
...****************...
"Jadi, Mas Aska yang udah beli rumah ini?" Rein mengulangi perkataan Bu Wanda, setelah perempuan paruh baya itu selesai menjelaskan semuanya. Bagaimana Aska memperjuangkan rumah itu kembali, dan pemilik lahan tidak bisa menggugatnya lagi.
"Iya, Rein. Bukan hanya itu. Aska juga memberikan modal tambahan buat ibu. Sekarang warung makan kecil kita, udah jadi restoran besar di pusat perbelanjaan milik Aska. Sekarang keuangan panti sudah aman dari hasil keuntungannya."
"Pusat perbelanjaan itu bukan milik saya, Bu, melainkan milik orang tuanya Abian. Saya cuma bantu mengelolanya saja," ralat Aska.
"Mas, kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku?" tukas Rein sambil memegang lengan Aska.
Aska tersenyum sambil mengusap puncak kepala Rein. "Namanya juga kejutan atuh, Sayang. Lagipula waktu itu kamu tiba-tiba menghilang, lalu setelah ketemu malah koma gara-gara aku. Makanya aku nunggu waktu yang tepat buat ajak kamu ke sini. Kalau aku cerita sejak dulu, mungkin kamu akan minta langsung ke sini. Aku nggak mau kamu bepergian jauh dulu. Tubuh kamu belum siap untuk itu."
"Hish ... ini pasti karena rasa khawatirnya yang berlebihan itu," batin Rein sambil menghela napasnya.
"Iya, Rein. Setelah kamu pamitan sama ibu, Aska sering menemui ibu untuk menanyakan keberadaan kamu. Ibu beneran nggak tahu, karena waktu itu kamu nggak bilang kalau kamu mau ke rumah mertua kamu. Cuma bilang mau pergi ke luar kota dan memulai kehidupan baru. Lalu Aska memberikan rumah ini, dan membantu usaha ibu dan anak-anak panti. Pas Aska bilang kamu sudah ditemukan, ibu sangat senang. Tapi, katanya kamu sakit setelah melahirkan. Ibu sedih mendengarnya, tapi sekarang kamu udah ke sini, berarti kamu sudah sembuh lagi. Ibu kangen kamu, Nak," terang Bu Wanda panjang lebar, menceritakan tentang pengorbanan Aska selama ini untuk Rein.
"Aku juga kangen sama Ibu." Rein mengusap punggung tangan ibu asuhnya. Lalu beralih pada suaminya lagi. Mereka duduk berdampingan di bangku panjang, dengan Rein yang duduk di tengah jadi penghalang.
"Mas, makasih atas semuanya, ya. Aku berhutang banyak sama kamu," ungkap Rein dengan tulus.
"Sama-sama, Sayang," balas Aska sambil mengulas senyuman. Suasana haru pun terganggu, manakala suara tangisan Tara terdengar di telinga. Sebelumnya bayi itu sudah ditidurkan di dalam kamar.
"Tara bangun, Mas." Rein langsung beranjak berdiri, lalu pamit kepada ibu pantinya untuk menemui Tara di dalam kamar.
"Ya, udah. Sekalian kalian istirahat di sini aja, ya. Waktu juga udah malam. Ibu harap kalian mau nginep di sini."
Rein menoleh pada Aska, tatapannya seolah meminta persetujuan sang suami.
Aska pun mengerti arti yang tersirat dari sorot mata Rein yang ingin bermalam di rumah panti tersebut. "Iya, Bu. Kita akan menginap malam ini," ujar Aska. Rein pun tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
...****************...
Esok harinya Rein pulang ke rumah Aska. Tepatnya rumah milik orang tua Abian yang sempat mereka tinggalkan. Walaupun ditinggalkan, rumah itu masih sering dibersihkan. Ada seseorang yang bertugas menjaga dan membersihkan rumah itu secara rutin. Sesekali Aska juga berkunjung jika sedang ada tugas penting.
Bibir Rein menyunggingkan senyuman manakala kakinya menapaki lantai rumah itu. Kenangan indah bersama Aska kembali terkenang dalam memorinya. Cinta mereka bersemi di rumah itu, kemesraan mereka terjadi seiring berjalannya waktu. Rein sangat bersyukur bisa melalui semua cobaan dan kesulitannya selama ini, dan bersyukur telah bertemu dengan keluarga Aska yang baik hati.
"Kamu lagi mikirin apa?" Pertanyaan Aska membuyarkan lamunan Rein. Perempuan itu menoleh dan tersenyum pada suaminya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma kangen rumah ini aja," jawabnya.
"Kangen kamar kita juga, nggak?" goda Aska sambil mengerlingkan mata. Rein pun tersipu mendengarnya.
"Kamu ini, Mas. Penyakit mesum kamu udah balik, ya?"
"Eh, mesum sama istri sendiri mah nggak apa-apa. Asal jangan sama perempuan lain aja," cetus Aska, yang sukses membuat pinggangnya jadi korban cubitan tangan Rein. Aska pun meringis kesakitan, "sakit, atuh, Yang!" ringis Aska sambil memegangi pinggangnya yang terasa kebas.
"Awas aja kalau punya pikiran kayak gitu sama perempuan lain!" ancam Rein dengan nada kesal. Aska pun tertawa. Dia suka melihat istrinya cemburu.
"Apaaan, sih! Siapa juga yang cemburu." Rein memalingkan wajahnya ke arah lain. Mengalihkan rasa malu yang membuat pipinya bersemu.
"Mending kita ke kamar aja. Kita kenalkan Tara pada tempat bersejarah yang menjadi tempat cikal bakalnya dia."
"Mas!" Kedua mata Rein melotot tajam mendengar ucapan ngawur suaminya itu.
"Becanda, ih. Emosian banget istri aku!" Aska mengulum senyum.
Rein mendengkus, ia pun berjalan menuju kamar Aska. Aska pun hendak mengikuti istrinya, tetapi urung lantaran mendengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya. Rein yang juga mendengarnya pun menghentikan langkah, lalu menoleh pada suaminya.
"Siapa yang bertamu, ya, Mas? Kita, kan, baru aja datang," tanya Rein sedikit heran.
__ADS_1
"Nggak tahu." Aska mengedikkan bahu, "aku lihat dulu!" imbuhnya sambil melangkah menuju pintu.
Rein yang penasaran memilih mengikuti Aska, hingga pintu itu terbuka, Rein sedikit memicingkan mata. Ada sosok cantik yang selama ini mengagumi suaminya tengah berdiri sambil tersenyum menatap Aska. Siapa lagi kalau bukan Asti. Binar cerah terpancar di matanya penuh arti. Seperti seorang pecinta yang baru bertemu dengan kekasihnya lagi.
"Asti?"
"Mas Aska."
Seperti pertemuan sepasang kekasih di cerita telenovela, kedua pasang mata mereka saling menatap dengan seksama. Rein yang melihat itu merotasikan bola matanya. Adegan di hadapannya itu sangat mengganggu penglihatannya.
"Eh, Asti. Apa kabar? Udah lama kita nggak ketemu. Terakhir ketemu waktu di rumah ambu, ya? Pas aku lagi hamil besar, dan sekarang anaknya Mas Aska udah lahir, loh. Kamu masih semangat aja ketemu sama dia. Kita baru aja datang, kamu udah nggak sabar pengin nemuin Mas Aska." Rein mencibir Asti dengan menekankan kata-kata 'anaknya Mas Aska' pada kalimatnya. Agar perempuan di hadapannya itu sadar, jika Aska bukan lagi laki-laki yang pantas dia harapkan.
"Kabar aku baik, Mbak. Wah, ini anaknya Mas Aska, ya? Lucu banget, sih. Tampan kayak papanya."
Rein menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Asti. Ia tidak menyangka jika Asti adalah perempuan yang begitu tidak tahu diri. Sudah dikasih kode segitu jelasnya, tetapi masih saja tidak peka.
"Kamu ke sini mau ngapain?" tanya Rein ketus. Sambil mendekap Tara lebih posesif lagi. Ia tidak rela anaknya disentuh oleh Asti.
Aska masih diam saja, memperhatikan kelakuan istrinya yang begitu ketus pada tetangganya tersebut.
"Cuma mau bilang makasih aja, Mbak, karena kalian udah bela-belain pulang buat hadir di acara pernikahan aku besok. Udah jauh-jauh hari aku WA Mas Aska, katanya gimana nanti. Makanya pas aku lihat mobilnya Mas Aska ada di depan rumah, aku langsung datang ke sini. Maaf, ya, Mbak, kalau aku ganggu istirahatnya. Kalian pasti lelah habis perjalanan jauh."
Rein menggigit bibir bawahnya karena merasa malu. Perempuan itu sudah salah paham terhadap sikapnya Asti, sedangkan Aska sedang berusaha menahan tawanya sedari tadi. Ia sengaja membiarkan kecemburuan sang istri, membiarkan istrinya tahu sendiri.
...****************...
...To be continued...
Hai, Readers....
__ADS_1
Satu bab lagi novel ini tamat, ya. Maafkan jika kurang menarik menurut kalian. Semua masalah udah terselesaikan, dan Rein udah bahagia sama suaminya. Jadi, aku mau bikin kisah baru aja. 😅
Semoga cerita ini menghibur kalian semua. Mohon maaf jika masih banyak typo yang bertebaran di mana-mana. Ditegur aja othornya 🙏🤭