Pencuri Hati

Pencuri Hati
Kenapa?


__ADS_3

...****************...


Rein termangu menatap kondisi sahabatnya. Tubuh kekar yang selama ini jadi pelindungnya itu, kini terbaring lemah tidak berdaya. Padahal semalam mereka masih baik-baik saja, tetapi kini semuanya sudah berbeda. Rein tidak kuasa menahan air matanya. Apalagi saat mengingat status Daren yang masuk jadi DPO (Daftar Pencarian Orang) petugas kepolisian. Rein tidak tahu kasus apa yang menjerat Daren. Jika kasus perampokan, mungkin nama Rein juga terdaftar dalam DPO tersebut. Rein harus berhati-hati. Jangan sampai dirinya bertemu dengan sang suami. Mungkin saja dirinya adalah target berikutnya setelah Daren.


Mungkin memang sudah saatnya mereka mendapatkan hukuman atas kejahatan mereka selama ini, tetapi Rein masih belum siap menerimanya. Terlebih ada anak di dalam rahimnya. Rein tidak mau masuk penjara.


"Lo harus sembuh, Ren. Gue janji bakalan wujudin keinginan lo. Setelah lo bebas nanti, gue bakalan jemput lo. Kita akan jalanin usaha bengkel dan restoran kita bareng-bareng," ucap Rein di sela isak tangisnya.


"Maaf, gue nggak bisa nemenin lo. Gue emang pengkhianat dan nggak setia kawan, tapi lo pasti ngerti sama kondisi gue sekarang. Gue nggak mau anak gue lahir di penjara, Ren. Gue harap lo mau maafin keegoisan gue. Gue sayang sama lo, Ren." Meskipun Daren tidak dapat mendengarnya, Rein tetap saja berkata-kata. Air matanya mengalir tanpa henti. Rein menyekanya berkali-kali.


*****


Di sisi lain, di parkiran rumah sakit. Aska bergegas turun dari mobilnya. Berjalan setengah berlari untuk mencapai ruangan ICU tempat Daren dirawat. Namun, saat tubuhnya mencapai lobi rumah sakit, langkahnya tiba-tiba tertahan manakala ada seseorang yang memanggil namanya. Dia adalah dokter yang bertugas merawat Daren.


"Ada apa, Dok?" tanya Aska penasaran. Hatinya begitu tidak tenang. Tatapannya selalu tertuju pada pintu lift yang bisa membawanya ke lantai atas. Tempat Daren berada. Ia berharap, Rein adalah salah satu penumpang lift yang keluar dari pintu tersebut.


"Maaf, Pak. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan tentang kondisi pasien yang bernama Daren," ucap Dokter yang bernama Dokter Mala.


Aska ingin sekali menolak perbincangan tersebut, tetapi sebagai seorang polisi yang bertanggung jawab dengan tahanannya, Aska pun bertanya, "Kenapa dengan dia, Dokter? Apa kondisi pasien baik-baik saja?"


"Kita bisa bicara di ruangan saya saja, Pak."

__ADS_1


Aska menghela napasnya, berusaha meredam keresahan yang merasuk dalam jiwanya. Demi tugas, Aska harus mengesampingkan kepentingan pribadinya terlebih dahulu. Dengan terpaksa ia mengikuti Dokter Mala ke ruangan kerjanya.


"Pasien mengalami luka yang cukup parah di kepalanya, dan sekarang dia mengalami hematoma atau pembekuan darah di dekat tulang tengkorak. Pasien juga mengalami pendarahan fatal yang menyebabkan sel-sel otaknya tidak berfungsi sebagian. Jadi ... dengan berat hati saya katakan, sepertinya pasien sangat sulit untuk diselamatkan, Pak." Dokter Mala menjelaskan sambil memperlihatkan hasil CT scan milik Daren. Dengan sangat menyesal dokter cantik tersebut menyatakan kondisi Daren yang menyedihkan. Ia harus jujur jika medis tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan pasiennya tersebut. Hanya keajaiban Tuhan yang mampu membuat pasien kembali tersadar.


"Apa tidak ada cara untuk membuatnya kembali sadar, Dok?" tanya Aska.


"Kita bisa melakukan operasi, tapi kemungkinan berhasil sangatlah kecil, karena bukan hanya bagian kepala pasien yang mengalami kerusakan, melainkan seluruh bagian tubuhnya juga terdapat luka yang sama seriusnya. Sepertinya pasien mengalami penyiksaan yang begitu berat, sehingga tubuhnya seperti terkoyak," papar Dokter Mala.


Aska berpikir sejenak, sebelumnya kembali melontarkan kalimatnya, "Lakukan yang terbaik menurut pihak medis saja. Walaupun dia termasuk ke dalam DPO yang meresahkan masyarakat, ia masih makhluk Tuhan yang mesti diselamatkan. Apa pun hasilnya, mungkin itu adalah takdir dari tersangka. Sebagai petugas negara, kami hanya menjalankan tugas kami saja."


Dokter Mala tersenyum mendengar kebijaksanaan seorang Aska. "Baiklah kalau begitu, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien," ucapnya penuh rasa bangga.


*****


Di saat yang bersamaan, Aska yang sudah selesai berbicara dengan Dokter Mala berjalan menuju ruangan Daren. Firasatnya masih kuat jika Rein pasti mengunjungi sahabatnya tersebut. Aska tahu Rein itu sangatlah pintar. Perempuan itu pasti bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Daren, setelah melihat rumahnya terbakar.


Rein sejenak menghentikan langkah, saat kedua netranya menangkap sosok gagah berjalan le arahnya. Tentu saja itu adalah Aska. Rein yang mengenakan topi langsung menurunkan topinya untuk menghalangi wajah. Kepalanya sedikit menunduk saat berpapasan dengan lelaki itu.


Helaan napas lega terlontar ke udara, manakala Rein bisa melewati Aska tanpa rasa curiga. Ia kembali berjalan tegak seperti sebelumnya. Membelakangi Aska yang berjalan berbeda arah dengannya.


"Tunggu!"

__ADS_1


Rein tersentak saat mendengar suara Aska. Entah berbicara pada siapa, tetapi Rein merasa kata itu mengarah kepadanya. Namun, Rein berpura-pura tidak mendengar dan tetap melanjutkan langkahnya. Bergerak sedikit cepat, saat ada langkah yang mendekat.


"Rein!"


Aska menyentuh bahu Rein, membuat perempuan itu sedikit berjingkat. Ia tidak menyangka jika penyamarannya begitu mudah diketahui oleh Aska. Hanya berpapasan sejenak, Aska bisa langsung mengenali istrinya.


Rein yang tidak mau tertangkap sontak memberontak. Tangannya yang lincah langsung memiting tangan Aska, dan mendorongnya dengan keras. Aska tersungkur ke lantai, sedangkan Rein langsung melarikan diri.


"Rein, tunggu!" Teriakan Aska tidak digubris sama sekali, Rein terus saja berlari.


Melihat atasannya ada yang menyerang, kedua petugas yang berjaga di depan ruangan Daren pun berlari mendekati Aska. "Cepat kejar perempuan tadi!" titah Aska pada kedua anak buahnya. Lalu ia juga ikut mengejar istrinya.


Rein berlari tanpa menoleh ke belakang, tujuannya adalah mobil curian yang sengaja ia parkir di bahu jalan. Rein sengaja memarkirkan mobilnya di sana, agar bisa lebih mudah kabur saat dia ketahuan. Rein sudah memprediksi hal itu.


"Rein ... ah, sial!" Aska melayangkan tinjunya ke udara lantaran tidak bisa menghentikan mobil Rein yang melesat di jalanan. Kedua anak buah Aska juga sama. Mereka hanya bisa menatap bayangan mobil Rein sampai menghilang dari pandangan.


"Kita kejar pake mobil, Pak," usul salah satu anak buah Aska.


"Nggak usah, mobil kita ada di parkiran dalam. Tidak mungkin untuk mengejar mobil itu," tolak Aska sambil mengatur napasnya. Keningnya berkerut dalam seperti memikirkan sesuatu. Di kepalanya berputar banyak pertanyaan. Kenapa Rein begitu takut kepadanya? Kenapa Rein selalu mengindarinya? Bahkan Rein tidak memberikan kesempatan Aska untuk berbicara. Kenapa?


...****************...

__ADS_1


...to be continued...


__ADS_2