
...****************...
Merasa tidak dikejar dan keadaan sudah aman, Rein mengemudikan mobilnya lebih pelan. Ia mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Rein merasa seperti dikejar setan.
"Gila! Mas Aska udah kayak setan aja, di mana-mana ada," dengus Rein yang tanpa sadar merutuki suaminya sendiri. Ia seka keringat dingin yang mengalir di keningnya. Lantas mengambil air mineral yang berada di dasbor mobil, kemudian meminumnya sampai habis setengah botol.
"Maafin mama, ya, Sayang! Mama terpaksa jauhin kamu dari papa kamu. Suatu saat nanti, kamu pasti ngerti, Nak." Rein bermonolog sendiri sambil mengusap perutnya yang masih rata. Berharap sang anak bisa mendengarnya.
Saat menemukan pertigaan, Rein membelokkan setir kemudinya ke arah kanan. Mobil itu pun melaju tanpa hambatan. Tujuan Rein sekarang adalah panti asuhan.
...*****...
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Waalaikumsalam ... Rein." Bu Wanda yang tengah menyiram tanaman kesayangannya sedikit terkejut melihat kedatangan Rein. Senja sudah menyapa di ufuk barat. Menggantikan sinar mentari yang perlahan mendarat. Rein tahu di waktu seperti itu Bu Wanda sudah pulang dari warung tempatnya berjualan. Maka dari itu, Rein datang sebelum malam menjelang.
Rein meraih telapak tangan Bu Wanda untuk ia kecup punggung tangannya. Seulas senyuman tercetak manis di bibirnya. Walaupun pikirannya sedang kalut, ia tetap menyunggingkan senyuman tulus di bibirnya untuk perempuan yang sudah merawatnya selama ini.
"Kamu ke mana aja, Nak? Sebulan ini suami kamu udah berkali-kali ke sini nyariin kamu. Ibu udah nggak bisa berbohong lagi. Sepertinya dia benar-benar kehilangan kamu, Nak. Sebenarnya kalian itu ada masalah apa? Kenapa kamu nggak mau pulang juga?" tanya Bu Wanda sambil menggiring tubuh Rein ke kursi tamu yang ada di teras depan rumah panti.
Selama ini Rein selalu berkata kepada ibu pantinya, jika hubungan rumah tangganya tengah dilanda masalah, sehingga Rein memutuskan pergi agar mereka saling introspeksi. Bu Wanda percaya begitu saja, lalu jika Aska berkunjung dan bertanya tentang keberadaan Rein, Bu Wanda akan berbohong jika Rein tidak pernah pulang ke panti asuhan. Padahal Rein sering berkunjung untuk sekadar memberikan jatah bulanan dan melepaskan rasa kangennya kepada penghuni panti tersebut.
__ADS_1
"Maafkan Rein, Bu. Selama ini Rein nggak pernah jujur sama Ibu. Sekarang, Rein ke sini mau mengatakan yang sebenarnya. Tentang semua yang Rein rahasiakan selama ini dari Ibu." Rein menggigit bibir bawahnya. Sejenak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Tekad di hatinya sudah bulat untuk mengungkapkan pekerjaannya yang sebenarnya. Sudah waktunya Rein melakukan pengakuan dosa.
"Kenapa, Rein? Kenapa wajah kamu kayak tegang gitu? Apa yang kamu rahasiakan, sampai-sampai kamu kayak ketakutan gini?" Bu Wanda merasa penasaran sekaligus kasihan. Ia pegang kedua telapak tangan Rein yang sedikit gemetar. Seolah memberikan kekuatan kepada anaknya agar tetap tenang.
"Maafkan, Rein, Bu!" Rein menangis histeris sambil memeluk tubuh Bu Wanda. Diperlakukan lembut seperti itu malah membuat hatinya mencelos lemah. Ia tidak tega melihat sang ibu yang nantinya akan kecewa dengan perbuatan jahatnya. Ibu mana yang tidak akan terluka, saat dibohongi oleh anaknya dalam waktu yang lama.
"Rein ... tenangin dulu diri kamu, ya! Kalau kamu nggak bisa cerita sekarang, nanti aja kalau hati kamu sudah tenang," ucap Bu Wanda sambil mengelus punggung Rein dengan lembut.
Rein mengurai pelukan mereka, lantas menyeka air matanya dengan kasar. Rein harus kuat. Hatinya sudah bertekad untuk berhenti jadi orang jahat.
"Bu, sebenarnya ... selama ini Rein nggak pernah bekerja di bengkel, tapi ... Rein, Daren, dan Marvel adalah kelompok perampok yang sering menggasak rumah kosong ...."
Tentu saja Bu Wanda terkejut mendengar itu. Ia menutup mulutnya yang sedikit ternganga saking tidak menyangka. "Rein—"
"Pekerjaan haram ini sudah Rein lakukan semenjak kita diusir dari rumah panti lama, Bu. Rein minta maaf karena selama ini, Rein sudah menafkahi kalian dengan uang haram." Air mata Rein kembali mengalir, tetapi langsung diseka secepat mungkin. Ia harus tetap tegar di hadapan ibu asuhnya.
"Lalu, masalah dengan Mas Aska. Rein mempunyai kesalahan fatal yang nggak bisa dimaafkan oleh Mas Aska dan keluarganya. Rein dan teman-teman pernah merampok rumah kakaknya Mas Aska, dan Daren nggak sengaja membuat kakaknya tertembak dan meninggal saat kami ketahuan. Karena hal itulah Rein sekarang kabur dari dia. Mas Aska nggak tahu, kalau Rein adalah salah satu perampok yang menyebabkan kakaknya meninggal, Bu."
"Ya Allah, Rein. Astaghfirullahalazim!" Bu Wanda yang sejak tadi sudah membendung emosi kini menjerit histeris. "Kenapa kamu jadi kayak gini, Nak! Apa ibu pernah ngajarin kamu yang nggak bener?" erang Bu Wanda begitu kecewa sambil mengguncang kedua bahu Rein.
Rein pun menangis tersedu-sedu. Ketegarannya diruntuhkan oleh air mata sang ibu.
__ADS_1
"Maafkan Rein, Bu. Maaf ...." lirih Rein. Hanya kata maaf yang bisa terlontar dari bibirnya yang bergetar hebat. Ia harus siap jika setelah ini, kebencian yang akan dia dapat.
"Ibu kecewa sama kamu, Rein. Tapi percuma kalau kamu cuma jujur sama ibu saja. Harusnya kamu juga jujur sama suami kamu. Kamu dan Daren harus bertanggung jawab dengan kejahatan yang kalian lakukan. Apa pun keputusan Aska, itulah yang harus kalian terima."
"Tapi sekarang Rein sedang mengandung, Bu. Apa ibu tega kalau anak Rein nanti lahir di penjara?" tukas Rein menatap lekat manik mata ibunya.
"Astaghfirullah!" Bu Wanda semakin ternganga. Ia bingung harus bersedih atau bahagia. Anak asuhnya kini tengah mengandung, tetapi masalah Rein dengan suaminya membuatnya sangat bingung.
"Rein mesti gimana, Bu? Rein nggak mau masuk penjara. Nanti nasib anak Rein bagaimana?" ratap Rein.
Bu Wanda masih bergeming sambil menatap Rein. Aliran cairan bening terus mengalir di mata sayunya. Keriput di keningnya semakin kentara, tatkala ia berpikir keras untuk memberikan solusi terbaik untuk anaknya tersebut.
"Lalu Daren bagaimana? Apa dia juga berniat untuk kabur selamanya?" tanya Bu Wanda setelah beberapa menit terjeda oleh keheningan.
Rein menggelengkan kepalanya, "Daren sedang dirawat di rumah sakit, Bu. Dia dipukuli oleh preman yang menjadi musuhnya. Saat itu Mas Aska juga sedang mengincar Daren, tetapi Mas Aska sudah keduluan oleh preman tersebut. Mas Aska yang membawa Daren ke rumah sakit, dan sekarang Daren jadi tahanan yang masih dalam perawatan," terang Rein.
Bu Wanda menghela napas kasar. Tidak menyangka jika kelakuan anak-anak asuhnya tersebut sangat di luar nalar. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kejahatan mereka juga sudah berlangsung begitu lama. Waktu pun tidak bisa diputar untuk mengulang keadaan. Namun, bagaimanapun, Rein harus mendapatkan hukuman.
...****************...
...to be continued...
__ADS_1
...Dukung karya author dengan tekan tombol like, favorit, dan gift, ya. Tak lupa kasih komentar biar othor tambah semangat update terus. Sayang kalian. Makasih 🙏...