
...****************...
Suara gemericik air yang turun dari atap rumah, terdengar berisik di sisi jendela kamar Aska. Hawa dingin yang dihasilkan dari turunnya hujan itu membuat tubuhnya semakin kedinginan. Seolah mampu menembus tulang walaupun dibungkus selimut tebal. Apalagi waktu sudah larut malam.
Hasrat seseorang diuji pada saat seperti ini, apalagi untuk seorang lelaki. Begitupun dengan Aska yang sudah lama tak bertemu dengan sang istri. Rasa inginnya semakin memuncak kala sepoi angin itu seolah menguliti.
Aska menggerakkan tubuhnya saat hawa dingin mulai menguasai. Tanpa sengaja tangannya menempel pada sesuatu yang membuatnya nyaman. Terasa hangat dan lembut. Itu adalah wajah istrinya. Aska pun sontak membuka mata. Dipandanginya wajah itu sambil tersenyum bahagia.
Setelah melewati perdebatan kecil tentang tidur bersama, akhirnya Rein setuju dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Aska tidak boleh melewati guling yang dia jadikan sebagai batas wilayah tempat tidur mereka. Rein melakukan itu karena masih ingin membentengi hatinya. Perempuan keras kepala itu masih bersikeras ingin bercerai dengan Aska, setelah anaknya lahir ke dunia. Aska terpaksa setuju, daripada melihat istrinya tidur di atas tikar berbulu.
Namun, hasrat yang terpendam sejak lama tidak bisa diredam begitu saja. Apalagi hawa dingin membuat moment indah bersama istrinya berputar-putar di kepala Aska.
"Ayo, As. Lakukan saja! Dia itu masih istrimu, dan kamu berhak meminta hakmu." Sisi hitam batin Aska berkata.
Aska menelan salivanya. Tatkala matanya menangkap sesuatu yang mencuat di balik daster yang Rein kenakan. Dua bukit kembar yang saling berdesakan. Satu kancing baju Rein yang tidak sengaja terbuka membuat bukit semakin menampakkan keindahannya. Tangan Aska mulai merambat dari pipi Rein menuju ke sana.
"Jangan, Aska! Nanti istrimu bangun dan marah, bagaimana?" Sisi putih batin Aska mengurungkan niat itu. Tangannya berhenti dan mengambang tepat di atas bukit bersalju.
"Perasaan dulu nggak sebesar ini?" Aska mencocokkan telapak tangannya dengan benda yang berada di bawah naungannya itu. Kepalanya sedikit terangkat untuk mengamati betapa subur bukit permadani yang pernah dia tapaki dulu. Hormon kehamilan membuat tubuh Rein terlihat lebih berisi dan ... seksi.
Merasakan hawa panas yang berembus mengenai pipinya, Rein pun mengerjap dan membuka mata. Betapa terkejutnya dia, kala melihat wajah Aska begitu dekat dengan wajahnya. Begitupun dengan tangan Aska yang mengambang di atas dadanya.
"Kamu mau ngapain, Mas?" pekik Rein. Membuat Aska tercekat dan langsung menarik mundur tangannya.
Rein beranjak duduk dan menarik selimut guna menutupi bagian dadanya yang terbuka. "Kamu mau mencuri kesempatan, ya? Kan, aku udah bilang. Aku nggak bisa, Mas. Aku lagi hamil besar," imbuh Rein sambil melotot tajam.
Aska menghela napas kasar, lalu duduk bersila menghadap istrinya. "Kalau memang alasan tidak bisamu karena kehamilanmu itu, mungkin aku bisa menerima. Aku bisa pelan-pelan melakukannya. Tapi apa kamu yakin alasanmu cuma itu? Alasanmu membuat aku tersiksa, Rein. Sebagai seorang suami aku berhak atas istriku sendiri. Aku ini laki-laki normal. Butuh pelampiasan saat tubuhku menginginkan pelepasan. Sudah lama aku menahan itu semua agar tidak melakukan dosa. Apa aku salah, saat tubuhku bereaksi saat bertemu dengan istriku lagi?"
Rein terdiam mendengarkan penuturan panjang Aska. Lebih tepatnya melontarkan segala unek-uneknya selama ini. Aska pasti menderita karena selalu menahan hasratnya. Rein tahu jika suaminya mempunyai tingkat kemesuman di atas rata-rata jika berada di dekatnya.
"Makanya kamu cepat ceraikan aku, Mas! Kamu bisa mencari perempuan lain untuk memuaskan hasratmu itu."
__ADS_1
"Cukup, Rein! Aku tidak mau membahas itu. Sekarang tidurlah! Kalau kamu takut aku berbuat macam-macam lagi, biar aku tidur di lantai saja." Aska marah, lebih tepatnya kecewa. Rein tidak sedikit pun merasa terenyuh dengan penderitaannya.
"Tapi, Mas—"
Tangan Aska yang terangkat membuat Rein berhenti berkata. Wajah dingin Aska melebihi suhu dingin di ruangan itu, membuat hati Rein sedikit ngilu. Namun, apa boleh buat. Rein harus jahat agar dirinya tidak kembali terperangkap.
*****
Sudah seminggu Aska tinggal dan bertugas di tempat kelahirannya. Selama itu pula Rein masih menjaga jarak dengan Aska. Aska masih sabar menunggu. Ia yakin Rein hanya butuh waktu.
"Udah selesai, Bah, panen ikannya?" Ranti menghampiri suaminya yang berada di tepi kolam. Bahar tengah memeriksa hasil timbangan dari ikan-ikan yang disetorkan oleh anak buahnya beberapa saat lalu.
"Udah, Ambu," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari catatan di tangannya.
"Dapat banyak, nggak?"
"Banyak banget malah," jawab Bahar, tetapi tidak menunjukkan wajah senang.
Bahar mendongakkan pandangannya dari catatan ke wajah istrinya. "Dapat banyak mah Alhamdulillah, tapi Abah teh masih bingung ini."
"Bingung kenapa?" Ranti mengernyitkan kening menatap wajah suaminya.
"Dulu abah nebar bibit ikan lele ini cuma 300 ekor, tapi kenapa sekarang malah jadi 400 ekor? Seratusnya dari mana, ya? Tiap abah ternak lele selalu kayak gitu. Abah jadi bingung." Bahar menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Gitu aja, kok, dibingungin. Mereka, kan, pasang-pasangan. Pasti berkembang biak, atuh, Abah," dengus Ranti.
"Eh, kata siapa mereka pasang-pasangan, Ambu? Ikan lele itu jantan semua," celetuk Bahar yang berhasil membuat Ranti ternganga seketika.
"Abah tahu dari mana mereka jantan semua? Emangnya Abah periksa satu-satu kitu?" Ranti semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya tersebut.
Bahar mendengkus sambil mencebikkan bibir. "Ngapain diperiksa satu-satu, atuh. Dari kumisnya aja Abah udah tahu, kalau ikan lele itu jantan semua. Ambu tingali abah! Abah juga kumisan, kan? Abah, kan, jantan."
__ADS_1
"Astaghfirullah, Abaaaaaaah!" pekik Ranti. Membuat Bahar sontak menutup telinganya sendiri.
"Ari Ambu, teh, kunaon? Teriak-teriak kayak orang stress aja."
"Iya, lama-lama Ambu bisa stress dengerin Abah ngomong."
"Memangnya Abah salah ngomong apa, atuh, Ambu?" Kedua alis Bahar bertaut, menandakan kebingungannya. Wajahnya terlihat polos tanpa dosa.
"Ya, tadi. Ikan lele jantan semua karena mereka kumisan. Abah dapat dari mana teori kayak gitu? Dengerin, ya, Bah. Kalau kelamin ikan lele diprediksikan dari kumisnya, udah lama itu ikan lele musnah dari peradaban dunia. Emang Abah pernah lihat ikan lele yang nggak ada kumisnya, hah? Semuanya ada," papar Ranti. Ia menjelaskan dengan emosi yang meledak-ledak.
"Iya, juga. Berarti abah salah, atuh, ya?" Bahar terkekeh menunjukan deretan giginya yang masih utuh di usianya yang sudah tua.
Ranti tidak menjawab. Ia hanya mendelikkan mata sambil menghela napas kasar. Menghadapi suaminya itu harus banyak-banyak sabar.
Hening sesaat untuk sekadar meredam emosi yang mencuat. Ranti berjalan menuju saung yang berada di dekat kolam, dan diikuti oleh Bahar.
"Eh, Mbu. Gimana perkembangan si Rein. Apa dia masih menghindari anak kita?" Bahar bertanya setelah yakin istrinya tidak lagi marah.
"Katanya mah masih, Bah. Rein itu perempuan yang berpendirian kuat. Ambu jadi kasian sama si Aska." Ranti berucap lirih. Mengasihani anaknya yang selalu terlihat sedih.
"Gimana kalau kita bikin rencana buat satuin mereka berdua. Abah mah yakin kalau si Rein juga masih cinta sama si Aska."
Bahar langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Ranti, lalu membisikkan rencananya di sana. Ranti pun menoleh menatap wajah Bahar. Sejenak berpikir, hingga senyum mengembang pun tercetak di bibirnya.
"Tumben Abah pinter," ucapnya sambil menekan kedua pipi Bahar dengan telapak tangan. Wajahnya terlihat senang.
...****************...
...to be continued...
...Hayo, siapa yang belum tahu kalau ikan lele jantan semua karena kumisnya 🤣🤣...
__ADS_1
^^^Jangan lupa tekan tombol like dan komentar, ya ^^^