
...****************...
Siang itu begitu terik, hingga panasnya sinar mentari terasa membakar kulit. Rein menepikan mobil curiannya di dekat gang perumahan Aska. Ia berniat untuk mengantarkan Abian pulang ke rumah omnya tersebut.
Semalam, mereka dikejar oleh musuh Daren. Ternyata di antara mereka ada yang melihat Rein dan Abian kabur lewat jalan belakang. Tujuan preman itu bukan hanya balas dendam, melainkan ingin mengambil uang mereka yang dicuri oleh Daren. Melihat tas besar yang dibawa oleh Rein, mereka pun berpendapat Rein kabur membawa uang tersebut.
Bukan Rein namanya, kalau ia tidak bisa melarikan diri dari pengejaran para preman. Keahliannya dalam menyetir mobil tidak ada tandingan. Perempuan itu berhasil mencuri mobil yang tengah parkir di bahu jalan.
"Pokoknya Bian nggak mau pulang, kalau Tante nggak ikut pulang juga." Abian tidak mau bergerak dari tempatnya. Padahal sudah satu jam mobil mereka bertengger di bahu jalan.
"Bian, tante mohon kamu ngerti. Tante sama om kamu itu udah nggak mungkin bersama lagi. Kami itu udah kayak langit dan bumi. Kamu juga udah tahu kalau tante adalah perampok yang pernah menyambangi rumah kamu, dan menyebabkan papa kamu meninggal. Kenapa kamu masih saja mau bareng sama tante? Harusnya kamu benci sama tante, Bian!"
Kalimat panjang lebar itu Rein luapkan penuh emosi. Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk Abian. Mungkin dengan bersikap kasar, Abian bisa sadar.
Namun, bukannya ketakutan, Abian malah memeluk tubuh Rein dengan kencang. "Bukannya dulu Tante pernah bilang, jika Bian nggak bisa melupakan, maka Bian harus mencoba untuk mengikhlaskan. Bian udah ikhlas dengan kepergian mama dan papa, tapi sekarang Bian nggak mau kehilangan tante juga," ucap Abian tergugu dalam pelukan Rein. Air mata pun mengalir deras membasahi baju bagian depan milik Rein.
Rein menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Sekuat tenaga ia menahan desakan hangat di pelupuk matanya. Ia tidak boleh lemah dengan air mata Abian. Tinggal bersamanya untuk saat ini adalah sebuah kesalahan. Bahaya tengah mengancam mereka, dan Rein tidak mau Abian terlibat lebih jauh dengan buah dari kejahatan yang pernah ia lakukan.
"Kalau gitu kamu harus ikhlasin tante buat pergi dari hidup kamu juga, Bian. Tante bukan siapa-siapa kamu, Sayang," ucap Rein dengan nada lebih lembut, sembari mendorong tubuh Abian sekadar untuk menatap wajah anak itu dengan lekat.
Kedua mata yang berderai air mata itu mengerjap polos. Balik menatap lekat wajah Rein. Kepalanya pun menggeleng. "Bian nggak mau, Tante. Bian udah nganggap Tante seperti Tante Bian sendiri. Mending Tante ikut Bian pulang ke rumah Om Aska. Di sana lebih aman, lagipula Tante sedang hamil. Om Aska akan menjaga Tante dan anaknya dengan baik. Bian yakin itu, Tante."
__ADS_1
"Nggak semudah itu, Sayang. Tante tahu kamu belum menceritakan kejadian sebenarnya pada Om kamu, kan?" Rein bertanya tentang kejadian perampokan yang menyebabkan orang tua Abian meninggal.
Abian menggigit bibir bawahnya sambil menganggukkan kepala. Mengiyakan pertanyaan Rein.
"Maafkan, Tante, Bian. Mungkin tante egois. Harusnya tante dihukum atas kejahatan itu. Tapi jika nanti Om kamu tahu, pasti tante akan masuk penjara, lalu walaupun suatu saat tante bisa bebas, sampai kapan pun tante akan dicap sebagai seorang mantan narapidana. Anak ini pasti akan membenci ibunya. Jejak kejahatan itu akan terus membekas dalam ingatan dia. Tante nggak mau dibenci oleh anak tante sendiri. Kamu ngerti, kan, Bian?"
"Om Aska nggak mungkin sejahat itu, Tante. Dia nggak akan ngebiarin istrinya masuk penjara!" tukas Abian.
"Om kamu itu polisi, Bian. Apa kamu lupa? Dia adalah orang yang taat hukum. Bagi dia, semua kejahatan harus ada hukumannya. Kamu tahu sikap om kamu seperti itu, kan? Jadi, tante mohon mengertilah! Biarkan tante pergi! Lagipula tante harus tahu bagaimana keadaan Om Daren sekarang. Apa dia bisa lolos atau tertangkap oleh para preman itu?"
Abian terdiam. Mungkin mengingat bagaimana sikap tegas Aska selama ini. Lelaki yang berprofesi sebagai abdi negara itu memang kerap tidak pandang bulu, jika mengusut sesuatu.
...****************...
Namun, saat mobil Aska masuk pekarangan rumahnya. Lelaki itu dibuat terkejut lantaran melihat Abian tengah duduk di kursi teras depan, dengan ditemani seorang perempuan. Namun sayang, perempuan itu bukan Rein, melainkan Asti. Mereka sengaja menunggu di depan rumah, karena pintu rumah Aska terkunci.
Aska bergegas keluar dari mobilnya dan menghampiri Abian di sana. Belum sampai Aska menghampiri, Abian pun langsung lari menghambur tubuh Aska.
"Bian, kamu pulang sama siapa?" tanya Aska sambil sedikit mendorong tubuh Abian. Aska berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka, agar wajah mereka saling berhadapan.
Mata sembab anak itu kembali mengeluarkan air mata. Sambil sesegukan ia pun menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"As, tolong jaga Bian sebentar!" Aska berkata kepada Asti setelah selesai mendengarkan penjelasan dari Abian. Abian mengatakan jika Rein pergi mencari Daren.
"Kamu mau ke mana lagi, Mas? Istirahat dulu, wajah kamu udah keliatan capek gitu," seru Asti khawatir.
"Aku mau susul Rein. Aku tahu dia akan pergi ke mana."
...****************...
Di lorong rumah sakit tempat Daren dirawat, Rein berjalan sambil mendorong alat kebersihan. Ia tengah menyamar menjadi petugas kebersihan. Beberapa saat yang lalu, Rein mendatangi rumah Daren. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat rumah Daren sudah rata dengan tanah. Hanya tinggal puing-puing bangunan yang sebagian sudah menjadi arang. Di sekeliling rumah itu pun terlihat police line terbentang panjang.
"Semalam rumah ini ada yang bakar, Mbak. Kayaknya ada seseorang yang luka parah, terus dibawa sama polisi ke rumah sakit." Begitulah penuturan seorang laki-laki yang menghampiri Rein. Lelaki itu tiba-tiba menjelaskan, lantaran mengira Rein adalah salah satu keluarga dari si empunya rumah. Kebetulan lelaki itu melihat saat tim pemadam kebakaran dan polisi mengevakuasi tempat tersebut.
Rein segera meluncur ke rumah sakit terdekat, karena menurut penjelasan lelaki tadi, orang yang dibawa berjenis kelamin laki-laki, dan ciri-cirinya seperti Daren.
Rein bertanya kepada resepsionis tentang pasien yang bernama Daren. Sang resepsionis memberikan jawaban yang mengejutkan bagi Rein. Daren dinyatakan sebagai DPO yang tertangkap oleh polisi.
"Pasien dijaga ketat oleh petugas, jadi kalau Mbak mau menjenguk, harus lapor dulu pada yang berjaga di sana." Petugas yang berjaga di bagian pendaftaran itu menjelaskan, saat Rein berkata ingin menjenguk keluarganya yang bernama Daren. Oleh karena alasan itu pula Rein menyamar menjadi petugas kebersihan. Di tidak mau identitasnya ketahuan.
"Permisi, Pak. Saya mau membersihkan ruangan."
Tanpa rasa curiga, petugas yang berjaga di depan ruangan Daren pun mempersilakan Rein masuk. Berbekal alat kebersihan dan baju seragam kebersihan rumah sakit tersebut, Rein dengan mudah mengelabui mereka. Jangan ditanya bagaimana Rein bisa mendapatkan semua peralatan tersebut. Sebagai pencuri ulung, hal itu sangatlah mudah bagi Rein.
__ADS_1
...****************...
...to be continued...