Pencuri Hati

Pencuri Hati
Tentang Daren


__ADS_3

...Happy Reading...


...****************...


Terperangkap dalam perasaan, itulah yang dirasakan oleh Aska sekarang. Sikap baik Rein selama dirinya sakit, sungguh membuat hatinya jadi tak karuan. Namun, sepertinya perasaan Rein kepadanya tidaklah sama. Rein masih berusaha menjaga jarak dengan Aska.


Sudah seminggu ini Aska mendapatkan tugas keluar kota. Belum tahu sampai kapan dia meninggalkan istrinya. Ini kali kedua Aska bertugas keluar kota setelah menikah. Aska sebenarnya berat meninggalkan Rein dan Abian. Perasaannya semakin menggebu kala mereka sedang jauh. Sayangnya, Rein tidak merasakan itu.


Sedangkan Rein yang juga tidak tahu kapan Aska akan kembali, malah memanfatkan kepergian Aska untuk mencuri.


"Yes, akhirnya gue bisa bebas lagi." Rein justru merasa senang, karena dirinya bisa bebas melakukan apa saja saat Aska pergi, termasuk mencuri dengan Daren. Bahkan kini dia sudah berani melancarkan aksinya untuk mendekatkan Abian dengan Asti. Rein kerap menitipkan Abian pada tetangganya tersebut jika dirinya hendak bertemu atau mencuri bersama Daren.


***


"Lo ninggalin ponakan suami lo lagi?" tanya Daren di sebuah kafe. Siang itu Rein dan Daren tengah makan di kafe langganan mereka.


"Mau gimana lagi? Gue terpaksa harus lakuin itu. Biar Bian cepet terbiasa tanpa gue. Dengan begitu, gue bisa secepatnya lepas dari pernikahan ini," tutur Rein di sela menikmati makanannya.


Daren hanya mencebikkan bibirnya, lantas menyuapkan satu sendok terakhir dari makanan yang ada di piringnya.


Rein yang juga sudah selesai makan, mengakhiri sesi makannya dengan meminum segelas lemon tea dingin kesukaannya. Sejenak terdiam, lalu Rein celingukan ke sekitar, sebelum dirinya berkata sesuatu yang penting kepada Daren. Tentu saja untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar apa yang akan mereka perbincangkan.


"Eh, Ren. Kapan kita ngerampok rumah kosong lagi? Gue udah capek maling kelas teri. Hasilnya cuma cukup buat ngasih makan anak panti. Kapan duit gue bisa cukup buat beli rumah? Kalau kayak terus, lama kumpulnya." Rein berkata dengan nada pelan.


Daren tersenyum miring. "Di otak lo cuma ada rumah doang. Gue pikir percuma kalau kita terus nargetin rumah kosong kayak dulu."


"Kenapa?" tanya Rein spontan.


"Lo pikir kalau kita terus ngerampok rumah kosong, duit buat beli rumah bakalan cepet kumpul? Lo tahu sendiri, zaman sekarang orang-orang nggak suka nyimpen uang cash banyak-banyak di rumah. Kebanyakan mereka nyimpennya di bank," pungkas Daren.


Rein terdiam sejenak. Otak dan hatinya membenarkan itu semua. "Terus sekarang gimana?" tanya Rein bingung. Sebelah siku tangannya bertumpu pada meja, dengan telapak tangan menyangga pipinya, "coba kalau Marvel masih ada, mungkin sekarang kita bisa ngerampok bank aja kali, ya," imbuh Rein berandai-andai.


Daren mendengus. "Nggak usah bawa-bawa Marvel lagi, kasian dia lagi sibuk ngitungin dosa. Lagian gue juga bisa kalau cuma meretas jaringan doang. Cuma masalahnya, merampok bank itu terlalu berisiko buat kita. Kita cuma berdua."


"Yah, jadi kita bakalan kembali kayak dulu? Jadi maling kere yang pendapatannya cuma dompet sama HP? Gue juga nggak bisa maling mobil sering-sering. Kata lo jualnya susah sekarang. Pasar gelap lagi jadi incaran polisi, kan?" tukas Rein. Wajahnya semakin kusut dengan bibir yang cemberut. Daren mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Sebenarnya gue udah punya target baru yang lumayan hasilnya."


"Apa?" tanya sambil menopang dagu.


"Tempat judi."


"Hah?" Tentu saja Rein tersentak mendengarnya, "di sana pasti banyak orang? Pengamannya juga bukan abal-abal, kan?" seru Rein sedikit khawatir.


"Tentu aja, tapi sebelumnya gue udah bikin rencana yang matang. Waktu lo ilang, gue juga udah start duluan. Tempat judi kecil, sih. Tapi lumayan duitnya lebih banyak dari rumah kosong."


Rein bergeming sambil berpikir. "Kapan lo operasi lagi?" tanya Rein berapi-api. Sepertinya dia tertarik dengan misi baru ini.


"Ck, semangat banget kalau denger duit!" Daren berdecak.


"Sekarang apa-apa perlu duit, Daren. Gue udah ngerasain gimana rasanya hidup gue sama anak panti berantakan gara-gara nggak ada duit," dengus Rein. Menarik gelas untuk meminum isinya. Daren tertawa kecil melihat Rein yang cemberut.


"Eh, sebentar!" Pandangan Daren tiba-tiba berubah arah, manakala ia melihat seorang perempuan cantik nan seksi baru datang ke kafe, dan duduk sendirian di meja pojok kafe tersebut.


"Mau ke mana lo?" Rein mendongak menatap Daren yang berdiri.


Senyuman seringai terbesit di bibir Daren, lirikan matanya tertuju pada perempuan cantik itu. Hal itu membuat Rein menghela napas kasar. Melihat perempuan cantik seperti itu, jiwa playboy Daren muncul ke permukaan. Daren memang suka menggoda perempuan. Rein hanya menatap Daren sambil menggeleng heran. Namun, apa pun yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut, Rein tidak pernah ikut campur. Dia hanya bisa menjadi penonton saja.


...****************...


"Ah, yang bener?" Perempuan cantik yang dihampiri Rein sontak terkejut. Ia hendak menyentuh rambut panjangnya, tetapi langsung dicegah oleh Daren.


"Tunggu, biar aku aja yang ambilkan. Nanti rambut Mbak acak-acakan, dan cantiknya sedikit berkurang." Aksi Daren pun dimulai. Perempuan itu mengembangkan senyuman. Tersipu mendengar rayuan Daren.


"Sudah, Mbak." Daren pura-pura menghilangkan jejak semut yang sebenarnya tidak pernah ada. Lalu duduk di kursi kosong di depannya setelah mendengar ucapan terima kasih dari perempuan tersebut. "Kamu terlalu manis, sih. Jadi semutnya nempel terus di kamu," kelakar Daren yang membuat perempuan itu tertawa.


"Kamu punya pulpen, nggak?" tanya Daren tiba-tiba. Dan perempuan itu menggelengkan kepalanya karena tidak punya. "Kalau nama punya, dong? Namaku Daren, kalau kamu?" Daren bertanya lagi sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. Tangannya terulur mengajak bersalaman sebagai tanda perkenalan.


Perempuan itu tersenyum, lalu mengulurkan tangan menyambut tangan Daren yang mengajaknya berkenalan.


"Lusi," ucap perempuan itu menyebutkan namanya. Jabatan tangan mereka pun terlepas setelahnya.

__ADS_1


"Eh, kamu sendirian aja? Apa lagi nungguin orang?" Daren mencari topik perbincangan. Untuk mengisi kecanggungan di antara mereka.


"Aku lagi nunggu temen," jawab Lusi.


"Sama kalau gitu, aku juga lagi nunggu jodoh aku."


Lusi tersenyum. Perhatian mereka sedikit tersita dengan kedatangan seorang pelayan yang membawakan pesanan. Lusi berterima kasih setelah pesanannya sudah tersaji di atas meja, lalu pelayan itu pergi dari sana.


"Eh, kamu tahu, nggak? Kalau semut itu termasuk serangga yang paling kuat di dunia?"


"Nggak, tapi masa, sih. Semut, kan, kecil?" Lusi sepertinya tertarik dengan bahan perbincangan yang dilontarkan Daren tersebut.


"Iya, karena semut itu mampu menanggung beban lebih dari lima puluh kali lipat dari beban tubuhnya. Tapi aku juga kuat, kok, buat nanggung beban hidup kamu, kalau kamu mau jadi pendamping hidup aku."


"Uhuk!" Lusi yang tengah menyedot minumannya sampai tersedak mendengar penuturan Daren. Lelaki itu terlalu pandai mengobrak-abrik hati perempuan.


"Kamu udah biasa gombalin perempuan, ya?" Lusi lagi-lagi tertawa. Gelengan kepalanya menandakan jika dirinya merasa tidak habis pikir dengan kelakuan Daren.


"Enggak, lah. Aku ini tipe cowok yang serius. Karena cewek kayak kamu itu nggak pantas buat digombalin, pantesnya diseriusin."


Lusi hanya menyengir, tak bisa dipungkiri jika gombalan Daren berhasil membuat hatinya tersentil. Rona merah yang tercetak di pipi putihnya menandakan hal itu. Lusi tersipu.


Namun, kedatangan seorang laki-laki bertubuh kekar menghancurkan kerangka cerita yang sudah Daren susun untuk mendapatkan hati perempuan di hadapannya tersebut.


"Sayang, kamu lagi sama siapa?" Laki-laki itu bertanya kepada Lusi. Lusi pun langsung berdiri, dan menyambut kedatangan lelaki yang sudah ia tunggu sedari tadi.


"Eh, kenalin, Sayang. Ini teman baru aku. Namanya Daren. Dia lucu, deh," ujarnya mengenalkan Daren pada lelaki yang ternyata kekasihnya.


Daren menelan ludahnya melihat tubuh kekar dan tinggi besar di hadapannya. Dibandingkan dengan tubuh kerempengnya yang kurang daging, sepertinya mereka bukan lawan yang sebanding. Daren menyengir kuda. Lantas buru-buru kabur untuk menyelamatkan nyawanya.


"Lus, aku pergi dulu, ya. Ada urusan. Lagian orang yang kamu tunggu udah datang."


Tanpa menunggu jawaban, Daren langsung meninggalkan meja tersebut. Lalu kembali ke tempat Rein. Daren harus bersiap mendapatkan ledekan dari sahabatnya tersebut. Karena sedari tadi Rein tetap setia memperhatikan aksinya yang gagal merayu perempuan. Perempuan itu terlihat bahagia dengan gelak tawa yang tertahan.


...****************...

__ADS_1


...To be continued......


... ...


__ADS_2