
...****************...
...Happy Reading...
...****************...
Sejenak Rein menatap wajah Aska, begitu pun dengan Aska. Tatapan mereka pun terkunci beberapa saat sampai Rein yang memutuskan sepihak. Rein mengalihkan pandangannya pada Abian. Ia tidak mau terpedaya lagi oleh wajah itu.
"Rein," lirih Aska. Kedua matanya masih menatap lekat perempuan yang selama ini dicarinya. Namun, saat pandangannya tertuju pada tangan Rein yang digenggam oleh Daren, tiba-tiba saja hawa panas mendera jantungnya. Darahnya seolah berdesir kuat dengan aliran amarah yang meningkat.
"Tante Rein ke mana aja? Bian dan Om Aska nyariin Tante ke mana-mana," ucap Abian masih memeluk Rein.
Rein sedikit mendorong tubuh Abian sekadar untuk memberikan jarak di antara mereka. Ia menatap wajah polos yang berurai air mata itu. Rasa bersalah pun kembali menyerangnya. Sungguh, pertemuan itu merupakan suatu hukuman yang berat bagi Rein. Ia seperti jatuh dalam lingkaran masa lalu yang membuat hatinya selalu merasakan perang batin.
"Bian, apa kabar? Kenapa kamu berkunjung ke rumah sakit? Siapa yang sakit, Sayang?" Alih-alih menjawab pertanyaan Abian, Rein malah memberikan pertanyaan lain kepada anak tersebut.
"Apa kabar? Kamu pikir itu pertanyaan yang pantas untuk ditanyakan, Rein. Ke mana saja kamu selama ini? Sampai-sampai Abian sering sakit karena memikirkan kamu terus," cibir Aska dengan senyuman miring di sudut bibirnya.
Rein mengalihkan pandangannya dari Abian pada wajah Aska. "Bian sakit?" tanyanya sedikit tercekat. Terpaksa ia menatap wajah Aska dengan lekat. Sebenarnya ada rasa rindu yang begitu berat, tetapi ada rasa bersalah yang membelenggu hati Rein dengan kuat. Seperti ada tembok pemisah di antara mereka berdua. Rein tidak berdaya melawan itu semua.
"Iya, dia selalu bolak-balik rumah sakit lantaran makannya tidak teratur. Dia selalu nanyain kamu," jawab Aska.
"Maafkan Tante, ya, Bian." Rein beralih lagi pada Abian. Tangannya mengusap pipi Abian dengan sayang. Butiran bening yang sudah menumpuk di sudut matanya meluncur tanpa diminta.
"Tante mau pulang, kan?"
Rein tidak bisa menjawab pertanyaan Abian. Dia benar-benar bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Sayang, ayo, pulang! Kamu harus banyak istirahat, biar anak kita sehat."
Perkataan Daren seperti suara petir yang menyambar di siang bolong. Semua tatapan pun tertuju pada lelaki itu. Pun dengan Rein yang mengusung tatapan tajam untuk sahabatnya tersebut. Bisa-bisanya lelaki itu membahas masalah anak di depan Aska. Mungkin saja Aska akan curiga jika anak dalam kandungannya adalah anaknya dia.
"Anak? Kamu hamil, Rein?" Aska yang pertama melontarkan pertanyaan. Tatapannya tertuju pada perut Rein yang terlihat masih datar. Kerutan tajam di keningnya menunjukkan rasa penasaran yang begitu besar.
"Iya, Rein sedang hamil. Anak gue." Bukan Rein yang menjawabnya, melainkan Daren yang sengaja merangkulkan tangannya di leher Rein.
Tentu saja hal itu membuat amarah Aska semakin membumbung tinggi. Kedua matanya memerah dengan rahang yang mengeras ketat. Urat-urat kemarahan tergambar jelas di sana. Kedua tangannya sudah mengepal kuat, merasa gatal ingin memberikan bogem mentah kepada lelaki tidak tahu diri yang sudah berani merebut istrinya itu. Andai saja Aska bukan seorang polisi, mungkin dia akan langsung main hakim sendiri.
"Kita perlu bicara, Rein." Aska menarik tangan Rein, membuat tubuh perempuan itu terhuyung dan mendekat pada Aska. Jarak mereka kini hanya beberapa senti saja. Membuat debaran jantungnya menjadi tidak biasa.
"Maaf, Mas. Ka—kami harus pulang," tolak Rein sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Aska.
"Heh, kalau Rein nggak mau jangan—" Suara Daren terpotong saat Aska menghunuskan tatapan membunuh kepadanya. Aura yang terpancar dari sorot mata itu mampu meruntuhkan keberanian Daren dalam beberapa saat. Lelaki itu sedikit berjingkat, sambil menelan ludahnya dengan kelat.
Demikian juga dengan Rein. Perempuan itu tidak ingin membuat keributan yang membuat mereka jadi pusat perhatian. Posisi mereka yang berada di dekat pintu keluar masuk rumah sakit, membuat perhatian orang lain yang melewatinya kerap melayangkan tatapan penasaran.
"Oke, kita bicara. Tapi jangan di sini," ucap Rein mengalah.
"Tapi, Sap—"
"Bentaran aja, kok. Gue nggak akan kenapa-napa." Rein memberikan pengertian kepada Daren. Lelaki itu merasa khawatir.
"Ayo!" Aska yang tidak sabar segera menarik tangan Rein. Dia juga mengajak keponakannya, "Bian, kamu juga ikut Om."
Aska mengajak Rein dan keponakannya ke parkiran mobil yang berada di rumah sakit tersebut. Tentu saja Daren pun ikut. Dikarenakan Aska ingin berbicara empat mata dengan Rein, Daren diminta menunggu di dalam mobilnya. Abian pun disuruh menunggu di dalam mobil Aska. Rein dan Aska berbicara di dekat mobilnya.
__ADS_1
"Apa benar yang dikatakan lelaki itu, Rein?" Adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Aska pada Rein.
Rein sejenak menatap manik Aska, bibirnya terasa ragu untuk berkata. Namun, otaknya berpikir jika apa yang dilakukan oleh Daren ada baiknya juga. Jika mengakui anak yang dikandungnya adalah anak Daren, mungkin saja Aska akan langsung percaya dan segera menceraikannya.
"I—iya, Mas."
"Brengsek!" umpat Aska. Pengakuan itu tentu membuat emosinya tidak bisa dikendalikan lagi. Kedua tangannya yang sedari tadi mengepal kuat tanpa sadar melayang, dan mendarat di badan mobil tepat di sisi tubuh Rein.
Rein yang terkejut sampai memejamkan matanya. Ia takut jika bogem itu akan menghantam wajahnya. Merasa tidak terjadi apa-apa, Rein perlahan membuka sebelah matanya untuk mengintip keadaan. Kedua matanya terbuka sempurna, lantaran hal yang pertama dilihatnya adalah wajah Aska yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Jadi ini alasan kenapa kamu pergi dari aku? Kenapa, Rein? Kenapa kamu bohongin aku selama ini? Kalau kamu mencintai laki-laki itu, kenapa kamu memberikan harapan palsu?"
Rein mengerjap kaku diberikan rentetan pertanyaan seperti itu. Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengarnya. Ternyata Aska langsung percaya begitu saja. Walaupun itu yang Rein minta, tetapi apakah Aska tidak ingat jika dia adalah lelaki pertama yang berhasil membobol gawang pertahanan milik Rein. Tidakkah lelaki itu curiga dan berpikir ke arah sana?
"Jawab, Rein!" Satu sentakan lagi membuat Rein tersadar. Ia langsung mendorong tubuh Aska agar menjauh darinya.
"Ya, itu benar. Aku memang perempuan seperti itu, dan sekarang kamu sudah tahu, kan? Jadi, tolong ceraikan aku, Mas. Sudah waktunya kita berpisah."
Deg!
Permintaan itu seolah menghempaskan jantung Aska hingga ke dasar jurang. Membuat detaknya sejenak menghilang, dan dunia pun seolah berhenti berputar.
"Sesuai kesepakatan kita sebelumnya. Jika Abian sudah sembuh dari traumanya, kita akan berpisah dan kembali pada kehidupan kita masing-masing. Kamu masih ingat, kan?" sarkas Rein lagi. Sekuat tenaga ia menahan gejolak kesedihan yang mendesak keluar melalui pelupuk matanya. Rein berusaha terlihat tegar di hadapan Aska. Ini semua dia lakukan untuk kebaikan mereka.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
...Selamat pagi, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan yang memberikan like, komentar, dan gift senantiasa diberikan kesehatan. Aamiin 🤲...