
...Happy Reading...
...****************...
Mobil curian yang dikendarai oleh Rein memasuki wilayah pinggiran kota. Banyak pemukiman kumuh yang berdiri serampangan di sana. Rein masuk ke sebuah gang yang di sisi sebelah kanannya adalah sungai. Hati Rein sedikit ketar ketir melihat aliran air yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya bisa menghanyutkan. Peristiwa kecelakaan yang dia alami tempo lalu masih menyisakan trauma yang dalam. Kini, ia takut jika melihat aliran sungai.
Rein tiba di sebuah rumah yang memiliki halaman luas di depannya. Rumah itu sedikit tertutup oleh tembok pembatas yang tinggi mengelilinginya. Ada sebuah bengkel di bagian depan rumah tersebut.
Rein memarkirkan mobilnya di halaman depan bengkel, lantas segera keluar ketika ia melihat sosok lelaki tengah berdiri di dalam bengkel sambil bertolak pinggang. Lelaki itu menatap kedatangan mobil yang tidak dikenalinya dengan tatapan waspada. Rein tersenyum bahagia, bahkan air matanya sudah membendung saking terharunya. Ia menangis bahagia melihat sahabatnya yang masih dalam keadaan bugar pasca kecelakaan, karena Rein menyangka sahabatnya sudah meninggal.
"Daren!" teriak Rein setelah keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa. Bahkan ia lupa untuk menutup pintu mobilnya.
"Sapi," gumam Daren sambil menurunkan tangannya dari pinggang.
Rein langsung berlari dan menghambur memeluk tubuh Daren.
Daren sama terkejutnya dengan Rein. "Lo masih hidup? Gue nggak lagi mimpi, kan?" Daren bertanya sambil merelai pelukan Rein. Menatap Rein dengan raut terkejut.
"Aduh, sakit!" Daren mengaduh mendapatkan pukulan keras di lengannya oleh Rein.
"Nah, itu lo kerasa sakit. Berarti lo nggak mimpi. Gue masih hidup, dan gue seneng ternyata lo masih hidup juga," seloroh Rein. Ia kembali memeluk sahabatnya. Keduanya saling berpelukan untuk menuntaskan rasa kerinduan yang sempat menyapa. Rein sudah menganggap Daren seperti kakaknya, begitupun sebaliknya. Daren dan Rein pernah sepakat, jika di antara mereka tidak boleh ada cinta. Karena jika cinta mereka tidak terbalas, nasib persahabatan mereka pasti akan nahas.
"Gue juga seneng lo masih hidup, Sap. Tapi Marvel ...."
Wajah yang tadinya berbinar langsung meredup seketika. Kematian Marvel membuat Daren seperti kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
"Gue juga sedih saat Bu Wanda bilang begitu." Rein menunduk sedih. Air matanya pun tidak bisa dibendung lagi.
"Lo udah ke panti?" tanya Daren mengalihkan rasa sedih yang melingkupi atmosfer di sana.
Rein mendongak lalu menganggukkan kepalanya. "Udah," jawabnya. "Gue mau bilang makasih juga, karena lo udah gantiin gue jagain mereka saat gue nggak ada," ucap Rein sambil mengembangkan senyum, walaupun sisa air mata masih membasahi pipi mulusnya.
"Nggak usah bilang makasih, gue juga bagian dari panti. Sejak kecil gue udah yatim piatu, dan Bu Wanda selalu welcome kalau gue datang ke sana. Jadi udah tugas gue buat bantu mereka juga. Apalagi saat sapi perahnya nggak ada," tutur Daren sambil tertawa kecil meledek Rein. Bukan tanpa alasan Daren selalu memanggil Rein sebutan "Sapi".
__ADS_1
Selain nama panjang Rein yang mendekati nama itu, Daren selalu menyamakan Rein dengan sapi perah yang tidak pernah lelah mencari nafkah. Rein bercita-cita untuk membelikan sebuah rumah untuk keluarga panti, karena rumah yang sekarang mereka tempati adalah rumah kontrakan yang Rein bayar setiap enam bulan sekali. Uang yang ia kumpulkan dari hasil mencuri belum cukup untuk membeli sebuah rumah yang dia inginkan.
"Sialan, lo. Gue bukan sapi perah. Gue bekerja keras karena pengin ngasih mereka tempat tinggal yang nyaman dan tenang. Tanpa takut adanya sengketa lahan lagi kayak dulu," cicit Rein. Ia pura-pura merajuk dengan bibir mengerucut.
Daren pun tergelak. "Iya, iya. Masuk, yuk!" ajak Daren. Rein mengangguk setuju. Namun, sekilas perhatian Daren tertuju pada mobil yang di bawa Rein ke rumahnya. "Itu mobil siapa?" tanyanya kemudian. Membuat Rein urung melangkah, lalu membalikkan badan ke arah mobil yang terparkir di halaman.
"Dapat nemu di jalan," jawab Rein dengan kiasan.
"Kirain kemampuan lo ikut hanyut kebawa sungai," kelakar Daren sambil tertawa sumbang.
"Nggak, lah. Itu bakat terpendam yang sayang kalau dihilangkan." Rein pun ikut tertawa. Ia belum berpikir tentang dosa, "lo nggak jadi ngajak gue masuk? Gue haus, nih!" seru Rein sambil mengusap lehernya sendiri.
"Jadi, dong. Lo mau minum apa? Di rumah gue cuma ada air putih." Daren berkata sambil merangkul tubuh Rein, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Ck, kalau cuma ada air putih, ngapain lo nawarin mau minum apa?" decak Rein.
Daren tertawa. "Basa-basi aja," katanya.
...***...
Rein terdiam sejenak saat Daren memintanya untuk bercerita. Menarik napas panjang, Rein pun mulai menceritakan semuanya. Tidak ada yang Rein lewatkan. Rein menceritakan semuanya termasuk pernikahannya dengan Aska.
"Hah? Jadi lo udah nikah sama anak dari orang yang udah nolongin lo? Itu namanya namanya pemaksaan, dong. Kagak ikhlas mereka nolongin lo. Lo bego banget, si! Mau aja disuruh nikah!" Daren terkesiap dan langsung mencecar Rein.
"Lo dengerinnya cerita gue nggak, si? Gue udah bilang terpaksa, Daren. Ter-pak-sa, bukan dipaksa." Rein mengeja ucapannya penuh penekanan.
"Sama aja." Daren berdecak lagi.
Rein menghela napas, ia membayangi wajah Abian. "Gue kasian sama anak itu. Dia yatim piatu saat umurnya masih kecil. Sama kayak gue. Lagian gue sama om dia udah bikin kesepakatan, kok. Kalau Bian udah bisa hidup normal kayak dulu, gue dan omnya bakalan pisah."
Embusan napas Daren terlontar kasar. Sahabatnya itu memang terlalu naif dan tidak tegaan. "Terus gimana sama profesi kita? Lo mau berhenti jadi pencuri?" Daren bertanya serius.
"Nggak, lah. Lo lupa sama mobil yang gue bawa?"
__ADS_1
Daren menarik sudut bibirnya. Benar juga, Rein datang ke rumahnya dengan mobil curian. Itu artinya pernikahannya tidak berpengaruh pada profesi yang sudah mereka lakoni sejak lama.
"Kami sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Walaupun ...."
"Walaupun apa?" Daren penasaran karena melihat wajah Rein terlihat gusar.
Rein menatap Daren sambil mengerjap gugup. Bibirnya ragu untuk mengakui jika suaminya adalah seorang polisi. "Walaupun dia nggak tahu kalau gue adalah pencuri," kelit Rein tidak sepenuhnya berbohong. Ia belum siap mengatakan tentang profesi suaminya. Entah reaksi apa yang akan Daren berikan kepadanya. Mungkin saja sahabatnya itu akan langsung menyuruh Rein untuk meninggalkan Aska dan keponakannya.
"Eh, jam berapa sekarang?" tanya Rein. Ia teringat akan Abian. Anak itu pulang sekolah sekitar pukul dua belas siang. Jadi Rein harus sudah sampai rumah sebelum Abian pulang. Beruntung di sekolah Abian ada fasilitas jemputan pelajar, jadi Rein tidak perlu repot untuk menjemputnya ke sekolah.
"Jam setengah sebelas." Setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Daren menjawab pertanyaan Rein.
"Gue harus balik. Sebelum Bian nyampe rumah, gue harus udah sampe duluan." Rein berdiri dari duduknya. Lantas menyampirkan tas kecil yang dia bawa di pundaknya.
"Lo mau pulang bawa mobil itu lagi?" tanya Daren.
"Nggak, lah. Lo urus mobil itu seperti biasa. Mungkin pemiliknya udah lapor polisi. Kalau gue bawa pulang, bunuh diri namanya. Lo anterin gue sampe jalan besar aja! Gue mau naik bus, sekalian mau operasi. Gue nggak punya HP sekarang." Rein berkata sambil melebarkan senyumnya. Daren mengerti, ia pun tersenyum geli.
"Dasar maling!" umpatnya menyindir diri sendiri.
***
Waktu berputar sesuai masanya. Langit yang tadinya terang benderang, kini sudah menggelap. Malam pun tiba, Aska juga sudah pulang dari bertugas kelilingnya. Sebenarnya hari ini Aska tidak kebagian bertugas keliling, tetapi sebagai abdi negara, rasanya tidak betah jika hanya berdiam diri di rumah saja. Terlebih sekarang ada Rein. Sebisa mungkin Aska berusaha untuk menghindar agar tidak berduaan saja bersama istrinya tersebut di rumah.
"Rein, saya mau tanya sesuatu." Aska bertanya ketika mereka sedang makan malam.
"Tanya aja," sahut Rein sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Tadi pagi ada kasus pencurian mobil di sekitar jalan yang kamu minta berhenti. Apa kamu tidak melihat sesuatu yang mencurigakan saat kamu ada di sana tadi pagi?"
"Uhuk!" Rein langsung tersedak makanannya sendiri. Ia menyahut gelas yang disodorkan oleh Abian kepadanya, lalu meminumnya dengan cepat. Rein terkesiap dengan pertanyaan Aska. Ternyata menjadi istri polisi bakal semenakutkan ini. Baru sekali mencuri, tetapi sudah dibuat was-was setengah mati.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...
...Dukung karya author dengan klik tombol like, ya. Apalagi kasih komentarnya, bikin author tambah semangat nulis 😍...