Pencuri Hati

Pencuri Hati
Permintaan Rein


__ADS_3

...****************...


Rein sejenak terdiam sekadar untuk menunggu tanggapan Aska. Namun, lelaki itu masih diam saja sambil menatap wajahnya.


Akhirnya Rein pun kembali melontarkan kalimatnya, "Kalau boleh, aku punya permintaan, Mas. Sebelum kamu masukin aku ke penjara, tolong izinkan anak ini lahir dulu ke dunia. Izinkan aku untuk memeluk dia sekali saja. Karena setelah itu, aku akan memberikan anak ini kepada kalian. Tolong rawat dia baik-baik, jangan katakan kalau aku adalah ibunya. Biarkan dia tahu jika ibunya sudah meninggal saja, karena aku nggak mau dia tahu, jika ibunya pernah masuk penjara." Seolah ratusan jarum menusuk jantung Rein. Rasanya sesakit itu ketika Rein mengatakan hal tersebut.


Aska memicingkan matanya. Kedua tangannya mengepal kuat mendengar Rein berkata seperti itu. Namun, ia menarik napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan.


"Kamu nggak perlu sedramatis itu! Semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Aku akan izinkan kamu melahirkan di sini, dan tentu aku akan merawat anakku dengan baik juga," seru Aska berusaha menahan diri agar tidak emosi.


"Makasih, Mas. Aku bisa tenang sekarang." Rein mengusap air matanya dengan kasar. Baginya cukup dengan melihat anaknya tumbuh dengan baik. Hidup bersama keluarga Aska adalah pilihan yang tepat untuk masa depan anaknya nanti.


"Aku permisi keluar, Mas. Mau ketemu sama Bian. Aku sudah kangen sama dia." Rein beranjak berdiri, melewati tubuh Aska yang masih bergeming di tempatnya.


"Tunggu!" Aska mencekal tangan Rein, ketika perempuan itu baru selangkah melewati tubuhnya.


Rein pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aska. Kedua matanya menatap tangan Aska yang melingkar di lengannya. Ada desiran aneh yang menjalar di tubuh perempuan itu yang membuat rasa rindunya semakin menggebu-gebu.


"Apa selama ini kamu pernah kangen sama aku?" Pertanyaan Aska membuat Rein mendongakkan pandangan. Menatap dalam manik mata Aska yang kelam. Ingin sekali ia berkata, "Iya, aku sangat merindukan kamu, Mas. Tapi aku nggak pantas melakukan itu."


Namun, perkataan itu hanya mampu terucap dalam hati Rein saja. Bibirnya mengatup rapat hingga Aska melepaskan tangannya.


"Pergilah!" Aska mengusir Rein. Rasa kecewa menguasai hatinya. Perempuan itu enggan menjawab, berarti ia sama sekali tidak merasakan kerinduan yang Aska rasa. Namun, justru rela merelakan dirinya masuk penjara, saat tahu Daren sudah meninggal dunia.


*****

__ADS_1


"Tante Rein."


Saat Rein keluar dari kamar, Abian langsung berlari menghambur tubuh perempuan itu. Memeluknya dengan erat, seolah tidak mau berpisah lagi dengan tante iparnya tersebut.


"Bian, meluknya jangan kencang-kencang. Nanti dede bayinya ketekan," ucap Rein sambil mengusap kepala Abian. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Perkataan tadi hanyalah sebuah candaan ringan agar suasana tidak lagi tegang.


"Eh, maafkan Bian, Tante." Abian mengurai pelukannya, lalu mencium perut Rein, "maafkan Om Bian, ya, Dedek bayi. Cepet keluar, dong. Biar Om Bian bisa ngajak kamu main."


Rein tersenyum melihat tingkah Abian yang mengajak anaknya bercengkerama. Seolah mengerti, anak dalam kandungan Rein pun memberikan reaksi. Perut Rein berdenyut seperti ada yang menendang dari dalam. Abian pun berjengit dan menjauhkan wajahnya dari perut Rein.


"Bayinya gerak, Tante. Apa dia dengerin Bian?"


Rein mengangguk mengiyakan. Abian melebarkan senyuman, lalu mencium perut Rein lagi. Raut sedihnya sudah berganti dengan keceriaan. Abian sangat bahagia bertemu dengan Rein lagi. Ranti, Bahar, dan Asti ikut tersenyum melihat kebahagiaan Abian tersebut.


Semua itu tidak luput dari pandangan seseorang. Aska tengah berdiri di ambang pintu kamar. Tubuhnya bersandar di kusen pintu, sambil melipat tangannya di depan dada. Mengamati keceriaan Abian saat ber-interaksi dengan anaknya.


Rein menatap satu persatu wajah orang-orang baik di hadapannya. Sebuah keluarga baik hati yang sudah menyelamatkan nyawanya, bahkan memaafkan kesalahannya. Mereka juga yang memberikan modal untuk usahanya. Rein sangat berterima kasih kepada mereka.


Pandangan Rein pun berhenti pada wajah Asti. Perempuan lembut dan baik hati yang mencintai suaminya sendiri. Entah kenapa dia merasa sakit hati, saat melihat perempuan itu berdiri di samping Ranti. Aska sudah membawa Asti ke rumah ini. Itu artinya, posisi Rein sudah terganti. Asti sudah berhasil merebut cinta sang suami.


*****


Kala langit menampakan warna jingga di ufuk barat, pertanda senja sudah mendekat. Rein sudah selesai mengepak bajunya ke dalam sebuah ransel. Perempuan itu masuk ke dalam kamar Aska, saat suaminya tersebut tengah mandi. Ia berniat untuk pergi.


"Mau ke mana kamu?" Rein terkesiap saat tubuhnya baru mencapai pintu kamar. Aska yang sudah selesai dengan ritual mandinya, berhasil memergoki Rein yang mau keluar. Pandangannya tertuju pada ransel besar yang ada di tangan Rein. Aska yakin jika Rein akan kabur lagi darinya.

__ADS_1


"Kamu mau kabur lagi, hah?" tanya Aska sambil mencekal tangan Rein sedikit kuat.


"Ssssh ... enggak, Mas. Aku cuma mau pindah di warung makan milik Abah aja, kok. Aku nggak akan kabur lagi dari kamu." Rein mendesis kesakitan, tetapi Aska tidak sadar. Emosinya selalu meradang jika mengingat Rein selalu berusaha kabur saat bertemu dengannya.


"Bohong! Sebelumnya kamu selalu melakukan itu, Rein. Kali ini aku nggak akan percaya sama kamu lagi."


"Aku udah hamil besar gini, mana bisa kabur lagi, Mas," pungkas Rein, berusaha melepaskan cekalan tangan Aska.


"Aya naon ieu, teh, ribut-ribut?"


(Ada apa ini, ribut-ribut?)


Suara Bahar menyita perhatian Rein dan Aska. Ranti yang juga mendengar keributan tersebut pun berdiri di samping suaminya.


"Ini, Abah. Si Rein mau kabur lagi. Sekarang, kan, dia udah jadi tahanan Aska, jadi Aska nggak bakalan biarin dia kabur lagi."


"Nggak, kok, Abah, Ambu. Rein nggak berniat kabur. Rein cuma mau pindah untuk sementara ke warung. Rein mau tidur sementara di sana, saat Mas Aska ada di rumah. Kamar di sini, kan, penuh semua," sanggah Rein seolah meminta pertolongan pada mertuanya. Rein berinisiatif seperti itu, karena biasanya Aska pulang hanya sebentar saja. Tugasnya sebagai abdi negara tidak memungkinkan lelaki itu untuk berlibur terlalu lama.


"Diem, kamu! Aku nggak bakalan ngizinin kamu ke mana-mana. Lagian siapa bilang aku tinggal di sini hanya sementara. Aku mendapat surat mutasi pemindahan tugas ke kota ini. Jadi mulai sekarang, aku akan tinggal di sini sampai tugasku selesai."


"Hah? Beneran?"


Rein terkejut tentu saja. Kedua matanya pun membulat sempurna.


"Aska, kalau kamu berniat tinggal lama di sini, kenapa kamu ngajakin Asti? Apa dia juga akan lama menetap di sini? Kamu nggak punya rencana buat nikahin Asti, kan, Aska?" Ranti ikut menimpali pembicaraan mereka. Pikiran itu tiba-tiba terbesit di pikirannya, karena untuk pertama kalinya Aska membawa pulang seorang perempuan ke rumah mereka.

__ADS_1


...****************...


...to be continued...


__ADS_2