
...****************...
"Kamu kenapa, sih? Dari tadi diam terus. Diajak jalan-jalan malah ngajakin pulang. Kangen, ya, berduaan sama aku?" Aska memeluk tubuh Rein dari belakang. Kini mereka sudah ada di dalam kamar. Setelah berkunjung ke Mall milik Abian, Aska mengajak istri dan keponakannya jalan-jalan. Mereka pergi ke taman, tetapi Rein selalu mengajak pulang.
Rein tersenyum pelik. Berusaha menyembunyikan rasa resahnya menghadapi dilema yang sedang melanda hatinya. "Kamu tugas malam lagi, Mas?" Rein mengalihkan pembicaraan.
"Hem ...." Aska hanya bergumam. Dagunya menopang di pundak Rein. "Aku mau tanya sama kamu, Sayang," ujar Aska tanpa mengalihkan kepalanya dari pundak Rein.
"Apa?"
"Aku udah jujur kalau aku cinta sama kamu, tapi aku belum tahu perasaan kamu sama aku." Aska mengangkat dagunya, berdiri tegak lalu memutar tubuh Rein agar menghadap ke arahnya, "apa kamu mencintai aku juga?" tanyanya sambil menatap manik hitam milik Rein.
Rein mengerjap kaku. Ia sangat gugup ditatap seperti itu. Ingin sekali Rein berkata, 'iya, aku juga cinta kamu'. Namun, lidahnya tiba-tiba terasa kelu. Rein takut mengakuinya, karena sangat mustahil bagi mereka untuk bersama.
"Yaaah, kayaknya perasaan aku bertepuk sebelah tangan." Aska memberenggut. Tangannya pun terlepas dari bahu Rein. Rasa kecewa terlihat jelas di raut wajahnya.
"Nggak gitu, Mas. Aku cuma ...." Rein tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
Namun, sejurus kemudian Aska malah melebarkan senyuman. "Nggak apa-apa. Aku akan sabar nungguin kamu, kok," ucapnya lembut. Lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Ini buat kamu." Aska menyodorkan sebuah kotak beludru merah ke hadapan Rein.
"Apa ini, Mas?" tanya Rein sembari menatap kotak itu.
Aska membuka kotaknya. Terlihatlah sebuah cincin bermata berlian kecil yang sangat cantik tersemat di dalamnya. Aska mengambil cincin tersebut, lalu menarik tangan istrinya. Memasangkan cincin tersebut di jari manis perempuan yang kini menjadi ratu dalam hatinya itu.
"Waktu kita nikah, aku nggak ngasih apa-apa. Mas kawin juga seadanya. Anggap aja cincin ini sebagai cincin nikah kita. Jangan dilepas, ya!" ujar Aska. Bibirnya tersenyum sambil menatap cincin yang sudah terpasang di jari manis Rein.
__ADS_1
Rein bergeming, kedua matanya sendu menatap jemarinya yang masih dipegang oleh Aska. Linangan air mata dengan lancangnya mengalir tanpa aba-aba. Rein sungguh bahagia, tetapi di sudut hatinya dirundung nestapa. Rein benar-benar dilema.
"Maaf, Mas. Aku bukan perempuan yang pantas buat kamu. Dosaku di masa lalu akan terus menjadi belenggu," batin Rein.
"Loh, kenapa nangis?" Aska mengernyitkan kening saat menatap wajah istrinya yang basah karena air mata. Tangannya langsung terulur untuk menghapus jejak butiran bening yang mengganggu kecantikan di wajah istrinya tersebut, "cincinnya kurang bagus, ya?" tanya Aska lagi. Rein menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan tersebut.
"Lalu kenapa?" tanya Aska lagi. Ia terlihat khawatir.
"Kamu terlalu baik sama aku, Mas. Keluarga kamu juga begitu. Sebagai seorang pendosa seperti aku, aku merasa nggak pantas—"
"Sssst ...!" Perkataan Rein terpotong manakala telunjuk Aska menyentuh bibirnya. Bibirnya sontak bungkam, mendengarkan Aska yang melanjutkan kalimatnya,
"Kamu jangan pernah berpikir kayak gitu, Sayang! Semua orang pernah melakukan dosa. Hanya Allah yang berhak menilai seseorang itu pendosa atau bukan. Bagi aku, kamu adalah seorang peri yang baik hati. Kamu rela melakukan pekerjaan yang berbahaya sekalipun, hanya untuk membuat orang lain bisa bertahan hidup. Ya ... walaupun cara mendapatkan uangnya tetap salah. Makanya aku mau kamu berubah, demi kebaikan kita semua. Aku memang polisi, tapi aku juga belum tentu lebih baik dari kamu. Aku yakin kita akan menjadi pasangan yang paling serasi dan bahagia di masa depan."
Rein masih terdiam mendengarkan penuturan Aska. "Bukan itu masalahnya, Mas. Kalau memang masalahnya hanya sebatas aku berhenti mencuri, dengan senang hati aku akan melakukannya demi kamu. Tapi, masalahnya kakak kamu ...." Rein masih berperang dalam batinnya. Hatinya sakit melihat harapan yang begitu besar di mata Aska untuk masa depan mereka. Air matanya kembali tergenang di pelupuk mata. Rein buru-buru mendongak lalu memejamkan mata. Berusaha menahan airnya agar tidak tumpah lagi di sana.
Rein berbalik hendak pergi ke dapur. Namun, Aska kembali menarik tubuh Rein dan memeluknya dari belakang.
"Aku akan tetap mencintaimu kamu apa pun yang terjadi, Rein. Aku mohon apa pun yang terjadi, jangan tinggalin aku, ya!"
Deg!
Rasa sesak kembali menyerang dada Rein saat mendengar permintaan Aska tersebut. Air mata yang kembali membendung tidak bisa lagi tertahan. Dengan sendirinya meluncur tanpa diminta. Rein buru-buru menghapus jejak air mata itu dari pipi mulusnya, lalu melepaskan tangan Aska dari perutnya. "Lepasin, Mas. Kalau kamu meluk aku terus, kapan aku masaknya?" seru Rein pura-pura bersikap biasa saja.
"Tapi kamu harus janji dulu. Kamu nggak akan pergi ninggalin aku!" Aska malah semakin mengeratkan pelukannya dengan manja.
__ADS_1
"Nggak mau, soalnya kamu belum mandi. Bau, ih!" Rein mencoba berkelakar. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tertekan. Tubuhnya menggeliat minta dilepaskan.
Aska tersenyum, lalu mendaratkan banyak kecupan di pundak istrinya. Perlakuan itu membuat Rein sejenak memejamkan mata. Tubuhnya langsung meremang mendapatkan perlakuan manis penuh damba dari suaminya.
"Mas, udah, deh! Jangan mancing-mancing!" seru Rein lagi. Ia mulai risih ketika tangan Aska mulai menggerayangi tubuhnya.
"Siapa yang mau mancing? Aku nggak lagi pegang kail, kok," seloroh Aska sambil tertawa kecil. Ia suka dengan respon tubuh Rein saat dia goda. Mulutnya memang menolak, tetapi tubuhnya seperti mengajak. Membuat naluri kelelakian Aska semakin bergejolak.
"Aku mau masak, Mas." Rein semakin gigih melepaskan diri. Ia tahu suaminya sudah tidak bisa menahan diri.
"Aaah!" Rein memekik terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara. Ia hanya bisa menghela napas dan mengikuti keinginan suaminya.
"Bentar aja, kok," kata Aska sambil membopong tubuh Rein, lalu membaringkannya di atas ranjang. Beruntung air mata Rein tidak lagi mengalir, sehingga suaminya tidak akan khawatir.
Adegan berikutnya mungkin sudah paham. Apalagi kalau bukan berbagi kehangatan dengan durasi yang katanya sebentar.
***
Malam menjelang. Selepas makan malam bersama, Aska pamit pergi untuk menjalani tugasnya. Rein mengiringi kepergian Aska dengan tatapan sedih. Seolah suaminya itu tidak akan kembali lagi. Padahal dirinyalah yang berniat untuk pergi.
Rein berangan kehidupannya akan sangat sempurna, jika saja perbuatan jahatnya bukan penyebab dari kematian kakaknya Aska. Namun, semua itu hanyalah angan semu saja, ketika takdir tidak berpihak kepada mereka.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
...Maafkan updatenya telat.... 🙏...