baru berjalan beberapa langkah dari mobil, cekalan di tangannya membuat tubuh Rein sontak bergeming.


"Halo, Sayang. Kita ketemu lagi."


Glek!


Rein menelan ludahnya. Kedua matanya melebar sempurna kala mendengar suara seseorang yang kini mencekal tangannya. Rein sangat hafal suara itu. Dialah Aska—suaminya. Lelaki yang hendak pergi ke tempat kerjanya itu, kebetulan melihat mobil Daren saat di perjalanan. Aska sengaja membuntutinya, hingga Rein berhenti di minimarket tersebut. Aska tidak sabar untuk menangkap istri bandelnya itu, makanya ini langsung menyergap Rein sesaat setelah perempuan itu turun dari mobil.


Aska menarik tubuh Rein hingga punggung Rein menempel pada badan mobil. Kedua matanya mengunci lekat manik mata Rein yang terlihat gugup. Rein tidak bisa ke mana-mana, lantaran tubuhnya kini diapit oleh kedua tangan Aska.


"Kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, Sayang. Jadi, ke mana pun kamu pergi, aku pasti akan menemukan kamu lagi," tutur Aska. Kedua alisnya turun naik sambil menyunggingkan senyuman genit.


"Le—lepasin, Mas. Kita jadi tontonan orang-orang." Rein berusaha menepis tangan Aska yang mengungkung tubuhnya. Pandangannya melihat ke sekitar. Beberapa orang yang melewati tempat mereka tentu saja melemparkan tatapan penasaran.


"Mana Bian?" Aska tidak peduli, ia malah melontarkan pertanyaan lagi.


Pertanyaan itu tentu menambah rasa terkejut Rein. Dari mana lelaki itu bisa tahu jika Abian tengah bersamanya? Bukannya Abian pergi secara diam-diam?

__ADS_1


"Ma—maksud, Mas, apa? Kenapa nanyain Bian sama aku? Bukannya Bian tinggal sama kamu?" sanggah Rein. Air mukanya terlihat bingung, seolah tidak mengerti apa-apa.


"Kalau kamu nggak mau ngaku, aku cium kamu di sini. Aku sudah melihat CCTV rumah sakit, Bian ikut sama mobil kamu, kan?" ancam Aska sambil sedikit mencondongkan wajahnya. Rein reflek menutup bibir dengan telapak tangannya. Ia merasa tersudutkan. Rein juga tahu jika Aska tidak pernah main-main dengan ancamannya.


"A—aku nggak nyulik dia, Mas. Sumpah! Dia sendiri yang naik mobilnya Daren." Rein mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara. Ia tidak punya pilihan selain mengakuinya. Wajahnya pun terlihat ketakutan, "aku juga udah bujuk Bian, tapi dia nggak mau pulang," imbuhnya menjelaskan.


Aska tersenyum melihat istrinya ketakutan seperti itu. Terlihat lebih manis daripada tingkahnya yang garang, saat mengajaknya bercerai tempo lalu. "Aku bisa saja membebaskan tuduhan itu dari kalian, tapi syaratnya kamu harus mau ikut aku pulang. Tentunya setelah menjemput Bian," ujar Aska memberikan syarat.


Rein terdiam sejenak. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa kabur dari lelaki itu lagi. Sebelah tangannya sudah mengepal kuat. Ia berniat untuk melakukan aksi yang sama seperti waktu itu. Memberikan bogem mentah di perut Aska.


Namun, nahas. Aksi itu ternyata sudah terbaca oleh Aska. Lelaki itu dengan cekatan menahan tinju Rein yang hampir mendarat di perutnya. "Kenapa kamu jadi hobi mukulin aku, sih? Apa kamu lagi ngidam kayak gitu? Kalau benar, mungkin anak kita lagi kangen sama papanya. Udah lama nggak ditengokin juga, kan?" Aska menyeringai menatap wajah Rein. Tangannya dengan kencang menggenggam tangan Rein.


Rein tentu memberontak, bersusah payah melepaskan tangannya tersebut. "Lepasin, Mas! Aku udah bilang nggak mau pulang sama kamu. Anak ini juga bukan anak kamu!" sanggah Rein dengan raut murka. Bukannya tidak suka saat Aska mau mengakui anak tersebut sebagai anaknya, Rein hanya berpura-pura agar lelaki itu membencinya.


Rein menatap lekat wajah Aska dari jarak dekat. Darahnya berdesir kuat kala Aska memeluk pinggangnya. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Aska, tetapi Rein tidak berani untuk mengungkapkannya.


"Sssssh ... aduduh, sakit!" Rein mendesis kesakitan sambil memegang perutnya.


Sontak Aska melepaskan tubuh Rein dan bertanya, "Kamu kenapa? Perut kamu sakit?"


"Iya, Mas. Sakit banget!" seru Rein sedikit membungkuk. Seolah rasa sakit itu terasa menyiksa padahal Rein hanyalah pura-pura.


"Ayo, ke rumah sakit!" Tanpa basa-basi Aska langsung membopong tubuh Rein. Rein sedikit terkejut merasakan tubuhnya seperti melayang di udara.

__ADS_1


"Mobil aku gimana, Mas?" Rein berkata saat tahu tubuhnya dibawa ke mobil Aska.


"Biarin aja! Nanti diambil sama anak buah aku."


"Itu mobil Daren."


"Aku tahu."


"Nanti kalau hilang bagai—" Rein tidak berani melanjutkan kata-katanya, saat tatapan Aska sangat menganggu denyut jantungnya. Tatapan itu mengunus tajam, dan mampu menghentikan denyut jantung setiap orang yang memandang.


Tanpa berkata-kata lagi, Aska pun membawa Rein ke rumah sakit. Terlihat sekali lelaki itu begitu khawatir. Di perjalanan, Rein terus memutar otaknya agar bisa terbebas dari suaminya. Rein terpikir pada Daren, ia pun memberikan pesan singkat kepada lelaki tersebut, agar segera mengambil mobil yang Rein tinggalkan di minimarket tadi. Setelah itu menjemputnya di rumah sakit. Rein berencana untuk kabur lagi.


****


Rencana Rein berjalan sempurna, setibanya di rumah sakit Rein pamit ke kamar kecil. Lama tak kembali membuat Aska jadi curiga. Lelaki itu pun menyusul istrinya.


Ternyata benar, Rein memang tidak pergi ke kamar kecil. Seseorang melihat perempuan itu keluar dari rumah sakit dan mengendarai sebuah mobil. Aska yakin jika mobil itu milik Daren. Tentu saja hal tersebut membuat Aska semakin geram. Kenapa begitu besar keengganan Rein untuk tinggal bersamanya? Bahkan saat perempuan itu tengah mengandung darah daging Aska.


Aska pun bertanya-tanya, kesalahan apa yang dilakukan dirinya pada Rein. Sehingga Rein begitu gigih menolaknya seperti itu, atau mungkin Rein memang tidak pernah mencintainya? Namun, jika benar Rein tidak pernah mencintainya, kenapa perempuan itu bersedia memberikan mahkotanya kepada Aska?


...****************...


... To be continued...

__ADS_1


__ADS_2